Berjiwa Nasionalis Sejati



Anisha Nur Fitriani
Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai Islam dan nasionalisme, satu kelompok berpendapat bahwa keduanya saling berkaitan erat dan tak boleh dipisahkan, namun di lain sisi ada kelompok yang bersikeras mempertentangkan keduanya sehingga menolak konsep nasionalisme. Hal tersebut terjadi bukan tanpa sebab dan terjadi akibat persepsi dan penghayatan yang berbeda-beda atas makna nasionalisme itu sendiri.

Bagi kelompok yang menjadikan Islam dan nasionalisme bersenyawa, karena memandang bahwa nasionalisme itu cinta tanah air, membebaskan negara dari imperialisme dan merapatkan barisan serta merekatkan tali persaudaraan, sehingga mereka rela berjuang berada di garda terdepan untuk meneriakkan nasionalisme. 

Sementara bagi kelompok penolak, menilai nasionalisme tak lain hanyalah sebuah produk Barat yang bertentangan dengan nilai-nilai prinsipil Islam. Sehingga menurut mereka haram hukumnya bagi umat Islam mengadopsi nasionalisme, karena mereka mengaaggap nasionalime dapat menimbulkan fanatisme kesukuan dan klaim tak sehat. 

Dari sini kita dapat pahami bahwa cara pandang, refleksi dan pengalaman yang berbeda menghasilkan produk hukum yang berbeda pula. Namun sebenarnya hal ini bukanlah hal baru yang mengherankan, karena pada dasarnya perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan kita sudah tahu benar akan hal itu. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Bersikap moderat, kiranya merupakan penyikapan terbaik sebagai solusi bagi maraknya perdebatan mengenai hal tersebut. Mengambil jalan tengah dengan memahami nasionalisme sebagaimana pengertian yang telah tercantum dalam KBBI (2008) bahwa nasionalisme diartikan sebagai sebuah ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. 

Kesadaran keanggotaan dalam bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa. Dengan mengambil pengertian tersebut nasionalisme bukan lagi tidak bertentangan dengan Islam namun nasionalisme menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dari Islam. 

Karena sebenaranya nasionalisme memang tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai prinsipil Islam, nasionalisme juga tidak bertentangan dengan konsep persatuan umat dan tidak menghalangi kesatuan akidah. Sekalipun ada batas geografis, namaun hal tersebut tidaklah sepenuhnya negatif. 

Solidaritas umat tetap bisa dibangun, terlebih kita sekarang ini sudah berada di era globalisasi. Solidaritas Uni Eropa misalnya, dapat dijadikan teladan bagi kita. Bagaimana pun perlu kita sadari, pahami dan akui  bahwa sesunggunya pokok soal kemunduran peradaban umat Islam itu bukanlah pada tidak adanya khilafah, tapi pada kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan kurangnya solidaritas umat. 

Islam punya nilai yang sifatnya global dan tanpa batas. Nasionalisme pun tidak selamanya selalu berwajah fanatisme dan perpecahan antar suku. Sejarah telah membuktikan bahwa nasionalisme punya saat-saat yang membebaskan dan mencerahkan. 

Mengutip perkataan Basarah bahwa “Islam dan nasionalisme atau golongan Islam dan golongan nasionalisme adalah ibarat dua rel kereta api. Keduanya harus berdampingan dengan kokoh dan seimbang. Jika salah satu relnya patah maka kereta api yang berada di atasnya tidak dapat mengantarkan penumpangnya sampai ke tujuan. Kereta api itu juga akan terjungkal dan mencelakakan para penumpang yang ada di dalamnya”.  

Sejalan dengan analogi Basarah, Aqil pun menyatakan bahwa agama dan nasionalisme memang tidak dapat dipisahkan karena keduanya merupakan faktor kunci yang menjaga eksistensi sekaligus memelihara kesinambungan peradaban bangsa. Menurutnya jika dalam suatu bangsa pemahaman agama dan nasionalisme sudah menjadi satu hal yang tidak bisa dipisahkan, sudah mengakar, maka tidak akan ada perang maupun kekerasan atas nama apa pun.

Dengan begitu jelaslah bahwa relasi Islam dan Nasionalisme sebenarnya tidaklah kontradiktif. Semuanya balik lagi pada penghayatan dan pemaknaan kita atas nasionalisme itu sendiri. Nasionalisme yang ekspansif dan terjebak pada chauvinisme, seperti yang dipraktekkan Hitler dan Israel tentu bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam. 

Sebaliknya nasionalisme formatif, di mana nasionalisme diartikan sebagai cinta tanah air, membebaskan negara dari imperialisme, merapatkan barisan dan merekatkan tali persaudaraan hal tersebut justru merupakan bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Jika benar nasionalime dapat dipahami sebegitu indahnya, maka niscaya hal tersebut menjadi gerbang yang menghantarkan jalan kita untuk menjadi muslim taat yang berjiwa nasionalis sejati. 

*Penulis adalah alumni S1 Ilmu Pendidikan Agama Islam, UPI Bandung

Sumber gambar: FB American Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar