Quraish Shihab: Bapak Tafsir Indonesia

Anisha Nur Fitriani

Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, MA. adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al-Quran. Pria yang pernah menduduki kursi Menteri Agama ini sangat produktif berkarya. Sejak 2011 yang lalu beliau telah kembali menerbitkan karya terbarunya seperti Sirah Nabi Muhammad saw., Tafsir Al-Lubab (ringkasan dari tafsir Al-Misbah), Kaidah Tafsir Al-Quran, dan Yang Hilang dari Kita: Akhlak.

Sejak kecil Quraish Shihab telah menjalani pergumulan dan kecintaan yang mendalam terhadap Al-Quran. Di masa kecilnya, ketika berumur sekitar 7 tahun, oleh ayahnya ia senatiasa diharuskan untuk mengikuti pengajian Al-Quran yang diadakan oleh ayahnya sendiri yang juga merupakan seorang ulama besar. Tak lupa sang ayah membacakan kisah-kisah teladan yang terdapat dalam kitab suci.

Sang ayah senantiasa memberikan wejangan kepada Quraish muda bahwa kebenaran dalam rincian agama bisa beragam, dan satu-satunnya cara untuk hidup harmonis adalah dengan mengedepankan sikap tasamuh tanpa melunturkan keyakinan dan tradisi yang dianut.

Itulah yang pada kemudian hari membentuknya menjadi ulama yang memiliki prinsip mempertemukan alih-alih membentur-benturkan sesuatu yang terlihat paradoks.

Pria kelahiran 72 tahun silam ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang lalu melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, menjadi seorang santri di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah.

Pada tahun 1958, ia meninggalkan Indonesia untuk menuntut ilmu di Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyyah Al-Azhar. Pada 1967, beliau meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadis Universitas Al-Azhar.

Kemudian melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan meraih gelar MA pada tahun 1969 untuk spesialisasi bidang Tafsir Al-Quran dengan tesis berjudul Al-I'jaz Al-Tasyri'iy li Al-Quran Al-Karim. Di era itu mendapat gelar Master sungguh merupakan sesuatu hal yang begitu langka, tidak seperti zaman sekarang.

Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercayakan untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan di IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, beliau juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur) maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental.

Selama di Ujung Pandang ini, ia juga sempat melakukan berbagai penelitian; antara lain penelitian dengan tema "Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur" (1975) dan "Masalah Wakaf Sulawesi Selatan" (1978).

Pada 1980, Quraish Shihab terbang ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas Al-Azhar. Pada 1982, dengan disertasi berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa'iy, Tahqiq wa Dirasah, ia berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Quran dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (Mumtat Ma'a Martabat Al-Syaraf Al-'Ula).

Quraish Shihab menjadi orang ketiga Indonesia yang meraih gelar Doktor di Mesir setelah sebelumnya ada Nahrawi Abdussalam (dari Universitas Al-Azhar Kairo) disusul Zakiah Darajat (dari Universitas ‘Ain Syam Kairo)

Di tahun 1984 Quraish Shihab mendedikasikan dirinya di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca-Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, ia juga dipercaya untuk menduduki berbagai macam jabatan, seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashih Al-Quran Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989), dan Ketua Lembaga Pengembangan.

Tidak selesai sampai di sana, ia juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional, seperti Pengurus Perhimpunan Ilmu-Ilmu Syari'ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Di sela-sela segala kesibukannya itu, Quraish Shihab tetap konsisten dalam kegiatan tulis-menulis yang telah digelutinya semenjak muda. Bisa dibilang ia merupakan salah seorang cendekiawan Muslim yang memiliki karya terbanyak di Indonesia.

Karyanya yang paling monumental Tafsir Al-Misbah yang memiliki 15 jilid sampai saat ini terus menyedot perhatian para pencari ilmu, dari kalangan cendekiawan dalam dan luar negeri. Jika dihitung, karyanya mencapai lebih dari 50 buah. Sayang, masih ada kalangan yang merendahkan dirinya hanya karena memiliki pemikiran yang sedikit anti mainstream, seperti mengenai jilbab dan Syiah.

Quraish sangat mencintai agama dan bangsanya. Ia menginginkan perjuangannya di bidang tafsir tidak boleh berhenti dan harus terus dilanjutkan. Untuk itu, pada tanggal 18 September 2004 silam ia mendirikan sebuah Studi Al-Qur’an yang diberi nama Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) di bawah naungan Yayasan Lentera Hati.

Lokasinya berada di Jalan Kertamukti No.63 Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur, Tanggerang Selatan, Provinsi Banten. Disinilah akan bermunculan pakar-pakar tafsir Indonesia yang akan membumikan Al-Quran ke seluruh penjuru nusantara. Semoga.

*Penulis adalah alumni S1 Ilmu Pendidikan Agama Islam, UPI Bandung

Sumber gambar: FB Najwa Shihab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar