Berawal dari Cinta Tanah Air

Sella Rachmawati
Cinta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti suka sekali, atau sayang benar. Sedangkan arti mencintai dalam KBBI adalah menaruh kasih sayang. Mencintai itu komitmen, setia, kerja keras untuk menyenangkan dan membahagiakan, begitu kata Cak Nun (Nadjib, 2017, hal. 161).

Ada banyak jenis cinta di dunia ini. Cinta tak melulu mengenai sepasang kekasih. Cinta bisa lebih luas lagi, cinta terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, terhadap Rabb sebagai pencipta, juga bisa cinta terhadap tempat kita berdiri hari ini, Indonesia.

Indonesia adalah negara kepulauan dengan berbagai jenis suku, bangsa dan agama. Islam adalah agama yang banyak dianut oleh penduduknya. Melihat sejarah, Islam memiliki peranan penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kyai dan santri tidak dapat dihilangkan begitu saja dari sejarah kemerdekaan Indonesia.

Bahkan semboyan Hubbul Wathan Minal Iman yang dikenalkan oleh hadratushyaikh K.H Hasyim Asyari dinilai menjadi penyemangat kaum Muslim untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Indonesia diciptakan oleh Allah dengan berbagai macam agama, suku, dan bangsa. Lantas ideologi Pancasila dinilai pas dalam bernegara di Indonesia sesuai dengan kondisi dan keadaannya, hal ini telah dipertimbangkan dengan matang oleh para pahlawan, kyai dan santri pada saat itu demi tercapai kesejahteraan rakyat.

Belakangan ini Indonesia sedang diramaikan oleh berbagai konflik, entah menyangkut agama, politik maupun sosial. Bahkan ada segelintir golongan yang menginginkan berubahnya sistem pemerintahan menjadi sistem pemerintahan Islam.

Memang tidak ada salahnya dengan hal tersebut, juga bukan berarti kita membenarkanya. Kita harus sama-sama tabayun akan hal tersebut agar ada solusi nantinya.

Sejatinya jika kita memahami dengan mendalam makna dari kebangsaan dan sejarah negara kita, memahami Islam lebih dalam mungkin hal-hal tersebut tidak akan terjadi atau tidak usah jauh-jauh untuk memahami, asal kita cinta saja mungkin hal-hal tersebut bisa diminimalisir bahkan mungkin akan hilang.

Seperti dikatakan sebelumnya bahwa cinta berarti sayang benar dan mencintai adalah menaruh kasih sayang. Sebuah pengantar dari Prof. Dr. Abdul Hadi W.M dalam buku yang ia terjemahkan (Rumi, 2017, hal. 7) menyebutkan bahwa cinta menggerakkan manusia untuk berikhtiar sekuat tenaga dengan segala kemampuan yang ada pada dirinya.

Hilangnya cinta dalam segala bentuknya dalam diri sebuah umat akan membuat peradaban dan kebudayaan umat tersebut rapuh dan mudah runtuh. Maka jika cinta kepada tanah air berarti memberi kasih sayang yang begitu dalam kepada tanah air, berusaha sekuat tenaga demi menjaga kedaulatan bangsa, berkomitmen untuk menjaga keutuhannya, dan memakmurkan rakyatnya.

Cinta itu letaknya di dalam hati, maka taruhlah Indonesia di dalam hati kita. Seperti Cak nun bilang “Indonesia itu berada di dalam hati saya, bukannya saya berada di Indonesia, tapi Indonesia bagian dari diri saya. Sebab kalo saya bagian dari Indonesia, maka naluri saya adalah minta bagian dari Indonesia. Karena Indonesia bagian dari diri saya, saya harus memberi sesuatu kepada Indonesia.” (Nadjib, 2017, hal. 148).

Tak ada salahnya kita tumbuhkan rasa cinta tanah air mulai saat ini. Memang tidak dapat pula dipungkiri bahwa terlalu banyak konflik di “tanah” kita saat ini, beri kritik dan saran dengan cinta bukan malah membenci dan memaki.


Refrensi:
Nadjib, E. A. (2017). Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem. Jakarta Selatan: Noura (PT Mizan Publika).
Rumi, J. (2017). Msnawi Senandung Cinta Abadi. (A. Hadi, Penerj.) Yogyakarta: IRCisoD.
KBBI

Sumber gambar: ngopibareng.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar