Jiva Agung
Menarik sekali konten yang disajikan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat ediri 13 Maret 2018, khususnya yang ada di dalam kolom Forum Guru. Di sana Ilman Fatuh Rahman hendak menegaskan bahwa penggunaan media amat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang selama ini berjalan secara monoton. Saya sepenuhnya setuju dengan pandangan ini.

Jika dahulu para guru gemar bermonolog dengan sesekali mengandalkan papan tulis dan spidol, sekarang, terlebih di sekolah yang telah memiliki sarana memadai, mereka hanya mengandalkan penggunaan power point dalam setiap sesi pembelajaran. Meski sekilas nampak berbeda tetapi esensinya tetalah sama. Penyeragaman media.

Bisa dibayangkan betapa bosannya para peserta didik yang selalu dijejali dengan media yang sama selama sesemester bahkan satu tahun. Bukan hanya itu, selain mematikan daya inovatif dan kreativitas guru maupun peserta didik, penyeragaman media untuk berbagai macam materi sangat rentan pada ketidakcapaian tujuan pembelajaran sebab setiap bahan ajar memiliki keunikannya tersendiri sehingga perlu metode dan media yang berbeda-beda dalam mendekatinya.

Konsekuensinya, para guru perlu berpagi-pagi melakukan perencanaan media secara matang dan bertanggung jawab. Agaknya, buku Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran karangan Rayandra Asyar dapat memberikan sedikit pedoman mengenai hal ini. Ia mengungkapkan bahwa ada beberapa prosedur yang perlu dilakukan oleh seorang guru supaya dapat memilih media pembelajaran secara tepat dan cerdas.

Pertama adalah dengan mengidentifikasi karakteristik peserta didik. Mulai dari jumlah, umur, jenis kelamin, latar belakang budaya, hingga pengetahuan awal peserta didik, harus mendapatkan perhatian guru. Tidak mustahil jika guru perlu membuat media yang beragam jika memeroleh perbedaan yang tajam di antara satu kelas dengan kelas yang lainnya.

Kedua, menganalisis tujuan pembelajaran. Karena setiap materi memiliki tujuan yang berbeda-beda, maka media yang digunakan pun harus disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, materi Toleransi Antar Umat Beragama yang terkesan abstrak perlu didekatkan dengan media audio-visual dengan menyuguhkan video perdamaian yang terjadi di belahan dunia atau melalui media real object berbasis manusia dengan memberi contoh secara langsung hubungan positif-dialogis antara guru agama Islam dan Kristen di sekolah.

Dengan demikian peserta didik bukan sekadar mengetahui definisi toleransi tetapi, lebih jauh lagi, sudah dapat memahami contoh tindakan-tindakan toleransi secara konkret.

Ketiga, mengkaji karakteristik bahan/materi ajar. Keunikan setiap bahan ajar berkonsekuensi logis pada keunikan jenis tugas atau aktivitas yang akan dilakukan oleh peserta didik di dalam atau di luar kelasnya, dan oleh karena itu keragaman penggunaan media pembelajaran adalah suatu keniscayaan.

Materi tentang Beriman kepada Qada dan Qadar lebih cocok menggunakan media visual seperti koran, buku, atau berita online supaya dapat didiskusikan dalam suatu kelompok kecil. Berbeda dengan materi tentang Shalat Gerhana Bulan yang cenderung membutuhkan media audio-visual sebab peserta didik perlu bukan saja mengenai bacaan shalat tetapi juga gerak-geriknya.

Setelah melakukan ketiga pertimbangan di atas, akhirnya guru dapat memutuskan media apa yang pantas digunakan. Tetapi, jangan lupa untuk melakukan peninjauan ulang (review) guna menilai kekurangan dan kelebihannya supaya kualitas pembelajaran tetap optimal. 

Sumber gambar: www.silabus.org
Utami Dewi
Apa sih jodoh? Mengapa orang-orang banyak meributkan persoalan jodoh? Bahkan bisa membuat orang betah lama-lama berendam dalam kolam KEGALAUAN karena memikirkan tentang jodoh, jodoh dan jodoh. Apa sebenarnya jodoh? Sungguh hebat sekali karena telah dapat memengaruhi kehidupan manusia di muka bumi ini. Ah, rasanya kutu-kutu yang terselip di antara rambut-rambutmu pun butuh dengan yang namanya jodoh.

Apalagi kamu, yang hidup bukan sebatas dengan insting tapi juga menggunakan akal. Tentu butuh yang namanya jodoh. Nah, sudah ketebak kan jodoh itu apa? Yup, jodoh adalah pasangan! Setiap hari kita melihat sepatu dan sandal berjodoh-jodohan eh berpasang-pasangan. Kalau benda mati saja butuh jodoh atau pasangannya apalagi manusia yang hidup, iya kan?

Masalahnya setiap manusia menyikapi persoalan jodohnya secara berbeda. Sandal-sepatu sih sejak lahir dari perut pabrik sudah dipertemukan dengan pasangannya, Si Kanan dan Si Kiri. Lah manusia harus usaha atau mencari dulu untuk bisa bertemu dengan pasangannya. Itu pun harus dengan penuh keyakinan.

Dan jalan yang ditempuh atau cerita yang diukir setiap insan jomblo itu berbeda-beda. Ada yang mulus dan lancar kaya jalan tol, ketemu, kenalan, pedekate, tunangan terus nikah, diam-diam datang proposal mengajak ta’arufan langsung khitbah enggak lama kemudian nikah.

Ada yang berkali-kali bilang will you marry me! Tapi enggak nikah-nikah karena sama berkali-kali ditolaknya, bahkan belum tersampaikan maksud hati sudah mendapat penolakan. Hidup memang keras guys. Ada pula yang bertahun-tahun menjalin hubungan sampai bulukan tapi enggak nikah-nikah juga. Macam-macam!

Tapi Ladies and Gentlemen! Kalian yang di sana menunggu dan terus memperbaiki diri, mencari dan terus meningkatkan kualitas diri, sungguh janji Allah itu benar dan pasti adanya. Allah sudah menjanjikan bahwa Dia menciptakan manusia berpasangan-pasangan.

Jadi jangan risau akan jodohmu nanti, buat yang sekarang masih sendiri yakinkan bahwa cepat atau lambat pasti akan bersua dengan sang pujaan hati, seseorang yang nantinya kita sebut sebagai Jodoh. Memang pelik, memang sulit tapi percayalah semua akan menemukan rahasianya masing-masing di waktu yang tepat.

Jodoh memang rahasia Allah yang dinanti setiap anak cucu Adam. Sebab kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berjodoh, dengan siapa kita menghabiskan waktu bersama mengarungi bahtera kehidupan untuk mencapai satu tujuan yang sama, surga-Nya. Laki-laki dan perempuan pada masanya akan menyadari betapa hidup tidak bisa ditanggung sendirian, butuh seseorang yang lebih dari sekadar teman yang memiliki visi dan misi hidup yang sama.

Lalu bagaimana jika kita memang tidak berkesempatan bertemu dengan jodoh (menikah) atau usia tidak sampai pada waktu yang diinginkan bertemu dengan jodoh?

Itulah mengapa kita diperintahkan untuk terus memperbaiki diri, teruntuk beribadah kepada Allah Swt. karena hakikatnya jodoh yang pasti kita jumpai di dunia ini adalah kematian. Kematian tidak akan pernah peduli kau sudah bertemu jodohmu atau belum. Namun jika pun belum, tentu Allah telah siapkan jodoh yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat bagi mereka yang baik amal perbuatannya.

Sekarang, dari pada kita galau dan dipusingkan dengan jodoh yang tak kunjung datang sedangkan kita sendiri lupa untuk terus memperbaiki diri, kira-kira keuntungan apa yang akan kita dapat? Tentu tidak ada, apalagi sampai membuat diri menjadi manusia yang tidak produktif dan tidak bersemangat menjalani hari-hari.

Lebih baik kita belajar dan terus memperbaiki diri agar kelak suatu hari ketika jodoh kita datang kita sudah dalam keadaan siap dan mantap, baik bertemu dengan jodoh yang membawa kita pada gerbang pernikahan maupun gerbang kematian.

Sumber gambar: www..renungankristiani.com


Jiva Agung
Menyiasati waktu pembelajaran yang masih tersisa setelah melakukan ulangan harian, aku membuat circle polling, sebuah permainan pengambilan suara berdasarkan apa yang para siswa yakini. 

Akan tersedia tiga buah meja yang masing-masing harus mereka lingkari sesuai jawaban yang dipilih atau diyakini kebenarannya, setelah sebuah pertanyaan dilontarkan. Meja sebelah kanan untuk yang setuju dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, meja di tengah untuk yang abstain atau masih ragu-ragu, dan meja di sebelah kiri untuk mereka yang menolak (tidak setuju). 

Pertanyaan pertama yang aku lemparkan kepada mereka ialah, “apakah perempuan boleh menjadi seorang pemimpin (organisasi, kelas, daerah, negara)?” Dan tak pernah menyangka sama sekali kalau hampir semua siswa melingkari meja di sudut kanan yang berarti  menyetujui kebolehan seorang perempuan untuk menjadi pemimpin. Hanya beberapa siswa saja yang berdiri di sisi meja kiri sedangkan tak ada satu pun yang berada di sekitaran meja tengah.  

Bukan hanya itu, aku semakin terkagum karena argumen yang mereka utarakan. Astami, yang memang merupakan salah seorang murid terunggul di kelasnya mengatakan kalau sekarang sudah zamannya kesetaraan gender. Kepantasan memangku jabatan sebagai seorang pemimpin bukan lagi atas dasar jenis kelaminnya, melainkan kualitasnya. Glek! Di sini aku menelan ludah. Bagaimana mungkin anak SMP sudah mengetahui wacana, tentu dengan kadarnya tersendiri, seputar kesetaraan gender. Wow sekali.  

Temannya yang lain berpendapat bahwa “pemimpin-pemimpin” perempuan di Indonesia pun tidak sedikit yang telah menunjukkan keprofesionalitasannya, seperti Ibu Susi dan Sri Mulyani. dan dulu bahkan Megawati pernah menjabat sebagai presiden di negara dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia.    

Seperti kurang menerima, kubu meja kiri beranggapan kalau perempuan itu tidak pantas menjadi pemimpin karena mereka mudah baper dan menurutnya selama masih ada lelaki di lingkungan tersebut, maka sudah sewajarnya jabatan itu diberikan kepadanya. 

Dua siswa lain menambahkan kalau kepemimpinan lelaki itu adalah merupakan ajaran Islam sebab tertera di dalam Alquran (saat itu mereka tidak menyebut surat dan ayat Alqurannya) dan melihat realita sejarah di dunia Islam (sekali lagi, mereka tidak menyebutkannya secara spesifik).  

Di pertanyaan yang pertama ini aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri, tidak memberi komentar apa pun. Aku cuma mau mengetahui gambaran kasar pandangan para siswa yang kuajar. 

 Berlanjut ke pertanyaan kedua, aku bertanya mengenai bolehkah umat muslim berpacaran (sebelum menikah). Alhamdulillah-nya mayoritas dari mereka berkerumun di meja kiri (menolak) meski belakangan salah seorang murid memberitahuku kalau ada yang munafik (menolak pacaran padahal dia memiliki pacar). Sekitar 5-10 siswa memilih abstain dan dua siswa, dengan malu-malu, memilih setuju. 

Seperti alasan larangan berpacaran pada umumnya, kubu yang tak setuju menganggap kalau berpacaran itu dilarang dalam Islam (kali ini salah seorang siswa dapat membacakan 1 ayat Alquran dan 1 buah hadits). Mereka juga meyakini bahwa berpacaran itu seminal-minimalnya telah melakukan zina pikiran. 

Untuk kelompok yang abstain sebenarnya tidak memiliki argumentasi, maka dari itu mereka memilih di tengah, masih bingung meski memiliki kecenderungan untuk tidak setuju dengan pacaran. 

Di sisi lain, dua siswa yang meyetujui pacaran mengatakan kalau pacaran itu juga memiliki manfaat (contoh yang mereka berikan: sebagai ajang silahturahmi, agar belajar semakin bersemangat, belajar memecahkan masalah, dan karena salah seorang dari mereka telah berstatus pacaran). 

Betrand menambahkan bahwa pacaran itu tidak akan berdampak buruk selama kedua belah pihak senantiasa berpikir positif dan melakukan tindakan-tindakan yang positif pula. Sedangkan siswa yang satunya lagi mengatakan kebolehan berpacaran selama masih dalam batasan-batasan tertentu. Saat aku bertanya apa itu batasannya, ia mengatakan selama tidak berzina.  

Di sesi pertanyaan kedua ini suasananya sangat ramai, hampir tidak kondusif, sebab masing-masing kubu hendak mematahkan pendapat kelompok lainnya, padahal di permainan ini aku hanya ingin mengetahui pendapat mereka dan bukan sedang dalam ajang perdebatan.

Akhirnya aku memberi sedikit lontaran, menanggapi kalau berpacaran itu meski memiliki sisi-sisi positifnya tetapi bukan berarti diperbolehkan. Kemudian aku memberi analogi seorang pencuri yang mencuri barang tertentu. Jelas, mencuri juga memiliki manfaat atau keuntungan (seperti: si pencuri bisa memiliki dan memanfaatkan barang tersebut. Bisa jadi si pencuri juga dapat membeli keperluan hidupnya dari hasil menjual barang curian) tetapi jika ditimbang-timbang, hasilnya akan jelas, bahwa mudaratnya lebih besar. Maka dari itu mencuri terlarang.  

Pindah ke pertanyaan lain, aku mengajukan sebuah pertanyaan pengandaian. Jika orang tua mereka bukanlah beragama Islam sedangkan mereka sendiri adalah muslim lalu dikemudian hari orang tua mereka itu meninggal dalam keadaan tak memeluk Islam. Apakah orang tuanya akan masuk surga? 

Aku memang sengaja memberikan pertanyaan yang sedikit melibatkan unsur emosional dan guncangan psikologis dengan melibatkan orang tua mereka sendiri di dalamnya karena jika kasusnya adalah mengenai seseorang yang tak memiliki hubungan—secara langsung—dengan mereka, akan sangat mungkin sekali mereka memilih meja kiri dengan mudah. 

Dan seperti yang aku prediksi sebelumnya, pertanyaan ini akan benar-benar memecah mereka, dalam artian tidak ada satu opsi jawaban yang dipilih dengan jumlah yang sangat dominan. Hasilnya, sekitar 50% berada di meja abstain, 45% di meja kiri (menolak), dan hanya 5% yang memilih meja kanan (setuju). 

Suatu hasil yang menarik, sebab sepertinya menujukkan gambaran yang berbeda jika dibandingkan dengan, misalkan ada, hasil persentase akumulatif lingkup makro umat muslim karena seharusnya meja di sebelah kirilah yang menempati urutan tertinggi dari yang lainnya.    

Murid-muridku yang memilih abstain beralasan karena orang yang beragama Islam sendiri belum tentu masuk surga, begitu pun sebaliknya, yang non-muslim pun belum tentu masuk neraka, apalagi jika orang tua tersebut telah berbuat baik kepada anaknya selama hidupnya. Pandangan ini diamini oleh kelompok meja kanan dengan sedikit memberi tambahan bahwa bisa saja karena amal/perbuatan shaleh (baik) dan doa anaknya tersebut, si orang tua mendapat cipratan pahalanya. Bagi mereka, anak shaleh bisa membantu orang tuanya memasuki surga.  

Kedua pandangan ini langsung disanggah oleh kelompok kontra (meja kiri) dengan menyatakan bahwa kesyirikan (yang menurut mereka secara otomatis terdapat pada agama non-Islam) membuat amal salehnya, sebanyak apa pun itu, tak dianggap (tertolak) atau sia-sia belaka. Sedangkan yang beragama Islam, meskipun sepanjang hidupnya melakukan banyak kesalahan (dosa), tetapi selama ia tidak meninggal dalam keadaan syirik, maka pada akhirnya Allah memasukkannya ke dalam surga. Argumen ini pulalah yang dibangun oleh mayoritas umat Islam, setidaknya hal itu yang selalu kudengar.  

Masih berhubungan dengan pertanyaan sebelumnya, kali ini aku bertanya kepada mereka mengenai apakah benar sudah ada perubahan pada teks kitab suci agama lain khususnya pada agama Kristen dan Yahudi? Hampir semua bergerombol ke meja kanan dan hanya menyisakan kurang lebih lima orang saja yang berada di meja tengah. Tak ada satu pun yang berdiri di meja kiri. 

Salah satu siswa yang memilih setuju mengutip perkataan salah seorang guru agama Islam yang mengatakan bahwa kitab Injil itu selalu mengalami perevisian dan penyesuaian sedangkan untuk saat ini kitab aslinya sudah tidak ada lagi. 

Masih di meja yang sama, seorang siswa beralasan kalau kitab yang saat ini dipakai oleh orang Kristen itu adalah Perjanjian baru, padahal wahyu yang benar datangnya dari Allah adalah Perjanjian Lama. Di sini aku mencoba untuk memberi sedikit klarifikasi soal perevisian dan penggunaan kitab taurat, meski serba singkat karena takut terlalu berat materinya dan memang belum berada pada momen yang pas.

Giliran kelompok abstain yang berbicara. Adalah Yaqub, yang mewakili pandangan teman-temannya mengatakan bahwa ia belum bisa memberi penilaian atas kitab suci agama lain karena memang ia sendiri belum pernah membaca dan mengkajinya. Sungguh, sungguh bagiku ini merupakan sebuah bentuk kerendah-hatian yang amat indah. 

Aku pun mungkin akan merasa sakit hati jika Alquran dibilang sebagai kitab teroris, kitab palsu, dan sebutan-sebutan negatif lainnya oleh pemeluk agama lain padahal mereka sendiri belum pernah menyentuh Alquran. Jadi menurut saya, pendapat yang seperti Yaqublah yang perlu tertanam kepada setiap diri umat beragama untuk senantiasa menahan diri dari berpagi-pagi berburuk sangka. 

Pertanyaan terakhirku kepada mereka ialah, “apakah Islam adalah agama yang paling sempurna?” Seperti hendak mencitrakan pandangan umum di kalangan universal internal Islam, mereka berduyun-duyun mengerumuni meja kanan dengan menyisakan beberapa siswa saja di meja tengah. 

Saat ditanya argumentasinya mengapa mereka meyakini kesempurnaan Islam, Naufal, salah seorang murid yang paling dalam ilmu keislamannya mengungkapkan tiga buah alasannya. Pertama, karena Islam itu mengajarkan kebaikan (dalam hatiku, memangnya agama lain tidak mengajarkan kebaikan?). Kedua, Islam memiliki kitab suci yang terjaga keasliannya (ia melandasinya dengan firman Allah yang termaktub dalam Alquran). Dan, ketiga, karena satu-satunya kitab suci yang mengatakan secara gamblang/eksplisit kalau Tuhan itu esa dan terdapat kata “sembahlah Aku”. Argumentasi lain diucapkan oleh seorang siswi. Ia bertutur, “masa iya kita yang sudah beragama Islam tetapi masih ragu akan kesempurnaannya?” 

Beberapa pandangan mereka ini seketika ditanggapi oleh Yaqub, yang sekali lagi berada di posisi abstain. Kira-kira seperti ini yang ia katakan waktu itu:

“Saya terlahir dari keluarga pemeluk Islam. Lalu orang-orang di sekitar saya mengatakan kalau Islam itu agama yang sempurna sehingga saya meyakini kalau Islam itu sempurna, padahal saya sendiri belum mengetahui ajaran Islam seluruhnya dan saya juga belum tahu bagaimana ajaran agama lain.”

Jujur, ini pandangan terkeren sejauh yang pernah saya dengar dalam sesi permainan ini. Sungguh kritis nan progresif. Seakan ia ingin mengatakan bahwa yang selama ini kita lakukan hanyalah semacam klaim sepihak. Jika demikian adanya, maka semua orang pun bisa mengatakan hal yang serupa, meyakini kalau agamanyalah yang paling sempurna di saat ia sendiri belum mengenal agama lain. 

Yaqub juga menyangsikan kevalidan argumen Naufal dengan mengatakan, “mengapa agama yang menyembah satu Tuhan disebut paling sempurna?” Aku tak menyangka bahwa kata-kata filosofis-radikal seperti ini bisa keluar dari mulut seorang siswa SMP, sebuah pertanyaan yang—meskipun bisa saja ditanggapi lagi—logisnya terucap dari kalangan mahasiswa. 

Kegiatan ini aku tutup dengan tanpa memberi doktrin sedikit pun mengenai pemahaman mana yang salah dan mana yang benar. Aku hanya ingin mereka terus merasa menjadi seorang pembelajar yang perlu membuka diri dan mau untuk berproses dalam rangka meraih pemahaman yang semakin matang. Jangan sampai merasa diri telah mendapat pandangan yang final sehingga enggan menampung pemahaman lain yang mungkin saja mengandung nilai kebenaran. 

Duh! adanya keberagaman sikap dan pendapat di kalangan siswa-siswa ini membuatku semakin bergairah untuk berkiprah di dunia pendidikan. 

Sumber gambar: www.youthmanual.com


Daniel Iqbal Sujana
Secara umum, bila mistisisme tidak dibedakan berdasarkan budaya, agama dan periode dalam sejarahnya yang panjang, terdapat sebuah garis singgung yang saling bertemu mengenainya, yaitu sebuah kesatuan uniter[1] yang di dalamnya tercakup serangkaian gagasan, pengalaman psikologis dan intelektual. Implikasinya kita akan mengalami kesulitan untuk memahami secara leksikal mengenai apa definisi mistisisme—karena untuk menghindari sikap apriori ketika mempelajari ilmunya. 

Yang paling penting dalam pokok masalah pembahasan mistisisme bukanlah kajian komparatif tentang pengalaman mistik melainkan ada pada dimensi epistemologis kesadaran mistik-analisis filosofis tentang kesadaran uniter dan kesahihannya. Maka dalam analisis tersebut, pendekatan ilmu hudhuri sangat penting digunakan, karena bila tidak, maka penyelesaian mengenai kesadaran mistik akan gagal tercapai. Kesadaran mistik bersifat non representasional yang berarti bisa dan sangat mungkin semua orang meraihnya. 

Ada sedikitnya tiga pertanyaan mendasar dalam swa-objektif dari pengetahuan, yaitu pertama, apakah ini pengetahuan dengan kehadiran? Apakah ini pengetahuan dengan korespondensi? Atau apakah ini terlepas dari dua jenis hudhuri dan hushuli yaitu pengetahuan dengan halusinasi subjek? Namun, opsi yang ketiga menurut saya tidak menjadi fokus utama dalam permasalahan mistisisme karena telah dijawab oleh William James dalam bukunya The Varieties of Religious Experience yang mengatakan bahwa halusinasi dalam beragama itu tidaklah tepat. Karena keteraturan dan keseragaman pengalaman-pengalaman ini, maka akan sangat tak bisa dibenarkan jika mistisisme diperlakukan sebagai halusinasi, dan karenanya bersifat subjektif. (Mengenai) ini bisa dianalogikan bahwa ada pulau X yang pernah dikunjungi oleh manusia Y, kemudian manusia Z yang belum pernah mengunjungi pulau X mengatakan bahwa itu adalah dongeng saja.

Maka, dalam pokok pembahasan para filosof  muslim dan Barat mengenai metafisika adalah bahwa mistisisme bersifat empiris dan ilmiah, bukan transendental. Beberapa sanggahan para kaum skeptis dijawab oleh para pengkaji mistisisme. Munculah kemudian problem mengenai pertanyaan; apakah pengetahuan mistik sama dengan pengetahuan korespondensi? Bila analogi para filsuf agama (seperti William James) memberi analogi sebuah pulau yang belum dikunjungi, maka ada sebuah relasi pengetahuan ini dengan korespondensi. Dalam sudut pandang esensialitas mistik adalah eksistensi representasi mental yang berkorespondensi dengan objek eksternal. 

Menurut pandangan Platonis dalam bukunya Ennead (1967) sumber kesulitan utama dari pengetahuan ini adalah tidak dengan mengetahui dan daya inteleksi yang menemukan wujud-wujud, namun suatu bentuk “kehadiran” yang melampaui semua pengetahuan. Menjadi sebuah pertanyaan kembali bahwa bagaimana yang dimaksud dengan bentuk kehadiran itu? Platonis mengangkat bahasan bahwa, pengetahuan sejati diraih tidak dengan mengetahu dan daya inteleksi, jauh dari itu ada sebuah kehadiran yang tertinggi. Sebagai contoh, dia memberikan wacana bahwa pengetahuan tertinggi adalah kebaikan. Apa pun dan bagaimana pun premis sebuah pengetahuan, seharusnya sampai pada kesimpulan yang mutlak, yaitu kebahagiaan. 

                                            Pengetahuan Intelektual Plato
Dalam dunia pengetahuan, hal terbaik yang dapat dipersepsi dan hanya bisa didapat dengan usaha keras adalah bentuk esensi dalam kebaikan. Itulah yang dinamakan oleh Plato sebagai “penglihatan”. Tanpa “penglihatan” seperti itu, tidak seorang pun mampu berada pada sikap bijaksana dalam pengetahuan.
Setelah mereka berada pada pengetahuan yang tertinggi dalam “penglihatannya”, mereka tidak boleh selalu berada di dalam keadaan tertinggi itu. Mereka harus turun dan menyamakan frekuensi pengetahuan kepada masyarakat. Terlebih “penglihatan” itu harus mereka berikan kepada orang yang belum memiliki “penglihatan” itu.

Namun, Plato tidak menjawab pertanyaan mengenai pengetahuan mistik bila dengan menggunakan pendekatan penglihatan intelektual. Meskipun dalam wacana Platonis kebaikan identik dengan sesuatu yang mutlak pada esensinya, namun masih terikat dengan objek. Salah satu objek yang dimaksudkan plato adalah kebaikan. Sekali lagi, kita akan terjebak pada pengetahuan subjek-objek yang tidak bisa relevan dengan mistik. Bila boleh saya katakan, bahwa menafsirkan mistik bila dilihat dari segi pengetahuan bersifat paradoks. 

Agama dan mistisisme merupakan wacana yang lebih menarik karena selalu ada pertanyaan apakah orang beragama pasti mengalami kondisi mistik? Baiklah, sebelum itu, mari kita bahas tentang satu terma agama. Meski belum ada kesepakatan bulat mengenai definisi suatu agama, tetapi di sini saya cukupkan saja dengan pengertian sebuah kepercayaan kepada suatu kekuatan mutlak atau kehendak mutlak sebagai kepedulian tertinggi, karena itu keimanan dan kepercayaan menjadi konsep yang penting dalam menjalani kehidupan beragama. 

Ada sebuah analisis menarik mengenai agama, bahwa hubungan antara keimanan dan kepercayaan adalah hubungan subjek-objek, dengan kata lain, pengetahuan korespondensi memiliki hubungan yang erat di dalamnya. 

Seperti contoh sederhana “Andi percaya kepada Tuhan” maka pernyataan ini, menyiratkan pernyataan bahwa “Andi mengetahui Tuhan”. Sungguh suatu pernyataan yang berat bila kita mengorespondenkannya kepada pengetahuan mistik, dengan menyiratkan Andi mengetahui Tuhan. Maksud “mengetahui Tuhan” itu seperti apa? Apakah Andi misalnya adalah orang yang pernah melihat Tuhan? Atau apakah Andi, misalnya, yang mengetahui ilmu mengenai ketuhanan? Ataukah ada premis yang lain? Sangat sulit bagi kita untuk mengetahuinya secara eksplisit.

Selanjutnya, fenomena iman dan pengetahuan general menarik untuk menjadi sebuah perbincangan. Sejauh pembahasan di atas bahwa iman dan kepercayaan memiliki kerancuan secara korespondensi, namun signifikansinya cukup tinggi. Sesuai dengan penelitian William James yang menyatakan tentang keteraturan dan hukum pengulangan fenomena, yang memunculkan nomena. 

Tanpa unsur mistik, agama akan kering dan mengalami kekosongan makna. Mistik dalam pengertian ini bukanlah serangkaian kekuatan interpersonal yang dimiliki orang “sakti” seperti yang ada pada zaman mitologi meskipun, beberapa orang masih menggunakan mistik sebagai bakuan ontologis kekuatan supernatural. 

Mistik dalam pembahasan yang diangkat adalah aksiologi ilmu pengetahuan dalam membaca skrip ajaran agama, Islam khususnya. Agar menciptakan sebuah gagasan yang konstruktif menurut Mukti Ali diperlukan metodologi yang secara baku tidak sama dengan metode korespondensi atau filsafat, namun harus secara empirik yang sufistik. Sebagai contoh, dalam mengungkap Ibn Arabi, tidak bisa dilakukan pendekatan secara ontologi, namun harus dikaji dengan komperhensif dari epistemologi pemikirannya. 

Namun, aspek ritual ibadah dan mistik sebenarnya tidak mungkin terpisah. Ada hubungan yang sangat erat antara keduanya. Menurut Robert Frager meski kondisi “trans” bisa ada pada setiap kondisi, namun tidak selamanya merupakan sebuah kebenaran yang telah teruji. Untuk itu, para nabi turun untuk memberikan sebuah model peribadahan yang sesuai dengan tingkatan psikologis atau kadar manusia. Tuhan selalu hadir untuk kita, tetapi seberapa sering kita hadir untuk-Nya? kerap kali kita mengutamakan panggilang telepon dan tontonan televisi sembari mengabaikan doa dan ibadah kepada-Nya. Oleh karena itu, ritual sangat penting sebagai jalan awal menuju kesadaran mistik.

Sumber gambar: FB All Art


[1] Yang dimaksud dengan kesadaran uniter menurut Suhrawardi dalam bukunya Ilmu Hudhuri, bukanlah mode persatuan dan keidentikan yang spesifik. Apakah itu adalah kesatuan dengan yang Esa yang bersifat personal seperti yang diklaim oleh Mistisisme Barat-Yahudi, Kristen dan Islam, ataukah persatuan dengan Esa yang universal, seperti dalam kasus pengalaman mistik timur, tidak menciptakan perbedaan apa pun bagi tema “kesadaran uniter”. Kesadaran uniter lebih merupakan keidentikan rasional di mana tidak terdapat kemajemukan apa pun. Dalam keadaan ini bahkan dualisme epistemik subjek-objek, dualisme metafisika pembedaan eksistensi-esensi, ataupun pengabdian religius yang melibatkan hubungan penyembah dan yang disembah tampak tidak berarti.