Aku Menyukai Wanita yang Menulis, Kamu?



M. Irfan Ilmy
“Menulis akan menyembuhkan luka” (Dian Nafi)

Aku tak tahu persisnya sejak kapan kagum dengan perempuan-perempuan yang menulis. Terlebih yang konten tulisannya tak melulu ihwal perasaan. Namun tentang keresahan atas sebuah kondisi di sekitarnya misalnya. Tentang hal-hal bermanfaat yang coba ia bagikan. Tentang optimisme yang coba ia bangun. Bukan prioritas ditujukan bagi orang lain, tapi untuk dirinya sendiri. Orang lain kemudian terpapar energi yang coba ia pancarkan. Kurang keren apa coba?

Aku tak tahu statistik perbandingan penulis lelaki dan perempuan di negeri ini. Tapi, kalau diminta memilih, aku lebih kagum dengan penulis perempuan. Bukan karena aku tak memihak kaumku sendiri. Namun, ya mau bagaimana lagi, penulis laki-laki banyak sekali.  Tak perlu kita perdebatkan.

Lalu, perempuan yang menulis itu kukira bertambah derajat kecantikannya. Bukan maksud meniadakan perempuan-perempuan yang tak menulis. Ini pandangan subjektifku saja. Maaf.

Kecantikan itu persoalan personal bukan? Menurutku satu perempuan cantik, menurutmu mungkin tidak. Pola sebaliknya berlaku. Meski tak kutampik ada juga kecantikan yang universal. Dian Sastro, Alisa Soebandono, Raisa Andriana, Maudi Ayunda, Laudya  Chintya Bella, Putri Marino, dan sederet artis perempuan papan atas lainnya mungkin menjadi representasi kecantikan universal. Tapi, definisi cantik yang kumaksud adalah versiku sendiri. Sulit kubatasi maknanya. Yang jelas membuatku tertarik selaku lelaki normal.

Aku sulit menjelaskan ketakjubanku kepada mereka — perempuan yang suka menulis itu. Pokoknya aku mengidolakannya. Ia tidak sekadar jadi pembicara saja dalam kesehariannya, tapi juga menjadi pendengar dan pemerhati yang baik. Perasa juga pemikir yang bagus. Bukankah itu sebagian dari modal seorang penulis?

Akan kuceritakan awal mula aku mengagumi para perempuan yang suka menulis.

Aku belum pernah baca tulisan berjenis esai sebelumnya. Baru ketika awal-awal tahun kuliah di UPI ada sebuah kompetisi esai khusus mahasiswa dari Tempo. Waktu itu tahun 2012. Aku memberanikan diri mengikutinya. Hasilnya? Bisa tebak sendiri. Anak kemarin sore yang sok-sok ikutan kompetisi tingkat tinggi, wajar kalau ujung-ujungnya jadi makan hati. Tak lolos jadi 30 orang pemuda yang berkesempatan mengikuti kemah kepenulisan dari Tempo nya sebagai seleksi lanjutan untuk menentukan 3 besar juara. Tapi, aku sangat beruntung karena mengetahui kompetisi itu sejak awal. Aku jadi keranjingan menikmati baca dan nulis esai sampai saat ini.

Setelah diumumkan 3 juara Kompetisi Esai Mahasiswa Tempo itu, aku pun penasaran dengan karya-karya mereka. Untungnya panitia mempublikasikan 30 esainya, termasuk esai yang juara. Aku pun langsung membaca dan mempelajari esainya. Dari sekian esai tentu yang paling mencuri perhatianku yaitu esai juara pertama. Judul esainya “Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan.” Bisa teman-teman cari sendiri. Tidak salah kukira juri memilih (eks) mahasiswa Filsafat UI ini sebagai juara.

Tulisannya yang berdasarkan pengalaman pribadi si penulis membuat bangunan esainya begitu utuh dan punya impresi khusus. Sesekali ditambahi kutipan dari para tokoh-tokoh namun tak terkesan ditempel-tempel gitu. Tapi menyatu dalam keseluruhan tulisannya. Kalau esai itu diibaratkan cemilan, maka ia semacam sukro. Renyah, kriuk-kriuk, dan bikin ketagihan. Jujur aku beberapa kali membaca esai itu. Bahkan hingga sekarang.

Aku begitu berterimakasih kepada penulis esai tersebut. Sejak saat itu aku jatuh cinta pada esai. Aku ingin terus mengakrabinya. Menulis esai-esai yang setidaknya menghiburku selaku penulisnya sendiri.

Hingga saat ini, kalau dikalkulasikan aku lebih banyak nulis esai ketimbang cerpen, artikel apalagi karya tulis ilmiah. Meski minat terhadap puisi akhir-akhir ini membuat intensitasku menulis esai jadi berkurang. Entah mengapa lebih merasa nyaman saja kalau menulis esai. Lebih fleksibel. Meskipun tentu ini esai versiku. Entah kalau berdasarkan standar penilaian dari para penulis-penulis expert lainnya.

Pasti penasaran kan siapa penulis perempuan yang kumaksud? Dia adalah Gigay Citta Acikgenc. Putri kedua Prof. Dr. M. Amin Abdullah, MA. (mantan Rektor UIN Yogyakarta 2 periode dari tahun 2002-2010). Namanya memang agak kurang familiar. Tapi itu tak masalah. Yang jelas aku menyukai tulisan-tulisannya. Selain esai juara itu aku pun googling tulisan lainnya. Sayangnya, tulisannya tidak terlalu banyak tersebar di internet. Kalu saja mbak Gigay membuat buku, aku akan senang sekali dan bakal membelinya tanpa banyak pikir. Kalau penasaran sama sosoknya silakan googling sendiri ya!

Seiring waktu yang beranjak, aku pun dipertemukan dengan banyak penulis perempuan lainnya. Meskipun bukan lagi penulis esai. Paling penulis-penulis perempuan yang membukukan tulisannya dalam bentuk novel atau kumpulan cerpen. Beberapa lagi yang menulis puisi. Masih dengan perasaan yang sama, aku mengagumi mereka.

Lalu di tahun 2015 aku menemukan kembali penulis perempuan yang karyanya kemudian kusukai. Dia adalah mba Mutia Prawitasari. Satu almamater juga sama mbak Gigay, tapi beda jurusan. Aku tahu mbak Uti—begitu ia biasa dipanggil—dari tumblrnya mas Gun. Dia penulis novel Teman Imaji. Novel yang kukira kalian juga harus baca. Recommended banget. Aku suka gaya nulisnya yang sederhana, namun pesan yang disampaikan sungguh dalam. Kalau enggak salah mbak Uti lagi nulis buku keduanya. Ditunggu mbak karyanya!

Pokoknya perempuan-perempuan yang menulis itu di benakku nampak sangat keren. Di samping memiliki sisi perasa yang lebih peka, perempuan yang menulis sepertinya termasuk sosok-sosok yang setia. Setia bercerita, setia berbagi gagasan, dan setia-setia lainnya. Kebiasaanku sekarang hampir tiap hari membaca tulisan-tulisan mereka di berbagai media sosial. Paling sering sih di tumblr. Lebih nyaman saja. Entah mengapa.

Aku akan terus mencari para perempuan yang (suka) menulis. Akan kubaca karyanya dan kupelajari cara mereka berpikir. Aku suka. Suka sekali. Bukan untuk kujadikan kekasih. Tapi kalau ada kesempatan, tak akan kusia-siakan. He. Jangan dianggap bercanda. 

*Sumber gambar: FB I Love Reading Book

*Penulis lahir di salah satu desa di Kab. Tasikmalaya. Bergiat di komunitas Biblio Forum dan anggota Forum Lingkar Pena Bandung. Puisinya terhimpun dalam buku Geometri Kata, Antologi Puisi 3 Komunitas Sastra Bandung, dimuat pada Rubrik Pertemuan Kecil Pikiran Rakyat dan Media Indonesia. Selain berpuisi, aktif menjadi relawan pengajar di Komunitas Planet Antariksa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar