Gerakan dari Bawah


Panji Futuh Rahman

Secara hitung-hitungan statistik dari banyak lembaga, katanya Indonesia akan menghadapi fase bonus demografi. Yakni pada tahun 2030-2045. Pada kisaran fase itu, menurut para ahli, Indonesia secara mayoritas akan dihuni oleh orang-orang yang berada dalam usia produktifnya. Senada dengan hal tersebut, pemerintah entah sejak kapan memiliki wacana Indonesia emas 2045. Jadi rencananya pada ulang tahun yang keseratus bangsa ini ada berada di masa kejayaannya. 

Adanya dua wacana diatas; Bonus demografi pada 2030-2045 dan Indonesia emas pada 2045 menimbulkan sedikit kerisauan. Jika dikatakan pada tahun 2030-2045 indonesia secara mayoritas berisi orang di usia produktif (25-45 tahun). Maka generasi yang lahir pada tahun 2000-an lah yang sekiranya ada di usia matang kala itu dan mungkin yang menjadi tumpuk kepimpinan bangsa ini. 

Namun jika boleh dikata pesimis, penulis justru melihat generasi milenial ini mengesankan banyak keraguan dalam benak. Pada satu sisi mereka adalah generasi yang sejak kecil sudah sibuk dengan gawai. Tengok angkutan kota sebagai sampling-nya, perhatikan anak-anak SMA saat ini, apa yang mereka lakukan saat berada di dalam angkutan umum? 

Apakah ada yang senang mengobrol dengan orang yang baru bertemu di dalam angkutan? Agaknya sangat sulit—jika kita tak tega menyebutnya mustahil—menemukan generasi milenial yang tak kecanduan gawai. Bisa dibilang generasi ini buruk dalam segi bersosial dan bermasyarakat, mereka kehilangan ramah tamah ala bangsa timur.

Problem selanjutnya adalah munculnya wacana revolusi industri. Jika pada abad 18 akhir menjelang abad 19 awal, Eropa mengalami revolusi industri yakni bergesernya operasional pabrik dari semula menggunakan jasa manusia dan beralih ke penggunaan mesin. Sekian juta orang kehilangan pekerjaan, ekonomi goyah, masyarakat terancam keamanannya karena sekian juta pengangguran baru muncul di masyarakat. 

Tanpa penghasilan tidak bisa makan, tanpa makanan manusia sangat mungkin berbuat kriminal bahkan mungkin anarkis. Sedangkan menuju 2025, berhembus kencang wacana peralihan penggunaan jasa pekerjaan manusia oleh robot. Ini artinya melenials akan menghadapi sulitnya mencari lapangan pekerjaan.

Urusan belum selesai, mereka juga akan menghadapi sulitnya pasokan makanan. Pasalnya tak pernah ada surat kabar yang mewartakan adanya perumahan, apartment, bandara atau mall yang digusur dan dialihfungsikan menjadi sawah. Saking seringnya kabar mengenai penggusuran sawah dialihfungsikan menjadi bandara internasional, perumahan, apartmen atau keperluan mall dan sebagainya. 

Nampaknya kabar yang sebenarnya penting itu sudah kita anggap sepele dan dirasa angin lalu saja. Padahal, semakin banyak manusia sejatinya membutuhkan pasokan makanan yang banyak, tapi jika lahan terus berkurang, pasokan menipis sedangkan permintaan pasar begitu tingginya terhadap pasokan makanan, sebagaiaman teori ekonomi dasar maka harganya akan naik. 

Setelah itu, mendapatkan pekerjaan menjadi sedemikian sulit sedangkan harga kebutuhan pokok menjadi sedemikian mahal, padahal dua hal ini: lapangan pekerjaan yang langka dan harga kebutuhan pangan yang mahal adalah bensin bagi sepercik api konflik kecil sekalipun. Kedua hal tersebut sangat mungkin menjadi bahan bakar bagi munculnya chaos di masyarakat seperti konflik horizontal, distrust terhadap pemerintah, hingga disintegrasi bangsa.

Kalau sudah begini siapa yang salah? Apa ini salah presiden Jokowi? Bukan! ia tak terlibat membuat bangsa ini mengalami fase demografi, ia juga bukan dalang dibalik munculnya wacana revolusi industri mengganti tenaga manusia menjadi tenaga robot, ia juga tak ada urusan dengan jumlah penduduk yang terus naik dan makanan yang terus langka. 

Ini semua bentukan dunia, bentukan alam semesta yang tak bisa ditolak, bahkan jika presiden Jokowi tak lahir kedunia sekalipun, bangsa ini tetap akan menghadapi problematika yang begitu rumitnya nanti. Tak bisa juga kita hanya berpangku tangan pada pemerintah dan membebankan segala masalah ini pada pundak pemerintah lantas kita hanya ongkang-ongkang kaki sambil memaki-maki pemerintah.

Harus ada upaya masif dalam mencerdaskan anak bangsa, memberikan akses pendidikan yang adil hingga tak ada anak bangsa yang tak berkesempatan sekolah. Harus ada pergerakan bersama, tak hanya dari atas untuk menimbulkan kesadaran bersama, kecerdasan sosial hingga transfer nilai-nilai adat dan budaya. 

Gerakan itu harus muncul dari bawah dalam rangka urun rembuk membantu pemerintah menyiapkan pentolan-pentolan bangsa yang siap membawa Indonesia di fase bonus demografi itu pada kejayaannya di usia bangsa yang ke-seratus tahun.

Gerakan itu harus muncul dari masyarakat untuk membangun dirinya sendiri, gerakan itu harus dilandasi kesadaran bahwa jika upaya-upaya kearah sana tidak diwujudkan maka Indonesia bukan menuju kejayaan tapi sebaliknya menuju galian kuburanya sendiri. Dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat itu sendiri. kita biarkan pemerintah bekerja dengan segenap kemampuan nya, kita percayakan saja dulu. 

Sembari menunggu pemerintah kita terus berbenah menjadi lebih baik, kita sebagai masyarakat harus sama-sama menyingsingkan lengan baju dan turun tangan membangun bangsa ini lewat apa saja yang kita punya yang kita bisa dan kita mampu untuk bagikan pada sesama. 

*Penulis adalah guru PAI di SMAN 1 Cikarang Utara

Sumber gambar: FB All Art

Tidak ada komentar:

Posting Komentar