Peace Generation: Komunitas Penyemai Damai



Irfan Ilmy
 Hidup dalam kedamaian merupakan impian seluruh umat manusia. Tidak ada konflik berlebih yang memicu berbagai kerusakan, saling membenci bahkan menjadi awal terjadinya berbagai tragedi kemanusiaan. Tapi, hidup damai yang terkadang terkesan utopis itu memang harus dibayar dengan harga yang tidak murah. Ada pengorbanan dan berbagai usaha yang harus dilakukan untuk mewujudkannya.   

Adalah Eric Lincoln dan Irfan Amalee yang memilih berbuat sesuatu untuk mewujudkan kedamaian itu. Bukan malah mengutuki keadaan sembari diam saja menunggu anugrah kedamaian diberikan Tuhan dengan cuma-cuma. Keduanya awalnya terkoneksi dari hubugan guru-murid dalam sebuah pendidikan bahasa Inggris di kantor penerbit buku Mizan. Kebetulan Eric adalah guru bahasa Inggris di sana dan Irfan yang juga editor buku anak di DAR! Mizan waktu itu, adalah salah satu muridnya

Menarik menggali sejarah terbentuknya komunitas ini. Awalnya Irfan selalu menyudutkan Amerika dengan berbagai tindakannya yang terkesan selalu ingin turut campur dalam permasalahan negara lain. Amerika dianggapnya sebagai sumber dari segala masalah perpolitikan dunia. Karena Eric memang orang asli Amerika, ia merasa terusik dengan salah satu sikap muridnya itu. Ia menganggap ada seorang Thaliban di kelasnya. Namun, dugaan itu perlahan memudar seiring komunikasi di antara keduanya yang terbangun dengan baik. Irfan ternyata tidak seekstrem yang dipersangkakan. 

Kesamaan latar belakang keduanya, yakni Eric adalah seorang Kristen yang patuh dan Irfan lahir dan besar di keluarga Islam yang taat membuat mereka kian akrab saja. Keduanya yakin bahwa agama tidak pernah mengajarkan permusuhan, alih-alih justru agama menghendaki perdamaian yang abadi. 

Lalu passion yang sama antara Eric dan Irfan di bidang pendidikan perdamaian pada anak dan remaja ini menjadi wasilah lahirnya sebuah komunitas yang memiliki misi mulia, menebar kedamaian di muka bumi. Mereka mempunyai ghirah untuk menciptakan ruang-ruang yang dipenuhi hawa-hawa kedamaian dan ketentraman di semua lini. 

Hal inilah yang melatarbelakangi dua lelaki dengan background pendidikan berbeda ini mendirikan sebuah komunitas yang berfokus pada penyebaran nilai-nilai kedamaian. Komunitas ini kemudian diberi nama Peace Generation.  


Tentang Peace Generation
Komunitas yang berbase camp di Jl.Suling No.17, Turangga, Bandung ini mengawali pergerakannya dengan berfokus pada perumusan berbagai nilai-nilai kedamaian (peace values) yang akan menjadi rujukan bagi program pembelajaran perdamaian. Nilai-nilai itu lalu disusun dalam berbagai modul berseri yang membantu para instruktur untuk kembali menyebarkan nilai-nilai tersebut ke banyak orang. Nilai-nilai ini ditujukan sebagai bentuk langkah preventif untuk menghambat terjadinya berbagai konflik akibat adanya prasangka dari masing-masing pihak. 

Adapun ke-12 nilai perdamaian itu adalah (1) Menerima diri (proud to be me), (2) Prasangka (no suspicion no prejudice), (3) Perbedaan etnis (different culture but still friends), (4) Perbedaan agama (different faiths but not enemies), (5) Perbedaan jenis kelamin(male and female both are human), (6) Perbedaan status ekonomi (rich but not pround, poor but not embarrassed), (7) Perbedaan kelompok atau geng (gentlemen don’t need to be gangsters), (8) Keanekaragaman (the beauty of diversity), (9) Konflik (conflict can help you grow), (10) Menolak kekerasan (use your brain not your brawn), (11) Mengakui kesalahan (not too proud to admit mistakes), (12) Memberi maaf (don’t be stingy when forgiving others). 

Berbagai program inovatif dilaksanakan dalam rangka menerapkan serta menyebarluaskan nilai-nilai perdamaian yang dirumuskan tim Peace Generation. Beberapa kegiatan itu seperti Peacesantren (menanamkan nilai-nilai perdamaian dalam kegiatan pesantren ramadhan), Peace-camp pelajar, peace-camp mahasiswa, menanamkan nilai dasar perdamaian ketika Masa Orientasi Siswa, NGOPEACE: Ngobrol Damai Sambil Ngopi, dan program menarik lainnya.

Hingga saat ini, Peace Generation telah mengader ribuan agen perdamaian yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan ada di berbagai negara. Seperti cara kerja virus yang menyebar begitu cepat, agen-agen perdamaian ini diharapkan mampu menjadi katalisator di komunitas atau lingkungannya untuk sama-sama menjembatani jurang perbedaan; bahwa peradaban yang baik hanya bisa dicapai dengan adanya interaksi yang diliputi dengan cinta kasih dan perdamaian antar sesama manusia. 
 
Untuk memenuhi kebutuhan komunitas, Peace Generation sebisa mungkin tidak tergantung kepada sokongan dana dari pihak manapun. Tim berusaha mencukupi operasional komunitas secara mandiri. Adapun ikhtiar tersebut adalah dengan memproduksi berbagai suvenir yang kontennya juga tentang ajakan menciptakan perdamaian. Sebut saja berbagai produk seperti peacebooks, peacemerchandise, peaceshirt, peaceshoes, peacejeans dan masih banyak yang lainnya. 

Irfan selaku co founder menerapkan prinsip social enterprises di komunitas ini. Ketika berkuliah S2 di Brandeis University Amerika Serikat di bidang Peace and Conflict Studies, Irfan memang belajar mengenai social management yaitu cara mengurus bisnis sosial. Jadi, Peace Generation membiayai sendiri keperluan komunitasnya. Selain memberi dampak pada lingkungan sosial, kegiatannya mampu mendatangkan profit secara ekonomi yang ditujukan untuk memastikan aktivitasnya terus berjalan. Spirit kemandirian inilah yang juga harus dimiliki komunitas-komunitas positif lain supaya niat baik membuat perubahan tidak terkendala lantaran masalah materi.

Tantangan Yang Dihadapi
Di awal perjalannya, Peace Generation tidak berjalan dengan lurus-lurus saja. Komunitas yang baru-baru ini mendapat legalitas sebagai yayasan ini mendapat banyak tantangan dari berbagai pihak. Penolakan bukan satu-dua kali saja. Namun, apabila penolakan tersebut disikapi dengan kelemahan dan pesimis maka usailah sudah cita-cita mewujudkan perdamaian di dunia. 

Irfan bersama tim terus berupaya konsisten merajut misi-misi perdamaian melalui program-program positif yang dilakukan. Lama kelamaan, suara-suara sumbang yang mencaci apa yang dilakukan itu perlahan mulai menurun tensinya. 

Langkah Erick dan Irfan dalam mewujudkan kedamaian di dunia melalui komunitas yang dibentuknya ini patut diapresiasi. Mewujudkan perdamaian dengan mengesampingkan berbagai perbedaan adalah pekerjaan sepanjang hayat, karena akan ada saja pihak-pihak yang tidak suka hal ini terwujud. Entah karena keterbatasan pemahaman, minimnya pengalaman atau nurani yang gelap tertutup prasangka membabi buta.

*Penulis adalah aktivis sosial, founder Planet Antariksa

Sumber gambar: www.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar