Kreativitas vis a vis Moralitas


Panji Futuhrahman
Dewasa ini kita makin banyak bergantung dengan media sosial berbasis internet. Baik sebatas untuk berkomunikasi, mengabadikan momen spesial, bahkan hingga menjadikannya mata pencaharian. Untuk yang terakhir disebut ini banyak sekali ragam dan caranya. Mulai dari yang berjualan sebagaimana umumnya kita ketahui, sebut saja berjualan baju misalnya. Si empunya produk memasang gambar bajunya yang hendak dijual, ia tuliskan spesifikasi juga cara pembeliannya. Ini yang bisa dibilang paling sederhana. 

Ada juga yang meraup untung dengan menjadi pengiklan. Ia biasanya tidak punya barang yang dijual, ia mempromosikan barang orang lain, dan dari jasa mempromosikannya itulah ia dapat uang. Dua bisnis ini masih terlihat biasa saja, bisa dikatakan bisnis ini bisnis gaya lama kemudian bertransformasi menjadi berbasis internet. 

Namun zaman baru pastilah juga membawa kebiasaan-kebiasaan baru. Di zaman yang serba internet ini, banyak bermunculan bisnis-bisnis yang sepertinya sama sekali tidak terpikirkan di zaman sebelumnya, sebagai contoh sebut saja jasa jual beli follower dan like (orang memperjualbelikan follower dan like di instagram untuk menunjukkan eksistensi). Bisnis ini, meski terdengar konyol, nyatanya makin menjamur saja dari hari keharinya, hal ini menunjukkan: ada orang yang membeli follower dan like di instagram untuk menunjukkan eksistensi. 

Untuk media sosial instagram kita juga mengenal bisnis ala official account. Sedikit penjelasan untuk bisnis ini adalah adanya orang yang membuat akun, bisa berisi info-info seperti info sepakbola terkini, info kesehatan, info lalu lintas, bisa juga berisi humor-humor baik gambar maupun video. Bisa juga berisi konten-konten kepemudaan, penyiaran agama bahkan ada juga yang berisi konten khusus dewasa dan kekerasan sekalipun. Semakin akunnya populer, semakin banyak follower dan like di setiap post-nya maka “harga” akun itu semakin mahal. 

Di kemudian hari akun itu bisa di jual, bisa jadi pembelinya merupakan penjual suatu produk, ia ganti semua fotonya dengan barangnya, ia tak perlu susah-susah mencari follower karena akun itu sudah memiliki banyak follower, bisa juga di kemudian hari akun itu menawarkan profilnya kepada pedagang supaya tertarik untuk “ikut promosi” barang dagangannya lewat akun itu. Dengan follower yang banyak, dapat dipastikan informasi mengenai barang jualannnya sampai ke calon pembeli.

Selain instagram, penulis melihat media sosial yang hingga kini sangat digandrungi adalah youtube. Portal berbagi video ini nyatanya juga tidak sekadar digunakan untuk kepentingan pribadi seperti menyimpan video untuk kenang-kenangan saja, youtube kini laris dipakai untuk mencari uang juga. Beberapa orang memanfaatkan youtube untuk membuat semacam video blog atau yang kini dikenal sebagai Vlog. Isi dari Vlog itu sendiri beragam, mulai dari tutorial berkerudung, tutorial bermain game, tutorial bela diri praktis, atau ada juga yang sekadar menampilkan kehidupan sehari-hari, dan masih banyak ragam lainnya. 

Orang-orang itu mendapatkan uang dari banyaknya orang yang melihat videonya. Dari sana ia memiliki viewer, semakin banyak viewer semakin mahal harga videonya untuk disisipi iklan. Bisa juga mereka mendapat uang melalui sponsor-sponsor, misalnya ada yang melakukan tutorial berkerudung, ia bukan pemilik merk dagang kerudung tersebut, tapi ada produsen kerudung yang mensponsori videonya dengan memberi sejumlah uang dan atau kerudungnya untuk menjadi bahan yang digunakan saat video tutorial berkerudung itu berlangsung.

Namun sayangnya, zaman baru tidak hanya membawa kebiasaaan baru, ia juga berisikan senjata baru. Para pencari untung ternyata melakukan banyak cara agar akunnya tetap laris, termasuk menggunakan cara-cara yang tidak bersih, baik yang berbisinis ala official account dalam instagram maupun yang berbisnis ala vlog di youtube. Beberapa dari mereka melakukan trik-trik agar tetap laris. Dalam kasus official account misalnya, tak jarang yang menyisipkan konten-konten porno agar akunnya semakin ramai, meskipun terlarang, nyatanya dengan menyisipkan konten-konten porno akun tersebut jadi semakin populer. 

Senada dengan hal tersebut, para penggiat youtube melakukan hal yang hampir serupa, kita sempat dibuat geger oleh akun-akun yang memamerkan kemesraaan dan bahkan tindakan menjurus asusila oleh para penggiat youtube ini. Ada juga yang sangat gemar menggunakan kata-kata kasar dan tak seharusnya diucapkan. 

Meskipun ini wilayah hak pribadi, namun saat mereka mengudarakan vlog mereka dan membiarkan orang-orang untuk mengaksesnya secara bebas tanpa tending aling-aling, saat itu juga mereka mestinya bisa mempertanggungjawabkan videonya dihadapan tata nilai etika yang berlaku.

Penggunaan konten porno dan bahasa kasar nyatanya mampu menyedot pengunjung, baik untuk instagram maupun youtube, konten porno seolah mewakili kedewasaan meskipun nyatanya yang mengakses tidak lain adalah anak dibawah umur atau anak usia sekolah dan konten bahasa kasar seolah mewakili keberanian dan kebebasan berekspresi. Tidak bisa dinafikan bahwa sejatinya secara demografi sebagian besar pengguna internet adalah anak muda usia sekolah itu sendiri. 

Ironisnya dari media sosial anak-anak menjadi tahu terhadap aktivitas seks yang belum semestinya meraka ketahui atau bahkan tidak layak mereka ketahui sama sekali seperti pelacuran. Lelucon-lelucon murahan yang dibalut seks bebas biasanya menjadi viral dan dianggap hal yang umum untuk diketahui. Padahal hal tersebut sangat jauh dari norma dan tata nilai yang berlaku. 

Lebih parah lagi jika konten porno itu dibagikan lewat situs youtube, bahkan ada youtuber yang hingga kini terkenal namanya karena keberaniannya mengunggah kemesraan dengan pasangannya. Padahal kemudian hari diketahui yang bersangkutan masih duduk di bangku sekolah atas (SMA) saat itu. Tidak sampai di sana, yang bersangkutan acap kali berucap kata-kata kasar seolah hal itu adalah hal lumrah dan dijadikan guide bagi siapa saja yang hendak menjadi anak gaul masa kini.

Tak sedikit, yang karena geramnya melihat fenomena ini, kemudian ada yang mencoba menegur pihak-pihak yang menyeleweng tersebut. Ada yang menegur dengan dalil agama, ada yang menyindir dengan etika bergaul, ada yang membawa tata nilai luhur bangsa sampai ada yang membawa dalil hukum yang berlaku namun semuanya bergeming. Ada satu hal yang paling sering dijadikan justifikasi atas perilaku menyimpang mereka ini: Kreativitas.

Disini sebetulnya letak miskonsepsi yang entah dari mana awal mulanya, tapi yang pasti, sejauh ini kreativitas sering dipahami sebagai melawan arus dan menabrak batas. Padahal sejatinya kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dengan tetap memperhatikan batasan-batasan yang ada tanpa perlu selalu melawan arus umum. Batasan itu bisa berupa batasan agama, batasan norma atau batasan hukum. 

Orang yang merasa diri kreatif dan out of the box namun dalam proses kreatifnya ternyata menabrak batasan-batasan itu tidak lain adalah manusia anarkis—baik secara tindakan maupun pikiran—yang malas berfikir lebih jauh untuk menciptakan hal baru yang tidak melanggar batasan itu. Sejatinya, mereka yang sungguh-sungguh kreatif adalah yang bisa menciptakan hal baru dengan tetap memperhatikan norma dan aturan yang belaku di masyarakat. 

Dengan demikian, sangat keliru jika ada orang-orang yang berdalih mengusung kreativitas namun secara sadar melanggar batasan yang ada. Meskipun batasan itu sendiri sangat subjektif. Tapi batasan-batasan itu tidak muncul secara tiba-tiba atau serampangan, batasan itu muncul untuk menjaga hal-hal yang dianggap berharga oleh masyarakat umum, misalnya: moral anak muda. Kita bisa berdebat dari pagi hingga subuh lagi untuk memperdebatkan sejauh mana batasan gambar/video dapat disebut berisi unsur pornogafi atau tidak, namun patut dipahami bahwa di era internet ini, semua bisa dengan mudah mengakses segalanya. 

Mungkin orang dewasa bisa memilih dan memilah konten yang layak ia tiru dan tidak, tapi anak muda bisa saja melihat hal tersebut sebagai contoh yang mesti ditiru. Bayangkan jika kemudian hari anak muda beranggapan bahwa hubugan badan pranikah adalah hal lumrah! Padahal baik secara norma maupun aturan itu jelas-jelas perilaku buruk dan salah.

Disamping itu kita tidak boleh menafikan peran pengawasan dan bimbingan orang tua terhadap apa yang diakses anaknya di internet. Jika kemudian hari anjuran untuk memilah dan memilih konten yang baik untuk dibagikan diinternet diabaikan oleh para penggiat internet itu, dan bahkan jika kemudian hari ada regulasi yang ketat tentang hal ini sekalipun, tetap saja benteng terakhir pertahanan untuk menjaga moral anak bangsa adalah peran pengawasan dan bimbingan orang tua itu sendiri. 

*Penulis adalah guru PAI di SMAN 1 Cikarang Utara

Sumber gambar: FB The Artidote

17 komentar:

  1. Agen s128 adalah situs sabung ayam online sebagai salah satu penyedia jasa {sabung ayam|
    sabung ayam online|
    http://68.65.120.113/|
    sabung ayam s128|
    ayam sabung|
    sabung ayam s128|
    s128 sabung ayam|
    s128|
    http://68.65.120.113/} di indonesia.
    Agen s128 adalah situs sabung ayam online sebagai salah satu penyedia jasa {sabung ayam|
    sabung ayam online|
    https://www.s128.bet/|
    sabung ayam s128|
    ayam sabung|
    sabung ayam s128|
    s128 sabung ayam|
    s128} di indonesia.
    Agen s128 adalah situs sabung ayam online sebagai salah satu penyedia jasa {sabung ayam|
    sabung ayam online|
    https://www.s128.cash/|
    sabung ayam s128|
    ayam sabung|
    sabung ayam s128|
    s128 sabung ayam|
    s128} di indonesia.
    Agen s128 adalah situs sabung ayam online sebagai salah satu penyedia jasa {sabung ayam|
    sabung ayam online|
    https://taruhans128.com/|
    sabung ayam s128|
    ayam sabung|
    sabung ayam s128|
    s128 sabung ayam|
    s128} di indonesia.

    BalasHapus
  2. Agen s128 adalah situs sabung ayam online sebagai salah satu penyedia jasa {sabung ayam|
    sabung ayam online|
    http://68.65.120.113/|
    sabung ayam s128|
    ayam sabung|
    sabung ayam s128|
    s128 sabung ayam|
    s128|
    http://68.65.120.113/} di indonesia.
    Agen s128 adalah situs sabung ayam online sebagai salah satu penyedia jasa {sabung ayam|
    sabung ayam online|
    https://www.s128.bet/|
    sabung ayam s128|
    ayam sabung|
    sabung ayam s128|
    s128 sabung ayam|
    s128} di indonesia.
    Agen s128 adalah situs sabung ayam online sebagai salah satu penyedia jasa {sabung ayam|
    sabung ayam online|
    https://www.s128.cash/|
    sabung ayam s128|
    ayam sabung|
    sabung ayam s128|
    s128 sabung ayam|
    s128} di indonesia.
    Agen s128 adalah situs sabung ayam online sebagai salah satu penyedia jasa {sabung ayam|
    sabung ayam online|
    https://taruhans128.com/|
    sabung ayam s128|
    ayam sabung|
    sabung ayam s128|
    s128 sabung ayam|
    s128} di indonesia.

    BalasHapus
  3. http://bubtv24.com 무료스포츠중계
    http://bubtv24.com 스포츠중계
    http://bubtv24.com 스포츠티비
    http://bubtv24.com mlb중계
    http://bubtv24.com nba중계

    BalasHapus