Garuda

Iwan Ridwan
Cerita tentang “garuda” tak pernah usai. Setelah lama terkenang dalam cerita rakyat dan arca, kisah “garuda” sebagai makhluk mitologis terus menarik diperbincangkan. Riwayatnya terus abadi, bahkan sosok burung garuda (menyerupai elang rajawali) itu dijadikan lambang negara kita.

Lambang yang dipersepsikan Muhidin M. Dahlan (esai “Garuda September: Tari, Politik, dan Angkara”, 2016) sebagai jalan untuk saling mengenal dan berdialog antarbangsa dan gabungan rupa-rupa daerah.

Lambang itu semakin akrab di masyarakat ketika digubah dalam lagu nasionalis, “Garuda Pancasila” ciptaan Sudharnoto, ataupun ikon mata uang dan paspor yang beredar di masyarakat. Seiring perkembangannya, lambang garuda terus melesat. Tidak hanya dalam peringatan hari-hari besar seperti hari pahlawan, tetapi juga dalam momentum berbagai kompetisi.

Sebut saja hajatan SEA Games atau piala AFF beberapa bulan lalu yang kembali menggugah rasa kebangsaan. Gelora nasionalisme itu kian berkibar setelah utusan Indonesia mengharumkan nama bangsanya. Semangat yang senafas dengan perjuangan para pahlawan yang gugur di medan pertempuran.

Merefleksikan perkembangan maknanya, julukan garuda tampak berasosiasi dengan nilai-nilai kebangsaan. Lambang itu kian kental menjadi identitas kita. Sebut saja metamorfosis burung garuda ke dalam berbagai aspek kehidupan, seperti nama orang (salah seorang sahabat saya bernama “Arafat Garuda”), nama organisasi penerima beasiswa LPDP (“Mata Garuda”), nama acara pemeran foto di Yogyakarta (“Di mana Garuda”).

Juga di  judul lagu (“Garuda di Dadaku” karya grup musik Netral ataupun “Garuda” karya grup musik Cokelat), judul film (“Garuda di Dadaku”, “Garuda Superhero”, “Garuda 19”, “Garuda 23 (I Leave in My Heart in Lebanon)”, atau “Bima Satria Garuda”), hingga variasi julukan timnas sepakbola (sepengamatan penulis: garuda emas, garuda junior, garuda muda, garuda nusantara, garuda senior). Bahkan, sosok garuda didekasikan sebagai superhero Gardala (Garuda Pancasila) dalam Museum Garuda di Sewon, Bantul, DIY.  

Fenomena tersebut semakin bermakna ketika media massa ramai memberitakannya. Salah satu contohnya tampak pada judul-judul berita tentang sepakbola berikut. 1)  “SEA Games 2017: Garuda Muda Bisa” (Solopos.com, 16/8/2017), 2) “Skuat Garuda Terbang Tinggi di HUT Kemerdekaan RI” (Detik.com, 18/8/2017), 3) “Indonesia 9-0 Filipina: Garuda Nusantara Perkasa!” (Indosport.com, 7/9/2017).

Fakta di atas menunjukkan bahwa kosakata garuda telah terbang pesat melangkahi makna asalnya. Sejauh ini, garuda hanya didefinisikan ke dalam tiga hal. Pertama, sebagai burung besar pemakan daging yang menyerupai elang dan mempunyai kekuatan terbang yang luar biasa. Kedua, lambang negara Indonesia. Ketiga, definisi cakapan sebagai nama perusahaan penerbangan negara Indonesia (Garuda Indonesia) (KBBI, 2016).

Badan Bahasa seyogianya segera mengejar makna lainnya karena kata “garuda” telah mengalami perluasan makna. Geliat kosakata “garuda” yang menjelma ke dalam berbagai produk kebudayaan mengingatkan kita untuk mempertahankan identitas kebangsaan sebagai bangsa yang multikultural. Menjaga keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.

Selain itu, pesona garuda turut membuka jalan bagi ekonomi kreatif yang kita impikan. Seperti Singapura dengan lambang “singa”nya atau Cina dengan ciri naganya, bersama garuda kita buktikan bahwa kita mendunia!

*Penulis adalah alumni Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, UPI Bandung

Sumber gambar: www.brilio.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar