Peran Islam dalam Meng-Update Bangsa



Herryanto Dharmawan
 Indonesia adalah sebuah negara kesatuan yang sudah dibentuk oleh nenek moyang dan diperjuangkan oleh para pahlawan terdahulu. Tetapi persoalannya, setelah kemerdekaan yang sudah berjalan 72 tahun, apa yang dapat dilakukan para penikmatnya (baca: rakyat)? 

Yang ada, setidaknya bagi saya, malah sebaliknya. Munculnya indikasi kelunturan dalam menjiwai nilai-nilai nasionalisme yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai paham dari suatu masyarakat yang mencintai bangsanya secara sukarela. Senada dengan pandangan Ernest Renan yang mengungkapkan bahwa nasionalisme memerlukan adanya kemauan persatuan tanpa paksaan (Minto, 2007).

Berbicara soal nasionalisme, tentu amat erat dengan term persatuan yang juga terlihat semakin luntur belakangan ini yang menurut saya salah satunya disebabkan oleh mudahnya menerima pandangan dari luar secara taken for granted. Contoh kecilnya ialah dapat kita lihat dari kemunculan para pemuda hijrah yang ingin “menghijrahkan” Indonesia ke jalan yang “benar” di mana pada sisi lain terdapat pemuda “modern” yang ingin “membaratkan” Indonesia. 

Dua kelompok “bertentangan” ini terus berkembang sesuai dengan cara atau jalurnya masing-masing, meski terkadang tidak dilakukan dengan cara yang bijak. Kelompok pemuda “modern” misalnya, suka gencar menjunjung nilai-nilai yang mengarah pada kebebasan yang kurang mencerminkan kearifan lokal dan atau nilai-nilai ketimuran. 

Tidak hanya itu, mereka juga cenderung sekular, yang berarti memisahkan agama dengan dunia. Lubis (2010) mengatakan bahwa sekularisme dapat diartikan sebagai sesuatu yang bukan agama based on pandangan kaum agamawan, sesuatu yang menurut saya tidak sejalur dengan sila pertama pancasila. Jelas pandangan kelompok ini bertentangan dengan nilai yang dipercaya para kelompok pemuda hijrah. Tetapi slogan-slogan yang digaungkan oleh kelompok kedua ini pun dalam beberapa hal juga masih banyak yang perlu dipertanyakan, dan terkadang terlalu terburu-buru. 

Di saat kelompok hijrah ini menginginkan sesuatu yang serba idealis dan instan, Pandu Hyangsewu, dosen Seminar Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia, mengatakan pentingnya berdakwah secara perlahan-lahan. Karena tidak mudah masuk ke dalam lingkaran mereka, kita harus dapat masuk perlahan-lahan dengan kemasan Islam yang menarik. Andai semua kalangan dapat menerapkan hal ini maka pertikaian dapat diminimalisir.

Berbagai permasalahan ini sebenarnya telah mendapat tempatnya di dalam Islam sebab sejatinya perbuatan mencintai negara telah praktikkan oleh Nabi Ibrahim sebagaimana termaktub di dalam Alquran. 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali" (Al-Baqarah: 126).

Indikator lain dari lemahnya penjiwaan nasionalisme ialah dari minimnya generasi muda dalam melakukan aksi-aksi positif untuk kepentingan bangsa sehingga mudah untuk diobrak-abrik oleh bangsa lain, baik melalui media sosial, cetak, maupun elektronik. Mungkin ini karena lemahnya akidah mereka.

Saya juga melihat kalau kinerja dan semangat mereka mulai luntur, tidak seperti dahulu. Karena saat ini mereka mudah melakukan hal apapun melalui teknologi  yang siap sedia, menyebabkan mereka lalai dan terlalu nyaman yang tanpa disadari ketegantungan ini dapat merusak sikap dan etos kerja bangsa. Menurut saya ini bukan ciri bangsa  yang kuat dan siap dalam menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu kita perlu melirik apa yang disarankan oleh Islam.

Untuk menjadi masyarakat yang kuat, perlu penopang yang kokoh, yang di dalam Islam bernama akidah. Inilah yang dapat menyelematkan mereka dari segala arus atau ide-ide yang menyimpang. 

Selain akidah, Islam juga memiliki ajaran yang sifatnya horizontal, yakni memiliki penekanan pada aspek sosial-kemanusiaan dan etika. Tentunya persoalan ini perlu mendapat perhatian sedini mungkin. 

Dalam buku Pintar Sejarah Islam, dikatakan bahwa sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib dengan lihai memberikan pandangannya seputar pendidikan akhlak atau etika kepada anak (seorang manusia). Di umur 0-7 tahun, sebaiknya anak diperlakukan sebagai raja. Orang tua dapat menuruti kemauan anaknya. Kelak kebiasaan ini akan menjadi sebuah rasa belas kebaikan yang timbul pada diri anak saat dewasa nanti, meski orang tua perlu mengatur keinginan si anak dengan bijak. 

Selanjutnya pada usia 7-15 tahun anak sebaiknya diperlakukan bak tawanan. Maksudnya, di sini anak perlu dan mulai dibimbing dengan berbagai bimbingan perintah dan larangan  karena anak sulit untuk mengatur dirinya sendiri. Dan saat remaja akhir usia, 16-22 tahun, anak mulai diperlakukan seperti sahabat sendiri, karena remaja akan mulai mengalami permasalahan yang belum dapat diselesaikan sendiri. 

Jika anjuran ini dapat diterapkan oleh para orang tua Indonesia, maka etika serta sikap akan dapat terarah dengan baik. Dan tak lupa juga bahwa setiap pendidikan yang dilakukan harus dilandasi kecintaan pada bangsa ini agar menimbulkan rasa nasionalisme yang kokoh. Demikian. 

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam, UPI Bandung

Referensi
KBBI Offline. (2015). Bandung.
lubis, J. (2010, 05 26). Julkiflilubis. Dipetik 11 17, 17, dari http.//4dl1.wodpres.com/2010/03/02/pengertian sekuler: Julkiflilubis.blogspot.com
Minto, R. (2007). Pendidikan Kewarganegaraan Perjuangan Menghidup. Jakarta: Grasindo.
Qasim A, I. d. (2014). Buku Pintar Sejarah Islam. Jakarta: zaman.

Sumber gambar: FB Best Picture

4 komentar: