Ihsan Kamil: Bocah Tangguh yang Mengalahkan Kekurangannya


Sella Rachmawati
Semua anak adalah spesial. Bagaimanapun kondisi seorang anak, bagi orang tua anak selalu memiliki tempat istimewa di hati mereka. Setiap orang tua mengharapkan anak terlahir normal, tumbuh dengan baik, memiliki kecerdasan, dan kemampuan di beberapa bidang. Sayangnya, tidak semua anak terlahir beruntung. Pernah mendengar anak penderita down syndrome? Kelainan ini tidak bisa dideteksi dini, biasanya anak down syndrome baru dapat diketahui saat ia sudah dilahirkan.

Ialah Ihsan Kamil, anak pasangan Bapak Asep Asipa dan Ibu Neneng. Terlahir 15 tahun lalu dengan keadaan sehat, namun tak berapa lama kemudian ia dinyatakan memiliki kelainan down syndrome. Orang tua mana yang akan mengira anaknya memiliki kelainan tersebut?

Kedua orang tuanya berusaha untuk menjadikan Ihsan menjalani hidupnya senormal mungkin. Ia kemudian disekolahkan di sekolah khusus. Selain belajar, sekolah juga bertujuan untuk melatih segala saraf ditubuhnya yang terganggu fungsinya oleh kelainan yang ia derita, selain itu sekolah juga bertujuan untuk memperkenalkan lingkungan disekitarnya.

Beruntung, Ihsan besar di keluarga dan lingkungan yang memiliki kultur agama yang baik. Ayahnya seorang guru agama dan kepala sekolah di salah satu sekolah swasta di Cimahi. Selain itu, ayah Ihsan juga dikenal sebagai ustadz di lingkungannya, ia mengelola madrasah yang telah turun temurun dikelola oleh keluarganya sejak dahulu. 

Tak ayal, Ihsan terbiasa untuk mengunjungi madrasah dan masjid tempat ayahnya selalu memberikan ilmu agama. Bahkan saat Ihsan memasuki usia 15 tahun ia selalu meramaikan masjid dengan adzannya, walaupun suaranya tak begitu jelas karena faktor kelainan yang ia derita, namun Ihsan tetap mengumandangkannya dengan lantang. Bahkan bisa jadi, adzan adalah hobinya. Mungkin bagi sebagian orang yang tidak tahu kondisinya akan mencela suara adzan tersebut, namun tidak bagi kami yang mengenalnya. Semangatnya ini adalah anugerah luar biasa yang diberikan Allah kepada anak yang memiliki keterbatasan seperti Ihsan.

Selain adzan, Ihsan juga sering menghadiri pengajian anak-anak setiap malam, dia mengaji, memerhatikan materi, bahkan terkadang ia menegur teman-temannya jika tidak memerhatikan materi yang disampaikan oleh gurunya. Selain itu, Ihsan juga bisa terlihat sangat marah jika melihat kedua adik perempuannya diganggu oleh temannya.        

Setelah mengumandangkan adzan, apalagi adzan maghrib, biasanya Ihsan membaca shalawat. Ada yang membuatnya menarik, sering terlihat dalam beberapa kesempatan Ihsan menetesakan air mata saat melantunan shalawat itu, seakan Ihsan mengerti akan makna dari sebuah pengharapan syafaat kepada baginda Rasullullah.

Warga sekitar yang tidak tahu seluk beluk tentang anak berkelainan down syndrome  beberapa kali terlihat menjauhkan anaknya agar tidak bermain dengan Ihsan, entah apa sebabnya, padahal down syndrome bukanlah penyakit menular. Sejatinya, anak down syndrome juga perlu bermain dengan anak normal yang seumuran dengannya untuk memperkenalkan lingkungan dan kehidupan disekitarnya. 

Kini banyak orang mulai mengerti, bahwa setiap anak yang terlahir adalah istimewa, baik yang terlahir normal, sekalipun yang memiliki kelainan seperti Ihsan. Bahwa setiap anak yang lahir membawa berkah, baik untuk keluarga maupun lingkungannya. Ihsan membawa keberkahan berupa rasa syukur bagi siapa saja yang melihat kondisinya. Dengan segala keterbatasan itu, Ihsan tetap berupaya untuk menjadi anak yang dapat membanggakan orang tuanya, ia semangat pergi mengaji, ia selalu ingin mengumandangkan adzan, dan ia adalah kakak yang baik terhadap adik-adiknya.

Ihsan sekarang berada di tempat terbaik di sisi Allah. Ia meninggal karena sakit. Ihsan juga meninggalkan kesedihan yang mendalam, tak hanya bagi keluarganya tapi juga bagi mereka yang senantiasa mendengarkan adzannya di speaker  masjid. Ia meninggal akibat kelainan yang dimilikinya, Ihsan sangat rentan terkena penyakit serius, terlebih anak down syndrome juga sulit untuk berkomunikasi sehingga untuk mengetahui penyakit yang ia rasakan menjadi cukup sulit, bahkan sering kali anak tersebut tidak bisa membicarakannya.

Menurut Yacub, pendiri Ikatan Sindroma Down Indonesia dan Center of Hope, anak penyandang down syndrome memiliki risiko lebih tinggi akan masalah kesehatan dibandingkan dengan anak-anak normal. Beberapa masalah kesehatan yang erat kaitannya dengan anak-anak down syndrome adalah kelainan jantung, kepekaan terhadap infeksi pada mata maupun kelainan pada bentuk otak, cacat tambahan seperti usus pendek, tidak beranus/dubur, busung dada, lemah otot maupun kerusakan syaraf, dan alzhimer juga sangat rentan bagi mereka. 

*Penulis adalah guru PAI di Cimahi

Referensi
Yacub, A. R. (t.thn.). Down Syndrome. Dipetik 12 06, 2016, dari Dokter Kita: http://dokita.co/blog/down-syndrome/

Sumber gambar: FB Best Picture

3 komentar: