Murid Adalah Raja Bagi Gurunya



Surya Dienullah Al-Bandani
 Dear untuk engkau yang menyebut diri sebagai anak sekolah, siswa ataupun pelajar. Jika engkau tidak ingin belajar matematika, maka jangan sekolah di tempat yang ada pelajaran matematikanya karena pasti engkau akan merasa berat. Begitu juga bagi pengajarnya yang pasti merasakan kesulitan, karena bagaimana mau mengajari sedang dirimu saja sudah enggan tertarik dengan matematika.

Jika engkau berkata, “tapi kan saya sudah terlanjur sekolah di tempat yang ada pelajaran matematikanya.” Maka (kalau begitu) tak ada cara lain untuk menghindar atau lari dari keadaan. Jangan jadi pengecut yang selalu mencari-cari alasan untuk bunuh diri karena sudah tak berani menghadapi hidup. 

Apakah engkau tidak tahu kalau sekolah adalah sebuah laboratorium kehidupan? Sebuah miniatur kehidupan yang sengaja diciptakan agar engkau mengerti bahwa hidup selalu diliputi tantangan di mana jika engkau memilih untuk menyerah maka engkau akan kalah tetapi jika engkau berjuang niscaya kemenangan bakal ada digenggaman.

Namun bukan kehidupan namanya jika tak selalu memberi kejutan. Tak seperti rumus kepastikan bak matematika 1 + 1 = 2, dalam kehidupan kadang ada yang sudah mati-matian berusaha namun hasil yang didapat belum atau bahkan tidak memuaskan. Mungkin di sinilah kehidupan sedang mengajari kita akan makna dari sebuah keikhlasan. 

Maka dari itu, dirimu yang tak mau belajar matematika sedangkan kamu sekolah ditempat yang ada mata pelajaran matematikanya, harus tetap mempelajarinya dengan usaha yang sungguh-sungguh. Berhasil atau tidaknya dirimu menguasainya, itu akan menjadi buah tersendiri dari hasil kerja kerasmu.

Bahkan jika hasilnya sepahit empedu, selama dirimu jujur telah berusaha sekeras mempelajari matematika, para guru juga tidak akan menyiksamu di kursi listrik atau memukuli tulang belakangmu hingga lumpuh. 

Para guru paham kok, mereka tidak mungkin memaksa ikan untuk memanjat pohon. Jika engkau tidak begitu pandai pada mata pelajaran matematika, barangkali engkau pandai di bidang melukis, sastra, atau mungkin musik karena sejatinya tidak ada kasta dalam ilmu pengetahuan, mereka sejajar dan secara harmoni saling memberi manfaat satu sama lain.

Yang menjadi masalah adalah jika di sekolah tidak ada lagi keberlangsungan proses pendidikan. Guru tak mampu manahan diri dari tingkah menggemaskan murid yang seolah minta dicubit atau sekadar dimarahi ( hati-hati darah tinggi bapak-ibu ). 

Sedangkan siswa sudah tak lagi ingin diajari, dinasehati, kehilangan rasa kepenasaran terhadap ilmu pengetahuan, bahkan kehilangan cara berperilaku yang tepat terhadap gurunya.

Padahal guru itu ruhnya sekolah, di mana yang diusahakannya adalah menjadikan seseorang yang tadinya belum berilmu menjadi berilmu, yang tadinya belum tahu cara berperilaku baik, menjadi mampu berperilaku baik, yang belum berkemampuan menjadi memiliki kemampuan melakukan sesuatu. 

Demikianlah seharusnya dunia pendidikan, namun realitanya masih jauh dari kata ideal. Kita masih bisa menemukan berita di media sosial  tentang guru yang tak mampu mengontrol emosi dan menganiaya muridnya yang tak bisa diajak kerjasama dalam proses pendidikan. 

Bahkan yang  terbaru, minggu ini tersebar kabar tentang penganiyaan terhadap seorang guru muda yang dilakukan oleh siswanya sendiri. Tak tanggung-tanggung, penganiayaannya itu tak hanya menyebabkan luka pada fisik, tapi juga menjadi asbab sang guru kehilangan nyawa.

Pak guru Budi harus berhadapan dengan murid yang sudah kehilangan budi pekerti. Murid yang menganggap dirinya adalah pusat dari semesta, merasa dirinya harus diperlakukan istimewa tanpa mempelajari perilakunya sendiri yang tak mengistimewakan yang lain. 

Memang tidak semua murid “nakal”, atau tidak semua murid berperilaku ideal. Dunia ini memang sudah terkonsep demikian, selalu terbagi atas dua hal, ada “yin” juga ada “yang”. Seperti gagasan dalam film My Name Is Khan yang mengatakan bahwa, manusia yang tercipta di dunia ini hanya dua macam, pertama manusia yang baik dan kedua manusia yang jahat. Pun dengan murid, ada yang baik ada juga yang belum baik. Guru juga sama, ada yang baik ada juga yang hanya merasa baik. 

Sebenarnya guru dan siswa adalah pembelajar abadi, keduanya murid dari sekolah kehidupan. Mereka tidak selamanya salah, tapi juga tidak selalu benar. Yang terbaik dari mereka adalah yang mampu mengakses kesadaran diri. Jika ia salah, maka ia harus berani meminta maaf dan memperbaiki diri, bukan mencari-cari alasan membenarkan perilaku salahnya. Jika ia benar, maka ia tak perlu takut bersuara meski dicemooh oleh yang lain.

*Penulis adalah guru PAI 

Sumber gambar: FB Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar