Gelar Riksa
 Dalam sebuah film erotis produksi Korea Selatan, dikisahkan seorang lelaki yang telah menikah dan hidup bahagia. Istrinya cantik, keibuan, dan sangat wife-able. Rasanya, tidak ada alasan untuk tidak mencintai perempuan tersebut. Namun, setelah sekian lama berlangsung, lelaki ini tampaknya bosan dengan hidupnya yang menyenangkan terus itu. Pada suatu kesempatan ia mendapati adik istrinya sedang main ke rumah. Netizen yang budiman tentu sudah tahu ke mana arah cerita ini, yap, betul sekali, pak suami nampaknya tertarik pada adik istrinya itu. 

Berbeda dengan kakaknya, adiknya ini punya kesan agak urakan, cantik juga, lebih cantik bahkan, serta seksi. Selain itu pembawaannya yang ceria dan independen memberikan kesan menantang bagi para laki-laki. 

Eh, gayung bersambut, rupanya si adik juga memang naksir kepada pak suami, namun tidak enak pada kakaknya. Akhirnya keduanya terlibat dalam perselingkuhan yang panas serta pergumulan fisik dan batin yang jelimet luar biasa. Suami istri itu akhirnya bercerai, dan adiknya dituduh sebagai biang keroknya.

Kisah seperti yang saya ceritakan di atas umumnya terjadi juga dalam masyarakat kita. Hanya tidak ada ekspos seperti Ahmad Dani dan Maia Estianty ketika dulu cerai. Orang ketiga biasanya menjadi faktor utama keretakan suatu hubungan rumah tangga, baik laki-laki atau pun perempuan. Kasus Bu Dendy mengguyur uang kepada selingkuhan suaminya yang sempat menghangat di media sosial belakangan ini, menunjukkan bahwa kita sudah tidak bisa lagi menyembunyikan hal semacam itu dari dunia. 

Sampai entah dari mana mulanya, netizen berhasil melahirkan sebuah akronim baru bagi penyebab kehancuran rumah tangga orang lain. “PELAKOR” atau kependekan dari “Perebut Laki Orang”, maaf kalau saya salah, tapi intinya di sana ada seorang wanita yang merebut suami orang lain. Tapi ketika mendengar istilah ini, saya kok ya agak kesel sekaligus ingin merevisi. Istilah Pelakor itu seperti hanya menjadikan perempuan yang jahat, dan laki-laki adalah barang mahal yang harus diperebutkan.

Padahal, seperti dikisahkan di awal tulisan ini, laki-laki itu ya bajingan sebetulnya. Rasanya tidak mungkin kalau kamu (laki-laki) punya pacar, kemudian ada perempuan lain yang mendekati kamu, masa iya kamu akan pindah ke lain hati kalau kamunya juga tidak punya niat? Plis, jangan bohong my love. 

Kalau terjadi perselingkuhan dalam sebuah percintaan, yang salah pasti selingkuhan yang masuk ke hubungan, dan yang diselingkuhi karena gak kuat iman. Kalau memang mencari pasangan dengan cara ingin dapat yang lebih, ya jangan selingkuh. Putus saja, jujur saja, bahwa kamu ketemu yang lebih cantik atau ganteng atau kaya atau pintar. Itu lebih baik daripada munafik.

Kembali ke istilah Pelakor, saya pikir beberapa perempuan yang dapat julukan ini mungkin memang punya niat untuk merebut suami orang, tetapi jika si suami memang mencintai istrinya tidak akan ia mau diajak selingkuh. Kalau memang iya, maka alasan si suami itu akan semacam ini, “Saya tidak bersalah, salah siapa perempuan yang mau merebut saya itu cantik?” 

Masyarakat Indonesia memang punya budaya bapak-isme yang kuat. Hal ini sepertinya dimulai ketika zaman orde baru, posisi perempuan selalu sifatnya menjadi pendamping, bukan pemeran utama. Bapak-bapak ini ada banyak di mana-mana, di institusi apa saja. Ketika ada perempuan yang muncul dengan sebuah karya, maka komentar yang menyeruak adalah komentar semacan, “Wah hebat ya, padahal perempuan, tapi bisa seperti itu,” atau, “Meskipun perempuan, dia berhasil melakukannya.” 

Komentar seperti itu seolah menunjukkan, wanita berprestasi itu aneh. Lalu misalnya ketika netizen juga sempat hangat membicarakan asisten bu menteri Susi Pudjiastuti yang memang seorang perempuan yang cantik. Berita yang muncul adalah, “Asisten bu Susi yang cantik, dan masih muda.” Bukan “Asisten bu Susi yang terampil, pekerja keras, dan jujur.” Akhirnya perempuan menjadi tempat disematkannya pujian-pujian berdasar tampilan fisik, bentuk tubuh, dan gaya rambut, bukan soal kecakapan.

Tentu saja perempuan dan laki-laki punya tugas dan peran yang berbeda. Tetapi melihat perempuan hanya dari penampilannya saja, itu adalah tindakan jahiliyah. Sebetulnya kebiasaan serta pengaruh lingkungan sejak kecil berperan besar membentuk stereotip laki-laki dan perempuan ini. Sampai sekarang masih banyak yang berpikir bahwa memasak, mengepel, dan mengajar anak TK hanya pekerjaan perempuan. Atau menyetel motor, main band, dan main sepak bola hanya pekerjaan anak laki-laki. Padahal keduanya bisa dilakukan oleh kedua gender.

Kalau saja sejak TK semua itu dijelaskan kepada kita, kita bisa hidup lebih woles sembari melihat perempuan-perempuan hebat bermunculan. Di Jepang, anak laki atau perempuan sama-sama harus bersih-bersih dan masak di sekolah. Di Kanada, setengah dari jumlah menteri yang menjabat saat ini adalah perempuan, dan mereka kredibel. Kita masih harus menunggu untuk bisa begitu, orang himpunan tempat saya kuliah saja mengharuskan syarat ketua himpunan adalah laki-laki. 

Jika nanti saya punya anak perempuan, saya akan bilang kepada dia, “Nak, tumbuhlah, kuatlah, lawanlah congkaknya dunia.....dan juga netizen Indonesia.”

 *Penulis adalah lulusan S2 University of Birmingham, UK.

Sumber gambar: FB Drawing Pencil


Jiva Agung
Saya menghindar dari takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain (Umar bin Khattab)


Beberapa hari yang lalu saya melemparkan sebuah tesis yang menggemparkan satu jagad kelas di sekolah yang saya ampu dengan menyatakan bahwa kematian adalah sebuah pilihan yang mana manusia memiliki peran utuk memperpendek atau “memperpanjang” jatah umurnya. 

Seperti yang saya duga, suasana kelas seketika ramai, menyebabkan hampir seluruh siswa di kelas tersebut mengajukan argumen yang umumnya adalah bentuk bantahan. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya mencoba untuk mengurai pandangan saya seputar takdir yang di dalamnya juga termasuk perihal kematian.

**

Di zaman Rasulullah saw. masih hidup, pembahasan mengenai takdir tidaklah terlalu sulit karena jika ada sahabat yang belum mengerti atau salah kaprah akan maknanya, Rasulullah saw. langsung menegurnya. Misalnya saja pada suatu saat ada sahabat yang menemui beliau di masjid tanpa terlebih dahulu menambatkan untanya. Ketika Rasulullah saw. menanyakan hal tersebut, dia menjawab “aku telah bertawakal kepada Allah” seakan-akan ia ingin menyatakan bahwa ‘jika Allah sudah menakdirkan unta itu hilang, ya pasti hilang’ karena itu Rasulullah langsung meluruskan pemahamannya dengan berkata “tambatlah (untamu), setelah itu bertawakal”. Mudah sekali memahami takdir di zaman itu. Intinya kita harus berusaha semaksimal mungkin dahulu kemudian berserah diri.

Hanya saja setelah Rasulullah saw. wafat, permasalahan tidaklah sesederhana itu lagi. Semakin hari permasalahan-permasalahan hidup semakin kompleks. Pemahaman-pemahaman pun masuk dari berbagai arah. Sampai-sampai muncullah berbagai macam aliran teologi (ilmu yang mempelajari soal ketuhanan) yang merumuskan konsep-konsep yang berbeda pula, termasuk konsep takdir. Ada Jabariyyah, Qadariyyah, Muktazilah, Asy’ariah, Maturidiyah, dan sebagainya[1].  

Jabariyyah menyatakan bahwa manusia sejak lahir telah ditentukan semuanya oleh Allah. Kita tinggal melaksanakannya laksana wayang yang digerakkan oleh sang dalang. Sebaliknya, Qadariyah menyatakan bahwa manusia memiliki kehendak yang sebebas-bebasnya. Allah tidak memiliki peranan di sana. Jadi, manusialah yang membuat takdirnya sendiri. Itulah sekelumit sejarah teologi Islam.

Mungkin ada yang bertanya “buat apa sih kita mengungkit-ungkit lagi masa lalu seperti mempelajari teologi-teologi itu?” Masalahnya bukanlah di pengungkitan teologi-teologi itu, tetapi karena umat muslim sedunia saat ini mayoritas telah menganut salah satu konsep teologi tersebut, yakni teologi Asy’ariyah. Asy’ari dengan konsep al-kasbnya itu sebenarnya dalam tataran teori ingin mengetengahi konsep dari Jabariyyah dan Qadariyyah. Sayangnya, dalam tataran praktis ternyata konsep ini sangat dekat dengan konsep Jabariyyah yaitu manusia layaknya wayang yang digerakkan oleh sang dalang dan memang itulah yang terjadi[2]

Tidakkah kalian sering mendengar perkataan seperti ini, ‘nak, rezeki bapak mah segini-gini aja, mungkin udah takdir’. Hal ini tak jauh beda dengan pola pikir ayahanda dari Harun Nasution yang kala itu Indonesia masih dalam keadaan terjajah. Sang bapak menyatakan bahwa datang perginya Belanda terserah Tuhan, karena jika dikehendaki Tuhan Belanda akan pergi dengan sendirinya[3]. Konsep inilah yang membuat umat Islamkhusunya di Indonesiatidak maju (dalam tataran pembangunan) sehingga tertinggal oleh negara-negara Barat[4]

**

Saya merasa konsep takdir yang saat ini kita pegang masih memiliki kerancuan di mana-mana. Seperti mengenai rezeki, jodoh, usia, dan surga-neraka. Apakah benar semua sudah ditakdirkan oleh Allah? Lantas untuk apa kita bersusah-susah toh semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah. 

Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan yang telah ditanyakan oleh para sahabat kepada Rasulullah dan beliau menjawab “berusahalah karena semua akan dipermudah sesuai yang di takdirkannya”. 

Kalau begitu, saya ingin bertanya, “Jika Allah akan mempermudah usaha kita yang sebelumnya telah ditakdirkan oleh Allah, bukankah itu tidak adil bagi yang telah ditakdirkan keburukan untuknya?” Saya beri contoh. Misalnya si A ketika lahir ditakdirkan oleh Allah akan masuk neraka. Lalu, konsekuensi logisnyasesuai dengan sabda Rasul di atasAllah selalu menuntunnya (baca: memudahkannya) untuk selalu melakukan perbuatan ahli neraka hingga akhirnya dia meninggal dalam keadaan tersebut. 

Bukankah ini tidak adil? Dalam hal ini bukan berarti saya tidak percaya dengan hadits Rasul di atas, tetapi saya tidak percaya atau ragu terhadap konsep yang menyatakan bahwa surga neraka, rezeki, jodoh, kematian, dan sebagainya telah ditentukan oleh Allah, dalam artian manusia tidak bisa memilih atau mengubahnya. Menurut saya, di sini kita salah kaprah mengenai arti “telah ditentukan” itu. Untuk itu, mari kita cari pengertian takdir dalam Al-Qur’an.

Takdir terambil dari kata qaddara berasal dari akar kata qadara, yakni kadar, ukuran, dan batas. Jadi jika anda mengatakan bahwa “Allah telah menakdirkan demikian” itu maksudnya “Allah telah menetukan kadar atau ukuran atau batas kemampuan maksimal”[5]. Semua makhluk memiliki kadar atau batas kemampuan maksimalnya masing-masing. Perhatikan ayat-ayat di bawah.

Artinya: “Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaanNya, dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.(QS. Al-Furqan [25]: 2)

Artinya: “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanah-khazanahnya, Kami tidak menurunkan melainkan dengan ukuran tertentu.(QS. Al-Hijr [15]: 21)

Di ayat lain Allah memberi contoh mengenai takdir (ukuran) yang ditetapkan-Nya kepada matahari yang artinya: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui(QS. Yasin [36]: 38)
 
Matahari sebagai makhluk Allah telah ditentukan takdirnya. Sayangnya, matahari tidak memiliki kebebasan. Ia ditakdirkan untuk menurut apa yang diperintahkan kepadanya, yakni setiap hari harus terbit dari timur ke barat dengan kecepatan tertentu yang ukurannya telah ditentukan oleh Allah secara teliti sehingga tidak menyebabkan tabrakan-tabrakan dengan planet atau benda ruang angkasa lainnya. Tetapi keadaannya tidak selalu seperti itu sebab matahari pun memiliki batasannya, yakni pada saat ia beredar dari barat menuju timur. Peristiwa inilah yang sering kita sebut sebagai tanda ingin berakhirnya dunia (kiamat). 

Makhluk-makhluk yang semacam matahari, seperti bulan, bintang, batu, dan sebagainya memang tidak memiliki kebebasan dalam takdirnya. Mereka patuh dan tunduk kepada aturan-aturan yang telah ditetapkan kepadanya. Sebagaimana dalam firman-Nya:

Artinya: “Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, ‘datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa’ keduanya menjawab ‘kami datang dengan patuh’ (QS. Al-Fussilat [41]: 11)

Berbeda dengan makhluk Allah semisal binatang, mereka memiliki kebebasanwalau tidak sebebas manusia. Mereka (para binatang) bisa dengan bebas mencari makanan, minuman, pasangan hidup. Tidak ada yang memaksa kehendak mereka. Burung-burung bisa terbang bebas tanpa ada yang memaksanya, walau memiliki batasan. Batasannya adalah mereka tidak bisa terbang sampai ke langit ketujuh, misalnya. Mereka juga bebas mencari makanan. 

Allah tidak menakdirkan, misalnya burung A rezekinya sedikit sedangkan burung B rezekinya banyak, tetapi Allah menakdirkan bahwa siapa yang pintar-pintar mencari makanan, mereka akan hidup lebih lama dibanding yang  tidak pintar mencari-cari makanan. Oleh sebab itu kita bisa mengetahui bahwa banyak binatang yang berpindah tempat hingga berkilo-kilo untuk tinggal di tempat yang lebih banyak makanannya.
Begitu pun dengan perihal kematian. 

Mereka paham, untuk memperpanjang usia, mereka harus berpindah tempat untuk mencari tempat yang lebih aman. Perlu diketahui, itu semua pun adalah takdir yang telah Allah tentukan untuk mereka. Tindakan ini sama seperti apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab yang nanti akan kita bahas. Kesimpulannya, mereka telah berpindah dari takdir yang satu ke takdir yang lain sehingga konsekuensi logisnya adalah takdir itu banyak bukan satu. 

Kalau binatang saja sudah diberi kebebasan, apalagi manusia yang oleh Allah telah dianugerahi akal untuk dapat membedakan yang benar dan yang salah. Manusia memiliki kebebasan yang paling banyak dibanding dengan makhluk yang lain. Betapapun, sekali lagi, manusia memiliki keterbatasan dalam kebebasannya karena manusia tetap saja hanyalah makhluk. 

Sebagai contoh, anda sedang ingin membaca buku tetapi sedetik kemudian anda memutuskan untuk membatalkannya. Apakah ada yang memaksa anda memutuskan untuk membaca atau membatalkannya? Saya yakin tidak ada. Itu berarti anda diberi pilihan. Jika anda memilih untuk membaca, itu takdir Allah dan jika anda membatalkannya (tidak jadi membaca) itu pun takdir Allah. Jadi manusia dapat memilih takdir-takdirnya yang telah diatur dalam sistem Allah (sunnahtullah). 

Pemahaman seperti ini sudah sangat dipahami oleh Khalifah Umar bin Khattab. Diceritakan ketika di negeri Syam sedang terjadi wabah penyakit. Umar bin Khattab yang saat itu ingin berkunjung ke sana langsung membatalkan rencana kepergiannya, dan ketika itu ada yang bertanya: “Apakah anda hendak lari/menghindar dari takdir Tuhan?” Umar menjawab, “Saya lari/menghindar dari takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain.”[6]

Kematian
Takdir perihal umur manusia pun begitu. Sayangnya ada yang memelintirkan pemahaman mengenai umur dengan berkata, “Umur kita itu sudah ditentukan oleh Allah, kita tidak akan bisa mengubahnya sedikit pun, biarlah saya melakukan ini. Kalau memang Allah menakdirkan saya mati, ya pasti akan mati.” Seperti seorang perokok yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh apakah dia merokok atau tidak karena kematian seseorang di tangan Allah. Kalau pemahamannya seperti ini, tentu tidak akan ada yang pergi ke dokter. 

Memang, semua orang pasti akan mati (QS. Ali Imran: 185) dan pasti Allah telah memberikan batas maksimal dalam umurnya, tetapi patut kita amati bahwa dalam Al-Qur’an tidak dijumpai satu kalimat pun yang dapat diterjemahkan dengan “Saya (Tuhan) memanjangkan usia.”Redaksi yang digunakan Al-Quran adalah Kami memanjangkan usia (QS. 35: 37 dan 36: 68) atau siapa yang diperpanjang usianya (QS. 2: 96 dan 35:11). Redaksi di atas memberi kesan bahwa manusia dapat mempunyai keterlibatan dan usaha memperpanjang atau memperpendek usianya[7]

Saya beri analogi karet. Sebuah karet adalah makhluk dan pasti memiliki kadar (ukuran) tertentu. Saya bisa menarik karet ini pelan-pelan, saya juga bisa menariknya dengan begitu kuat, tetapi seberapa pun kuatnya karet itu, jika sudah mencapai batas maksimalnyakarena saya tarik hingga batas maksimalpasti akan putus. Tetapi bisa saja karet itu putus sebelum saya tarik hingga batas maksimalnya karena beberapa faktor seperti sering digosokkan ke permukaan yang kasar. 

Begitu juga dengan umur manusia. Allah telah memberikan batasan maksimal yang berbeda-beda tiap manusia. Ada yang batasan maksimalnya umur empat puluh tahun, ada yang lima puluh tahun, atau bahkan ada yang sampai umur seratus tahun. Tetapi mengenai kapan dan di mana meninggalnya, sangat tergantung dengan usaha manusia. 

Seperti orang yang tiap hari pergi ke masjid, maka meninggalnya pun tidak jauh-jauh dari masjid. Bisa jadi ketika perjalanan menuju masjid, bisa jadi meninggal saat shalat. Contoh lain yang lebih real seperti seorang yang misalnya, sekali lagi misalnya, si A ditakdirkan memiliki umur maksimal enam puluh lima tahun[8]

Jika dia selalu memanfaatkan potensi yang ada di dalam tubuhnya, merawat anggota tubuhnya dengan berolahraga rutin, makan makanan yang sehat dan bergizi, otaknya dipergunakan dengan semestinya, suka bersilahturahmi dengan banyak orang, bisa jadi dia mati di umur maksimalnya, yaitu enam puluh lima tahun.

Berbeda jika si A itu tidak memaksimalkan potensinya, seperti sering mabuk-mabukan, merokok, pendendam, pengangguran, dan sebagainya, bisa jadi dia hanya mencapai umur tiga puluh tahunan. Kesemua itu bukan berarti Allah yang pada awalnya menentukan batas umur maksimal si A adalah enam puluh lima tahun tidak mengetahui bahwa si A hanya akan mencapai umur tiga puluh tahun. Tidak. Allah sungguh telah mengetahui dengan ilmu-Nya karena Allah Maha Mengetahui. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.

Jodoh
Satu lagi pemahaman takdir yang sering disalahpahami oleh kita, yaitu mengenai jodoh. Benarkah sejak di dalam rahim, seseorang telah ditentukan jodohnya, misalnya si A pasti menikah dengan B pada tanggal sekian bulan sekian dan jam sekian oleh Allah? 

Lalu bagaimana dengan orang yang hingga akhir hayatnya tidak memiliki jodoh, seperti Nabi Isa dan beberapa orang yang telah kita ketahui bersama tidak menikah hingga ajal menjemputnya

Lalu bagaimana jika ada orang yang menikah lalu cerai lalu nikah lagi, lantas, jodohnya yang awal atau yang akhir? atau jika ada orang yang memiliki istri sampai empat bahkan sepuluh istri, yang manakah jodohnya? Cuma satu atau semuanya? 

Jika cara pikir kita seperti yang awal telah saya jabarkan di atas, maka kita akan terjebak dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Tetapi jika pemahamannya bahwa semua itu tergantung usaha manusia disertai dengan datangnya pertolongan Tuhansetelah kita berusahamaka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas otomatis dapat terjawab.

Dalam  Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 3 memberitahukan kepada kita bahwa Allah tidak menentukan kita berjodoh dengan si A, tetapi bisa memilih, mau dengan A, B, C, atau A B C sekaligus. Semua bisa dipilih. Tentu, pilihannya mempunyai konsekuensi masing-masing. 

Dalam hadits pun demikian. Rasulullah pernah bersabda, ‘wanita dinikahi karena empat hal (yaitu) karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya, maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya semoga engkau berbahagia’ (HR. Muslim) atau hadits ‘nikahilah perempuan yang lemah lembut dan subur karena pada hari kiamat kelak, aku akan membanggakan kepada para Nabi atas banyaknya kalian’ (HR. Abu Daud). Jadi jika ada yang mendapat jodoh yang buruk maka tidak tepat jika menyalahkan Allah, karena dalam hadits dan ayat di atas kita sudah disuruh untuk pintar-pintar memilih pasangan hidup.

Semua takdir-takdir itu berjalan sesuai dengan hukum sebab-akibat (sunnahtullah) yang secara sederhana dapat dikatakan sebagai hukum-hukum yang tidak mengalami perubahan dari dulu sampai nanti. Ini menjamin kepastian berbagai peristiwa yang terjadi di alam semesta. Sehingga manusia bisa merancang masa depannya. Bisa memprediksi hal-hal tertentu dengan perencanaan yang telah dilakukannya itu[9]. Bisa melakukan berbagai macam perhitungan dalam hidup termasuk merencanakan apakah ia mau menjadi orang miskin atau kaya, mau menjadi orang bodoh atau pintar, mau masuk surga atau neraka, dan sebagainya. 

Firman Allah tentang perlunya persiapan sudah tertera dengan jelas dalam surat Al-Hasyr 18 ‘Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan’. Di sinilah letak keadilan-Nya.

Tetapi jangan memahami hubungan sebab akibat murni sebagaimana orang Barat yang menghilangkan unsur kuasa Allah, karena hukum sebab akibat dalam Islam berjalan dalam tiga arah, yaitu horizontal dan vertikal (belakang-depan-atas). Arah belakang adalah usaha-usaha yang melibatkan jutaan faktor, arah atas adalah kukuasaan dan kehendak Allahyang sangat adil dan sesuai dengan usaha manusiaserta arah depan yang berupa hasil atau takdir[10]

Dalam menentukan hasil itu, Dia (Allah) melihat dan mendengar usah kita, menimbang-nimbang, barulah memberikan hasilnya, itulah takdir sebagaimana yang tertera dalam surat Ar-Ra’d ayat 11[11]. Dengan adanya pemahaman yang demikian, jelas bahwa pemahaman konsep takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannya sendiri sembari memohon bantuan dari Allah[12]. Harapannya, kita semua dapat memaksimalkan apapun yang telah Allah amanahi kepada kita semua, baik itu berkenaan dengan rezeki, umur, jodoh, maupun yang lainnya.

Takdir Keimanan Seseorang
Ada yang berkata, “mungkin saya belum dikasih hidayah oleh Allah” atau ada celetukan seorang yang belum memakai jilbab “aku belum mendapat hidayah.” Perkataan seperti ini sangat tidak pada tempatnya seakan Allah tega tidak memberi hidayah kepada hambanya dan hal ini mustahil karena Allah sangat sayang kepada hamba-hambaNya.

Keimanan seseorang sesungguhnya sama halnya dengan takdir-takdir yang lain, yaitu berupa pilihan. Allah yang memiliki sifat adil telah menjadikan manusia bebas memilih apakah ia ingin beriman atau tidak, tetapi tentu harus bertanggung jawab atas konsekuensinya masing-masing. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

Artinya: “Dan katakanlah (Muhammad), ‘kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, barangsiapa yang menghendaki (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang menghendaki (kafir), biarlah dia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang yang dzalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), maka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.(QS. Al-Kahfi [18]: 29)

Ayat ini telah menyatakan bahwa keimanan seseorang adalah sebuah pilihan. Siapapun berhak memilih untuk beriman atau kafir. Tetapi sekali lagi, walaupun begitu Allah telah memberitahukan bahwa jika ia memilih kafir/dzalim maka bersiap-siaplah untuk menerima ganjarannya. 

Menurut Agus Mustofa[13] Allah akan menyesatkan seseorang setelah atau karena orang itu berbuat kezaliman, bukan karena tiba-tiba Allah menyesatkan orang tersebut atau sejak orang itu lahir ke muka bumi Allah langsung menyesatkannya. Sebaliknya Allah akan menghendaki menunjuki seseorang ke jalan yang lurus jika orang tersebut berusaha untuk meraih kebenaran dan menaati perintah Allah. Hal ini tertuang dalam firman-Nya:

Artinya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.(QS. Ibrahim [14]: 27)

Allah juga berfirman yang artinya,Dan orang-orang kafir berkata, ‘mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?’ katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya Allah menyesatkan sapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang yang bertaubat kepada-Nya’. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.(QS. Ar-Ra’d [13]: 27-28)

Harus dipahami bahwa semua tindakan manusia adalah dalam ruang lingkup “kehendak Allah” dan kehendak Allah itu ada yang baik dan juga buruk (QS. An-Nisa [4]: 78). Jadi, manusia berbuat baik adalah atas kehendak Allah dan dengan keridhaan-Nya, sedangkan manusia yang berbuat buruk, itu juga berdasarkan atas kehendak Allah tetapi Dia tidak meridhainya.

Harapan saya setelah kita mengetahui konsep takdir ini akan menjadikan diri kita lebih dapat menjalani hidup secara dinamis, selalu berusaha semaksimal mungkin, tidak membatasi kemampuan yang padahal masih bisa ditingkatkan, sembari memohon pertolongan-Nya.

[Tulisan ini diambil dari buku Serba-Serbi Islam karya Jiva Agung dkk]

Sumber Tulisan
Agus Mustofa. (2009). Membongkar Tiga Rahasia. Surabaya: Padma Press
Agus Mustofa. (2008). Mengubah Takdir. Surabaya: Padma Press
Aqib Suminto, dkk. (1989). Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70tahun Harun Nasution. Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat
Harun Nasution. (2013). Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbadingan. Jakarta: UI-Press
Nurhadi. Harun Nasution (Islam Rasional dalam Gagasan dan Pemikiran). Jurnal Edukasi Vol.I No.I, Juni 2013
Quraish Shihab. (1996). Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan
Quraish Shihab. (2013). Lentera Al-Qur’an. Bandung: Mizan


[1] Patut dipelajari oleh para aktivis kampus, karena betapapun itu hanya tinggal sejarah tetapi dalam realitanya masih ada individu-individu yang memiliki corak jabariyah atau qadariyah.
[2] Keadaan ini diamini oleh beberapa penulis islam seperti Harun Nasution dalam bukunya Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Teologi Islam, hlm. 39, Agus Mustafa dalam bukunya Mengubah Takdir. Juga Nurkholis Madjid dalam buku Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, hlm. 106
[3] Aqib Suminto, dkk. (1989). Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70tahun Harun Nasution. Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat, hlm. 9
[4] Nurhadi. Harun Nasution (Islam Rasional dalam Gagasan dan Pemikiran). Jurnal Edukasi Vol.I No.I, Juni 2013 hlm. 45
[5] M. Quraish Shihab,. (1996). Wawasan Al-Quran. Bandung: Mizan, hlm. 61
[6] Quraish Shihab. (1996). Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, hlm. 64
[7] Quraish Shihab. (2013). LenteraAl-Qur’an. Bandung: Mizan, hlm. 93
[8] Umurnya yang enam puluh lima tahun ini ada dalam ilmu Allah, malaikat belum tentu tahu. Maka dari itu menurut pengetahuan malaikat bisa saja umur manusia bertambah dan berkurang sebagaimana dalam hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa jika seseorang ingin memperpanjang umurnya maka bersilahturahmilah.
[9] Agus Mustofa. (2009). Membongkar Tiga Rahasia. Surabaya: Padma Press, hlm. 72
[10] Agus Mustofa. (2008). Mengubah Takdir. Surabaya: Padma Press, hlm. 80-81
[11] Ibid, hlm. 82-84
[12] Quraish Shihab. (2013). Lentera Al-Qur’an. Bandung: Mizan, hlm. 65
[13] Agus Mustofa. (2009). Membongkar Tiga Rahasia. Surabaya: Padma Press, hlm. 187