Penawar Atas Pelbagai Perbedaan



Anisha Nur Fitriani
Melihat realita sosial nyatanya umat Muslim masih memiliki tingkat resistensi yang tebal, ini membuktikan bahwa pemahaman agama yang dimiliki masih terlalu dangkal. Kita bisa mejumpainya langsung di berbagai media sosial, akhir-akhir ini. 

Tak jarang kita saksikan ketegangan yang ujung-ujungnya berakhir dengan konflik kekerasan. Hal tersebut biasanya dipicu oleh nafsu yang didukung oleh sebuah sikap merasa benar sendiri dan mudah menyalahkan yang lain. 

Keadaan ini diperparah dengan faktor-faktor lain seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. Padahal nilai-nilai keislaman jelas sekali mewajibkan pada perdamaian dan tak mudah untuk berburuk sangka. 

Kata Islam sendiri berarti damai, selamat, penyerahan diri, tunduk dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian, kerukunan, keselamatan dan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia pada khususnya, dan semua makhluk Allah pada umumnya, bukan malah untuk mendatangkan dan membuat bencana atau kerusakan di muka bumi. 

Inilah yang disebut fungsi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatal lil alamin) sebagaimana firman Allah Swt., “ Dan tidaklah Kami mengutus kamu Muhammad SAW, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”(Al-Anbiya: 107).

Fungsi Islam sebagai rahmatal lil alamin tidak tergantung pada penerimaan atau penilaian manusia. Substansi rahmat terletak pada fungsi ajarannya tersebut. Fungsi itu baru akan terwujud dan dapat dirasakan oleh manusia sendiri maupun oleh makhluk-makhluk yang lain, jika manusia sebagai pengemban amanat Allah telah menaati dan menjalankan aturan-aturan ajaran Islam dengan benar dan menyeluruh.

Sayang, umat Muslim belum mengerti benar esensi tentang fungsi agamanya, banyak sekali perbedaan kecil yang diperuncing sehingga melukai satu sama lain. Perbedaan furu’iyah misalnya, seringkali satu pihak merasa lebih benar dari pihak lainnya tanpa memahami akar perbedaannya. 

Contohnya saja seperti perbedaan pengalaman keagamaan dalam hal berpakaian, di mana ada muslimah yang memakai cadar ada juga yang tidak, ada lelaki Muslim yang bercelana cingkrang, ada pula tidak. Kondisi semacam ini terlalu naif jika sampai membuat retak ukhuwah Islamiyah. Apalagi, masing-masing pihak tentu memiliki landasan yang juga bersumber dari para ulama.
Selama perbedaan-perbedaan pengamalan keagamaan tersebut sesuai dengan tuntunan Alquran dan As-sunnah serta merujuk pada hujjah (landasan) dari ulama umat, maka perbedaan furu’ tersebut tak perlu dipertentangkan, justru hendaknya dijadikan sebagai kekayaan khazanah Islam.
Sufi yang bermukim di Amerika Serikat, Bawa Muhayaiddeen, menyatakan bahwa seluruh manusia diibaratkan sebagai para musafir yang sedang dalam perjalanan panjang di gurun pasir untuk menuju suatu tempat keabadian. Kita semua sedang mencari air kesejukan di sebuah oase untuk bekal dalam perjalanan panjang ini. 

Sesampainya di oase, kebanyakan manusia lupa untuk mengambil air kesejukan tersebut karena melihat adanya perbedaan di antara mereka. Ada yang membawa wadah air dari logam, ada juga yang dari kuningan, kayu dan sebagainya. 

Manusia saling menyalahkan bahwa wadah yang dibawa orang lain adalah salah kerena seharusnya mereka memakai wadah seperti yang dimilikinya, mereka saling beradu pendapat, bahkan berkelahi dan saling membunuh. Ketika waktu mereka telah habis, mereka tidak sempat mengisi wadahnya dengan air, sehingga tidak mempunyai bekal apa-apa untuk mengarungi tempat keabadian. 

Hanya segelintir saja yang betul-betul memfokuskan dirinya untuk mengambil bekal air kesejukan tersebut, tanpa menghiraukan perbedaan wadah orang lain. Mereka inilah yang mempunyai bekal cukup untuk mengarungi kehidupan yang abadi kelak. 

Maka dari itu, umat Islam sekarang sudah seharusnya saling memahami dan menghormati pengamalan keagamaan dalam perbedaan furu’iyah (non basic) dan tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai sesuatu yang serius untuk diperdebatkan. Soal perbedaan furu’iyah di masyarakat jangan diprioritaskan untuk diungkit, sebab itu bukan hal prinsipil, karena persatuan umat adalah jauh lebih penting dari itu semua.
Jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menghabis-habiskan waktu untuk berdebat, tapi jadikanlah diri kita ini termasuk ke dalam manusia-manusia yang mampu mempersiapakan bekal untuk kehidupan di keabadian dengan sebenar-benarnya dan sebaik-sebaiknya, sebgaimana perumpamaan di atas.
**
Menurut saya sendiri faktor penyebab adanya perbedaan salah satunya adalah karena akal manusia yang tidak sama. Allah Swt. telah menciptakan manusia berbeda-beda. Akal setiap individu yang tidak sama satu sama lain membuat pola pikir dan sudut pandang yang terbentuk pun beraneka ragam dari setiap kepalanya. 

Adapun faktor lainnya adalah seperti karena adanya nafsu dalam diri manusia yang cenderung mendorong seseorang untuk merasa dirinya sebagai yang paling benar, menjadikan mereka lebih sibuk dengan perbedaan yang kecil dibandingkan persamaan yang sebenaranya sangat banyak.

Ibarat sebuah titik yang digoreskan di tengah selembar kertas putih, ketika seseorang ditanya “apa yang dapat dilihat dari kertas tersebut?” mayoritas orang akan menjawab titik hitam yang hanya setitik, padahal bagian putih/kosong dalam lembaran kertas itu jauh lebih banyak.
Ya, begitulah pola pikir manusia kebanyakan dan sayangnya masyarakat Muslim pun masih banyak yang berpikiran sebagaimana analogi di atas.  Padahal sebenarnya ketika seorang Muslim memperdalam wawasan keislamannya maka resistensinya akan semakin menipis, karena semakin seseorang mempelajari Islam maka ia akan semakin menemukan banyaknya persamaan dibandingkan perbedaan, sehingga pertikaian dapat diminimalisir. 
Jika saja mereka bersedia membuka hati dan pikirannya untuk mau duduk bersama, berdiskusi, kemudian saling berbagi dan menerima cara pandang masing-masing, tentu dari hasil sharing tersebut niscaya mereka akan menemukan benang merahnya untuk mereka damaikan perbedaan yang ada.
Lalu bagaimana cara “mengendalikan” akal? Saya sendiri meyakini bahwa hal itu dapat dilatih dengan memperbanyak membaca Alquran. Betapa benar, bahwa Alquran adalah obat dari segala obat, termasuk obat hati, yang dapat melunakkan hati yang keras, menumpulkan akal yang liar dan menundukkan nafsu yang menggebu. 

Ketika seseorang terbiasa “mencandu” ayat-ayat suci-Nya niscaya hidupnya akan damai, karena Allah Swt. akan memudahkan baginya untuk menerima hidayah dari-Nya sebagaimana yang Allah Swt. janjikan bahwa seseorang yang berinteraksi dengan ayat-ayat-Nya maka akan mendapat banyak rahmat dalam hidupnya (QS. Al-Isra: 82). 

Ketika seseorang berinteraksi secara intens dengan Alquran, disadari atau tidak, dengan sendirinya ayat-ayat Alquran yang “dicandu” itu akan mampu menjadi alat dari Allah Swt. untuk mengobati hati yang sakit, membenahi pikiran yang rumit dan senantisa menjadi petunjuk untuk melewati jalan yang sulit. 

Seseorang yang sudah jernih hati dan jiwanya niscaya ia akan lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Selain itu juga, ia akan sangat mudah untuk menerima hidayah-Nya dan akan mengedepankan husnudzan serta muhasabah (intropeksi diri) dibanding menjustifikasi. Karena seseorang yang sibuk melihat dan memperbaiki dirinya maka tidak akan ada tempat dihatinya untuk sibuk melihat dan mencari-cari kesalahan orang lain. 

Barangsiapa saja yang memelihara hubungan baik dengan Allah (habluminnallah) niscaya ia pun akan mampu membina hubungan baik dengan sesamanya (habluminanas). Karena menjalin ukhuwah (persaudaraan) adalah salah satu perintah-Nya, dan yang taat pada-Nya pasti akan mau menjalankan apapun yang diperintahkan-Nya karena meyakini akan kebaikan yang menjadi ganjarannya.

Wujud ukhuwah sendiri salah satunya dapat ditunjukkan dengan saling menghormati dan memahami pengalaman keagamaan dalam hal furu’iyah dan tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai sesuatu yang serius. Karena saat ini ada hal yang lebih penting, yakni menghimpun kekuatan umat, membangun kebersamaan, dan bersinergi dengan komponen umat Islam lainnya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah.

Unsur utama perekat ukhuwah adalah adanya kesamaan keyakinan atau keimanan, maka perbedaan sedikit tidaklah patut dijadikan sulutan peperangan, selama kita masih mengimani Allah Swt. sebagai Tuhan Kita, dan Nabi Muhammad Saw. sebagai panutan kita, serta Alquran dijadikan pedoman hidup, karena sebenarnya dimuka bumi ini.

secara hakikatnya tidak ada yang paling benar, yang ada hanyalah yang berusaha mendekati kebenaran sehingga dengan begitu jelaslah bahwa yang keliru yakni mereka yang merasa bahwa pemahamanyalah yang paling benar. 

Seyogyanya, seseorang yang mempunyai keimanan yang tinggi dan pemahaman keagamaan yang luhur, ketika ia menemukan perbedaan justru malah akan menumpulkan potensi pertikaian, bukan memperuncingnya karena ia sadar bahwa Tuhan sekalipun tidak pernah menyuruh mereka bertikai. 

Perbedaan itu sendiri adalah sebuah keniscayaan, bukankah pelangi terlihat indah karena memiliki tujuh warna yang berbeda? Maka kita—sebagai manusia—tidaklah patut untuk saling salah-menyalahkan, merasa diri yang paling benar dengan menuduh orang atau suatu golongan yang tidak-tidak. 

Zaky berpesan, “Janganlah kita terlalu fokus pada perbedaan yang sebenarnya hanya sedikit dibanding persamaan yang sesungguhnya jauh lebih banyak.  Fokuslah pada persamaan tersebut, karena ketika kita sudah mampu melihat persamaan maka terciptanya kedamaian adalah sebuah keniscayaan.” Begitulah ujar mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana (SPs) PAI UPI 2016, yang saya temui disela perkuliahannya.

*Penulis adalah alumni S1 Ilmu Pendidikan Agama Islam, UPI Bandung

Sumber gambar: FB American Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar