Islamisasi dan Kristenisasi di Era Modern



M. Jiva Agung
 Kesalahpahaman merupakan salah satu faktor utama penyebab rapuhnya harmonisasi lintas agama yang telah nyata dibiarkan terjadi berlarut-larut selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ironinya, kesalahpahaman ini masih terus berlangsung di era yang sudah serba modern ini. 

Tak terkecuali mengenai konsep Islamisasi (dakwah) dan Kristenisasi (misi). Bukan hanya disalahpahami oleh yang berbeda keyakinan, melainkan tak jarang pula kesalahpahaman itu datang dari penganutnya sendiri. Umat Muslim salah paham mengenai konsep Kristenisasi (misi), begitu pun sebaliknya, atau umat Kristiani yang bisa jadi tak paham mengenai konsep Kristenisasi (misi), begitu pun sebaliknya.   

Adalah anak-anak muda dari komunitas Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Regional Yogyakarta bersama muda-mudi dari jemaat Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Yogyakarta yang berusaha untuk mengurai permasalahan tersebut dengan harapan menemukan penafsiran yang lebih rekonsiliatif. 

Kegiatan yang berlangsung pada hari Sabtu 3 Desember 2016 ini berlokasi di Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Yogyakarta dengan menghadirkan dua orang pembicara yang masing-masing mewakili komunitas/golongannya. Betapapun, nuansa dialektika lebih kental dibanding pematerian satu arah layaknya seminar. Peserta yang hadir mencapai lebih dari 30 orang yang semuanya adalah mahasiswa.

Adalah Rahmatullah, mahasiswa aktif jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berafiliasi dengan komunitas YIPC memberikan pemaparannya kepada seluruh peserta mengenai makna Islamisasi (dakwah). Menurutnya, tujuan hakiki dari sebuah dakwah, sesuai dengan akar katanya ialah mengajak, yang berarti mengajak manusia untuk melakukan amr ma’ruf nahi munkar dengan harapan terbentuknya manusia-manusia yang berpotensi menyebarkan perdamaian di muka bumi. 

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa sesungguhnya dakwah memiliki misi agung, yaitu mengajak manusia menuju jalan kebenaran, jalan yang Tuhan ridhai. Selain itu, terdapat beberapa kode etik dalam berdakwah yang seringkali tidak diindahkan oleh sebagian umat Muslim dewasa ini. 

Alih-alih melakukan tindakan penghasutan, penyudutan, atau pemaksaan, dakwah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah harus mengedepankan bahasa yang baik, halus, dan santun sehingga sasaran dakwah dapat menerima pesan yang ingin disampaikan dengan lapang dada. Gontok-gontokkan, cacian, dan debat kusir harus dijauhi oleh para pendakwah. 

Sesi selanjutnya adalah giliran pihak GKMI yang menyampaikan pematerian mengenai misi. Adalah Adi, seorang mahasiswa aktif jurusan Teologi di Universitas Duta Wacana (UKDW) menjadi pembicaranya. Ia mengungkapkan bahwa secara naluriah manusia tentu ingin menyebarkan kebenaran yang diyakininya. 

Ia tidak mau hanya dirinya yang memeroleh kebenaran/kebahagiaan hidup, melainkan orang-orang terkasihnya, juga manusia pada umumnya. Begitu pun dengan umat Kristen. Karena Injil itu sendiri berarti kabar gembira, maka umat Kristen sudah sepantasnya memberitahu kabar gembira tersebut kepada sesama manusia. Injil Matius memperkuat gambaran mengenai itu semua. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Ayat ini pula yang menjadi ruh para Misionaris Belanda saat melakukan misi di tanah air. 

“Banyak kendala para misionaris tersebut dalam menyebarkan ajaran Kristus karena terdapat perbedaan latar belakang tetapi mereka akhirnya tercerahkan setelah menjadikan budaya-budaya lokal -sebagai pendekatan yang bisa dimasuki- untuk menyampaikan ajaran Kristus.” tuturnya di tengah pematerian. 

Setelah penyampaian materi berakhir, kegiatan berlanjut dengan sesi sharing terkait pengalaman melakukan upaya Islamisasi (dakwah)-Kristenisasi (misi) di daerahnya masing-masing. Para peserta juga terlibat di dalam diskusi bagaimana menyikapi persoalan jika kedapatan salah seorang anggota keluarganya yang berpindah dari agamanya. 

Di sela-sela break, mereka makan bersama dengan dihibur oleh grup musik gereja. Nuansa persahabatan terasa sekali melingkupi seluruh ruangan. Saat waktu shalat tiba, seperti biasa umat Muslim melakukan shalat berjamaah di tempat yang telah disediakan oleh pihak gereja. Tak lupa sesi foto bersama menjadi salah satu rangkaian acara yang ditunggu-tunggu oleh para peserta. 

Perselisihan seharusnya dapat terhindarkan jika saja kedua umat beragama ini tidak terjebak dalam term Islamisasi dan Kristenisasi yang sering dipahami sebagai upaya untuk memindahkan iman seseorang dari satu agama ke agama lain. Umat Kristen misalnya. Sebagian besar meyakini bahwa turunnya Isa bukanlah untuk melakukan Kristenisasi karena ia tidak pernah mendirikan agama Kristen dus tidak memerintahkan kepada para pengikutnya untuk mendirikan sebuah agama, karena pemahaman tentang “agama” (sebagai sebuah institusi) seperti yang dipahami oleh masyarakat modern saat ini belumlah ada di zaman tersebut, alih-alih malah memberitakan kabar gembira (Injil) kepada seluruh umat manusia. Inilah makna misi yang sesungguhnya.  

Oleh karena itu bagi mereka dakwah dan misi adalah sesuatu yang tak terelakkan, karena ajaran kedua agama ini memang menganjurkan yang demikian. Walaupun ada yang mengaku belum pernah melakukan upaya-upaya tersebut, itu hanya dikarenakan mereka tidak menyadarinya saja. Pada hakikatnya dakwah dan misi adalah sah, yang salah adalah jika dalam pendekatan/metodenya menggunakan cara-cara yang tidak etis seperti pemaksaan, penyudutan, rayuan, bujukan, atau yang semacamnya. 

Satu hal lagi, tidak semua umat Islam dan Kristen menginginkan sasaran dakwahnya mengubah identitas agamanya secara kelembagaan. Mereka tidak menginginkan perubahan seseorang hanya layaknya manusia yang berganti baju, tanpa mengubah way of livenya, karena yang mereka tekankan adalah esensi ketundukan kepada Sang Ilahinya, bukan pada perpindahan casing semata. 

Di atas itu semua, kegiatan semacam ini patut diapresiasi oleh berbagai pihak. Setidaknya mereka telah berani memulai untuk meninggalkan zona amannya demi masa depan yang lebih baik, di mana perbedaan agama bukan lagi menjadi penghalang melainkan dapat dijadikan sebagai ladang perlombaan dalam melakukan kebaikan. Insya Allah. 

*Penulis adalah guru PAI di Bandung

Sumber gambar: FB Grassroots Dakwah NYC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar