Qaulan Sadida: Ucapan Benar nan Tepat

Hilman Fitri

“Berpikirlah sebelum kamu melakukan sesuatu”

Kalimat di atas merupakan mahfudzot yang sudah tak asing lagi di telinga kita, sebuah kalimat yang mengandung banyak sekali nasihat yang baik bagi kita, di antaranya anjuran untuk menjaga lisan.

Tak dapat dipungkiri lagi terkadang ucapan kita itu bisa menyakiti orang lain, maka pikirkan terlebih dahulu baik tidaknya perkataan anda atau tepat tidaknya waktu serta sasaran ucapan anda, sebelum terucap!

Di dalam Islam, terdapat etika yang mengatur seseorang dalam berucap yang merupakan salah satu bentuk pengejewantahan pikiran yang ada di benak orang tersebut.

Berucap dapat disamakan pula dengan lafal qoul dalam bahasa Arab, sebagaimana Ibn Âsyûr (1984: 122) mendefinisikan qoul sebagai ujaran yang keluar dari mulut manusia untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Adapun etika berujar yang akan dibahas pada tulisan ini ialah berucap yang benar dan tepat sasaran, di mana etika ini dibahasakan dalam Alquran dengan term Qaulan Sadîda.

Qaulan Sadîda diungkapkan dalam Alquran pada dua tempat, yaitu  surat An Nisa ayat 9, dan surat al Ahzâb ayat 70. Namun pada tulisan ini yang akan dibahas lebih lanjut adalah ungkapan Qaulan Sadîda yang terdapat di surah al Ahzâb ayat 70”

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Pada ayat sebelumnya, Allah melarang umat Nabi Muhammad saw.,  mengucapkan kebohongan dan tuduhan palsu atas Nabi mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum Bani Israil atas Nabi Musa a.s di mana kebohongan dan tuduhan palsu mereka itu terekam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim (Ibn Rajab, 2001: 92) dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Musa adalah seorang pemalu dan menutupi diri. Kulitnya sedikit pun tidak terlihat karena malu (ketika mandi), lalu di antara Bani Israil ada orang-orang yang menyakiti beliau. Mereka berkata, “Tidaklah Beliau menutup diri seperti ini kecuali karena cacat di kulitnya, entah itu sopak, udrah (bengkak biji kemaluannya), atau karena penyakit.” Lalu Allah membersihkan beliau dari tuduhan yang mereka lontarkan kepada Musa itu.

Sedangkan pada ayat ini Allah Jalla Jalâluh memerintahkan kepada orang orang mukmin untuk bertakwa kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, beribadah seakan-akan Allah mengawasinya, serta mengatakan kebenaran dalam setiap urusannya.

Termasuk kepada kategori kebenaran ini ialah kalimat Lâilâha ilallôh, mendamaikan (Ishlah) di antara manusia, sebagaimana pula pendapat mengenai perkara Zaid dan Zainab (bahwasannya boleh menikahi mantan istri bukan anak kandung), dan larangan mencela Nabi saw., (Zuhaili, 2008: 447).

Secara bahasa, lafal قول / qaul  pada ayat ini dimaknai sebagai ujaran yang keluar dari mulut manusia untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya, atau satu pintu yang sangat luas, di antara pintu-pintu yang berkaitan dengan kebajikan maupun pintu-pintu yang berkaitan dengan keburukan.

Sekian banyak hadis yang menekankan pentingnya memperhatikan lidah dan ucapan-ucapannya, seperti “Manusia tidak disungkurkan wajahnya ke neraka kecuali akibat lidah mereka.” juga hadits “Allah Ta’ala merahmati seseorang yang mengucapkan kata kata yang baik sehingga dia memperoleh keberuntungan atau seseorang yang diam sehingga memeroleh keselamatan.” serta “Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah dia berucap yang baik atau diam.”

Sedangkan Qaulan Sadîda atau perkataan yang tepat itu mencakup sabda para Nabi ‘alaihimus salâm, ucapan para ulama, dan para penutur hikmah. Membaca Alquran, meriwayatkan hadis, tasbih, tahmid, adzan, dan iqamat pun termasuk dalam hal ini (Ibn Âsyûr, 1984: 122).

Adapun kata Sadîdan سديدا yang merupakan salah satu bentuk derivasi yang tersusun dari huruf sin dan dal, menunjuk kepada makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya. Ia juga berarti istiqomah atau konsisten.

Kata ini juga digunakan untuk menunjuk kepada sasaran. Seseorang yang menyampaikan sesuatu atau ucapan yang benar dan mengena tepat pada sasarannya dilukiskan dengan kata ini. Dengan demikian, kata sadîdan dalam ayat di atas tidak sekadar benar, sebagaimana terjemahan sementara penerjemah, tetapi ia juga harus berarti tepat sasaran (Ibn Faris, 2002: 66).

Seorang ahli tasawuf sekaligus ahli tafsir Indonesia, Hamka (1987: 274),  mengungkapkan bahwa kalimat Qaulan Sadîda merupakan ucapan yang tepat yang timbul dari hati yang bersih, sebab ucapan adalah gambaran dari apa yang ada di dalam hati. Orang yang mengucapkan kata-kata yang dapat menyakiti orang lain menunjukkan bahwa orang  tersebut memiliki hati yang kotor.

Dengan perkataan yang tepat -baik yang terucapkan dengan lisan dan didengar orang banyak maupun yang tertulis sehingga terucapkan oleh diri sendiri dan orang lain ketika membacanya- akan tersebar luas informasi dan memberi pengaruh yang tidak kecil bagi jiwa dan pikiran manusia.
Kalau ucapan itu baik, baik pula pengaruhnya, dan bila buruk maka buruk pula hasilnya, dan karena itu ayat di atas menerangkan akan dampak dari perkataan yang tepat yakni perbaikan amal-amal mereka sepanjang orang-orang mukmin itu mengucapkannya.

Sebagai penutup,  baiknya penulis kutip perkataan dari salah seorang ahli tafsir dari kalangan Syi’ah –Thabâthabâi (1997: 354)- di mana dia mengatakan bahwa:

Keterbiasaan seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang tepat, akan menjauhkannya dari kebohongan dan ia juga tidak akan mengucapkan kata-kata yang mengakibatkan keburukan atau yang tidak bermanfaat. Seseorang yang telah mantap sifat tersebut pada dirinya, perbuatan-perbuatannya pun akan terhindar dari kebohongan dan keburukan, dan ini berarti lahirnya amal-amal saleh dari yang bersangkutan. Ketika itu, ia akan menyadari betapa buruk amal-amalnya yang pernah ia lakukan sehingga ia menyesalinya dan penyesalan tersebut mendorong ia bertaubat, dan ini menjadi sebab Allah memeliharanya serta menerima taubatnya selama dia menjauhi perilaku dosa-dosa besar.

*Penulis adalah guru SDIT di Banjaran

Referensi:
Hamka. 1987. Tafsir al Azhar Juz 22. Jakarta: PT Bulan Bintang.
Ibn Âsyûr. 1984. Tafsir tahrir wa Tanwir Juz 22. Tunisia: Darut Tunisiyyah Linnasyr.
Ibn Faris. 2002. Maqâyisul Lughah Juz 2. Beirut: Darul Fikr.

Ibn Rajab. 2001. Tafsir Ibn Rajab Juz 2. Riyadh: Darul ‘Âshimah.
Thabâthabâi. 1997.  Tafsir al Mizan Juz 16. Beirut: Mu’assasatul ‘Alamî Lil Mathbu’.
Zuhaili. 2008. Tafsir al Munir fi ‘Aqidah was Syari’ah wal Manhaj Mujallid 11. Damaskus: Darul Fikr.

Sumber gambar: FB Drawing Pencil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar