Stop Berucap Kasar pada Darah Dagingmu!


Nur Anis Saila Pajrin
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang di atasnya terdapat malaikat yang sangat kasar dan sadis. (QS. At-Tahrim : 6). 

Ayat tersebut merupakan dalil akan wajibnya menjaga dan mendidik anak-anak serta memperhatikan kondisi mereka. Termasuk kewajiban besar dan amanat agung yang harus diperhatikan oleh seorang hamba dalam kehidupan ini adalah anak-anaknya; dari sisi pendidikan, pengajaran, pemberian nasihat serta bimbingan terhadap mereka. Karena anak termasuk bagian dari amanah besar yang Allah perintahkan untuk dipelihara dan dijaga (Al-Badr, 2016, hal. 1-6).

Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata: “Ajarkan anakmu adab, karena engkau akan ditanya tentang anakmu; apa yang engkau telah ajarkan kepadanya. Dan ia pun akan ditanya tentang bakti dan ketaatannya kepadamu.” (Sunanul Kubra, kry. Al-Baihaqi, No. 5301).

Berbicara mengenai hubungan antara orang tua dan anak pada periode ini, tak akan ada habisnya kita dapati beragam kasus yang mencuat akibat hubungan antara keduanya. Di berbagai media, baik cetak maupun digital kita sering dapati kasus terkait orang tua yang menyiksa bahkan sampai membunuh anaknya karena alasan kenakalan darah dagingnya atau hanya sekadar tangisannya saja, ada pula anak yang membunuh orang tuanya karena alasan sakit hati atas ucapan keduanya.

Bercermin dari hal tersebut, dapat kita ambil kesimpulan bahwa permasalahan utama antara hubungan darah ini adalah komunikasi atau dengan kata lain, komunikasi efektif antara orang tua dan anak menjadi kunci utama bagaimana hubungan ideal dapat terbina.

Berbicara soal komunikasi, interaksi dalam keluarga dapat berlangsung secara timbal balik dan silih berganti; dari orang tua ke anak atau dari anak ke orang tua, atau dari anak ke anak. Awal terjadinya komunikasi karena ada suatu pesan tertentu yang ingin disampaikan.   

Ada pola komunikasi yang bernama stimulus-respon, yakni sebuah model komunikasi yang masih terlihat dalam kehidupan keluarga. Komunikasi seperti ini sering terjadi pada saat orang tua mengasuh seorang bayi. Orang tua lebih aktif dan kreatif memberikan stimulus (rangsangan), sementara bayi memberikan respon (tanggapan). 

Komunikasi berpola stimulus-respon berbeda dengan komunikasi berpola interaksional. Dalam komunikasi berpola interaksional, kedua belah pihak yang terlibat dalam komunikasi  sama-sama aktif dan kreatif dalam menciptakan arti terhadap ide atau gagasan yang disampaikan melalui pesan, sehingga jalannya komunikasi terkesan lebih dinamis dan komunikatif (Wahidah, 2011, hal. 164).

Setelah kita ketahui makna dalam komunikasi, kita perlu mempraktikkannya dalam kehidupan konkret. Melihat kasus yang telah disebutkan, bahwa permasalahan utamanya ada pada komunikasi, maka kita mesti melihat peran mana antara orang tua dan anak yang memiliki kecondongan tanggung jawab dalam membinanya.

Tentu saja kita ketahui bahwa orang yang lebih tualah yang lebih paham dalam membina semua itu karena ia lebih dulu mempelajari dunia dibandingkan anaknya. Untuk itu kita dapat mengetahui bahwa semua perilaku anak umumnya adalah cerminan bagi orang tuanya. 

Bila anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar untuk melawan. Bila anak hidup dengan kritikan, dia akan belajar untuk mengutuk. Namun bila anak hidup dengan keadilan ia akan belajar menjadi adil dan bila anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan maka ia akan belajar menemukan rasa kasih sayang.” (Dorothy Law Notte) 

Berbicara bijak, maka hal itu adalah pemikiran ideal bagi semua orang termasuk orang tua. Namun tak dipungkiri kehidupan ini tak menjadikan semua orang bertindak bijak, karena kehendak-Nya atas keharusan adanya keberagaman maka dapat kita temukan orang tua teladan dan ada pula orang tua yang tega merusak anaknya, sehingga saat ini selain adanya kehidupan anak yang sukses kita pun cukup banyak melihat anak yang bersikap tak pantas pada orang tuanya.

Hal tersebut dapat terjadi karena kita pun harus mengingat hakikat komunikasi yakni adanya hubungan timbal balik. Perilaku anak selain dipengaruhi oleh lingkungan luar baik itu dari temannya maupun media, namun yang terpenting salah satunya adalah hasil dari tiruannya terhadap tingkah laku orang tuanya.

 Sedikitnya ada tiga penyebab yang mengakibatkan terjadinya masalah komunikasi dalam keluarga. Pertama, komunikasi yang dilakukan tidak dengan tulus (dari hati). Komunikasi yang terjadi hanyalah suatu bentuk basa-basi tanpa adanya kehangatan hubungan. Kedua, komunikasi telah digantikan oleh hiburan, seperti televisi, main musik, baca koran, dan lain-lain yang ada di dalam rumah. 

Anggota keluarga lebih suka menikmati sarana hiburan tersebut ketimbang melakukan komunikasi. Ketiga, munculnya pemahaman bahwa komunikasi berarti harus lebih banyak bicara. Padahal dalam komunikasi bukan hanya adanya kegiatan berbicara, tapi juga sewaktu-waktu harus jadi pendengar yang baik (Wahidah, 2011, hal. 174).

Untuk itu dari permasalahan tersebut bisa menimbulkan sikap anak yang tak patut dicontoh, salah satunya menimbulkan anak yang berperilaku kasar (perilaku agresif lisan atau verbal), cirinya di antaranya adalah sering membantah jika dinasihati, suka menggerutu jika disuruh-suruh, tidak menghargai lawan bicara, suka menghina orang lain, dan suka menantang serta menghardik, mengucapkan kata-kata kasar untuk menyerang orang lain, berteriak, memaksa dan mengintimidasi teman melalui gesture ataupun mimik wajah (Ariani, 2014, hal. 275).

Untuk itu kita perlu merancang suatu strategi untuk meminimalisir anak berkata kasar akibat tingkah orang tuanya. Bagaimana caranya agar komunikasi dalam keluarga bisa efektif? Ada enam hal yang harus diperhatikan, yaitu:  Pertama adalah penghargaan (respect). Komunikasi harus diawali dengan sikap saling menghargai. Adanya penghargaan biasanya akan menimbulkan kesan serupa (timbal balik) dari si lawan diskusi. Orang tua akan sukses berkomunikasi dengan anak jika ia melakukannya dengan penuh penghargaan. Jika ini dilakukan, maka anak pun akan melakukan hal yang sama ketika berkomunikasi dengan orang tua atau orang di sekitarnya.   

Kedua adalah empati. Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain. Syarat utama dari sikap empati adalah kemampuan untuk mendengar dan mengerti orang lain, sebelum didengar dan dimengerti oleh orang lain. Orang tua yang baik tidak akan menuntut anaknya untuk mengerti keinginannya, tapi ia akan berusaha memahami anak atau pasangannya terlebih dulu. Ia akan membuka dialog dengan mereka, mendengar keluhan dan harapannya. Mendengarkan disini tidak hanya melibatkan indera saja, tapi melibatkan pula mata hati dan perasaan. Cara seperti ini dapat memunculkan rasa saling percaya dan keterbukaan dalam keluarga.  

Ketiga adalah audible, yang berarti dapat didengarkan atau dapat dimengerti dengan baik. Sebuah pesan harus dapat disampaikan dengan cara atau sikap yang bisa diterima oleh si penerima pesan. Raut muka yang cerah, bahasa tubuh yang baik, kata-kata yang sopan, atau cara menunjuk, termasuk dalam komunikasi yang dapat dimengerti dengan baik.   

Keempat adalah kejelasan. Pesan yang disampaikan harus jelas maknanya dan tidak menimbulkan banyak pemahaman, selain harus terbuka dan transparan. Ketika berkomunikasi dengan anak, orangtua harus berusaha agar pesan yang disampaikan bisa jelas maknanya. Salah satu caranya adalah berbicara sesuai bahasa yang mereka pahami (melihat tingkatan usia).   

Kelima adalah ketepatan. Dalam membahas suatu masalah hendaknya proporsi yang diberikan tepat baik waktunya, tema maupun sasarannya. Waktu yang tepat untuk membicarakan masalah anak misalnya pada waktu makan malam. Pada waktu sarapan pagi, karena ketergesaan maka yang dibicarakan umumnya masalah yang ringan saja. 

Keenam adalah kerendahan hati. Sikap rendah hati dapat diungkapkan melalui perlakuan yang ramah, saling menghargai, tidak memandang diri sendiri lebih unggul ataupun lebih tahu, lemah lembut, sopan, dan penuh pengendalian diri. Dengan sikap rendah hati ini maka lawan diskusi kita menjadi lebih terbuka, sehingga banyak hal yang dapat diungkapkan dari diskusi tersebut (Wahidah, 2011, hal. 167-168).

Kiranya dengan beberapa tips ini orang tua bisa lebih andal dalam mendidik anaknya, dan sehingga akan dapat berpikir dua kali ketika hendak berbicara kasar pada darah dagingnya, karena sudah saatnya para orang tua mengetahui dampak-dampaknya. Sementara di lain sisi mereka perlu menjamin masa depan terbaik bagi anaknya, yakni kesuksesan dunia akhirat.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam, UPI Bandung
Sumber:
Al-Badr, S. D. (2016). Sukses Mendidik Anak. (R. A. Raihana, Ed.) Jakarta: Yayasan Mahir Indonesia.
Ariani, F. (2014, November). Perilaku Agresif Anak Usia Dini. Pendidikan Usia Dini, 8, 269-280.
Wahidah, N. (2011, Desember). Pola Komunikasi Dalam Keluarga. Musawa, 3, 163-178.

Sumber gambar: Akun FB All Art

Tidak ada komentar:

Posting Komentar