Mempertanyakan Kontribusi Ex-Peserta Kegiatan Fully Funded


Jiva Agung
Saya melihat kegiatan-kegiatan fully funded, baik berskala nasional maupun internasional, semakin semarak. Salah satu Line Square yang saya ikuti yang memang diperuntukan untuk membahas atau sharing soal beginian selalu dipenuhi dengan ratusan chat setiap harinya. So pasti, siapa sih yang tidak mau mendapat sesuatu yang gratisan? 

Tentu hal ini merupakan sesuatu yang amat baik dan profitable, apalagi kalau tujuannya supaya dapat menciptakan generasi yang berkualitas, untuk menyambut masa depan bangsa yang lebih baik lagi.

Tapi eh tapi kegiatan-kegiatan yang seperti ini ternyata sering “disalahgunakan” oleh para peserta yang konon mereka adalah orang-orang terpilih dari ratusan bahkan (puluhan) ribu(an) pendaftar. 

Mereka menyangka kalau events tersebut gratis secara in toto yang secara rendahan hanya untuk dirayakan dengan ungguhan foto-foto Instagram mereka di sela-sela event yang sudah ditambahi dengan kata-kata mutiara bullshit

Atau karena tujuan pragmatis lainnya, seperti agar bisa mendapat kesempatan jalan-jalan gratis dan atau agar CV-nya ter-upgrade. Jelas ini merupakan kekeliruan yang maha besar.  
Sebaliknya, malah seharusnya kegratisan itu perlu dimaknai sebagai sebuah amanah atau tanggung jawab besar yang sifatnya transendental, bukan duniawi. 

Jadi, perlu tertanam di dalam diri setiap peserta fully funded event bahwa dirinya adalah orang yang telah mendapat amanah dari Tuhan atau setidaknya tanggung jawab moril, layaknya para Nabi atau pemimpin—dari seluruh lapisan, terlebih sudah menjadi orang pilihan, yang oleh karenanya ia perlu berkontribusi atas ilmu atau pengalaman yang telah didapatnya dalam bentuk karya nyata, meskipun sederhana.   

Sayangnya, sudah berkali-kali saya mengikuti/terpilih dalam fully funded event dan berkali-kali pula saya merasa kalau penyelenggara telah “dibohongi” oleh peserta. Betapa tidak, setelah kegiatan berakhir, para ex-peserta menghilang bagaikan ditelan bumi. Sibuk dengan urusannya masing-masing dan tak terlihat memiliki kontribusi. Syakit!

*Penulis adalah aktivis perdamaian di komunitas YIPC

Sumber gambar: FB Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar