Satu Camp Bersama Seorang Ahmadiyah

Jiva Agung
Akhir Januari lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah event perdamaian antar umat beragama—dan kepercayaan—yang diselenggarakan di Maluku yang diikuti oleh pemuda-pemuda pilihan dari seluruh provinsi dan tak pernah menyangka kalau saya akan ditempatkan satu tenda bersama seorang Ahmadiyah, yang Qadian pula.

Sangat mudah sekali bagi saya untuk mengidentifikasinya, karena teman saya ini memang sangat menonjolkan simbol-simbol identitas, mulai dari baju hingga goody bag terpampang jelas kalau ia adalah seorang Ahmadiyah.

Sayangnya, di awal-awal pertemuan ia cukup terkesan tertutup dan terlihat tak membaur dengan peserta lainnya. Oleh karena itu saya memutuskan untuk mendekatinya, mengawali obrolan basa-basi.

Saya dapati ternyata ia menjabat sebagai Pengurus Pusat Pemuda Ahmadiyah bidang Eksternal yang diundang oleh panitia kegiatan sebagai peserta “eksklusif”, berbeda dengan saya yang diterima melalui proses seleksi. Untungnya, tidak sulit bagi kami untuk menjalin keakraban karena ternyata ia pun orang Sunda (Tasikmalaya).

Ia menceritakan kalau perjalanan pendidikannya sedikit banyak berbeda dengan orang lain pada umumnya, sebab ia selalu berada di lingkup Ahmadiyah, mulai dari kecil hingga saat ini. Kemudian ia pun mulai menceritakan kisah yang membuat saya sedih, miris, sekaligus kezel tentang banyaknya tindakan diskriminatif plus aksi kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat Indonesia terhadap Ahmadiyah, tanpa terkecuali terhadap kampungnya yang pernah diobrak-abrik.

Teman saya ini juga mempertanyakan nurani sebagian umat muslim Indonesia yang tak bisa melihat Ahmadiyah secara adil. “Mengapa mereka hanya melihat perbedaannya saja, sedangkan tindakan-tindakan kesosialan Ahmadiyah tak pernah dipandang?” tuturnya, sedikit menggerutu. Ahmadiyah, katanya, senyatanya telah memberikan sumbangsih yang amat besar terhadap Islam (secara khusus) dan umumnya terhadap umat manusia dari aspek-aspek kemanusiaan.

Dua contoh kecilnya akan saya kutip di sini. Pertama, Ahmadiyah memiliki jasa yang amat besar dalam peyebaran Alquran ke seluruh dunia sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Hingga saat ini mereka mengaku sudah menerjemahkan Alquran ke dalam 80 bahasa. Jumlah yang sangat fantastis. Sebagiannya bisa diakses di www.ahmadiyah.id/islam/alquran.

Yang kedua, sejak tahun 1985 Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menginisiasi Gerakan Donor Mata yang akhirnya pada tahun 2017 lalu Museum Rekor Indonesia (MURI) menganugerahi mereka sebagai “Komunitas dengan Anggota Pendonor Kornea Mata Terbanyak secara Berkesinambungan” (www.ahmadiyah.id, 22/07/17).

**

Jika tidak salah ingat, dia termasuk salah seorang yang saya ajak bicara secara intens sepanjang kegiatan tersebut. Bagaimana tidak, selain setenda kami pun sekelompok yang mana di sana terjadi diskusi-diskusi advanced seputar ektremisme, radikalisme, dan kekerasan. Dan di tempat inilah saya kira ia mendapat momentumnya karena dapat, dengan detail, mengisahkan penderitaan-penderitaan yang dialami oleh Ahmadiyah di berbagai daerah.

Tidak hanya ngobrol seputar konflik sosio-religius, kami pun saling bertukar pikiran mengenai urusan teologis. Sebab saya telah berkomitmen untuk menjadi seorang pembelajar, maka saya tidak menutup diri dari berbagai ragam pandangan, termasuk perihal doktrin khas keahmadiyahan maupun pandangan tokoh-tokoh Ahmadiyah seputar masalah keislaman.

Sebagai contoh sederhana, saya telah membaca Tadzkirah, sebuah catatan harian Mirza Ghulam Ahmad (pendiri Ahmadiyah) yang berisi himpunan wahyu, ilham, kasyaf, dan mimpi-mimpinya. Betapapun, waktu itu saya ingin mendengar langsung bagaimana ajaran-ajaran Ahmadiyah berdasarkan penghayatan penganutnya sendiri.

Dan dari ungkapan-ungkapannya, tertangkap sekali kalau ia sangat yakin dengan ajaran-ajaran Ahmadiyah khususnya mengenai kedudukan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi bayangan dan al-masih yang dijanjikan (sang juru selamat).

Beberapa argumentasinya memperkaya khazanah keislaman saya meski tak sedikit pula dari pandangannya yang saya anggap masih lemah. Dan karena diskusi berjalan begitu hangat tanpa pola offensive-defensive, perbedaan pandangan yang muncul kami anggap biasa-biasa saja, sesuatu yang wajar.

Bahkan saat itu saya sempat berkata secara eksplisit mengenai ketidaksetujuan saya terhadap doktrin khas keahmadiyahan, wa bil khusus tentang konsep juru selamat.

Sumber gambar: Instagram arts_help

Tidak ada komentar:

Posting Komentar