Dia Butuh Pertolongan, Suroh



Asep Saidi
 Om Eri terkenal sebagai seorang preman bejad, bajingan, bahkan bisa dikategorikan sebagai preman yang sudah mulai memasuki fase kefasikan. Hidupnya sehari-hari tak pernah luput dari masalah yang dianggap warga kampung sebagai amoral. Mabuk, judi, renten, sabung ayam, melacur bahkan semua istilah kriminal di dalam kamus sudah pernah ia lakukan kecuali korupsi dana desa.

Keluar masuk penjara juga merupakan kebiasaannya. Om Eri selalu saja disel dengan kasus yang berbeda-beda. Tahun kemarin, Om Eri dipenjara karena diduga terlibat memotori proses transaksi barang haram. Setelah keluar penjara, ia taubat melakukan hal yang sebelumnya menjadi sebab dijebloskannya ke dalam penjara.

Ia memang taubat dari perilaku sebelumnya, tapi melakukan lagi kejahatan baru, dan terus begitu. Seperti setelah keluar dari penjara tahun lalu, dua hari sejak keluar dari penjara, desas-desus warga tentang Om Eri yang diduga menjadi pelaku perampokan sebuah rumah sudah terdengar lagi. 

Belum juga genap seminggu merasakan bebas dari penjara, ia seakan sudah kehabisan rasa kapok untuk melakukan sebuah kejahatan lagi.

Duda yang ditinggal anaknya kabur itu tinggal seorang diri di rumah yang cukup sederhana, tempat di mana pusat perjudian dilangsungkan. Kejahatan, kemaksiatan dan dosa-dosa lainnya yang terlalu banyak membuat para alim ulama dan ustaz di kampung sampai bingung bagaimana cara menghentikannya, mendakwahinya, atau mengingatkannya. 

Pasalnya, selain kriminal, Om Eri juga dikenal sebagai pemegang wilayah kampung tersebut, alias tidak ada yang berani melawannya kecuali Tuhan. Tentu saja, masyarakat juga ikut bosan dengan perilaku Om Eri yang saban hari bikin suasana obrolan warung jadi tegang jika Om Eri datang atau barang sekadar melintasi warung.

Suatu ketika gempa melanda kabupaten dan tentu saja kampung kena getarnya. Rumah Om Eri yang berada tepat di bawah bekas galian tanah pembuatan jalan tertimpa longsor akibat gempa yang mengguncang sangat besar. Tapi waktu itu Om Eri sedang tidak di rumah. 

Anehnya dari sekian banyak rumah yang ada di kampung, hanya rumah Om Eri yang hancur. Warga yang mengetahui bahwa pasca gempa besar yang menyebabkan tertimbun dan hancurnya rumah Om Eri, merasa maklum dengan tragedi demikian, karena mungkin itulah balasan dari Allah untuk seorang pendosa.

“Yah, inilah tanda bahwa Allah memang adil.” Ujar Marwan.

“Kita bisa lihat sendiri bagaimana sekarang Om Eri tidak diperkenankan lagi tinggal di kampung ini oleh Allah. Kita tidak mengusirnya, tapi Allah-lah yang mengusirnya dari kita.” Tambah Iqom sambil mengupas pisang.

“Kalo bukan azab Allah, kenapa cuma rumah pendosa itu yang hancur?” Obrolan semakin ramai dengan ikutnya Mas Tri berbicara.

“Kabarnya, dia sekarang sedang ke rumah-rumah untuk ikut tinggal sementara. Apa kalian kasih masuk?” Mas Tri melanjutkan.

“Saya pribadi gak mau ikut kena azabnya nanti.” Jawab Marwan.

Suasana obrolan seketika menjadi serius saat membicarakan hikmah dari tertimbunnya rumah Om Eri Sang Preman. Obrolan kecil itu menandakan ada sedikit kepuasan warga terhadap apa yang sedang menimpa Om Eri.

Sekarang, Om Eri hanya luntang-lantung kesana kemari, meminta-minta tolong untuk numpang tinggal di salah satu tetangganya, tapi sampai sore menjelang tidak ada satu pun warga yang membukakan pintu untuknya. Dan bisa dibilang Om Eri sudah tidak bisa lagi diterima oleh warga.
***
Suara ketukan pintu terdengar oleh Suroh, tapi Suroh yang sedang di kamar mandi tak bisa bergegas membukakannya. Untung, Mbah Majen yang sedang duduk-duduk segera menghampiri suara dan membuka pintu rumahnya.

“Ayo silahkan masuk!” Sapa Mbah Majen kepada Om Eri.

“Mbah …” Eri yang hendak menyampaikan maksud kedatangannya langsung dipotong oleh Mbah Majen.

“Sudah makan?” Tanya Mbah Majen agak serius.

“Belum Mbah, tapi Mbah maksud saya …” Jawab Eri sambil terus dipotong lagi.

“Tunggu ya, saya cek ke dapur dulu. Kamu duduk di sana jangan kemana-mana!” Timpal Mbah Majen.

Akhirnya Mbah Majen pun membawa sepiring nasi dan lauk pauknya serta segelas air minum untuk diberikan kepada Om Eri. Lalu tanpa banyak ngobrol dulu, Om Eri pun menerima dan menyantapnya dengan lahap.

Suroh yang baru keluar dari kamar mandi melihat Om Eri di dalam rumahnya sedang makan sambil ditemani Mbah Majen, kagetnya bukan main. Ia lantas menarik bapaknya ke belakang untuk menanyakan beberapa hal.

“Ngapain dia di sini pak?” Tanya Suroh.

“Lah, dia kan bertamu, masa harus bapak usir?” Jawab Mbah Majen.

“Ya tapi kan bapak tau Om Eri ini orang jahat pak.” Suroh menanggapi.

“Dia kan datang kesini tidak sebagai orang jahat, roh. Ia datang ke sini sebagai tamu.” Lanjut Mbah Majen.

“Bapak ini bagaimana sih, nanti kalau dia melakukan hal-hal buruk lagi di sini gimana pak? Om Eri ini kan yang sudah bikin bapak celaka dulu. Kalau orang kampung tau bahwa Om Eri ditampung di sini gimana pak?” Suroh panik sembari meyakinkan bapaknya untuk segera mengusir Sang Preman.

“Bapak ajarkan sama kamu, roh. Om Eri ini sudah tidak punya siapa-siapa. Orang-orang yang seharusnya membina dia, menolong dia, memberi makan dia, mengingatkan dia, sudah menyerah semua. Lalu kenapa mereka nanti harus marah kepada kita yang menampung Om Eri? Seharusnya kan mereka yang malu, roh. Seharusnya kita yang marah sama mereka. Kita memang bukan siapa-siapa di kampung ini, bukan ahli agama, bukan orang kaya, bukan pejabat, sama seperti Om Eri sekarang yang bukan siapa-siapa di kampung ini. Mungkin Haji Soleh tidak menerima Om Eri di rumahnya karena dia merasa Om Eri tidak sebanding dengannya, mungkin Pak Nairin tidak menerima Om Eri karena juga untuk apa selain akan malah mengganggu urusan Desa.” Tutur Mbah Majen.

“Iya tapi pak …”

“Kita inilah tempat satu-satunya Om Eri. Dia kan baru saja kena musibah. Kalo pun musibah yang ia terima disebabkan karena dosa-dosanya, lalu apa sekarang kita malah harus menceramahinya? Apa salah ketika kita mencoba menolongnya? Kondisi Om Eri saat ini butuh ditolong roh, bukan butuh didakwahi, diceramahi, disalah-salahkan atas dosanya.”

Seketika Om Eri datang menghampiri mereka berdua yang sedang berbicara pelan di belakang. Suroh pun was-was melihat Om Eri yang tiba-tiba datang menghampirinya. Suroh mengira Om Eri akan marah karena mendengar percakapannya.

“Mbah,” Panggil Om Eri

“Gimana ri?” Jawab Mbah Majen.

“Boleh nambah lagi Mbah? Masih laper.”

*Penulis adalah guru PAI di Bandung

Sumber gambar: FB Tasawuf Underground

Tidak ada komentar:

Posting Komentar