Memetik Pelajaran dari Kehidupan Syuaib


Hilman Fitri

Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (Q.S. Huud: 88)

Setiap kisah dalam Alquran bukanlah sekadar cerita atau dongeng pengantar tidur, namun ia merupakan kisah yang syarat dengan pelajaran dan hikmah. Ia adalah kisah yang hak untuk menguatkan hati orang beriman, sebagai pengajaran dan peringatan. Allah berfirman:

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.(Q.S. Yusuf: 111)

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Huud: 120)

Perbaikan yang dalam bahasa Arab bisa dipadankan dengan kata Ishlah. Secara bahasa kata ishlah adalah sebuah kata yang berasal dari kata bahasa arab الإصلاح, bentuk masdar (infinitif) dari akar kata أصلح-يصلح-إصلاحاً yang diambil dari komponen dasar ص-ل-ح  dan diartikan oleh Shihab (2002: Vol. 12: 596) sebagai antonim dari kata فساد  (rusak). 


Sementara itu, Ibrahim Madkour (tt: 518) mengatakan bahwa kata الإصلاح  mengandung dua makna: manfaat dan keserasian serta terhindar dari kerusakan. Dengan demikian, bisa juga kata ishlah ini dimaknai dengan mendatangkan perbaikan atau menjadikan sesuatu lebih baik dari sebelumnya. Inilah yang sekiranya dilakukan Nabi Syu’aib terhadap kaumnya dan bukan ifsad, yaitu merusak atau menjadikan sesuatu lebih buruk dari sebelumnya. 

Adapun dalam Alquran (Khatib, tt: 365) makna ishlah ini mencakup beberapa makna, yakni:
1.      Al-hidayah (petunjuk), contohnya pada Q.S. Al Anbiyaa: 89.
2.      Ihsan al-amal (perbaikan amal perbuatan/reformasi) dan amal saleh, contohnya pada Q.S. Al Baqarah: 160.
3.      Menunjukan sifat para Nabi dan orang-orang yang beriman lagi taat, contohnya pada Q.S.Al Baqarah: 130.
4.      At-taufiq baina al-mutanaazi'ain (rekonsiliasi antara dua pihak yang berselisih), contohnya pada Q.S. Al Baqarah: 182.
5.      Al-amru bi al-ma'ruuf wa an-nahyu 'ani al-munkar (menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar), contohnya pada Q.S. Hud : 117.

Allah Jalla Jalaaluh mengutus Syu’aib a.s. kepada penduduk Madyan, di mana mereka adalah satu suku dari bangsa Arab yang menempati daerah antara Hijaz dan Syam, berdekatan dengan Ma’an (Ibn Katsier, 2003: 370). Di mana Ma’an ini sekarang merupakan sebuah kota yang terletak di Negara Yordania (Salim, dkk, 2010: 481).

Penduduk Madyan sebenarnya pada zaman itu telah memiliki kehidupan yang baik, dengan penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersiernya. Mereka pun hidup dalam negeri yang secara politik maupun keamanan berada dalam situasi tenang dan tentram bahkan dari segi ekonomi pun mereka bisa dikatakan sejahtera. 

Namun dibalik itu semua, mereka memiliki kecenderungan sosial dan ekonomi yang menyimpang ditandai dengan adanya perilaku mengurangi takaran dan timbangan, tanpa mereka memikirkan kerugian yang akan diterima orang lain maupun dirinya sendiri dikemudian hari. Selain itu, peribadatan kepada selain Allah atau kemusyrikan senantiasa mewarnai dalam praktik keagamaan mereka. Bahkan, perilaku ini seakan-akan memang sudah mendarah daging dalam perilaku keseharian mereka (Salim, dkk, 2010: 482).  

Oleh karena itu Allah Jalla Jalaaluh mengutus Nabi Syu’aib a.s. ––seorang yang berasal dari keturunan terhormat–– dalam rangka mengajak kaumnya untuk mentauhidkan Allah dan berlaku adil dalam takaran dan timbangan. Beliau memberikan contoh kepada kaumnya dengan berperilaku sesuai dengan lisannya, baik dalam melakukan perintah maupun menjauh dari larangan. Kemudian beliau menutup dengan kalimat yang indah, in uriidu ilal ishlaah mastatho’tu, wa maa taufiqii illa billah, ‘alaihi tawaktu wa ilaihi uniib. Tidaklah aku bermaksud kecuali hanya perbaikan selama aku masih berkesanggupan; tiada taufiq bagiku melainkan dengan pertolongan Allah, hanya kepada Allah-lah aku bertawakal dan kembali.” 

Bila kita mencermati kisah Syu’aib dari awal maka kita akan mengetahui, bagaimana seseorang dikatakan memperbaiki. Pertama, ia haruslah mendakwahkan tauhid. Memperbaiki masyarakat dari kesyirikan menuju akidah yang benar. “Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia……” (Q.S. Hud: 84) dan inilah yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad s.a.w. selama 10 tahun lebih di Mekkah; bersabar melakukan perbaikan penduduk Mekkah dan orang-orang yang datang ke Mekkah.

Siapa saja yang menyangka dirinya mengadakan perbaikan namun tidak menyeru kepada tauhid, maka seruannya batil, dan setiap kita harus menjauh darinya. Allah ta’ala berfirman perihal orang-orang munafik- semoga Allah menjauhkan kita dari nifaq, “Dan bila dikatakan kepada mereka, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan".Sesungguhnya merekalah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Q.S. al Baqarah: 11-12).

Kedua, menyeru kepada keadilan, berhias dengan akhlak yang baik serta memberikan contoh yang baik tersebut. Ini merupakan sifat bagi orang yang melakukan perbaikan. Kehidupan kaum Nabi Syu’aib lebih dari kecukupan, namun mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan. Sehingga Nabi Syu’aib pun memberi nasihat:

Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". (Q.S. Hud: 84)
Hari ini kita saksikan orang-orang yang suka mengurangi timbangan, para koruptor, dan siapa saja yang mengurangi atau mengambil hak saudaranya termasuk orang yang jauh dari sifat perbaikan. Rasulullah dahulu ketika di Makkah digelari al Amin, yang terpercaya. Bahkan para penduduk Mekah dengan kekafiran dan kejahiliyahannya menitipkan hartanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. hal ini dikarenakan mereka mengetahui keamanahan Nabi dan tidak sedikitpun mereka dirugikan, ditipu, dan dikurangi harta titipannya.

Memperbaiki diri, keluarga, dan bangsa merupakan tugas setiap muslim. Bila tugas ini dilakukan dengan benar, ia akan terasa asing. Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadis bahwa salah satu karakter ghuraba, orang asing yang kelak akan beruntung adalah orang mengadakan perbaikan. Rasulullah s.a.w. bersabda:
Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat  kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (melakukan ishlah) di saat manusia merusak sunnah-sunnah ku.
Akhirnya, bila kita sudah berusaha melakukan perbaikan dan mencontoh para Nabi dalam melakukan perbaikan, maka kita katakan, “In uriidu ilal ishlaah mastatho’tu, wa maa taufiqii illa billah, ‘alaihi tawaktu wa ilaihi uniib. Tidaklah aku bermaksud kecuali hanya perbaikan selama aku masih berkesanggupan; tiada taufiq bagiku melainkan dengan pertolongan Allah, hanya kepada Allah-lah aku bertawakal dan kembali.”

*Penulis adalah guru SDIT di Banjaran

Referensi
Ibn Katsier. 2003. Tafsir Ibn Katsier Jilid 3. Bogor: Pustaka Imam Syafi’i.
Khatib. Tt. Nadhratu an Na’im Fi Makarim Akhlaqir Rasuul Juz 2. Jeddah: Darul Wasilah Lin Nasyr wat Tauzi’.
Madkur, I. tt. Mu’jamul Wasit. Beirut: Darul Fikr.
Salim, dkk. 2010.  At Tafsiirul Maudhu’I Lis Suwaril Quranil Karim Mujallidu ats Tsaalits. Abu Dhabi: University Of Syarjah.
Shihab, MQ. 2002. Tafsir al Mishbah Vol. 12. Jakarta: Lentera Hati.

Sumber gambar: FB All Art
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar