Segera, Bukan Tergesa

Nur Qamariyah
Bagi saya, sebuah lingkungan pendidikan yang waktu pembelajarannya seumur hidup ialah pendidikan berkeluarga, sebab keluarga terbentuk dari sebuah pernikahan yang bahan pokoknya terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersepakat untuk mengarungi kebahagiaan, cinta, kasih-sayang dan juga duka lara dalam menjalani kehidupan.

Tidak hanya itu, saya meyakini kalau keluarga merupakan komunitas masyarakat terkecil yang memiliki peran penting dalam mendidik putra-putri generasi bangsa dari keluarganya, sebab sejatinya semua orang mendambakan keluarga yang menjadi sumber kebahagiaan yang harmonis, yang serasi dan selaras dalam setiap aspek kehidupan yang diarungi bersama.

Bayangkan, betapa indahnya kehidupan sebuah keluarga, betapa indahnya kehidupan masyarakat, dan betapa indahnya kehidupan berbangsa dan bernegara apabila semuanya lahir, tumbuh dan berkembang dari atau dalam keluarga yang bahagia. “Betapa indahnya menjadi pasangan suami-istri yang memiliki kesamaan dalam cita dan asa”

Tentunya pembahasan ini akan mengingatkan kita pada sabda Nabi Muhammad saw., “Rumahku adalah surgaku.” Sungguh berbahagialah mereka yang berhasil membina rumah tangga yang sakinah (tentram) mawaddah (penuh cinta) wa rahmah (dan kasih sayang), karena kebahagian selalu setia bersama mereka yang memiliki dan memahami bahan pokok berkeluarga, yaitu agama walaupun setiap keluarga memiliki cara dan jalan yang berbeda untuk meraih kebahagiaan menuju Jannah-Nya.

**

“Nikah” sebuah kata yang akhir-akhir ini sudah sering berseliweran di kehidupan sehari-hari mereka yang sudah lulus kuliah tetapi belum menikah, dengan berbagai macam pertanyaan yang tertuju kepadanya dengan santai tapi menohok.

Seperti saat menghadiri walimah pernikahan di akhir pekan. Biasanya akan ditanya seperti ini, “Lho, mbak sudah lulus kuliah?”//“Iya.”//“Kapan nyusul? (nikah).” Ada juga yang tanya begini, “Mbak usianya berapa?// “Oohh sudah seperempat abad. Kok belum nikah mbak?” Ini adalah beberapa contoh pertanyaan dari mereka yang suka tanya!

Menurut saya, pernikahan sejatinya bukanlah sekadar menyatukan antara aku dan dia menjadi kita, lebih dari itu...sejatinya pernikahan adalah merelasikan dua buah keluarga yang berbeda menjadi “keluarga kami bersama”.

Dalam ajaran Islam, pernikahan sangat diagungkan, karena sebuah pernikahan adalah ibadah. Sebagaimana hadis Rasulullah saw., “Nikah itu sunnahku, siapa yang membenci sunnahku maka dia benar-benar membenciku.” (Al-Hadis).

Apabila nikah merupakan sunnah Rasul maka jelaslah bahwa pernikahan adalah ibadah yang memiliki kebaikan duniawi dan ukhrawi.
Jika nilai pernikahan sebagai ibadah maka segala perbuatan baik di dalamnya dengan niatan yang baik akan dicatat oleh Allah sebagai ibadah.

**

Nah, dalam ibadah tersebut (pernikahan) perlu diawali niat yang benar. Karena manusia memiliki hati, pikiran, akal budi dan perasaan yang menjadi komponen dalam menetapkan pilihan teman hidupnya dengan niat yang benar itu, maka jika belum baik niatnya, maka sebaiknya perbaiki dahulu niatnya agar pernikahan yang dilakukan bernilai ibadah yang berpahala berlipat ganda, bukan malah sekadar cepat-cepatan.

Sedangkan, tergesa-gesa dalam menikah dan penggunaan niat yang masih belum benar, jelas akan menghasilkan pernikahan yang kacau. Dan perlu diketahui, bahwasanya tidak ada korelasi antara pernikahan dengan umur yang semakin menua, apalagi jika belum diperlengkapi dengan kematangan pola pikir, kecerdasan memanajemen hati dan psikis. Ketiga hal yang disebut terakhir ini sangat diperlukan agar melahirkan keleluasaan hati dalam memandang persoalan, ketepatan dalam mengambil sikap dan kebijakan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Semoga kita dapat menikah dengan segera yang tak tergesa! [Nasihat untuk diri sendiri].

*Penulis adalah lulusan S2 PAI UIN Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar