Dilema Guru Honorer di Sekolah Negeri



Jiva Agung
Awalnya...

Tidak pernah terbetik di dalam pikiran kalau saya akan mengajar di sekolah pasca lulus kuliah, sebab sedari awal rencananya memang saya akan langsung meneruskan pendidikan ke jenjang S2 dan berharap setelah lulus akan langsung berkerja di sebuah NGO atau menjadi dosen. Tetapi faktanya realitas tak selalu sesuai dengan ekspektasi kita. 

Misalnya saja, dengan berat hati, saya harus meng-cancel S2 UI yang sebenarnya tinggal di daftar-ulangkan saja. Alasannya? Sayangnya saya tak bisa mengungkapkannya di sini. Tidak selesai di sana, konflik-konflik internal pun terjadi kepada saya secara bersamaan. Jujur, saya sendiri sempat down saat itu

Beberapa minggu berlalu dan saya menjalani hidup dengan penuh kegelisahan. Alih-alih mendekat ke Allah, sebagaimana wejangan ustadz-ustadz seleb jika sedang dirundung persoalan kehidupan, saya malah “marah” kepada-Nya sampai-sampai saya membuat sebuah tulisan berjudul Membusuk yang tentunya tidak bisa saya posting ke publik karena saking frontalnya. 

Hingga pada akhirnya saya mendapat tawaran mengajar di sekolah negeri yang ada di Bandung. Entah mengapa, tanpa tendeng aling-aling saya langsung pergi ke Bandung keesokan harinya, ditemani oleh sahabat setia saya, MX merah yang selalu bersama saya di saat suka dan duka sejak masa-masa SMA dahulu.
**
“Kamu sudah siap mengajar di sini? Bapak mengiranya kamu orang Bandung lho. Sudah nikah?” Salah satu guru senior di sekolah itu bertanya ke saya dengan nada yang datar tetapi tetap saja tidak bisa menghilangkan mimik wajahnya yang terkesan sedikit prihatin dan oleh karenanya saya mencoba untuk menerka-nerka apa gerangan pesan intrinsik yang hendak beliau utarakan itu. 

“Jadi begini...” Glek. Saya menelan ludah. (ini agak hiperbol sih). Nah, ini dia awalan kata yang biasanya akan berlanjut pada pengabaran sesuatu yang kurang mengenakkan. Dan benarlah itu, yang pada intinya beliau ingin meyakinkan saya, sekali lagi, mengenai kesiap-sediaan saya mengajar di sekolah tersebut karena hanya akan mendapatkan honor yang minim. 

Saat itu saya menyanggupinya, apalagi pada awalnya saya hanya berencana mengajar 1 semester saja sembari menunggu pembukaan S2 UGM. Pikir saya, tak apalah. Lumayan untuk mengisi waktu luang.  

Meski masih sedikit lebih besar dibandingkan honor kakak tingkat saya yang katanya cuma kisaran 300 ribuan/bulan, tetapi setelah dihitung-hitung secara realistis-matematis, mutlak, bukannya surplus saya malah mendapatkan defisit di mana pengeluarannya ternyata lebih besar dibanding pendapatan, karena, berbeda dengan umumnya teman-teman saya yang mengajar di sekolah di mana lokasinya tak jauh dari rumah mereka sehingga tak perlu mengeluarkan dana untuk tempat tinggal dan uang makan (karena biasanya masih ditanggung orang tua), saya yang anak rantau tak pelak perlu biaya untuk kosan dan makan sehari-hari. [Dengan keterangan saya sudah tidak disuplai lagi dari orang tua].

Ironinya, dengan penghasilan yang cuma ratusan ribu itu, di mana keadaan ini juga dirasakan oleh sebagian besar guru honorer sekolah negeri di Indonesia, pemerintah senantiasa menuntut banyak hal dari para guru. Harus inilah itulah. Harus bisa ini, harus bisa itulah. Harus terus memperdalam ilmu-lah, berwawasan up to date-lah. Bagaimana mungkin kami bisa membeli buku padahal untuk menutupi kebutuhan primer bagi diri sendiri saja kami harus mati-matian, mengakal-akali sesuatu supaya menghasilkan uang. 

Sejujurnya, saya tidak paham mengapa guru honorer bisa serendah itu dihargai oleh pemerintah, padahal kami adalah sarjana (kaum intelek), lulusan S1 yang mana untuk memperoleh gelar tersebut membutuhkan pengorbanan tenaga dan pikiran yang sangat besar tapi ternyata honornya malah lebih kecil dibanding petugas kebersihan, satpam, sopir angkot, admin warnet, pedagang asongan, kuli bangunan, tukang cukur, driver online, pegawai bank, apalagi buruh pabrik.  

Lantas mengapa masih banyak yang mau menjadi guru? Terbukti bahwa jurusan-jurusan kependidikan, khususnya di kampus negeri, peminatnya selalu meningkat tiap tahunnya.  Entahlah. Saya sendiri tak tahu jawaban pastinya, tetapi kalau saya pribadi adalah karena saya mendapatkan pengalaman-pengalaman personal yang amazing. 

Ketika pertama kali masuk kelas, melihat siswa-siswa, meja-kursi, papan tulis, serta kawan-kawannya, saya terasa hidup kembali. Sikap mereka yang beragam, ada yang ramai, bawel, penurut, pendiam, baong, membuat saya bahagia sekaligus semakin tertantang untuk menjadi sosok guru yang dapat masuk ke dunia murid-muridnya secara personal. 

Bukan hanya murid-murid dan suasana kelasnya saja, saya bersyukur sekali mendapatkan lingkungan sekolah yang nyaman. Guru-gurunya ramah, welcoming, sering menawarkan makanan, dll. Dan tak lupa, karena adanya faktor Bandung yang sedari dulu saya sudah jatuh cinta padanya—tetapi tidak untuk sebagian polisinya. 

Bahkan saking nyamannya dengan suasana dan bau harum sekolah, saya jadi berpikiran untuk tetap stay mengajar dan sepertinya tak mengapa untuk menunda kuliah S2 di mana keadaan yang seperti ini, saya pikir, sepertinya sulit didapatkan di dunia perkantoran yang serba money oriented sehingga para pekerja/pegawai selalu dikejar-kejar oleh deadline dan tekanan-tekanan. 

Saya yakin juga kalau tingkat kestresan orang-orang kantoran jauh lebih besar dibandingkan para guru. Maka wajar jika banyak dari mereka yang setelah pulang kerja selalu membawa keluh kesah, suasana murung, mentransfer persoalan-persoalan kantor ke rumah mereka.
Atau mencari-cari kesalahan, mengambing-hitamkan kesalahan meski teramat remeh, yang pada titik klimaksnya bisa sampai marah-marah dan bertindak kekerasan kepada salah satu anggota keluarga. 

Itulah sekelumit curhatan saya selaku sebagai guru baru sekaligus perantau newbie (maksudnya tanpa bantuan ortu) yang benar-benar sedang berada di posisi dilematis di mana satu sisi mengajar (menjadi guru honorer) bagi saya adalah pekerjaan yang menyenangkan tetapi di sisi lain saya harus menelan ludah juga karena pekerjaan mulia ini masih dihargai sebelah mata.  

*Penulis adalah guru honorer di Bandung

Sumber gambar: FB Drawing Pencil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar