Politik Kasih Sayang

Fendy Chovi

Kemarin adalah peringatan hari Valentine, hari kasih sayang yang dinilai sebagai momentum tahunan bagi kaum muda maupun tua untuk mengekspresikan rasa kasih kepada pasangan yang dihelat setiap tanggal 14 Februari.

Debat-debat terbuka terkait penolakan maupun penerimaan hari Valentine lazim kita dengar dari satu forum diskusi, majelis ta'lim, mimbar jum'at maupun aksi jalanan terus mengalir tiada henti dari tahun ke tahun.

Nah, momentum hari Valentine ini setidaknya menjadi refleksi kita bersama tentang makna kasih sayang yang perlu ditafsir ulang dalam perayaan-perayaan kasih-mengasihi dalam lakon asmara yang kita rayakan.

Manusia adalah mahluk jenius yang pandai memahami momentum. Setiap tahun, dalam kalender kita dilumuri dengan aneka kegiatan yang berkaitan dengan momentum.

Kalender kita tak hanya diisi perayaan hari jadi suatu daerah maupun hari kemerdekaan sebuah negara. Namun, seremonial pesta rakyat serta perayaan hari-hari besar umat beragama dan yang seringkali kita dengar, sepertinya juga terlihat pada momen hari Valentine.

Nah, apa yang kita dapatkan dari Valentine?

Tak lain, salah satunya yaitu adanya kesan bahwa kita adalah pribadi romantis dan peduli dengan pasangan yang setidaknya dapat dirayakan pada momentum hari kasih sayang.

Barangkali, sebagian dari kita belum sempat menelusuri asal mula tentang perayaan hari Valentine (sebagai hari kasih sayang yang seringkali ditentang), karena hal tersebut sudah tidak terlalu penting, sebab bagi mereka yang terpenting saat ini adalah merayaan sesuatu yang berujung kepada having fun.

**

Jika kita bercermin dan menghayati secara mendalam, hari Valentine boleh saja kita sebut sebagai momentum politik kasih sayang atas tubuh.

Kenapa begitu?

Sebab, tidak sedikit generasi muda menikmati sensasi hubungan terkadang dimulai dari pemaknaan bebas mereka atas "hadirnya hari Valentine", dengan harapan memiliki tubuh (titik klimaksnya ialah seks bebas) atas pasangan mereka masing-masing.

Sebuah buku yang sedikit provokatif , Making Love: Cinta itu Seks?  karya khoridatul Annisa membongkar rahasia dan mitos cinta.

Dalam buku itu dijelaskan bahwa kebanyakan dari anak muda seakan dididik sebagai pemburu atau pemangsa (predator), perayu, penggoda, dan penjajah, yang ujung-ujungnya adalah mengarah kepada seksualitas. Hasrat berpacaran anak muda tak jarang lebih kepada orientasi penguasaan atas tubuh yang berakhir dengan perilaku seks bebas tersebut.

Jika direnungkan, tubuh kita memiliki daya tawar dan daya jual tersendiri dalam tatanan hubungan muda-mudi. Tubuh kita, barangkali sudah masuk dalam proyeksi kapitalis yang perlu dipercantik dengan berbagai aksesoris agar menggugah daya pikat lawan jenis.

Tubuh kita akhirnya menjadi ajang rebutan yang dengan tanpa beban justru kita gratiskan kepada pasangan untuk dinikmati, yang belum sah secara agama maupun negara.

Dengan memahami daya pikat tubuh itu, tak jarang kita mendandani tubuh sebagai "citra diri", memaksimalkan kecantikan dan ketampanan dengan memperindah dengan sedikit polesan lipstik, bedak, maupun pakaian yang stylish.

Nah, proyeksi kapitalis dalam rangka mendekatkan pasar pada hubungan muda-mudi dengan mudah kita temukan di kehidupan sehari-hari. Kita begitu pintar mengoleksi berbagai hadiah, boneka, kue, baju, dan sederet pemberian "bernilai tawar ekonomis" dari pasangan.

Dan tanpa disadari juga, tubuh kita pun ikut terbeli dengan pemberian itu. Barangkali itulah hasrat politik (menguasai) atas tubuh kita melalui landasan kasih sayang.

Untuk itu, cinta memang dilahirkan untuk dirayakan. Namun, sudah selayaknya kita belajar memahami politik kasih sayang atas tubuh yang pada tataran klimaksnya seringkali berakhir pada perilaku seks bebas yang sejatinya menista hubungan suci di antara anak muda.

*Penulis adalah aktivis perdamaian di komunitas YIPC

Sumber gambar: FB Drawing Pencil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar