Islam Sontoloyo vis a vis Akal Merdeka



Panji Futuhrahman
 Islam Sontoloyo adalah buku yang disusun berdasarkan kumpulan tulisan Bung Karno di era sebelum kemerdekaan. Beberapa berasal dari surat-menyurat beliau terhadap beberapa tokoh muslim seperti A. Hasan, dan sebagian lagi adalah tulisan beliau yang dimuat di media masa. Sedangkan buku Islam dan Akal Merdeka adalah buku dari kumpulan tulisan karya ulama kenamaan Indonesia masa lalu M. Natsir. 

Dalam Islam Sontoloyo Bung Karno mengeksplorasi ide nya tentangIslam dengan begitu luas dan liar. Mulai dari bahasan terkait perenungan rasa yang ia dapat saat ia di pengasingan hingga penolakannya terhadap penggunaan hijab saat kongres Muhamadiyah. Mulai dari pembahasannya yang bisa dibilang liberal mengenai ketidakharusan mencuci bejana yang kena liur anjing dengan air tujuh kali lalu mengusapnya dengan tanah hingga pendapatnya yang seolah membenarkan langkah Kemal Ataturk yang membubarkan lembaga khalifah. 

Berlainan dengan hal itu, buku Islam dan Akal Merdeka karya Natsir ini tersusun lebih sistematis atau setidaknya bisalah dibilang tematis. Idenya fokus kepada sebagaimana pendudukan akal dalam menalar ketentuan agama baik yang berupa ayat Alquran maupun dalam menerapkan hukum berdasarkan sebuah hadis.

Dalam Islam Sontoloyo tersirat bahwa ide besar yang dibawa Bung Karno mengenai Islam adalah ide-ide yang mungkin kalau sekarang akan lebih dekat dengan liberalism, atau aliran progresif. Penentangannya terhadap penggunaan hijab (pembatas antara peserta laki-laki dan perempuan) saat kongres muhamadiyah misalnya, menurutnya itu adalah budaya perbudakan yang tidak semestinya diterapkan dan menurutnya penggunaan hijab itu bukan berasal dari ajaran Islam yang murni. 

Bahkan ekstrimnya lagi, saat yang lain ramai mengutuk tindakan Kemal di Turki yang membubarkan lembaga khilafah Islamiyah, Bung Karno malah seolah-olah berpendapat lain. Ia seperti sedang mengutarakan antitesis di tengah ramainya tesis-tesis yang mengutuk tindakan Kemal itu.

Meski berulang kali Bung Karno mengatakan bahwa ia belum berani menentukan sikapnya atas tidakan Kemal tersebut, justru argumentasi-argumentasi yang ia sodorkan seolah sedang berkata bahwa ia sama sekali tidak menyalahkan Kemal dan dalam arti lain ia membenarkan tindakan Kemal tersebut. Bung Karno menjelaskan bagaimana Turki sebagai pusat peradaban Islam saat itu yang seharunya membawa Islam pada kejayaan dengan akses yang strategis karena dekat dengan barat, Turki justru malah mendapat julukan de zieke man van Europa alias pesakitan dari eropa dikarenakan segala keterpurukannya. 

Bung karno berdalih, dari segala upaya memajukan peradaban Islam pada umumnya dan Turki pada khususnya, acapkali terbentur oleh rigidnya aturan yang mengikat dari lembaga Khilafah. Celakanya, seringkali rigidnya legitimasi dari golongan agamawan, dalam hal ini Khilafah, bukanlah berasal dari ajaran agama yang murni dan lebih banyak mengandung unsur kebudayaan yang diagamakan. 

Lain Bung Karno lain Natsir. Jika Bung Karno benar-benar mengedepankan akalnya dalam menerjemahkan ajaran keagamaan, Natsir berkata lain, lewat bukunya ini, secara bertahap Natsir mengurai akal, dari definisnya hingga bagaimana letaknya dalam mememahami ajaran agama. Ia sendiri mendukung penggunaan akal secara merdeka namun penggunaan akal secara merdeka itu tidak boleh mengurangi kemutlakan ketetapan agama. Perdebatan paling menarik dari keduanya tatkala membahas penyucian bejana yang kena air liur anjing. 

Mulanya Bung karno menjelaskan kisahnya saat anaknya mengadu bahwa anjingnya menjilati bejana. Saat si anak hendak menyuci bejana yang kena liur anjing itu bung karno menyuruh anaknya menyuci dengan menggunakan air dan kreolin (sabun cuci) saja. Lalu si anak bertanya, “Tidak kah Nabi mencontohkan dengan air lalu mengusap dengan tanah?” Bung karno menjawab,”Andaikata saat Nabi hidup ada kreolin sudah dipakai kreolin itu untuk mencuci liur anjing.” 

Dalam penuturannya, si anak lantas tidur dengan wajah nampak bahagia karena mendapat lmu baru. Jadi menurut bung karno, penggunaan kreolin sudah lah cukup mengganti tata cara pencucian yang tujuh kali dengan air lalu dengan tanah itu karena dalam pikirannnya, perintah itu dibuat nabi dengan maksud mebuatnya bersih dari najis, maka jika sekarang ada kreolin yang bisa mencuci kuman sekali bilas, maka kreolin sudahlah cukup mengganti tujuh kali air dan usapan tanah itu. 

Natsir berpendapat lain, akal boleh jadi menemukan mutiara-mutiara pikir. Bisa jadi akal mendapatkan pengetahuan baru. Bisa jadi kita temukan bahwa ibadah solat menyehatkan, bisa jadi dikemudian hari kita temui bahwa kreolin dapat menyuci  kuman dengan baik tapi dengan segala keterbatasan akal agaknya terlalu sombong jika manusia lantas mengganti tata aturan yang dituturkan oleh agama hanya karena akalnya menemukan hal-hal baru. Karena perintah agama tidak hanya tentang kebaikan yang terkandung saat kita menjalankannya tapi juga ada dimensi ketaatan kita terhadap Allah Swt. hal ini yang akan gugur jika kita seenaknya merubah aturan agama. 

Tak mau kalah, Natsir gunakan juga kisah anjing menjilat bejana. Ia karang cerita seolah anaknya mengadu, “Ba, si Kumbang menjilati bejana, apa cukup jika dicuci dengan kreolin saja?” natsir menjawab, “Sebatas menghilangkan kuman, cucilah dengan kreolin, tapi dalam ketaatan kita terhadap Allah dan rasul, cucilah dengan air tujuh kali lalu usap dengan tanah.” Dalam penggambarannya si anak lantas tidur tak kalah bahagia karena mendapat ilmu baru juga tetap dalam ketaatan kepada Allah Swt. 

***

 Perbedaan pendapat dalam memahami islam sejatinya bukan hal baru. Apalagi jika sejak awal pendekatan yang digunakan dalam memahami islam sudah beda. Bung karno seolah menggambarkan sebagian golongan yang mengedepankan akal dalam menjalankan agama karena beranggapan bahwa akal adalah anugrah tertinggi dari Allah dan agama sendiri adalah bagi mereka yang berakal. Sebagian golongan lainnya menggunakan pendekatan lain, kalangan  ini lebih mengutamakan ke-presisi-an dalam mengamalakan ajaran islam karena beranggapan meski akal adalah anugrah paling mulia namun tetap lah diselimuti dengan serba keterbatasan sedangkan agama diturunkan dari sang maha sempurna. 

Tapi tak sepauttnya kemudian perbedaan itu membuat kedua pihak berseteru atau bahkan memutus persaudaraan. Kisah kedekatan Bung Karno dan natsir begitu masyhur di masyarakat. Bahkan kemdian hari Bung Karno mengangkat Natsir sebagai PM nya pada 1950. lihat? Kedua tokoh ini tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai bahan bakar permusuhan.

Kisah lebih unik mengani perbedaan pendapat ada sejak zaman nabi masih hidup di tengah para sahabatnya. Dikabarkan selepas zuhur Nabi mengutus sahabatnya menuju Bani Quraizah lantas berkata, “Janganlah kamu salat ashar melainkan di bani Quraizah”. Berjalanlan para sahabat hingga kemudian sebelum mereka sampai di tujuan, langit sudah menguning pertanda sudah masuk waktu ashar. Sahabat terbagi dua golongan, sebagian mendirikan salat karena sudah waktu ashar, sebagian lain melanjutkan perjalanan dan baru salat asar di bani Quraizha. 

Yang pertama berpendapat bahwa Nabi memerintahkan demikian tidak lain agar mereka menuju bani Quraizha dengan segera sehingga ashar sudah sampai di tujuan. sebagian lain menaatinya persis seperti apa yang diucapkan nabi, yakni salat ashar setelah sampai di tujuan. 

Kedua pihak tak sabar betemu nabi utuk menanyakan, siapakah yang benar diantara keduanya. Sebertemunya dengan Nabi bukan jawaban siapa yang benar dan salah yang didapat, Nabi malah tersenyum. Kalau dalam kaidah hadis tersenyum nya nabi ini adalah pembiaran. Atau pembenaran nabi atas apa yang dilakukan sahabatnya. Berarti baik yang salat saat masuk waktu ashar maupun yang salat saat sampai di Bani Quraizha keduanya benar. Atau dalam bahasa lain, baik yang mengartikan perintah nabi dengan pendekatan akalnya maupun yang menjalankan perintah Nabi secara presisi keduanya benar. Jika Nabi saja menghadapi perbedaan pendapat dengan senyuman, kenapa umatnya harus marah-marah saat berbeda pandangan?

Beruntunglah Bung Karno dan natsir karena keduanya hidup dan berbeda pendapat dimasa belum ada media sosial. Andaikata keduanya hidup masa ini dan melontarkan pendapatnya di media masa, mungkin sudah ada dua pendapat yang saling berhadapan saat ini, sebagian menjadi cyber army bertagar #cucibejanadengankreolin dan sebagian lain melawannya dengan tagar #cucibejanadenganairdantanah lalu akun facebook Natsir suspend karena di report oleh pengikut Bung Karno dan pengikut Bung Karno sudah dipersekusi di dunia nyata oleh pengikut Natsir. 

Berbijaklah dalam berbeda pendapat! Jika kita berangkapan orang lain salah, maka mungkin orang lain pun menganggap kita salah. Jika orang lain bisa jadi berpendapat salah, maka begitupun dengan pendapat kita yang sangat mungkin keliru. 

*Penulis adalah guru PAI di SMAN 1 Cikarang Utara

 Sumber gambar: FB The Artidote
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar