Para Pejuang Itu Ada di Kampung Inggris

Jiva Agung
 Setelah lulus kuliah, saya memutuskan untuk mengembara ke sebuah kota kecil di sudut timur pulau Jawa yang konon dapat menyulap seseorang menjadi pintar berbahasa Inggris dalam waktu yang relatif singkat. Orang-orang menyebutnya sebagai Kampung Inggris, sebuah kawasan yang penuh akan lembaga kursus bahasa yang terletak di desa Telungrejo, kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. 

Uniknya, di sana saya bertemu dengan para perantau, yang umumnya adalah dari kalangan lulusan sarjana strata satu dari berbagai penjuru Indonesia. Ada yang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Meski memiliki tujuan yang beragam, tetapi rata-rata mereka memiliki misi yang sama dengan saya, yaitu ingin meningkatkan skill bahasa Inggris sebagai syarat memasuki pendidikan yang lebih tinggi (S2).
Mengawali pembelajaran dengan mengambil program basic di salah satu lembaga terbesar di sana, saya tak menyangka dipertemukan dengan orang-orang pintar yang memiliki mimpi tinggi dan mulia. Hukmi salah satunya. 
Remaja lulusan jurusan Filsafat Universitas Gadjah Mada ini memiliki impian untuk mengambil kuliah magister di Inggris dengan biaya dari sebuah lembaga pemberi beasiswa. Target akhirnya ialah untuk meraih skor 7 di ujian IELTS, sebuah tes bahasa Inggris berstandar Internasional. 
Pemikirannya yang kritis sekaligus skeptis khususnya mengenai hal-hal yang sifatnya filosofis, membuat saya senang sekali berdiskusi dengannya setiap ada waktu senggang. Tapi sayang, beberapa bulan kemudian saya mendengar kabar yang kurang bahagia darinya di mana ia tidak lolos di sesi terakhir seleksi beasiswa.

Saya kira sungguh merugilah lembaga pemberi beasiswa itu karena sebenarnya Indonesia amat butuh orang-orang yang seperti dirinya, yang meski tidak menawarkan sebuah out put berupa produk material sebagaimana ilmu-ilmu natural, ia―dengan ilmu filsafat yang ditekuninya―dapat mengubah weltanschauung masyarakat Indonesia yang sebagaimana dikatakan sebagian sarjana sedang mengalami conservative turning
Beberapa bulan kemudian, setelah merasa mantap menguasai ilmu-ilmu dasar, saya mengambil program IELTS preparation di tempat yang sama. Selangkah lebih maju dari para pembelajar basic english, penuntut ilmu di program ini memang tergolong orang-orang yang sudah berlevel advance di mana mereka telah serius untuk melanjutkan studi ke luar negeri. 
Jangan ditanya bagaimana suasana berada dalam lingkup ini. Saya dinaungi oleh para kawula muda yang memiliki semangat dan tekad yang menjulang tinggi. Sebagai gambaran, meski menjalani pembelajaran lima kali pertemuan dalam sehari (dari senin-jumat) di tambah try out seminggu sekali dan home work yang banyak, mereka tetap menyempatkan waktu untuk belajar mandiri. Seperti dua orang teman seasrama saya, Alga dan Ramdhan. 
Keduanya adalah sama-sama lulusan dari Universitas Negeri Makassar. Mereka bisa belajar hingga tengah malam di mana saya biasanya hanya menghabiskan waktu senggang untuk membaca buku atau menulis esai.
Merasa skor IELTS yang diraih masih jauh dari target sedangkan keinginan untuk melanjutkan perkuliahan telah tak tertahankan, saya memutuskan untuk menurunkan ambisi dengan mengambil program TOEFL (tes bahasa Inggris yang umumnya diakui secara nasional saja). Itu artinya saya memilih untuk stay kuliah magister di dalam negeri. 
Beda tempat dan waktu, tentu beda pula pengalamannya. Jika ada pemuda yang semangat belajar adalah suatu hal yang umum, maka di program ini saya menemukan seorang bapak berkepala empat yang naluri menimba ilmunya masih tinggi. 
Bapak Tauhid, begitu dia biasa disapa, adalah seorang lulusan S2 Universitas Dipenogoro yang ingin melanjutkan studi program doktoral di salah satu kampus ternama di Indonesia. Tetapi karena terhambat keterbatasan bahasa (Inggris), ia “terperangkap” di Kampung Inggris. 
Hebatnya, tidak ada rasa malu atau sungkan saat dia berinteraksi dengan lingkungan tempat kursus yang hampir pasti seluruhnya berumur lebih muda dari dirinya. Tidak hanya itu, satu hal yang membuat saya kagum yaitu tidak ada aktivitas yang dilaluinya dengan sia-sia. Kalau tidak belajar, pasti dihabiskan untuk beribadah. Bahkan waktu tidurnya saja amat singkat.
Hampir sama dengan Bapak Tauhid, teman-teman program TOEFL lainnya pun pada umumnya sangat senang belajar. Maka tak jarang di malam hari sebelum try out, kami sering belajar grammar bersama. Yang lebih militan dan masih merasa belum puas dengan apa yang didapat di tempat kursus, mereka akan memburu tempat-tempat yang menyediakan try out TOEFL gratis.
**
Enam bulan lamanya saya berada di sebuah tempat di mana mimpi-mimpi dirajut, setelah itu kembali ke Bekasi untuk mengurus pendaftaran kuliah. Dan proses ini menghabiskan waktu hingga kurang lebih enam bulan sampai akhirnya saya diterima di sebuah kampus di daerah Salemba. 
Tetapi karena jadwal masuk perkuliahannya masih agak lama, saya memutuskan buat kembali ke Kampung Inggris. Bukan lagi untuk mempelajari bahasa Inggris melainkan bahasa Arab karena jelas kurang afdal jika penuntut ilmu keagamaan (Islam) tidak dapat mengakses ilmu dari sumber-sumber primernya langsung.
Hasilnya, saya bergabung dengan sebuah kursusan yang mayoritas di dalamnya adalah pemuda-pemuda lulusan pondok pesantren penghafal alquran yang mana mereka memiliki mimpi untuk berkuliah di wilayah Timur Tengah seperti Mekkah, Madinah, atau Kairo. 
Dan bagusnya, mereka juga membawa nilai-nilai khas pondok yang meskipun terkesan sederhana tetapi bagi saya amat menunjukkan adab-adab islami. Sebagai contoh ialah takzim kepada ustaz (pengajar), sesuatu yang hampir hilang di lembaga pendidikan formal modern. Mereka terbiasa untuk membersihkan kantor pribadi ustaz, menyapu ruang kelas, atau sekadar menghapus tulisan yang ada di papan tulis. 
Akhirnya, di sini, di Kampung Inggris, dapat dikatakan bahwa saya telah nyata menyaksikan langsung orang-orang yang cinta pada ilmu, yang sedang berjuang meraih mimpi sekaligus akan menjadi penerang Indonesia dari kegelapan menuju secercah harapan bagi masa depan yang lebih baik.

*Penulis adalah guru honorer di Bandung

Sumber gambar: FB Pictures

Tidak ada komentar:

Posting Komentar