Istilah Pelakor yang Sangat Bias Gender



Gelar Riksa
 Dalam sebuah film erotis produksi Korea Selatan, dikisahkan seorang lelaki yang telah menikah dan hidup bahagia. Istrinya cantik, keibuan, dan sangat wife-able. Rasanya, tidak ada alasan untuk tidak mencintai perempuan tersebut. Namun, setelah sekian lama berlangsung, lelaki ini tampaknya bosan dengan hidupnya yang menyenangkan terus itu. Pada suatu kesempatan ia mendapati adik istrinya sedang main ke rumah. Netizen yang budiman tentu sudah tahu ke mana arah cerita ini, yap, betul sekali, pak suami nampaknya tertarik pada adik istrinya itu. 

Berbeda dengan kakaknya, adiknya ini punya kesan agak urakan, cantik juga, lebih cantik bahkan, serta seksi. Selain itu pembawaannya yang ceria dan independen memberikan kesan menantang bagi para laki-laki. 

Eh, gayung bersambut, rupanya si adik juga memang naksir kepada pak suami, namun tidak enak pada kakaknya. Akhirnya keduanya terlibat dalam perselingkuhan yang panas serta pergumulan fisik dan batin yang jelimet luar biasa. Suami istri itu akhirnya bercerai, dan adiknya dituduh sebagai biang keroknya.

Kisah seperti yang saya ceritakan di atas umumnya terjadi juga dalam masyarakat kita. Hanya tidak ada ekspos seperti Ahmad Dani dan Maia Estianty ketika dulu cerai. Orang ketiga biasanya menjadi faktor utama keretakan suatu hubungan rumah tangga, baik laki-laki atau pun perempuan. Kasus Bu Dendy mengguyur uang kepada selingkuhan suaminya yang sempat menghangat di media sosial belakangan ini, menunjukkan bahwa kita sudah tidak bisa lagi menyembunyikan hal semacam itu dari dunia. 

Sampai entah dari mana mulanya, netizen berhasil melahirkan sebuah akronim baru bagi penyebab kehancuran rumah tangga orang lain. “PELAKOR” atau kependekan dari “Perebut Laki Orang”, maaf kalau saya salah, tapi intinya di sana ada seorang wanita yang merebut suami orang lain. Tapi ketika mendengar istilah ini, saya kok ya agak kesel sekaligus ingin merevisi. Istilah Pelakor itu seperti hanya menjadikan perempuan yang jahat, dan laki-laki adalah barang mahal yang harus diperebutkan.

Padahal, seperti dikisahkan di awal tulisan ini, laki-laki itu ya bajingan sebetulnya. Rasanya tidak mungkin kalau kamu (laki-laki) punya pacar, kemudian ada perempuan lain yang mendekati kamu, masa iya kamu akan pindah ke lain hati kalau kamunya juga tidak punya niat? Plis, jangan bohong my love. 

Kalau terjadi perselingkuhan dalam sebuah percintaan, yang salah pasti selingkuhan yang masuk ke hubungan, dan yang diselingkuhi karena gak kuat iman. Kalau memang mencari pasangan dengan cara ingin dapat yang lebih, ya jangan selingkuh. Putus saja, jujur saja, bahwa kamu ketemu yang lebih cantik atau ganteng atau kaya atau pintar. Itu lebih baik daripada munafik.

Kembali ke istilah Pelakor, saya pikir beberapa perempuan yang dapat julukan ini mungkin memang punya niat untuk merebut suami orang, tetapi jika si suami memang mencintai istrinya tidak akan ia mau diajak selingkuh. Kalau memang iya, maka alasan si suami itu akan semacam ini, “Saya tidak bersalah, salah siapa perempuan yang mau merebut saya itu cantik?” 

Masyarakat Indonesia memang punya budaya bapak-isme yang kuat. Hal ini sepertinya dimulai ketika zaman orde baru, posisi perempuan selalu sifatnya menjadi pendamping, bukan pemeran utama. Bapak-bapak ini ada banyak di mana-mana, di institusi apa saja. Ketika ada perempuan yang muncul dengan sebuah karya, maka komentar yang menyeruak adalah komentar semacan, “Wah hebat ya, padahal perempuan, tapi bisa seperti itu,” atau, “Meskipun perempuan, dia berhasil melakukannya.” 

Komentar seperti itu seolah menunjukkan, wanita berprestasi itu aneh. Lalu misalnya ketika netizen juga sempat hangat membicarakan asisten bu menteri Susi Pudjiastuti yang memang seorang perempuan yang cantik. Berita yang muncul adalah, “Asisten bu Susi yang cantik, dan masih muda.” Bukan “Asisten bu Susi yang terampil, pekerja keras, dan jujur.” Akhirnya perempuan menjadi tempat disematkannya pujian-pujian berdasar tampilan fisik, bentuk tubuh, dan gaya rambut, bukan soal kecakapan.

Tentu saja perempuan dan laki-laki punya tugas dan peran yang berbeda. Tetapi melihat perempuan hanya dari penampilannya saja, itu adalah tindakan jahiliyah. Sebetulnya kebiasaan serta pengaruh lingkungan sejak kecil berperan besar membentuk stereotip laki-laki dan perempuan ini. Sampai sekarang masih banyak yang berpikir bahwa memasak, mengepel, dan mengajar anak TK hanya pekerjaan perempuan. Atau menyetel motor, main band, dan main sepak bola hanya pekerjaan anak laki-laki. Padahal keduanya bisa dilakukan oleh kedua gender.

Kalau saja sejak TK semua itu dijelaskan kepada kita, kita bisa hidup lebih woles sembari melihat perempuan-perempuan hebat bermunculan. Di Jepang, anak laki atau perempuan sama-sama harus bersih-bersih dan masak di sekolah. Di Kanada, setengah dari jumlah menteri yang menjabat saat ini adalah perempuan, dan mereka kredibel. Kita masih harus menunggu untuk bisa begitu, orang himpunan tempat saya kuliah saja mengharuskan syarat ketua himpunan adalah laki-laki. 

Jika nanti saya punya anak perempuan, saya akan bilang kepada dia, “Nak, tumbuhlah, kuatlah, lawanlah congkaknya dunia.....dan juga netizen Indonesia.”

 *Penulis adalah lulusan S2 University of Birmingham, UK.

Sumber gambar: FB Drawing Pencil

1 komentar: