Pelajaran Agama Jangan Memonopoli Tuhan di Sekolah


Taufik Hidayat
 Tulisan ini hanyalah merupakan curahan kegalauan saya sebagai seorang guru selain juga sebagai mantan siswa .Jujur saja, saya baru mulai mengenal agama lebih mendalam ketika berada di kampus. Tentu ini adalah suatu hal yang wajar karena jurusan kuliah saya waktu itu adalah Pendidikan Agama Islam (PAI). 

Sebelumnya, yakni di waktu saya berada di bangku sekolah, memang saya telah bersentuhan dengan agama namun kebanyakan hanya dalam bentuknya yang sarat dengan ritual-ritual keibadahan. Itu pun karena didikan dari orang tua terutama ibu yang sangat peduli terhadap pendidikan agama anaknya. 

Saat itu ibu saya sangat semangat menyuruh saya salat dan pergi mengaji, bahkan kadang sebelum tidur ia memanggil saya untuk memeriksa bacaan salat, doa sehari-hari, dan bacaan Alquran. Alhamdulillah saya punya ibu yang luar biasa care sama pendidikan keagamaan. Meskipun demikian, saya merasa hanya sekadar menjalankannya tanpa tahu hakikatnya.

Ketika duduk di bangku sekolah, saya merasa bahwa pendidikan kita cenderung sekular, memisahkan urusan keagamaan dan ilmu “duniawi”. Intinya setiap pelajaran berdiri masing-masing.  PAI dengan ilmu agamanya, matematika dengan hitungannya, biologi dengan organ-organ makhluk hidupnya, begitu pun dengan mata pelajaran lainnya. Tak jarang pula ada beberapa bab dari pembelajaran tersebut yang sebenarnya bertentangan dengan apa yang PAI ajarkan. 

Padahal sejatinya pelajaran-pelajaran tersebut merupakan satu kesatuan, sehingga bisa dipadukan. Dahulu saya menganggap kalau pelajaran agama Islam hanya untuk membahas urusan ritual ibadah saja, tak terpikirkan bahwa ternyata agama selalu dapat disisipkan dalam pelajaran-pelajaran lainnya.

Sistem yang terkesan sekular ini bagi saya termasuk hal yang berbahaya karena seharusnya nilai-nilai agama perlu atau dapat diselipkan dalam setiap pembelajaran. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka siswa hanya akan mendapatkan ilmu saja tanpa mengetahui hikmah dan hakikat dari ilmu tersebut, yakni selalu adanya keterkaitan dengan Tuhan. Tanpa mengenal Tuhan, seseorang bisa saja menggunakan ilmunya tanpa aturan atau batasan-batasan yang telah ditentukan Tuhan.

Barulah ketika masuk ke dunia perkuliahan saya semakin tahu tentang betapa luasnya agama terutama Islam yang salah satu bukti keluasannya ialah dapat diselipkan dalam setiap pembelajaran di sekolah. Bahkan ketika saya mulai mengajar di salah satu sekolah swasta, saya semakin tertarik dan tertantang untuk “mengislamisasikan” semua pelajaran di sekolah. Apalagi pihak sekolah pun secara terang-terangan sangat mendukung hal tersebut. Misalnya, pimpinan sekolah selalu menyampaikan ide cemerlangnya kepada saya selaku guru agama dengan guru lainnya mengenai integrasi pelajaran agama dan umum.

Sebagai gambaran sederhana, guru PAI jangan hanya mengajarkan agama, tapi juga harus dapat mengaitkannya dengan pelajaran umum yang lainnya. Begitupun guru selain PAI yang seyogyanya menyelipkan muatan agama dalam setiap pembahasannya. 

Misal, ketika guru PAI menjelaskan taharah/bersuci. Baiknya dilengkapi pula dengan kajian-kajian ilmiah biologi tentang air, tanah, atau najis. Contoh lain, ketika pelajaran fisika tentang tata surya, dapat sembari dikaitkan dengan ayat-ayat Alquran mengenai langit atau orbit planet beserta hikmahnya.

Dalam pelajaran ekonomi pun demikian. Perlu pula dihubungkan dengn aturan jual beli dalam perspektif Islam beserta hikmahnya. Di pelajaran Biologi tentang reproduksi yang  tidak hanya sekadar mengajarkan penyakit kelamin, organ intim, atau seks saja, tapi juga perlu sambil mengulas mengenai larangan berzina dan apa dampaknya secara agama dan sosial kemasyarakatan. 

Tidak hanya itu, pelajaran kebahasaan pun dapat dikaitkan dengan nilai-nilai keagamaan. Misalnya guru bahasa Inggris mengulas artikel-artikel keislaman sehingga tidak selalu menyoroti kehidupan dan budaya negeri Barat saja.

Ada pula ide lainnya yang menurut saya lebih terintegrasi. Kegiatan ini telah bisa dilakukan di sekolah tempat saya mengajar yang kebetulan lebih mandiri dan tidak terlalu terikat dengan kurikulum nasional meski belum tentu dapat ditiru di sekolah lain. Kegiatannya ialah projek bersama penyembelihan ayam di sekolah. Semua guru berunding menentukan tugas sesuai dengan bidang pelajaran yang diampu. 

Guru agama memberikan pembelajaran tentang tata cara penyembelihan dan memperlakukan binatang. Guru biologi menyuruh siswa meneliti organ tubuh ayam. Guru IPS memberi tugas meneliti harga daging ayam di pasar. Guru Bahasa memberi tugas membuat laporan. Guru olahraga memberi tugas membuat laporan gizi dari daging ayam. Guru PKN memberikan tugas meneliti kebijakan pangan oleh pemerintah. Sedangkan guru kesenian membuat prakarya dari tulang ayam. Itu hanya salah satu contoh saja.

Beberapa contoh di atas hanya secuil dari banyak bab yang sebenarnya bisa diintegrasikan. Dan tulisan ini hanya membicarakan pengintegrasian PAI dengan pelajaran lain. Meskipun demikian bisa pula diaplikasikan ke dalam pelajaran agama-agama lain. Semoga dengan gagasan sederhana ini, pendidikan kita  dapat berjalan semakin terarah sesuai nilai-nilai ketuhanan. Itulah poin pertama falsafah negara kita. Dengan demikian para siswa kita semakin cerdas dan selalu ingat dengan Tuhannya. 

*Penulis adalah guru PAI di Cendekia Leadership School, Bandung

Sumber gambar: FB Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar