Optimis di Hati, Damai Dinanti


Nurti Budiyanti
“Langkahkan jejak kakimu dengan penuh keyakinan. Yakinilah dengan hati yang penuh ketawadhuan. Lalu tariklah nafas secara perlahan rasakanlah keberadaan Allah yang selalu menyertaimu. Niscaya keberkahan akan menghampirimu. Merasakan keberadaan-Nya hingga penghujung langkahmu. Dengan begitulah keberadaanmu akan menduduki tempat paling dekat  disisi-Nya.”

Sebuah keniscayaan bahwa makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. berkewajiban untuk mengabdikan dirinya kepada Sang Pencipta. Tujuan hidup kita sebagai muslimah yang taat tiada lain ialah beribadah kepada-Nya. Menggerakan seluruh hati agar terbangun dari keraguan yang melekat walaupun sekilat. Keraguan kadang hadir membendungi tekad. 

Tugas utama sebagai muslimah yang taat ialah menumbuhkan rasa optimisme yang kuat. Jalan yang terjal mampu ia lewati, kerikil batu mampu ia singkirkan, hingga badai sekalipun mampu ia lalui. Rasa optimis merupakan kunci yang paling utama dalam menguatkan kembali azam kita, sebagaimana Allah berfirman dalam kalam-Nya yang mulia.

“...kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali-Imron [2]: 159).

Tekad memberi stimulus energi positif yang kuat. Tekad inilah yang harus dipupuk, dijaga, dan dipelihara. Agar rasa optimis hadir meminimalisir keraguan yang ada. Sebagaimana Allah menjelaskan melalui firman-Nya sebagai berikut :

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At-Taubah [9]: 45).

Ayat tersebut mengindikasikan bahwa Allah telah menggambarkan manusia yang memiliki hati berselimut keraguan. Hati yang bimbang ialah karena keraguan yang diperoleh dari tipisnya keimanan, sehinga tipu daya muslihat hadir membelengguinya. Betapa kuatnya energi iman untuk melumpuhkan keraguan dalam hati.
Kekuatan iman hadir dalam menanamkan rasa kebersamaan hatinya bersama Allah sehingga rasa optimis pun selalu membentengi azamnya, karena keyakinan hati akan mengubah pandangan hidup tentang bagaimana kita harus bersikap. Muslimah yang taat mampu menghadirkan pandangan yang tepat dalam bersikap.

Sejarah telah mencatat betul dibalik kecemerlangan kejayaan Islam, hadir beberapa sosok muslimah taat yang memegang teguh tekadnya dengan optimisme yang kuat, diantaranya Khadijah, Fathimah Az-Zahra, Aisyah dan muslimah lainnya. 

Mereka adalah muslimah yang telah teruji sebagai individu yang bertakwa kepada Allah, menjunjung tinggi risalah yang dibawa Rasulullah. Mereka adalah muslimah yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama manusia dan sesama makhluk Allah. Mereka adalah sosok istri yang benar-benar bisa mendukung dan membahagiakan suami di jalan Allah. Mereka adalah ummahat yang berhasil dalam tarbiyatul awlad, yang dapat mencetak keturunan generasi kebanggaan Islam. 

Mereka juga merupakan sosok da’iyah yang tak pernah berhenti dari da’wah Islamiyyah, hatinya tak pernah surut dalam melakukan kebaikan. Belum lagi kisah Nabi Ibrahim yang berhasil meneggakkan kalimat Tauhid berkat dukungan kedua istrinya, Siti Hajar dan Siti Sarah. Disini sungguh terlihat bahwa fungsi seorang perempuan itu sungguh besar dalam memenangkan perjuangan, khususnya perjuangan Islam.

Dalam catatan sejarah tersebut, terlihat suatu rentangan yang amat jauh sekali dengan sosok wanita Islam masa kini. Memang banyak muslimah di dalam masyarakat yang telah menyadari fungsi, hak, kewajiban, dan peranan mereka dalam Islam. Tetapi ternyata lebih banyak lagi yang belum menyadari atau bahkan melarikan diri dari hal tersebut. Ini suatu realita yang tak dapat kita pungkiri. 

Globalisasi nilai-nilai jahiliyah menghantam muslimah masa kini. Sesungguhnya Maha Benar Allah yang dengan tegas bersabda dalam Al-Quran bahwa musuh-musuh Islam akan selalu berupaya dengan berbagai cara agar kita mengikuti millah (sistem hidup) mereka, hingga mereka ridha (QS. Al-Baqarah: 120), dan mereka akan selalu memerangi Islam dan segala yang berbau Islam, atau bahkan dapat memurtadkan kita dari Islam (QS 2: 217 dan 85: 8). 

Sesungguhnya fenomena muslimah hari ini, kebanyakan telah menyimpang jauh dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya sehingga mereka kehilangan jati dirinya sebagai muslimah. Ajaran Islam kabur dalam benaknya. Hatinya diselimuti dengan penuh keraguan, sehingga kedamaian tidak akan pernah terasakan. Hal inilah yang kelak akan kembali menghambat kejayaan Islam. Merosotnya akhlak kini sudah tidak terbendung lagi karena ghirah jihad Islamiyah seolah-olah menguap dari dalam kalbunya. 

Jika kita telaah kembali boleh jadi nilai-nilai jahiliyah yang tertanam kembali di negeri ini akibat dari keringnya hati, jauhnya harapan akan niat yang bersih. Katakanlah mereka tidak memiliki teori yaqin, tunduk, dan taat kepada Tuhan. Rasulullah pernah berpesan bahwa “Bila ada seseorang yang mengikuti gaya (hidup) suatu kaum yang lain, maka ia termasuk golongan kaum tersebut” (Al-Hadist). 

Hal inilah yang patut kita waspadai, kembali kepada fitrah Al-Islam secara utuh yang merupakan satu-satunya cara menuju profil muslimah sejati, memerhatikan dan melaksakanakan berbagai hak, kewajiban serta fungsinya baik sebagai seorang istri, sebagai ibu, sebagai warga masyarakat, dan sebagai da’iyah yang menyebarkan risalah. 

Seorang muslimah yang taat, ia mampu menatap masa depan dengan penuh semangat dan berbaik sangka kepada Allah. Menjalankan hidup dengan sikap optimis pada jalur yang direstui-Nya, menjauhi sikap pesimis yang dapat mengakibatkan kita terperosok ke dalam jurang keraguan dan kejumudan berfikir, sebab pesimis adalah sifat orang kafir (menutup kebenaran) yang mana Allah melarang umat Islam untuk berputus asa. “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar : 53).

Ternyata di dalam Al-Quran, Allah Swt. memberikan resep yang luar biasa agar kita senantiasa optimis dalam menjalani kehidupan yakni dengan yakin, iman dan takwa yang berwujud pada ketaatan dan ketundukan kepada tuntunan-Nya. Keyakinan itulah yang akan mengubah takdir seseorang, sebagaimana Rasulullah berpesan bahwa “Aku (Allah) bersama dengan prasangka hambaku” (Al-Hadits).
 
Adapun iman yang benar akan melahirkan rasa aman sehingga seseorang akan selalu optimis. Setiap individu yang beriman selalu merasa aman karena sadar bahwa dirinya sepenuhnya berada dibawah naungan Allah. Rasa aman yang tidak hanya diresapi secara pribadi namun juga mengalir dalam keluarga dan masyarakat. Keimanan ini selanjutnya menghadirkan hidayah sehingga tercipta pribadi-pribadi yang selalu benar dalam bertindak terhadap keluarga dan bangsanya

Dan rasa optimis bisa lahir jika didasari dengan ketakwaan, yakni adanya keyakinan seyakin-yakinnya bahwa Allah Maha Pemberi Rahmat. Negara kita akan diberikan banyak keberkahan jika semua penduduknya beriman dan bertakwa. Kebaikan yang permanen, datang dari segala arah, dari langit dan bumi. Maka dalam menatap masa depan harusnya disambut dengan iman dan takwa, bukan malah memperbanyak titik kemaksiatan.

Bangunlah, bergeraklah, lihatlah dunia membutuhkan tangan halusmu, wahai muslimah yang dirahmati Allah. Kelak kita menjadi muslimah yang taat yang selalu mengukir lautan ikhlas tanpa batas, gumuruh tekad tanpa sekat, badai sabar tiada henti. Hanya sabar dan ikhlas yang akan menjadi nafas panjang dalam setiap proses perjuangan yang digeluti. Optimis mengakar, damai memekar

*Penulis adalah mahasiswa pascasarjana UPI Bandung

Sumber gambar: FB Drawing Pencil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar