Paradoksi Akun Media Islami

Muhammad Akbar
Di era digital ini, penggunaan media sosial sudah menjadi hal lumrah bagi setiap orang. Banyak hal yang bisa diakses di sana. Selain dapat mengetahui kegiatan dan aktivitas orang lain, kita pun dapat mengakses segala hal yang kita inginkan.

Bahkan kita pun dapat belajar keislaman melalui akun-akun media Islami yang tersedia. Kita tinggal ikuti akun tersebut untuk mendapatkan kajian keislaman yang dipostingnya. Tentu hal ini adalah kabar yang baik, mengingat meski laju media digital terlampau bebas, namun masih ada akun-akun media Islami yang dapat menyedot perhatian netizen untuk memperoleh ilmu keislaman.

Sayang, di balik kabar baik tersebut, sisi lainnya memunculkan dampak buruknya. Acapkali kali didapati beberapa akun media Islami memposting kajian fiqh yang terkesan dipaksakan dan belum tuntas. Membahas fiqh semestinya disertai nash yang shahih, yang jelas teks dan konteks yang mengiringinya. Jelas produk hukumnya serta relevan dengan kondisi saat ini.

Jika tidak, hal tersebut akan berakibat pada internalisasi pemahaman yang tidak utuh bahkan salah. Terlebih pengguna media sosial didominasi oleh kalangan muda yang belum tentu memiliki filter yang mumpuni dalam menyerap pengetahuan agama yang bertebaran di media sosial.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika akun-akun media Islami tersebut ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya saja, postingannya menyerempet ke arah fitnah. Hal ini jelas berseberangan dengan prinsip tabayyun dan amanah dalam Islam. Seharusnya akun-akun tersebut memegang erat kedua prinsip tersebut agar tidak menimbulkan kegaduhan yang meluas.

Contoh terbarunya dapat kita jumpai di akun instagram salah satu calon gubernur Jawa Barat. Salah satu akun media Islami (yang kabarnya saat ini sudah diblokir), membuat narasi digital yang secara tidak langsung hendak menggiring opini publik bahwa cagub tersebut didukung dan/atau mendukung komunitas LGBT.

Tanpa tabayyun dan rasa amanah, akun tersebut memposting dan kemudian meluas. Jelas hal tersebut tidak dapat diterima oleh si cagub , karena menurutnya hal tersebut tidaklah benar. Melalui akunnya, si cagub membantah serta menyertai bukti bahwa beliau betul-betul tidak mendukung komunitas LGBT yang berseberangan dengan akidah agamanya.

Tentu, sampel kejadian di atas sangat mencederai demokrasi digital dan prinsip agama Islam, yang dalam ajarannya mengajarkan kedamaian bagi semua pihak. Memang, di negara kita, agama menjadi objek yang sexy untuk ditunggangi. Agama jadi bahan warta yang ampuh untuk menutupi topeng kemunafikan di belakangnya. Bahkan menjadi alat untuk menjatuhkan, menyudutkan dan membenci sesama manusia. Na’udzubillah.

Ini menjadi paradoks. Di satu sisi akun media Islam menjadi oase di tengah kegersangan dan kekeringan pengetahun agama di media sosial. Namun di sisi lain, menjadi media yang dapat mencederai Islam sebagai agama yang penuh rahmat bagi semesta.

*Penulis adalah lulusan S2 PAI UPI, Bandung

Sumber gambar: www.fotodakwah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar