Si Unik yang Di-bully


Panji Futuh Rahman


Tindakan pem-bully-an acapkali terjadi di kalangan anak-anak. Mereka dengan mudah melontarkan ucapan-ucapan yang merendahkan satu sama lain dan tak jarang membuat anak yang dijadikan objek penderitaannya merasa tersingkir. 

Beberapa bisa memafkan dan keesokan harinya sudah bermain dengan biasa lagi tapi tak sedikit juga yang kemudian mengalami gangguan-gangguan mental seperti minder dan pribadi yang tertutup atau menjadi pemarah di rumahnya. 

Banyak hal yang memicu terjadnya pem-bully-an, penulis mengamati hal ini sejak penulis terjun di dunia pendidikan non-fomal anak sejak setahun lalu. Dari sekian banyak alasan, yang dominan adalah pem-bully-an karena adanya perbedaan. Boleh jadi perbedaan fisik, agama, kelas ekonomi, status sosial, dll. 

Misalnya anak pendek, berkulit hitam, mata sipit, atau hidung pesek untuk kasus pem-bully-an karena perbedaan fisik. Ada juga karena agama nya berlainan, ada pula kadang anak di-bully dengan panggilan si miskin, si anak tukang sampah dan ejekan lain yang sebetulnya tidak elok jika dilontarkan mulut anak-anak. 

Dari semua alasan pem-bully-an itu, kesemuanya menunjukkan bahwa anak yang di-bully adalah anak yang memiliki perbedaan dengan anak lain pada umumnya. Dalam bahasa lebih patutnya mungkin anak yang memiliki keunikan. Padahal anak tak ada yang berhak memilih hendak lahir sebagai manusia pesek atau mancung, atau lahir sebagai kulit putih atau gelap, juga sebagai keturunan tiong hoa atau sunda tak juga ia berkuasa memilih lahir di keluarga muslim maupun non muslim. 

Eh sebentar, tenang saja saya tidak akan membahas agama warisan kok.  Kita fokus ke bahasan bagaimana sejatinya bullying ini bisa terjadi  di kalangan anak dan upaya apa yang bisa dilakukan dalam mengantisipasi hal tersebut.

Anak yang gemar mem-bully sejatinya merasa bahwa dirinya aman. Bahwa dirinya adalah gambaran sempurna seperti apa seharusnya manusia dilahirkan, karena setelah saya perhatikan, anak yang merasa dirinya juga punya kekurangan tidak akan ikut-ikutan mem-bully kawannya yang lain. katakanlah si sipit yang sering kali si panggil “cina” tak akan tega ia mem-bully anak yang lahir dengan  kulit gelap yang biasa dipanggil “si negro” karena salah-salah bisa ia kena bully-an juga.

Parahnya lagi, kadang anak yang di-bully pasrah saja atas apa yang dinisbatkan orang kepadanya. Ketidakberdayaan ini kemudian hari akan membentuk pribadi yang  kurang percaya diri. Sebut saja anak yang sejak kecil di-bully si pesek. Sampai besar ia mungkin akan mencari pasangan yang mancung dengan dalih, “Memperbaiki keturunan.” Seolah lahir sebagai  manusia pesek adalah dosa. Padahal baik yang mancung maupun yang pesek sama-sama ciptaan Allah.

Ada beberapa hal yang penulis dapati untuk meredusir kasus bullying ini. Hal pertama adalah menjelaskan bahwa semua manusia basicly sama. Baik pesek, mancung, putih, hitam, belo, dan sipit. semua sama. Dan hal ini harus terus ditanamkan mumpung anak masih kecil. Masih mudah menjelaskannnya seperti menulis  di batu. Harus berulang kali tapi nantinya terpatri. 

Kedua, setelah dijelaskan, berikan anak porsi yang adil dalam semua hal. Ini yang kadang luput dari orang tua dan guru. Terkadang guru menghiraukan jika ada siswa yang meledeki teman nya yang di-bully. Cara sederhana penulis dan kawan-kawan di komunitas belajar adalah memberikan jatah yang sama untuk tampil kedepan dan bicara atau hal sederhana seperti memimpin berdoa sebelum mulai belajar. 

Jika semua dapat porsi yang sama baik tugas maupun hak. Maka anak akan pikir ulang utuk mem-bully kawannya. Jika anak tahu bahwa nanti ia juga harus bicara di depan, maka ia tidak boleh meledeki teman nya yang sedang bicara di depan karena takut jika nanti ia maju ke depan lantas kawan nya meledeki dia. Dengan memberi porsi yang sama dalam hak dan kewajiban, anak akan paham tentang satu sama lain. 

Ketiga adalah meberikan kepercayaan diri kepada semua anak. Didik semuanya untuk berani tampil kemuka, ajari bahwa menjadi dirinya adalah anugrah. Pahamkan anak bahwa tak ada yang salah dengan hidung type minimalisnya, tak ada yang keliru dengan kulit gelapnya dan tak ada yang aneh dengan mata sipitnya. 

Buat mereka yakin bahwa yang membuat mereka menarik baik itu cantik maupun terlihat tampan bukanlah hidung mancung, kulit putih dan mata belo melainkan senyum yang selalu terpajang diwajahnya. Bukan bentuk fisik yang membuatnya menarik melainkan keindahan perangainyalah yang membuat orang nyaman berada disampingnya. 

Terakhir adalah mendidik anak untuk senantiasa bersyukur dengan segala pemberian yang Tuhan berikan. Segala sesuatu sangat patut disyukuri meski dalam kaca mata manusia dipandang adalah kekurangan. Yakinkan bahwa hidung pesek sekalipun patut disyukuri adanya, ajari mereka bersyukur dengan kulit hitamnya karena segala sesuatu pasti ada manfaatnya dan Allah Swt. tidak menjadikan sesuatu dengan percuma atau tanpa manfaat dan tujuan.

Empat hal ini penulis kira dapat meminimalisir kasus pem-bully-an, jika nampak seolah ajuan yang diusulkan penulis justru banyak mengarah kepada masukan bagi korban pem-bully-an, karena memang penulis memandang korbanlah yang paling berandil dalam menghentikan pem-bully-an itu, bukan mengharapkan semua orang menjadi baik, tapi siapkan diri untuk bisa bertahan dan hidup nyaman di tengah masyarakat. Jika saja korban-korban pem-bully-an itu menghiraukan si pe-bully maka dengan sendirinya pem-bully-an itu akan berheti melakukan tindakan bullying tersebut. 

*Penulis adalah guru PAI di SMAN 1 Cikarang Utara

sumber gambar: Akun FB Drawing Pencil

4 komentar: