Memahami Hadis di Era Millenial

Rahmatullah Al-Barawi

Hampir setiap hari kita tidak pernah lepas dari teknologi, terutama gadget. Mulai dari orang dewasa hingga anak balita sudah dapat mengaksesnya. Karenanya semua informasi dapat dengan mudah ditemukan melalui benda kecil tersebut, termasuk di dalamnya pesan-pesan broadcast dari whatsapp dan messenger seputar hadis Nabi Saw.

Pola pesan yang beredar di sosial media secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: mengutip satu dua ayat atau hadis saja, diterjemahkan, kemudian ada penjelasan hadis yang dipahami secara tekstual, dan diakhiri dengan gebrakan semangat untuk ‘hijrah’, berubah, dan bantu viralkan pesan tersebut.

Boleh dikatakan setiap orang di era millennial saat ini dapat mengakses dan belajar keislaman secara praktis dan cepat. Betapa tidak?, cukup searching kata kunci di mbah google, maka ia akan mengeluarkan ribuan fatwa yang dapat diseduh siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Jika kita lapar, cukup pakai aplikasi go-food, maka semua hidangan akan tersedia tanpa perlu bersusah payah mengeluarkan tenaga.

Mirisnya paradigma tersebut juga diaminkan untuk digunakan dalam belajar agama. Dewasa ini, terlihat semangat keberagamaan masyarakat Indonesia semakin meningkat, namun sayang, cara yang ditempuh layaknya aplikasi go-food tadi, cukup belajar sebentar dari internet, baca beberapa artikel, blogspot, sudah dapat menyimpulkan fatwa.

Celakanya, fatwa atau pendapat ulama-ulama terdahulu seringkali diabaikan hanya dengan melihat satu teks ayat atau hadis yang dipahami secara tekstual. Luar biasa bukan? Ulama yang sepanjang hayatnya belajar ilmu agama dengan mudah di-bid’ah-kan, dikafirkan, dan yang lebih parah di-neraka-kan.

Sobat muda, memahami hadis itu ibarat memahami hati wanita yang sukar untuk dimengerti. Bukan berarti hadis itu sama dengan wanita lho, jangan di-pleset-kan, nanti jatuh, jadi sakit. Hadis Nabi Saw itu adalah respon Nabi terhadap satu kasus yang terjadi saat itu. Karenanya, dalam satu permasalahan, Nabi Saw dapat memberikan respon yang berbeda bisa berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuan, sesuai dengan konteks lawan bicara dan situasi yang terjadi saat itu.

Oleh karena itu, dalam memahami hadis, tidak cukup hanya dengan satu atau dua hadis saja lantas bisa berfatwa. Itu ibarat kita baru jatuh cinta pada pandangan pertama langsung melamar wanita pada saat itu juga, bisa dipastikan apa yang terjadi, putus harapan sebelum berjuang.

Selain itu, memahami hadis juga harus melihat konteks sejarah atau asbab wurud-nya. Tanpa memahami hal itu, dikhawatirkan yang terjadi adalah misinterpretasi. Misalnya kita mau mengadakan pendekatan dengan seorang wanita, kita ajak dia makan di restoran, tapi dia menolak makan di restoran. Bukan berarti kemudian wanita tersebut tidak mau makan bersama kita.

Ternyata, usut punya usut, wanita tersebut lebih senang dan terbiasa dengan makanan rumahan. Di sini diperlukan kepekaan dan kejelian seorang lelaki dalam memahami hati seorang wanita. Persis seorang yang belajar memahami hadis, ia juga perlu jeli dan cermat.

Sebenarnya Dr. Yusuf al-Qaradhawi, ulama kontemporer, telah memberikan langkah-langkah aplikatif bagi kita yang mau ‘serius’ belajar hadis agar dapat memahami hadis secara tepat. Beliau menuliskan ada delapan langkah berinteraksi dengan hadis sebagaimana yang ditulis dalam kitab Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah. Delapan hal tersebut adalah:

1. Memahami hadis sesuai dengan petunjuk al-Qur`an

2. Menghimpun hadis-hadis yang setema

3. Kompromi atau tarjih terhadap hadis-hadis yang kontradiktif

4. Memahami hadis sesuai dengan latar belakang, situasi, kondisi, dan tujuannya

5. Membedakan antara sarana yang berubah dan tujuan yang tetap

6. Membedakan antara ungkapan hakikat dan majaz

7. Membedakan antara yang Gaib dan yang Nyata

8. Memastikan makna kata-kata dalam hadis

Tulisan ini tidak akan membahas satu per satu langkah tersebut, rujuklah langsung ke tulisan Yusuf al-Qaradhawi. Poinnya adalah bahwa memahami hadis itu butuh usaha dan pendekatan yang sungguh-sungguh (ijtihad).

So, jika ada pesan dari whatsapp anda yang mengatakan ‘Minumlah kencing unta, karena itu obat’ atau ‘Jauhilah musik karena itu haram’, maka jangan langsung terima apa adanya. Rujuklah dan lihatlah pendapat ulama-ulama yang otoritatif dari sumber aslinya, tidak sekadar qola wa qila, sanad pesan whatsapp itu mardud (tertolak) dalam periwayatan hadis, karena hal itu adalah bid’ah.

Melalui tulisan ini, di tengah semangat zaman yang serba instan dan cepat, ada dua hal yang tidak dapat ditempuh dengan kecepatan dan keringkasan, yaitu belajar agama dan memahami hati wanita. “Ingat akhi, yang berat itu bukan rindu sebagaimana kata Dilan, tapi candu dalam kebodohan dan kemalasan, aku dan kamu, kita semua harus melawan kecanduan tersebut, Allahuakbar..!!”. Wallahu A’lam bish Showwab.

*Penulis adalah alumni S1 Tafsir Al-Quran dan Hadis UIN Yogyakarta dan aktivis perdamaian komunitas YIPC

Sumber gambar: fb other perspective

1 komentar: