Menjadi Tawanan Media Massa


Taufik Hidayat
Hebohnya isu-isu dari berbagai media massa sekarang ini yang disertai dengan respon masyarakat membuat saya tergelitik dan akhirnya memutuskan untuk menulis tanggapan kritis mengenai masalah ini. Bukan untuk men-judge media massa, tapi sekadar untuk mengajak lebih bijak menanggapinya.

Media massa zaman now tampak semakin canggih dan memengaruhi masyarakat. Berbagai informasi bisa dengan mudah dan cepat menyebar, bahkan untuk informasi hoax sekalipun. Pengaruhnya juga sudah tak bisa dielakkan lagi, mulai dari obrolan masyarakat kelas bawah sampai masyarakat kelas atas berdasarkan apa yang disampaikan oleh media massa.

Dalam debat pemilihan pemimpin misalnya, mereka menggunakan data-data dari berbagai media massa sebagai bahan debat dan diskusi, bahkan dalam merancang program kerja. Begitupun masyarakat dari kalangan biasa, semenjak dari pagi sudah disuguhi berbagai informasi berita dari media massa, entah itu dari TV, koran, atau yang kekinian melalui media sosial dan berita berbasis online.

Memang, peran media massa sangat banyak manfaatnya, yakni sebagai media pendidikan bagi masyarakat karena menyajikan informasi-informasi dan ilmu-ilmu yang bermanfaat, selain juga menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. 

Bahkan zaman sekarang, media massa telah menjadi senjata yang sangat ampuh untuk menggiring opini masyarakat terutama yang dilakukan oleh penguasa atau elit politik. Maka dari itu tak aneh jika di negeri kita ini mereka biasanya telah mempunyai media massanya masing-masing, yang tentunya menguntungkan kepentingan-kepentingannya.

Di balik semua manfaat itu, pastinya ada pula efek buruk dari media massa, yakni penggiringan opini yang sesat. Selain penggiringan opini oleh elit politik, tapi bisa juga dilakukan oleh penggiat media massa itu sendiri. Misalnya oleh para reporter, penulis, editornya, atau pemilik media massa dengan berbagai kepentingan. Saya kira kebanyakan karena adanya kepentingan-kepentingan yang sifatnya politis dan ekonomis.

Kita sering mendengar istilah dalam pemberitaan yakni “bad news is good news”. Prinsip pemberitaan inilah yang berbahaya. Oleh karenanya, kita selaku penikmat media massa harus bijak dalam mencerna setiap informasi. 

Namun terkadang para penggiat media massa tidak seperti itu, mereka mengulas berbagai hal yang sekiranya bisa membuat banyak orang membaca media massa yang dimilikinya, walaupun berita tersebut sebenarnya tidak layak untuk diberitakan ke publik karena akan menggiring opini masyarakat secara keseluruhan. Inilah motif ekonomi atau keuntungan yang disebutkan sebelumnya.

Ulasan informasi yang terkesan unik, aneh, atau bahkan kontroversi biasanya paling seru dan menarik perhatian masyarakat sehingga ingin membacanya. Misal saja berita orang tua membunuh anaknya, siswa membunuh gurunya, suami menyiksa istrinya, ustadz korupsi dan berbagai kasus lainnya. Bahkan informasi tersebut bukan hanya disampaikan lewat berita, namun bisa juga lewat sinetron atau drama yang biasanya muncul di TV.

Dengan adanya berita tersebut, sebagian masyarakat kemudian tergiring opininya. Mereka menyimpulkan jahatnya para orang tua sekarang, jahatnya para guru sekarang, dan jahatnya para suami sekarang. Padahal semua itu belum tentu, bisa saja itu hanya kasus sedikit dan kecil namun dibesar-besarkan oleh media massa. 

Mari kita bayangkan misalnya, dari 100 guru di suatu daerah terdapat 5 guru yang melakukan kejahatan sedangkan sisanya baik dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Namun karena media massa hanya mengekspos kasus 5 guru tadi dengan viralnya, maka sebagian masyarakat pun mempunyai kesimpulan dan pandangan tersendiri mengenai kondisi para guru. 

Mereka banyak memandang negatif para guru. Hal ini kan semakin parah jika pemerintah sebagai pemegang kebijakan juga terpengaruh oleh penggiringan opini tersebut, tentu mereka akan mengubah kebijakan yang bisa saja sedikit merugikan para guru.

Dalam kasus lain misalnya ada media massa yang memviralkan adanya pedagang bakso yang menggunakan bahan berbahaya. Bisa jadi pelakunya justru lebih sedikit dibandingkan yang tidak melakukannya. Namun justru efek kerugian yang muncul karena viralnya informasi tersebut adalah kebanyakan pedagang baso yang jujur. Ini hanya secuil contoh saja.

Berkaca dari kasus-kasus tersebut, kita meski hati-hati dan bijak dalam mencerna informasi yang sangat mudah dan cepat menyebar ini. Apakah hal itu memang penting dan benar apa adanya? Karena terkadang ada saja “bumbu-bumbu penyedap” dalam informasi tersebut untuk berbagai kepentingan kelompok. 

Booming-nya isu-isu saat ini seperti LGBT, komunis, para ulama dan guru yang ditindas serta berbagai isu lainnya harus dikaji dengan baik. Jangan sampai kita terjebak oleh “arus” penggiringan media. Namun jika ternyata memang isu tersebut sangat penting walaupun hanya dilakukan segelintir orang, tentu kita harus menanggapinya sesuai dengan peran yang bisa kita lakukan di masyarakat. 

Misalnya mengenai LGBT, walaupun dilakukan oleh sebagian orang, namun jika mereka hendak melegalkannya dalam undang-undang, tentu hal ini patut kita respon dengan reaktif.
Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan pesan agar masyarakat luas sebagai konsumen media massa mampu lebih jernih dan bijak lagi dalam menanggapi informasi. Begitupun pada kalangan pemegang kendali media massa agar lebih bijak dalam memuat informasi yang hendak disampaikan pada publik. Jangan hanya mengutamakan keuntungan dan rating, namun alangkah lebih mulianya dengan mengutamakan edukasi positif pada publik.

*Penulis adalah guru PAI di Cendikia Leadership School, Bandung

Suber gambar: FB Graphic Pedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar