Aku Paham Sekarang: Hijab dan Akhlak Itu Memang Berbeda



Anisha Nur Fitriani
Aku paham sekarang, hijab dan akhlak itu memang dua hal yang berbeda. Sempat pernah paham sebenarnya namun pemahaman itu berubah setelah beberapa waktu ketika melihat hal-hal yang dirasa membuat kecewa, pertanyaan itu muncul kembali. "Yang penting tuh akhlak atau hijabnya?" Padahal jelas kedua itu berbeda.

Dan perlu ditanyakan juga pada diri ini "Apa kamu melihat sesuatu hal yang kamu rasa membuatmu kecewa lantas kamu telah menganggap dirimu sempurna? Kamu merasa kamu yang telah benar dan yang paling benar, sedang yang lain salah tanpa pengecualian?" Jika jawabannya YA, maka kesalahan ada pada dirimu sendiri! karena telah merasa lebih dari yang lain, padahal kekurangan yang tidak kamu sadari dan kesalahan yang telah kamu lakukan banyak sekali. Semua itu mungkin tersembunyi. #think

 Sangat sadar kalau diri ini jauh dari kata sempurna dan tidak mungkin sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah Swt. semata. Bahkan mungkin diri ini untuk menjadi pribadi yang baik pun belum memadai, yang ada hanyalah upaya terus-menerus memperbaiki diri saja.

Jangan pikir kalau orang yang sudah berhijab itu mulia. Tentu TIDAK. Justru berhijab itu adalah upaya untuk terus memeperbaiki diri yang belum mulia. "Setiap wanita berakhlak mulia pasti berhijab, Namun banyak yang dihijab belum tentu mempunyai akhlak mulia, karena itu dua hal yang berbeda."

Hijab memang hukum ketetapan dari Allah Swt. yang setiap manusia perlu taati, seperti halnya shalat. Analoginya begini. Shalat khusuk itu memang sulit, tapi apa kita harus bisa khusuk dulu baru mendirikan shalat? terus shalatnya kapan kalau cuman terus mikir dan baper udah khusuk atau belum.

"Atau, pertanyaannya begini. Sebelum merasa bisa khusuk apa boleh kita meninggalkan sholat tersebut?" Tidak kan. Tugas kita hanya melakukan, sedang yang tahu apakah shalat kita sudah sah atau tidak diterima, ya jelas, hanya Allah saja yang mengetahuinya. 

Justru dengan terus melaksanakan shalat itulah kita akan terlatih menjadi pribadi yang memiliki kualitas ibadah yang baik. Jadi, shalat sajalah dulu, tak perlu pikirkan apa pun, lakukan saja dulu, yang penting kita terus mempelajari ilmunya dan terus berupaya untuk memperbaiki kualitas ibadah kita.

Demikian halnya dengan hijab. Pakailah dulu, meskipun awalnya merasa terpaksa belum terbiasa, toh nantinya akan terbiasa dengan sendirinya, selama diiringi dengan kemauan untuk terus mencari ilmunya dan bertekad sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri.
 "Jika tidak bisa meraih semuanya, maka jangan tinggalkan semuanya"kalimat ini cocok untuk diterapkan dalam rangka interaksi kita (ibadah) dengan Allah.

**

Aku berfikir hijab yang kukenakan  ini memang bukan pelabelan atas kebaikan diriku, tapi setidaknya seperti arti dari hijab itu sendiri yang artinya penghalang, hijab ini dapat menghalangiku untuk menambah lagi—secara sengaja—melakukan kesalahan, kedzaliman dan dosa-dosa yang sudah diri ini perbuat. Setidaknya hijab ini juga merupakan upayaku untuk taat hingga akhirnya dekat dan kelak kudapat keridhaan-Nya yang memang telah menjadi tujuan akhir segala aktivitasku.

"Hijab ini tidak mengubahku untuk menjadi orang lain, tetapi dapat menuntunku untuk terus belajar  memperbaiki diri sendiri agar menjadi pribadi lebih baik lagi, di setiap pergantian detik yang kulewati dalam hidup ini."

"Aku tak ingin berubah karena label apa pun yang melekat pada diri ini, aku hanya ingin berubah semata karena Allah Swt. yang telah menciptakan diri ini begitu sempurnanya (fisik yang utuh dan lengkap), dan hijab adalah caraku untuk menjaga amanah dari Allah Swt. Ini.” 

Oleh karena itu, bagiku hijab itu hukumya bukan pilihan tapi merupakan sebuah keharusan. Sebab sebagaimana diketahui, menjalani  hidup itu sendiri adalah pilihan, jika kita telah memilih menjadi muslim, maka sudah sepatutnya menjalani aturan dan perintah-perintahnya. Tetapi silahkan saja memilih, dan yang musti diingat bahwa setiap pilihan tentunya mengandung konsekuensi tersendiri, baik atau buruknya.

**

Anda muslimah (perempuan beragama Islam)? Anda manusia? Jika jawaban keduanya adalah Ya, maka jalankanlah keduanya, jangan dipisah-pisahkan. Selama keduanya menempel di dalam diri kita, maka berhijablah dan teruslah berupaya mencapai pada level akhlak mulia. 

Jangan maunya dihijab tetapi mengabaikan akhlak dengan berasalan bahwa akhlak bukanlah sebuah kewajiban (cuma sekadar proses). Atau terus berpikir, bergalau, memutuskan untuk memakai hijab atau tidak hanya karena merasa belum memiliki kepribadian yang baik.

Aku jadi teringat dengan orang yang bertanya, "Aku kenal dengan seseorang. Dia orangnya baik, solehah, rajin shalat, amalan sunnahnya tidak pernah ditinggalkan tetapi tidak dihijab, apakah boleh seperti itu?" Menurutku jawabannya bukan boleh atau tidak. Alih-alih aku lebih berpikiran bahwa jika benar dia adalah orang baik, maka tidak mungkin baginya untuk menolak sesuatu yang baik pula (perintah mengenakan hijab). Iya tidak?

 Aku sih lebih ber-husnudzan kalau dia mungkin belum mengetahui ilmunya. Toh, kalau benar dia adalah orang baik, jelas dia pun akan mudah menerima kebaikan-kebaikan lainnya.
 Yang sudah berhijab, mbok ya jangan hanya suka mengomentari yang belum belum berhijab saja ya. Apalagi hanya karena panjang-pendeknya saja, atau cuma karena perbedaan bahan atau sytle-nya saja, karena aurat itu cukup ditutup, dengan apa pun itu jenis pakaiannya. Tetapi, bukan sekadar melapisi yah!
 
Lalu, yang diwajibkan itu ialah menutup kain tudung sampai ke dada. Oleh karena itu, selama dada sudah tertutupi, itu sudah mencukupi. Soal panjang-pendeknya, sepinggang atau selutut, itu hanyalah opsi saja. 

Intinya, hindarilah memberi komentar (bernada sentimen) kepada orang yang mungkin belum mengetahui ilmunya. Bahkan mungkin komentarnya pun tak akan didengar. Cukup dengan memberitahu ilmunya, dengan cara yang baik. Adapun keputusan adalah kembali kepada diri masing-masing. Tidak perlu jengkel apalagi marah-marah, sebab hidup adalah pilihan. 

Kewajiban kita hanya mengajak dan memberitahu, dan soal dijalankan atau tidak, itu sudah bukan ranah kita. Dan cara terakhir ialah dengan memberinya doa, sebagaimana tertera dalam hadits mengenai fase dakwah terendah. Tunggu saja dan yakini bahwa tidak ada satu pun doa yang tak terkabul selama ada keyakinan. 

*Penulis adalah guru SMK Cendekia Batujajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar