Lisan Mengalihkan Duniamu

Nurti Budiyanti
"Langkahkan jejak kakimu dengan penuh keyakinan. Yakinilah dengan hati yang penuh ketawadhuan. Lalu tariklah nafas secara perlahan rasakanlah keberadaan Allah yang selalu menyertaimu. Niscaya keberkahan akan menghampirimu. Merasakan keberadaan-Nya hingga penghujung langkahmu. Dengan begitulah keberadaanmu akan menduduki tempat paling dekat  disisi-Nya."

“Allahu Allahu Rabbi Laa Usyrik bihi Syai’an”

“Allah, Allah yang mengurusku tidak akanku sekutukan Engkau  dengan sesuatu apapun”

Dunia bagaikan fatamorgana. Tak sedikit manusia yang memiliki ambisi berlebih dalam menggapainya seakan dunialah tempatnya keabadian. Begitu zaman ini terus berkembang menuju pelabuhannya. Dunia menjadi Tuhan sedangkan manusia dengan senang hati menyembahnya. Tentu pandangan hidup yang keliru ini akan membawa manusia menuju jalan yang salah.

Allah, dengan segala kemurahan asma-Nya, menginginkan manusia terselamatkan dari kepalsuan dunia dengan memberikan jalan (syariat) untuk kemaslahatannya, seperti menggiring akal supaya berpikir agar dapat memahami, dan membawa lisan supaya berucap agar dapat menentramkan, karena hidup adalah proses memahami dan dipahami.

Lihatlah bagaimana proses ini berjalan dengan indahnya, seperti terciptanya pola harmonis antara seorang anak—yang taat—dengan orangtuanya —yang bijaksana; dialektika guru dengan muridnya, dan ketersalingmengisian antara suami dan istri dalam mengabdi kepada Tuhan. Inilah simbol kokohnya suatu keimanan.

Adalah seorang wanita, apa pun statusnya, mereka merupakan pilar bangsa. Mereka memiliki peranan besar dalam mendidik dan mengawasi petumbuhan masyarakatnya. Mereka pula yang membantu membangun generasi Islam yang cemerlang. Sebagaimana sejarah mencatat sosok wanita muslimah yang luar biasa pengabdiannya, wanita shaleh pendamping lelaki termulia sejagad raya, Khadijah r.a yang mana sudah sepantasnya dijadikan role model bagi muslimah di seluruh dunia.

Ada pula ibunda Ibnu Taimiyah—Syaikhul Islam ternama di zamannya—seorang muslimah tangguh yang keluhurannya direkam sendiri oleh sang anak. Alkisah, ibunda Ibnu Taimiyah pernah berkata kepadanya:

“Demi Allah, seperti inilah caraku mendidikmu, aku nadzarkan dirimu untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin, aku didik engkau di atas syariat Islam. Wahai anakku, jangan kau sangka, engkau berada di sisiku itu lebih aku cintai dibanding kedekatanmu pada agama, berkhidmat untuk Islam dan kaum muslimin walaupun kau berada di penjuru nageri. Anakku, ridhaku kepadamu berbanding lurus dengan apa yang kau persembahkan untuk agamamu dan kaum muslimin. Sungguh, wahai ananda, dihadapan Allah kelak aku tidak akan menanyakan keadaanmu, karena aku tahu di mana dirimu dan dalam keadaan seperti apa engkau. Yang akan kutanyakan dihadapan Allah kelak tentangmu ialah sejauh mana khidmatmu kepada agama Allah dan saudara-saudara kaum muslimin.”

Inilah sepucuk surat yang ditulis oleh ibunda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang dikutip dari artikel “Islamic History”  yang berkaitan perjuangan seorang muslimah. Surat tersebut ditujukan kepada sang anak setelah Ibnu Taimiyah memohon izin kepadanya untuk tetap tinggal di Mesir.

Jika ditelaah, surat di atas memberikan kesan yang cukup mendalam kepada kita tentang bagaimana sosok ibunda Ibnu Taimiyyah, wanita solehah yang berorientasi akhirat. Wanita kuat yang lebih gemar melihat anaknya bermanfaat bagi orang banyak ketimbang untuk dirinya sendiri. Seorang wanita cerdas yang menjadikan anaknya investasi untuk kehidupan pasca kematian.

Sebuah pelajaran berharga di mana seorang wanita harus mampu menjaga lisannya dengan baik agar selalu mengeluarkan kata-kata bijak, beradab, lemah-lembut tanpa menyakiti, karena sejatinya kata yang terucap dalam lisan merupakan sebuah ikatan doa. “Tidak lurus iman seseorang hamba hingga lurus hatinya, dan tidak lurus hati seorang hamba hingga lurus lisanya” adalah sabda Rasulullah yang sepatutnya dicamkan oleh kita semua selaku pengikutnya.

Sungguh tidak ada senjata yang lebih tajam dari pada lisan, sampai-sampai Al-Hasan bin Ali r.a lebih senang dicela oleh kebanyakan manusia karena banyak diam, daripada harus banyak berkata-kata untuk mendapatkan pujian. Saat dinyatakan kepadanya, mengapa ia lebih banyak diam, Al-Hasan menjawab, “Sungguh aku mendapati lisanku bagaikan pedang, bila aku berbicara tentang  sesuatu yang tidak memiliki manfaat di dalamnya, pedang itu akan menebasku.”

Adalah sebuah kemutlakan bagi seorang muslim untuk menjaga lisannya, berpikir dengan bijak supaya terhindar dari kemudaratan, karena sesungguhnya meninggalkan perkataan dusta—pun yang tak berguna—merupakan salah satu tolok ukur kualitas keimanan seseorang. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat.” (HR. Bukhari).

Di dalam hadits yang lain, Rasulullah kembali mengingatkan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Belajar diam merupakan bagian dari belajar mengekang hawa nafsu, karena kebanyakan kata yang terucap hanyalah berasal dari hawa nafsu belaka.

Karenanya, para sahabat Rasulullah tidak dengan serta merta banyak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, walaupun mereka memiliki kapasitas keilmuan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal ini dilakukan sebagai upaya pengekangan terhadap hawa nafsu yang terus mendorong seseorang untuk berbicara.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda:

Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ? Para sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda. ‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.

Hal tersebut mengindikasikan betapa lisan harus berada pada penjagaan yang ketat karena dapat membuka pada jalan kemaslahatan.

Salah seorang ulama salaf telah menegaskan : “Tidak berguna seluruh ucapan anak Adam, kecuali dzikrullah”. Sungguh amat beruntung seseorang yang telah berhasil menjaga lisannya. Karena hal tersebut menunjukkan kelurusan iman di dalam hatinya. Menjaga lisan dan senantiasa mengontrolnya merupakan pangkal dari segala kebaikan.

Dan barangsiapa yang mampu menguasai lisannya maka sesungguhnya dia telah mampu menguasai, mengontrol dan mengatur seluruh urusannya. Itulah salah satu peran dan fungsi seorang muslimah. Lisan dapat meruntuhkan suatu peradaban tetapi dengan lisan pula peradaban dapat mencapai titik kejayaannya kembali.

*Penulis adalah mahasiswa S2 PAI UPI, Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar