(Masih) Penelantaran Syiah Sampang



Jiva Agung
Beberapa minggu belakangan ini, isu Sunni-Syiah kembali memanas. Tentu, tidak akan ada asap tanpa didahului oleh api.  Walaupun api (sumber) sesungguhnya adalah politik-ekonomi, tetapi tentu tidak akan seru jika tak dibubuhi oleh minyak. Apalagi kalau bukan isu agama. Hanya saja karena pada persoalan kali ini konfliknya terdapat di wilayah intern satu agama saja (Islam), maka dimunculkanlah perbedaan-perbedaannya supaya tetap berkonflik.

Alih-alih menyoroti isu internasional tersebut, yang tentu membutuhkan kerangka metodologis/pendekatan yang holistik, pada kesempatan kali ini Goodnews Magazine hendak memberikan informasi terfaktual mengenai kondisi Syiah Sampang yang sampai saat ini masih terkantung-kantung. 

Terlepas pembaca setuju atau tidak mengenai konsepsi/ajaran Syiah, tetapi kami yakin soal kemanusiaan adalah mutlak harus dikedepankan. Kami berharap, dengan tersiarnya informasi ini, bukan malah membuat geram kalangan anti-Syiah, sebaliknya menyadarkan bahwa kita, selaku umat manusia dan hamba Tuhan, harus bersikap adil kepada siapapun, setidaknya berkewajiban memberikan hak yang sudah sepantasnya mereka dapatkan.

Pada edisi kedua ini, kami berkesempatan untuk mewawancarai salah satu penanggung jawab camp pengungsian Syiah Sampang yang berada di Puspa Agro, Sidoarjo, beberapa waktu lalu. Berikut hasil wawancaranya;

Bagaimana awal mula bisa ditempatkan di sini?
Awalnya kami dimasukkan ke pengungsian Sampang, tapi banyak orang Madura yang tidak menerima, katanya kami harus keluar ke daerah lain. Harus pindah ke pulau lain selain madura. Untuk itu pemerintah, untuk kebaikan bersama memindahkan kita ke sebuah dormitori paling lama 1 minggu, paling cepat 3 hari. Tapi sampai 4 tahun ini keputusan pemerntah masih sama. Masih di tempat ini.

Bagaimana sikap pemerintah Sidoarjo?
Semua baik-baik saja dan kerjasama kalau ada apa-apa (mereka ikut turut tangan), kooperatif. Aparat kepolisiannya juga turun tangan.

Sampai saat ini berapa jumlah pengungsinya?
Ada sekitar  82 KK, tapi ini masih jumlah sementara, karena datanya belum detail dan harus perlu diperbarahui karena adanya penambahan jumlah dari TKI malaysia, atau perantau yang pas pulang rumahnya sudah tidak ada karena dibakar, makanya mereka juga kesini. Kalau awalnya, ada sekitar 162 orang tapi sekarang hampir 300 lebih karena sudah banyak yang melahirkan.

Lalu bagimana sikap ormas-ormas Islam yang ada di sana?
Tahun 2013-2015 itu ada menteri agama datang, rencana mau menyelesaikan masalah ini, tapi karena ulama di Madura dan masyarakatnya tidak menerima, jadi rencananya gagal. Karena kebanyakan orang-orang di Madura itu orang awam (pendidikan sampai SD) jadi mudah terkena provokasi, dan (menyatakan) Syiah itu sesat. Padahal mereka itu diajak dialog sama ulama kita tentang Syiah ini, tapi ulama mereka tidak mau menerimanya. 
Padahal kita ini (Syiah) sama-sama Islam, menjalankan ajaran Muhammad. Kalau shalat pun sama, bedanya (Cuma) kalau kita tidak bersedekap. (Shalat) subuh 2 rakaat, dzuhur 4, asar 4, magrib 3, isya 4, dan puasanya sama, tempat hajinya sama, di Mekkah dan shalatnya sama, menghadap ke kiblat. Allahnya sama, nabinya sama, Al-Qurannya sama 30 juz. (Jadi) apa yang harus dipertentangkan, dipermasalahkan?

Bagaimana nasib para pengungsi?
Pendidikan dan kesehatan mereka ditangung oleh pemerintah. Jadi, satu kepala akan mendapat makanan 709.000/bulan, tapi betapa pun kalau orang tuanya tidak bekerja, mereka akan kekurangan karena kebutuhan pokok di sini mahal-mahal, dan mereka juga butuh jajan, jadi mereka belum cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Apa hak yang belum didapat?
(Tidak mendapat) kebebasan berekspresi dalam beragama, (juga) dalam bermasyarakat. Hak-hak bermain dan berkumpul dengan keluarga besarnya tidak bisa (tersalurkan) semenjak menjadi pengungsi dan rumah mereka dibakar. Hubungan persaudaraan putus. Ketika orang Madura (keluarga dari pihak pengungsi) mau (datang) ke sini, biaya mahal, sedangkan jika kita yang ke sana, itu dilarang. Saudara-saudara kita yang di Madura yang bukan Syiah banyak ada disana, dan banyak dari mereka yang tidak meyadari kalau kita tidak bersalah. 
Indonesia sudah merdeka sejak 1945 tapi kenapa kita malah dijajah oleh warga negara sendiri, sedangkan anak-anak ini, yang saat konflik masih berusia bulanan, sampai sekarang tidak mendapatkan hak-haknya. Kenapa harus mengalami penindasan dan penganiayaan seperti itu, dan itu yang saya herankan? 
Saya selama lima tahun (karena saya adalah koordinator anak-anak) dianggap sebagai kakak mereka, mengajarkan mereka untuk tidak mengatakan kata-kata kasar, karena mereka sudah mengalaminya sendiri. Saya (sendiri) sangat sulit untuk memulihkan pengalaman-pengalaman itu.
Di waktu konflik itu rasa trauma (melekat pada) anak-anak, dan mereka itu juga kangen dengan kampung halamannya. jadi saya sering mengajarkan kepada mereka bahwa cukup di Madura kalian dirampas haknya, dianiayai, tapi kalian jangan sampai meneruskannya, kalian harus belajar, memperoleh pendidikan yang tinggi, tunjukkan meski kalian diusir, kalian tidak pernah nyerah. Bahwa kalian adalah anak-anak yang tidak menyerah, punya semangat. dan tidak tinggal diam.

Kira-kira ada berapa orang yang ditinggal orang tuanya karena konflik?
Kalau dalam konflik yang meninggal cuma satu orang, paman saya itu. Juga yang kena bacok adalah bapak saya yang harus dioperasi dua kali. tapi masih tertolong, (hanya saja) menjadi cacat, tidak seperti semula dan ususnya sampai hancur. kalau korban luka-luka ada banyak.
Saat konflik itu anak-anak terpisah dengan orang tuanya selama satu minggu karena mereka telah sibuk menyelamatkan diri sendiri. Ada yang ngumpet dalam tebing, jurang, gua, gunung dan macam-macam. Dan orang tuanya pun sibuk mengurusi diri sendiri. Saya waktu itu pernah mengumpulkan (menyelamatkan) beberapa puluh anak (yang) dikumpulkan dari sungai, ada (juga dari yang) tebingnya tinggi. Saya kumpulkan di situ satu hari ga makan-minum.

Adakah harapan untuk ke depannya?
Orang-orang harus turun tangan, jangan hanya berkomentar di media, atau di sana-sini. Kami ga butuh. Turunlah ke lapangan. Lihatlah anak-anaknya! Menurut saya (sikap) pemerintah (untuk) beradaptasi ke orang-orang lemah itu masih kurang. Lihat anak-anak ini yang hidupnya terbatasi banyak sekat, tidak bebas. 

Sepertinya di sini ada teman-teman volunteer yang mengajar (les). Kalau boleh tau sudah ada sejak kapan?
Sudah lebih (dari) satu bulan. Awalnya mereka itu diperkenalkan dengan saya, lalu saya terima dengan terima kasih (tangan terbuka). Akhirnya anak-anak bisa belajar. Sebenarnya dulu pun ada beberapa komunitas yang mengajar anak-anak kita di sini, tapi karena mereka punya kesibukan masing-masing, lama-kelamaan mereka tidak ada (tidak hadir lagi). Adapun yang sekarang ini, mereka lebih rajin. Liburnya cuma malam minggu doang. Baru-baru ini anak-anak yang (sudah) bisa berbahasa Indonesia, ada yang belajar di luar (pengungsian). 

*Penulis adalah guru PAI di Bandung

Sumber gambar: Akun FB Antidote

2 komentar:

  1. tulisannya bagus kak, mungkin bisa ditambahi refleksi dari kakak sndiri untuk menyikapi kasus ini. Bagi pembaca yang menjadi volunteer pengajar di sana, tulisan ini belum memberikan satu informasi yang baru tentang syiah sampang.Saya salah satu pengajar di sana, saya harap ada refleksi yang bisa direalisasikan untuk syiah sampang. :)

    BalasHapus