Anak, Mimpi, dan Inspirasi

Irfan Ilmy
Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya
Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Warnai bintang di jiwa
(Nidji, Laskar Pelangi)

Senang rasanya bisa menjadi bagian tak terpisahkan dari negeri tercinta, Indonesia. Sebuah tempat di mana cinta tercurah di dalamnya. Sebuah wilayah di mana di atasnya ada banyak darah yang tertumpah dari para pahlawan yang tak pernah mengharapkan balas atas kepayahannya berjuang mengusir penjajah.

Berpuluh-puluh tahun hidup di tanah yang subur nan makmur, tak ada alasan untuk kita hanya selalu diam mengutuk keadaan. Tidakkah kita tergerak untuk berterimakasih kepadanya melalui karya nyata yang berdampak luar biasa?

Salah satu tindakan konkret membalas jasa kepada negeri ini adalah menunjukan kepedulian terhadap generasi penerusnya. Hal ini sebagai bentuk kaderisasi pemimpin bangsa di masa depan. Tak lain supaya keberlangsungan tumbuh kembang anak-anak terpastikan berada di jalur yang semestinya. Ini menjadi salah satu jalan yang bisa kita pilih sebagai upaya berterima kasih.

Merawat Mimpi Anak Negeri
Pada tanggal 24 Februari tahun 2016 lalu saya terlibat dalam kegiatan Kelas Inspirasi Bandung #4 bersama dengan para inspirator. Saya berperan sebagai dokumentator karena belum punya pekerjaan yang bisa dibagikan pengalamannya kepada anak-anak SD ketika memilih menjadi inspirator.

Acara ini sukses membuat para inspirator tersulut sisi pengabdiannya untuk kembali mengikuti kelas inspirasi di tahun depan. Bahkan salah satu inspirator saat agenda refleksi di Gedung POS Banda mengatakan meskipun ia sudah sangat puas dengan acara pada hari inspirasi ini, ia ingin terus mengulangi kepuasannya lagi dan lagi.

Kelas inspirasi meski tanpa bubuhan nikotin ternyata mampu menarik orang banyak untuk kembali lagi mencicipi manisnya arti berbagi, mencecap makna saling menumbuhkan harap. Ia menjadi candu bagi orang-orang yang peduli pada keberlangsungan tumbuh kembang anak-anak di negeri ini.

Menginspirasi anak-anak SD untuk berani bermimpi, menularkan motivasi menjadi hal mahal yang hari ini tidak bisa dilakukan semua orang.

Mereka yang memilih untuk cuti satu hari demi selamanya menginspirasi ini sudah paham bahwa anak harus dibesarkan dalam mimpi-mimpi yang dahsyat. Ini tak lain supaya anak-anak itu kelak tumbuh dalam optimisme menatap hari depannya.

Keterbatasan yang hendak datang memenggal tak menjadi halangan bagi mereka untuk terus memperjuangkan mimpi-mimpi masa kecilnya. Ini karena mimpi tersebut telah tumbuh dengan kuat dan mematri dalam hati. Pohon mimpi yang jauh-jauh hari disemai benihnya telah menjulangkan batang dan dahan sehingga tak mudah untuk diruntuhkan begitu saja.

Sebagai pengabadi momen-momen keceriaan para anak-anak SD karena memperoleh cerita-cerita dari para inspirator, saya sangat bersyukur. Bagaimana tidak, wajah-wajah polos mereka ketika mendengarkan paparan cerita, mendapat materi ataupun permainan dari para inspirator terekam dalam bingkai demi bingkai foto dokumentasi.

Ketika diri ini rindu dengan gelak tawa anak-anak dan tingkah usilnya, dengan sangat mudah saya dapat membuka folder bernama Kelas Inspirasi Bandung #4 berisi foto-foto mereka. Semangat kembali akan merambat untuk berbuat lebih banyak bagi mereka melalui jalur pendidikan.

Itu satu cerita tentang sebuah hari yang dinamai hari inspirasi. Kami serentak merasakan atmosfer kehidupan anak-anak SD di berbagai sekolah yang tersebar di Kota Bandung, Kabupaten Bandung,  Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (Bandung Raya).

Kami mencoba jadi pribadi yang tak sekadar pandai mencela gelap, namun selangkah lebih maju, yakni berperan sebagai pelita harap. Menjadi agen yang menerangi gempitanya dunia melalui inspirasi dan motivasi yang coba kami bagi.

Meski dampak yang ditimbulkan tidak secara langsung dirasakan, kami yakin virus-virus mimpi itu akan menjalar di diri anak-anak generasi Indonesia masa mendatang. Mereka akan senantiasa hidup, tidur, belajar, bercanda, bahkan bermain ditemani impiannya masing-masing.

Perihal  mimpi, selepas kelas inspirasi usai, anak-anak diinstruksikan menuliskan mimpi lalu menempelkannya di tempat yang telah disediakan. Begitu terharu saya membaca satu demi satu mimpi mereka. Ada yang ingin jadi dokter, polwan, pemain sepak bola, TNI AU, polisi, masinis, pengusaha hingga bercita-cita mulia menjadi guru.

Mereka kini mungkin tak takut untuk berekspresi melalui mimpi. Akan tetapi, kedepannya sadar atau tidak sadar mimpi mereka akan dihadapkan pada berbagai rintangan. Berpotensi pula mimpi tersebut menguap bersama kepul asap dapur rumahnya.

Keadaan dan (kadang) ketidakmapanan selalu memaksa mimpi hanya tetap sekadar mimpi. Segi ekonomi biasanya menjegal langkah mereka untuk mewujudkan angannya. Barangkali selain kita mendorong mereka untuk punya mimpi yang besar, kita pun bertugas mengarahkan langkah mereka untuk menyusuri jalan yang tepat untuk memperjuangkannya.

Mereka kita beri informasi berbagai beasiswa hingga bantuan biaya supaya nafas mimpinya tetap berembus. Setidaknya tidak alpa kembali mengingatkan mimpi mereka supaya mereka tidak lantas lupa.

Itu ulasan saya tentang keikutsertaan di salah satu program Indonesia Mengajar bentukan pak Anis Baswedan. Selain kelas inspirasi, singgungan saya dengan anak-anak berlanjut di salah satu kegiatan dari Fatih Tower Foundation. Di sana saya menjadi relawan untuk memberikan pengetahuan, wawasan dan bimbingan bagi anak-anak penerima beasiswa dari Badan Pengelola Zakat, Infaq dan Shadaqah (BPZIS) Bank Mandiri.

Setiap hari Minggu saya berangkat ke dusun Panyandaan di daerah terminal Cicaheum ke arah atas lagi. Di sana ada sekitar 60 orang anak dari usia SD hingga SMA (beberapa orang saja untuk tingkat SMA).

Mereka selalu terlihat bersemangat mendengarkan materi dari kakak-kakak mentor. Materi tiap minggu berbeda sesuai dengan silabus yang telah ditentukan. Saya sendiri menjadi mentor untuk anak-anak lelaki kelas VIII SMP.

Kami selaku mentor senantiasa menyisipkan nilai-nilai (ditekankan tentang keagamaan) untuk selanjutnya ditanamkan ke benak anak-anak. Semoga kelak saat mereka sudah dewasa, sudah sukses meraih apa yang dimaunya, tidak lantas membabi buta dan berfokus pada materi saja.

Lebih dari itu diharapkan mereka memiliki jiwa empati kepada sekitar dan bermental tangguh serta berpijak pada norma-norma agama pun sosial.

Pada beberapa kesempatan, selain menyampaikan materi yang telah ditentukan, saya mengarahkan topik bahasan ke arah impian. Suatu ketika bahkan saya menunjukan dream book pribadi saya kepada mereka. Saya bercerita mengenai beberapa mimpi yang tertulis di buku itu satu persatu mulai bisa dicoret, pertanda telah tercapai.

Energi itu semoga bisa dirasakan oleh mereka sehingga tak ada lagi kata takut untuk melakukan hal yang sama: merawat mimpi dalam sebuah buku yang ditulisi. Saya pun menawarkan alternatif lain yang bisa dilakukan yakni dengan menuliskannya di selembar kertas lalu menempelkannya di dinding kamar. Seketika terlihat raut kekaguman di wajah-wajah polos anak-anak itu.

Di salah satu pertemuan pertemuan (Minggu, 20 Maret 2016) saya kembali mengulas mengenai mimpi. Saya menanyai mereka satu-satu mengenai mimpi dan cita-cita terbesar mereka di masa depan.

“Bar, kamu punya mimpi jadi apa?” tanya saya pada Sobar.

“Ingin jadi tentara, kang.” timpalnya.

“Kalau kamu, Ron?” Saya mengalihkan pandangan pada Roni.

“Saya ingin jadi pembalap.”

“Bagus!” Seru saya, sambil mengangkat kedua jempol sebagai bentuk dukungan dan apresiasi.

Lalu Rian dan Agung pun menyebutkan masing-masing mimpinya. Keduanya masing-masing ingin menjadi pembalap dan tentara.

Kemudian saya pun mewanti-wanti mereka bahwa apapun impiannya, haruslah diorentasikan untuk bisa bermanfaat bagi agama dan bangsa. Semoga suatu saat mimpi kalian tercapai!

Itulah sepenggal cerita mengenai dua aktivitas saya yang bertalian dengan anak-anak dan mimpi. Ini semacam ikhtiar saya untuk tidak hanya menonton para pemain bola memasukan bolanya ke gawang.

Lebih dari itu, ini adalah langkah nyata untuk berperan menjadi pemainnya. Dalam hal ini tentu mengakrabi dunia anak-anak dan menanamkan inspirasi kepada mereka tentang pentingnya punya impian setinggi mungkin.

Pesan untuk Para Pemimpi
Untuk anak-anak di manapun berada, lekaslah menuliskan apa yang kamu inginkan! Mimpi yang hanya diingat atau sekadar diucapkan saja rentan terlupakan. Melalui pengikatan dalam bentuk tulisan, seminimalnya ketika kalian lupa, kalian tidak akan terlalu terlena.

Tatkala buku mimpi itu kembali dibuka atau mata kalian tertambat pada kertas berisi mimpi-mimpi yang tertempel di dinding kamar, seketika itu pula kalian akan kembali teringat dengan mimpi-mimpi yang pernah ditulis.

Terkait mimpi, saya pernah menuliskannya secara khusus dalam sebuah postingan di blog pribadi. Berikut petikannya:

“Penting bagi setiap manusia untuk memiliki mimpi. Energi mimpi akan menjadi kemudi yang mengantarkan setiap orang menuju ke tempat yang ditujunya. Setidaknya menjadi rem ketika lajunya terlalu cepat namun oleng. Akan menjadi bahan bakar tatkala lesu untuk berjalan datang menyerang."

Seperti kata bang Andrea Hirata, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” Titipkan mimpi-mimpi itu pada teman-teman terdekatmu. Catat ia di buku istimewa, coret kalau sudah tercapai. Tulislah mimpi-mimpi itu di kertas lalu tempel di dinding kamar atau di daun pintunya.

Pandangi setiap hari, setiap kamu masuk dan diam di dalamnya. Rasakan betapa kemagisan impian menjalar di darahmu, menggerakkan langkah yang ringkih menjadi kian kokoh dan bergairah.

Saya tak jamin orang yang punya mimpi akan sukses dikemudian hari, tapi seminimalnya ia punya alasan untuk melakukan, punya semangat untuk terus mengupayakan. Orang besar hidup bersama mimpi-mimpinya. Perlahan menjadikannya nyata bersama langkah-langkah konkret yang terukur. Sekali lagi, bermimpilah! Lalu layangkan mimpi itu bersama harap-harapmu di sepanjang waktu: pada Nya.”

Pesan ini ditujukan bagi siapapun yang merasa bahwa bermimpi itu adalah aktivitas yang berharga. Orang tua, guru, mahasiswa, pemerintah dan seluruh pihak yang mampu mendorong anak-anak untuk bermimpi dan memperjuangkan mimpi. Jangan lelah untuk terus membersamai mereka lebih dekat dan menggapai mimpinya!
Selamat bermimpi, selamat merawat dan menjadikannya nyata!

*Penulis adalah pendiri Komunitas Bermain dan Belajar Anak Planet Antariksa, mentor di Akademi Prestasi. Menyukai isu-isu tentang pendidikan dan anak-anak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar