Karma, Si Buah Ajaib dari Luar Angkasa

Surya Dinullah

Pertemuan dengan sahabat-sahabat lama sejenak membawaku berpetualang dalam alam pikiran. Pernyataan spontan yang membuatku mempertanyakan kembali kehidupan seperti apa yang seharusnya aku jalani kini, terlontar dalam obrolan kami. Entah mengapa pernyataan tersebut membuat aku semakin bergairah untuk hidup.

Awalnya pembicaraan kami tidak jauh dari pernikahan, pendidikan, usaha atau pekerjaan. Hal-hal tersebut lah yang cukup banyak jadi bahan untuk berbincang sehingga kami dapat melepas rindu karena cukup lama tidak bertemu.

Hingga pada akhirnya giliranku untuk membahas tentang kegiatanku selama ini. Satu persatu teman-teman yang telah mendengarkannya memberikan beberapa masukan termasuk sebuah komentar yang membuatku harus kembali mempertanyakan eksistensiku sebagai manusia, mempertanyakan kembali waktu-waktu yang telah terpakai yang pada usia saat ini di mana seharusnya aku telah mencapai sesuatu.

Lalu aku mencoba menari-nari mencari ukuran pencapaian yang seharusnya tercapai oleh manusia yang tengah berusia 25 tahun.

Sialnya, hal tersebut membuatku sadar bahwa aku terlalu cuek dengan dunia. Ketika aku mengukur dengan materi, ternyata aku hanya baru menghasilkan 648.000 ribu rupiah setelah 2 bulan lulus kuliah sebagai tenaga pendidik di sebuah sekolah negeri (jumlahnya dirapel dua bulan biar ga terlalu ngenes hahaha). Pantas saja temanku berkomentar “maneh teh nanaonan nu, kacape-cape kikituan” dalam bahasa Indonesia berarti “kamu itu apa-apaan nu, capek-capek berkegiatan seperti itu”.

Belum lagi kegiatan dengan komunitas-komunitas lain yang malah aku harus merogoh kantong guna iuran bulanan kegiatan, seperti membuat rak buku untuk perpustakaan keliling menggunakan motor bebek; kegiatan kepanti-asuhan mengajar seni lukis; dan kegiatan-kegiatan lainnya yang harus membuat aku puasa makan di cafe-cafe mahal.

Tapi poin pentingnya dari tulisanku kali ini bukan pada curhatan seorang sarjana muda yang mencoba membuat kesan pilu atau heroisme. Namun ada pada, hmmmm entah lah. Mungkin tak ada poin penting sebetulnya hahahaha.

Jika kata Gie “Kita yang tak pernah menanam apa-apa, tidak akan menuai apa-apa.” Berbanding terbalik dengan itu, maka aku mencoba menanam sebanyak mungkin hal-hal yang tidak merugikan orang-orang dan mencoba untuk tidak menanam angin agar tidak menuai badai dikemudian hari. Sederhananya, kita ini hidup dalam sebuah konsep sebab-akibat “apa yang kita lakukan, akan kembali kepada kita” atau biasa disebut dengan karma.

Temanku yang melakukan sebuah perjalanan jauh menggunakan kereta api menuturkan bahwa dirinya menjadi saksi jika seseorang telah percaya bahwa karma itu nyata maka seseorang itu pasti akan selalu berbuat baik dalam menjalani hidupnya.

Ketika temanku itu kemalaman di sebuah stasiun kereta dan tidak mungkin mencari hotel atau semacamnya untuk beristirahat karena memang budgetnya tidak ada (dasar treveller kere). Tapi seperti yang telah dijanjikan, bahwa orang-orang kere ialah yang paling disayang Tuhan, maka Ia memberikan pertolongan-Nya lewat petugas kebersihan yang kebetulan jaga malam.

Melihat gelagat temanku yang terlihat bingung, petugas kebersihan itu pun menawarkan agar temanku bermalam di stasion saja, bahkan ia mengarahkan temanku pada satu ruangan tertutup agar tidak langsung terterpa angin ketika tidur. Mungkin sang petugas paham betul, jika tubuh sekurus temanku itu biasa tumbang di hempas angin malam. Makanya ia menyuruh untuk tidur di dalam ruangan.


Bagi orang tidur, malam akan terasa sekejap, apalagi jika bermimpi indah. Nah, entah apa yang dimimpikan oleh temanku itu, dia dibangunkan paksa ketika subuh, sayangnya bukan untuk solat subuh!

Tapi untuk dimarahi oleh orang yang berseragam lengkap PT KAI, dan yang sedihnya yang paling banyak dimarahi adalah petugas kebersihan yang memperbolehkan temanku tidur di ruangan tersebut. Sial, orang baik memang tak selalu bernasib baik. Tapi bukan orang baik namanya jika tak siap dengan risiko-risiko semacam itu.

Temanku yang tak merasa enak dengan petugas yang dimarahi itu mencoba meminta maaf.

Dia berkata: “Pak maaf, gara-gara mengizinkan saya tidur di sini, bapak jadi kena marah (oleh) atasan.”

Sang petugas: “Ndak papa mas, Bapak cuma berharap jika anak bapak nanti mengalami kesulitan, mudah-mudahan ada yang bantu juga.”

Jawaban sang petugas kebersihan begitu sederhana, cerminan hidup orang yang percaya pada karma sebab alam merespon pikiran perbuatan positif maupun negatif dan mengembalikan ke tubuh dengan balasan yang sama. Jika tidak di dunia, maka ia akan kembali ke dimensi yang lain.

*Penulis adalah guru PAI

Sumber gambar: FB Other Perspective







Tidak ada komentar:

Posting Komentar