Ramuan Kant untuk Perdamaian dunia

Panji Futuhrahman


Judul Buku     : Menuju Perdamaian Abadi.
Penulis                        : Immanuel Kant.
Penrjamah     : Arpani Harun dan Hendarto Setiadi.
Penerbit         : Mizan.
Cetakan          : Pertama tahun 2005.
Tebal              : 288 Halaman.

Buku ini dikenalkan pada publik dalam rangka memperingati 200 tahun kematian sang filsuf. Bahkan sekarang, jauh selepas kematiannya, filsafatnya masih nampak hidup dan seolah menjadi jawaban bagi persoalan yang dihadapi dimasa kini.

Kant sadar bahwa mengamankan perdamaian abadi adalah upaya terpenting dan terbesar yang harus dilakukan umat manusia, dan ini harus diciptakan bukan ditunggu kehadirannya. Ia juga menyadari adanya kecenderungan manusia untuk berperang dan dorongan untuk berperang itu lebih besar dibanding kesadaran mainstream dalam mengupayakan perdamaian itu sendiri.

Buku ini tidak hanya mengumpulkan hasil renungan-renungan yang semata teoretis belaka. Buku ini meracik beberapa usulan yang bersifat operasional dan realistis agar terciptanya perdamaian abadi antar negara-negara dunia dari sang filsuf moral yang hidup di abad 17.

Meskipun, ada beberapa usulan yang nampaknya utopis untuk direalisasikan masa kini, misalnya usulannnya mengenai penghapusan tentara-tentara tetap di semua Negara. Di masa yang kembali tegang seperti saat ini, mustahil ada negara yang mau menghapus tentara nasionalnya, yang ada justru memperkuat angkatan bersenjatanya, bahkan—seolah Kant bisa meramalkan kondisi saat ini—adu pamer kekuatan angkatan bersenjata adalah hal yang lumrah saat ini, dan menurutnya hal ini akan semakin memicu dorongan untuk berperang itu sendiri.

 Terlepas dari semua itu, saya tertarik untuk mengulas buku ini, karena dari sekian abad yang dilalui oleh pemikirannya, ide-ide Kant nyatanya masih terlihat laik untuk menjadi bahan renungan orang-orang sekarang yang menghendaki perdamaian.

Buku ini terbagi dalam dua bagian, bagian pertama menguraikan mengenai pasal-pasal yang menjadi landasan atau pendahuluan dalam upaya menciptakan perdamaian dunia, bab selanjutnya memaparkan pasal-pasal yang bersifat definitif. Saya lebih tertarik mengulas bab pertama, karena untuk bab yang kedua, agaknya kurang pas jika diulas disini.

Baiknya perumusan pasal-pasal definitif mengenai perdamaian dunia menjadi tugas dan bagiannya manusia zaman sekarang sedangkan pendahuluan atau landasan yang diuraikan oleh Kant dalam buku ini baiknya menjadi tambahan referensi dan tambahan cakrawala pemikiran. Adapun pasal-pasal tersebut sudah saya rangkum menjadi beberapa poin yakni:

1.      Tidak boleh ada perjanjian perdamaian yang dianggap sah apabila didalamnya terkandung  maksud tersembunyi untuk mempersiapkan perang dimasa depan.

Menurut Kant, jikalau demikian adanya, perdamaian tersebut hanyalah sebatas gencatan senjata saja dalam pengertian istirahat dari perang sejenak yang bisa jadi diakibatkan karena kedua Negara yang sedang berperang itu lelah dan  hendak beristirahat untuk memulai perang yang lebih hebat lagi dimasa yang akan datang. Sedangkan perdamaian haruslah berarti akhir dari sikap permusuhan. Akhir berarti tidak menyisakan kemungkinan yang—apalagi kalau—direncanakan untuk berperang lagi dikemudian hari.

2.      Tidak boleh ada Negara berdaulat baik ia kecil maupun besar yang dapat diperoleh Negara lain melalui pewarisan, pertukaran, pembelian atau pemberian.
Menurutnya sebuah Negara bukanlah hak milik seseorang maupun golongan  sebagaimana hak tanah di suatu tempat didalam sebuah negara. Ia (Negara) adalah suatu masyarakat manusia yang tidak boleh diatur dan dikuasai oleh orang atau Negara lain kecuali oleh diri mereka sendiri mereka berhak diatur dan dikuasai.

Dalam pasal ini juga terkandung perihal penyewaan tentara oleh suatu Negara kepada Negara lain dalam rangka melawan musuh yang bukan musuh bersama. Karena dengan demikian tentara-tentara tersebut akan digunakan dengan seenak hati layaknya sebuah benda yang bahkan siap dipakai hingga habis.

3.      Tentara tetap harus dihapuskan secara berangsur-angsur.
Ini yang menarik dari Kant, menurutnya dengan memilki, terlebih memamerkan, kekuatan angkatan bersenjatanya, maka negara itu sedang mengancam berperang kepada negara lain dengan jalan menunjukkan kesiapan mereka untuk berperang.

Hal ini dikemudian hari akan mendorong negara lain untuk berlomba-loba dalam jumlah tentara dan mempersenjatainya dengan tak ada batasan. Mestinya cukup dengan sebatas praktik pelatihan warga negara secara sukarela dan berkala dalam menggunkan senjata dalam rangka melatih untuk memepertahankan diri dan tanah airnya terhadap serangan dari luar.

4.      Tidak boleh ada hutang nasional yang dikontrakkan dalam kaitan dengan perselisihan dengan Negara lain.
Dalam rangka mencari bantuan di luar atau dalam negeri guna meningkatkan ekonomi domestik, biasanya negara-negara lebih memilih melakukan pinjaman keluar melalui sistem kredit. Hal ini berbahaya karena dalam kesempatannya akan menimbulkan perang. Atau setidaknya akan menggiring negara-negara kecil yang tidak berdosa kedalam kebangkrutan.

5.      Tidak boleh ada negara yang dibenarkan secara paksa mencampuri konstitusi negara lain.
Sebab apa yang menjadikan mereka berhak untuk mencampuri urusan negara lain? karena bisa jadi ini terjadi karena justru negara itulah yang diawal menciptakan konflik di Negara itu lalu kemudian ia mencampuri konstitusinya dalam tujuan-tujuan penjajahan atau perang.

6.      Tidak boleh ada negara yang sedang berperang dengan negara lain lantas ia mengizinkan sikap-sikap permusuhan yang akan menutup kemungkinann munculnya rasa saling percaya di masa perdamaian yang akan datang. Misalnya pemanfaatan pembunuh bayaran, penggunaan racun untu kemembunuh, peanggaran kapitulasi, penempatan mata-mata dll.
           
Begitulah perumusan dasar-dasar pemikiran mengenai hal apa saja yang harus dipersiapkan dan hal apa saja yang menjadi hambatan yang harus sedikit demi sedikit diatasi dalam tujuan membangun perdamaian abadi dunia menurut Immanuel Kant. 

*Penulis adalah guru PAI di SMAN 1 Cikarang Utara

Sumber gambar: FB A Common Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar