Kasidah Kritis ala Nasidah Ria


Muhammad Ricky
 
“Wahai Pencipta Bom Nuklir Terlaknat, Mengapa Kau Undang Hari Kiamat, Ciptakan saja Obat yang berguna, Lipat Gandakan Hasil Pertanian, Agar tak ada Wabah Kelaparan, Demi Kesejahteraan Manusia, Hentikan Saja Produksi Bom Nuklir.” (Nasidah Ria – Bom Nuklir)

Memaknai seni sebagai apa pun itu, tak pernah terlepas dari pemaknaan subjektifitasnya. Boleh kawan memaknai seni sebagai hiburan, ornamen pelengkap eskapisme dari keseharian yang tak tanggung banalnya, namun tak sedikit pula yang menjadikan seni sebagai medium kritis, wadah refleksi dari realitas.
Musik, yang diakui sebagai anak kandung seni, acapkali menjadi medium yang efektif  untuk menyampaikan gagasan kritis dalam menyikapi realitas yang mudah diterima masyarakat luas.
Bisa kawan ambil contoh Bob Dylan atau Woodie Guthrie, yang menyuarakan kegusaran di kepalanya terkait realitas yang isinya melulu perang dan sifat represif, diiringi gitar kopongnya, yang tentu saja kawan pasti masih ingat dengan frase ciamik dan progresifnya yang tercoret di permukaan gitarnya This Machine Kill Fascist.
Lain hal dengan Bryn Jones, musisi asal Inggris ini memilih untuk meluapkan kegeramannya atas konflik yang terjadi seolah enggan pernah usai, di Timur Tengah sana, melalui perantara sinyal-sinyal digital dan elektronik di bawah bendera Muslimgauze. Tentu saja banyak musisi lain di semesta ini yang menawarkan atau menyuarakan gagasan kritisnya melalui banyak medium suara atau bunyi.
Sedangkan di Indonesia, tepatnya pada masa Orde Baru, kawan mengenal Virgiawan Listanto dengan kritiknya yang lugas dan bernas, bahkan tak jarang deksura, yang dibungkus dengan balada yang apik dan easy listening,  kerap membuat pekak dan panas telinga mbah-mbah yang ongkang kaki di DPR sana.
Dan menjadi anthem yang memantik semangat massa demonstrasi menjadi berkali lipat, serupa efek mushroom yang mengilusi popor senapan sebagai tak lebih dari sekadar dodol garut . Lebih dari sekadar nekad atau memang punya nyali yang berlipat, karena beliau merupakan putra dari seorang aparatur negara.
 Medio tahun 1975, H. Mudrikah Zain, seorang guru qira’at, membentuk sebuah kelompok kasidah modern pertama di Indonesia1  di tengah pertumbuhan musik pop, dangdut dan rock yang melimpah ruah pada waktu itu, diberinya nama Nasidah Ria. Musik Kasidah tentu saja bukan hal yang baru karena tahun 1960 telah menjadi gelombang pertama kelahiran musik kasidah.
Ada pula Assabab, asal Semarang, yang juga menjadi embrio dari Nasidah Ria, dibidani oleh M. Zain, namun lebih sederhana karena hanya menggunakan rebana sebagai satu-satunya sumber bunyi pengiring lantunan irama yang liriknya berbahasa arab. Berbeda dari patronnya, Assabab, Nasidah Ria dibekali dengan keahlian menggunakan alat musik kontemporer, seperti gitar, bass dan piano (organ), dan menggunakan bahasa indonesia sebagai liriknya.
Dengan image yang demikian sederhananya, bahkan acapkali menjadi bahan yang fresh untuk meme, entah karena lenggok dan formasi yang rigid dan terkesan dipaksakan dalam setiap video klipnya, make up yang seadanya pun seringnya mencolok, ditambah padu padan warna busana yang kerap lampau kontras bagi mata pemirsa netizen saat ini, tidak butuh waktu lama untuk kawan mengabaikan tanpa memberi kesempatan pada mereka menuntaskan kegusarannya akan pelbagai hal.
Memang, jauh rasanya dalam hal packaging jika kawan menyandingkannya dengan idol group JKT 48, yang lebih membuat mata nyaman bahkan kerap kali membuat resleting memuai dengan alamiah.
Tapi sebentar, tunggu sampai kawan tercengang mendapatkan frase di salah satu lagu mereka yang bertajuk Tahun 2000, “Penduduk Makin Banyak/Sawah Ladang Menyempit/Mencari Nafkah, Makin Sulit/Tenaga Manusia Banyak di ganti Mesin.” Siapa gerangan yang bisa menandingi gagasan progresif mereka?
Pada Tahun 1988, Nasidah Ria menjajal negara tetangga, mendapatkan undangan langsung dari kerajaan Malaysia dalam memperingati 1 Muharram. Enam tahun setelah itu, tepatnya Maret 1994, seakan ingin membuktikan eksistensinya, dijajalnya benua biru, Eropa, dengan menyemarakkan acara bertajuk Die Garten des Islam (Pameran Budaya Islam) yang bertempat di Berlin, Jerman. Kegiatan ini setidak menjadi petanda kalau kelompok ini lebih dari sekadar perkumpulan iseng-iseng semata.
Gruppen von Frauen dari Semarang ini, mungkin dibuat nyaman oleh nuansa negara yang beberapa tahun sebelumnya sempat dikuasai oleh seniman megaloman asal Austria yang menisbatkan dirinya sebagai Third Reich Fuhrer.
Tahun 1996 bulan Juli, dalam rangka festival “Heimatklange 96’ Sinbad Travels”, Berlin, Reclinghousen dan Dusseldorf, menjadi perlabuhan dan saksi dari perlawatan kelompok kasidah asal semarang ini.
Beragam tema yang dijadikan bahan dasar dalam pengolahan lirik mereka memang tak jauh dari hal-hal yang bersinggungan dalam kehidupan keseharian; tentang lingkungan, dosa dan pahala, judi, keadilan dan bencana alam.
Tentu saja tidak ada hal yang istimewa dari pemilihan tema-tema tersebut, dan mungkin karena terlanjur dianggap “biasa”, maka tema-tema percintaan, pola kehidupan urbanisasi, perselingkuhan dan berbagai macam varian picisan lainnya lebih laris dan meluap di permukaan industri musik arus utama. Seolah-olah semua fenomena di lanskap realitas yang amburadul ini dinggap sebagai hal yang alamiah, atas kuasa Tuhan.
Tenaga Manusia banyak di ganti Mesin/Pengangguran Merajalela/ Sawah ditanami gedung dan gudang/Hutan ditebang jadi Pemukiman/Langit Suram Udara Panas Akibat Pencemaran. dengan gamblang menjelaskan bagaimana relasi antara sistem produksi yang serba industrial mengakibatkan teralienasinya manusia dari fitrahnya serta tatanan ekologis yang kian carut-marut karena dipaksa tunduk pada alur produksi industri.
Berbagai kerusakan dan ketimpangan ekologis yang disebabkan setelahnya bukanlah perkara sepele. Menganggap semuanya baik-baik saja sama halnya dengan keikutsertaan kita menyiapkan karpet merah pada babak selanjutnya, bencana alam. 
Untuk para ukhti, tak perlu risau, Nasidah Ria juga telah menyediakan satu buah lagu dengan tajuk “Wajah Ayu Untuk Siapa”, sebagai anthem bagi kehidupan romansa yang lumayan easy listening.
Lagu ini bisa digumamkan jika memang sedang  tidak ada kerjaan atau sambil sabunan di kamar mandi kosan. Atau jika ukhti sedang kumpul-kumpul dengan sahabat dan disertai dengan sedikit dosis keberanian, lantunkanlah bagian ini dengan lantang, “wajah nan ayu untuk suami yang beriman bertaqwa/tidak akan kuserahkan pada KAMPRET yang durhaka”.
*Penulis adalah seorang pembelajar seumur hidup
Referensi
http://www.nu.or.id/post/read/13243/nasida-ria-kasidah-legendaris

Tidak ada komentar:

Posting Komentar