Perbedaan Itu Menggairahkan


Siti Shafa
 K.H. Abdurrahman Wahid atau yang sering di sapa ‘Gus Dur’ terbiasa  mengatakan hal-hal yang cukup nyentrik, tetapi jika direnungkan maka akan ditemukan makna-makna filosofis yang mendalam. Salah satu pendapat nyentriknya adalah “perbedaan itu menggairahkan”, Gus Dur mengatakan ini saat menjadi pembicara di suatu acara. 

Ada seorang peserta yang menuduh Gus Dur sebagai sebab timbulnya perpecahan umat Islam di Indonesia karena beliau tidak bergabung dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Dituduh seperti itu, justru Gus Dur menjawab “Jika umat Islam tidak bisa bersatu, ya biarin aja”, beliau menjelaskan bahwa perbedaan itu menggairahkan, seperti taman yang ditumbuhi bunga-bunga dari berbagai jenis dan warna akan membuat mata terpesona. Tidak boleh menyeragamkan perbedaaan, karena bisa mematikan kreativitas. 

Gus Dur menambahkan bahwa persatuan itu dapat diwujudkan dari tatanan prinsip-prinsip agama. Setiap agama berhak memiliki keyakinan tentang kebenaran agama yang dianutnya, jika ada seorang pejabat yang mengatakan bahwa “semua agama itu sama” bukan berarti semua agama itu benar, justru maksud dari pernyataan itu adalah bahwa semua agama sama di hadapan negara, sedangkan klaim kebenaran masing-masing agama masih bisa dijaga.

Gus Dur memiliki gagasan yakni “Pribumisasi Islam”, gagasan ini berupaya untuk menegaskan bahwa Islam memang agama yang universal, tetapi manifestasi Islam dalam berbagai kebudayaan membuatnya berbeda-beda. Tidak mungkin agama dan budaya dipisahkan karena meskipun agama itu berasal dari Tuhan namun dalam tatan ruang dan waktu dipelajari dan diamalkan oleh manusia sehingga agama berbaur dengan kebudayaan. Menurut Gus Dur jika Islam tercabut dari budaya-budaya lokal maka dikhawatirkan terbentuknya wujud Arabisasi total.

Segaris lurus dengan pandangan tersebut, pancasila memiliki maksud untuk menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan bagi setiap rakyat Indonesia tanpa adanya satu pembeda pun. Tentu ini merupakan bukti adanya keselarasan antara nilai ideologi bangsa kita dengan prinsip agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Itulah sebab Gus Dur memberikan gagasan Pribumisasi Islam, supaya agama Islam tetap bisa sejalan dengan nilai-nilai negara dan setiap pemeluk agama yang ada di Indonesia memiliki sikap toleransi yang semakin tinggi.

Gus Dur sebagai tokoh Muslim yang memiliki sikap terbuka bagi semuanya, tetap menerima hal-hal yang datang dari luar Islam yang tak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Maka dengan begini Gus Dur telah berusaha untuk menghargai perbedaan yang ada di Indonesia dan melindungi kaum minoritas selama jabatannya menjadi presiden. 

Dilansir dari www.kompas.com, dalam sebuah acara seminar “Role Model Pemimpin dan Guru Bangsa” dan bedah buku tentang Gus Dur, TB Silalahi, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara ini menyebut Gus Dur sebagai seorang tokoh nasionalis sekaligus negarawan, meski bukan orang yang sempurna, Gus Dur masih tepat disebut sebagai bapak bangsa. 

Ia mengatakan “Gus Dur adalah pemimpin yang melindungi semua golongan masyarakat, etnis, ras, dan agama.” Selain Silalahi, Chairul Tanjung juga berpendapat hal yang serupa, “Saya percaya Tuhan memberi pemimpin sesuai dengan zamannya. Gus Dur diberi peran yang luar biasa dalam mengedepankan pluralisme dan multikulturalisme.” 

Belajar dari Gus Dur, kita menjadi paham bahwa memperjuangkan Islam tidak harus dengan cara yang justru menjatuhkan Islam itu sendiri, tidak perlu menggunakan cara dengan membuat agama Islam menjadi sesuatu yang eksklusif. Justru perlu digunakan cara yang bisa merangkul golongan lain yang berbeda agar bersama-sama menuju tujuan yang lebih baik untuk semuanya. 

Tidak setiap perbedaan bisa menghancurkan semuanya bahkan amat mungkin perbedaan bisa menimbulkan persatuan yang harmonis antara satu dengan yang lainnya karena adanya keinginan untuk saling melengkapi dan mencapai tujuan yang sama. 

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam, UPI Bandung

Sumber gambar: FB A Common Word

Tidak ada komentar:

Posting Komentar