Filsafat Islam ala Prof. Musa Asy'arie


Oleh: M Jiva Agung W
Meskipun diskursus filsafat Islam masih amat asing sekaligus tabu dibicarakan di kalangan muslim awam Indonesia, tetapi nyatanya hal tersebut tidak berlaku di dunia akademik yang agaknya malah menjadikan ilmu ini sebagai salah satu primadona kajian keislaman kontemporer. 

Tentu fenomena ini tak lepas dari kepanjangan tangan ilmu filsafat agama yang mulai populer pada paruh akhir abad ke-18 di universitas-universitas Barat di mana agama-agama Timur tak lepas dari bahan kajiannya, termasuk Islam. Itu satu teori. 

Betapapun, teori lain mengatakan bahwa Filsafat Islam sebenarnya diperkenalkan kembali oleh cendekiawan muslim itu sendiri—dan mengaku juga tervalidasi dalam sumber primer maupun khazanah literatur keislaman (khususnya pada era Abbasiyah)—yang tersadarkan bahwa mereka ternyata telah tertinggal jauh, baik secara pemikiran/ilmu pengetahuan maupun out put material (teknologi), oleh negara-negara kolonial.

Barangkali kita dapat memasukkan Muhammad Abduh, tokoh yang dianggap sebagai pembangkit pemikiran-pemikiran muktazilah (Priatna, tt: 2), ke dalam konteks pembicaraan ini yang kemudian hari disemarakkan oleh  para scholars lainnya, termasuk Harun Nasution, cendekiawan lulusan Universitas McGill, Kanada, sekaligus mantan rektor UIN Jakarta yang digadang-gadang sebagai pentolan pemahaman keislaman yang serba rasional di Indonesia. 

Kegencarannya merasionalkan ajaran Islam ternyata tak sia-sia yang begitu jelas telah menginspirasi, baik secara langsung maupun tidak, banyak cendekiawan muslim Indonesia menuju ke arah pemahaman keagamaan yang lebih matang dan kokoh di mana mereka tidak lagi hanya mengandalkan iman in toto atau pun transfer keilmuan yang diterima secara taken for granted. 

Adalah Musa Asy’arie, filsuf muslim sekaligus guru besar UIN Yogyakarta, yang meskipun memiliki perbedaan di sana sini dengan Nasution tetapi sedikit banyak telah nyata mewarisi spirit rasionalitasnya. Keduanya sepakat untuk menekankan/menitikberatkan aspek berpikir/bernalar dalam memahami ajaran Islam, sesuatu yang selama ini seringkali disimpan dibalik punggung umat muslim. 

Dalam bukunya yang khusus membahas seputar filsafat Islam berjudul Filsafat Islam: Sunnah Nabi dalam Berpikir (terbitan LEFSI 2001) Asy’arie pertama-tama mencoba untuk mengurai defisini filsafat dan Islam yang jika telah digabung maka akan memiliki makna sebuah olah pikir yang radikal, bebas, yang berada pada tataran makna dan memiliki sifat, corak, karakter yang menyelamatkan dan memberikan kedamaian hati. 

Berbeda dengan kebanyakan filsafat Barat yang umumnya duduk di posisi kenetralan murni, Asy’arie menuturkan bahwa filsafat Islam tidaklah bersifat netral sebab keberpihakannya telah jelas, yakni kepada keselamatan dan kedamaian (Islam). Tidak hanya itu, baginya filsafat Islam bukan hanya berbasiskan nalar-logis (rasional) melainkan juga memasukkan dimensi spiritual atau supra natural. Ia menyebutnya sebagai metode rasional transendental. 

Asy’arie meyakini bahwa di dalam kajian filsafat Islam terdapat berbagai macam pendekatan, mulai dari historis, doktrinal, metodik, organik, hingga teleologis. Untuk pendekatan yang pertama ia merumuskannya dari sepak terjang perjalanan Nabi Muhammad yang menurutnya dapat dikatakan sebagai tokoh filosof sejati, sebab suami Siti Khadijah ini bukan saja berpikir tentang sesuatu yang besar atau abstrak (membaca realitas kehidupan), tetapi juga berkontribusi langsung dalam pengaplikasiannya.

Selanjutnya adalah pendekatan doktrinal yang secara eksplisit terjelaskan dalam surat Al-Jumu’ah ayat 2. Di sana dikatakan bahwa Rasulullah mengajarkan umat manusia melalui kitab dan hikmah. Untuk kitab, sudah jelas, yang dimaksud adalah Alquran, sedangkan hikmah dipahami Asy’arie sebagai filsafat. Jadi, di dalam pendekatan ini ia hendak menegaskan bahwa filsafat Islam tidaklah mengada-ngada melainkan mendapatkan basis yang kuat di dalam sumber primer agama Islam. 

Untuk pendekatan metodik, sekali lagi ia memperkenalkan metode rasional transendental yang menurutnya merupakan sunnah Rasul––dalam berpikir. Maksud dari pendekatan ini ialah dengan cara menganalisis fakta-fakta empiris lalu mengangkatnya para kesadaran spiritual dan diakhiri dengan membangun visi transenden dalam memecahkan suatu persoalan tertentu. 

Masih senada dengan pendekatan metodik, pendekatan organik menitik beratkan mekanisme akal––sebagai kesatuan organik pikiran––dan kalbu dalam satu kesatuan pikir dan zikir. Sedangkan pendekatan teleologis, sebagaimana tujuan dari filsafat Islam itu sendiri, ialah untuk mentransformasi sesuatu ke arah transendensi, menyatukan dan memasuki pengalaman ke hadirat Ilahi.     

Beralih pada objek kajian, sejatinya bagi Asy’arie ilmu filsafat Islam menaungi hakikat segala yang ada, hanya saja karena adanya perbedaan ruang dan waktu, mungkin akan terjadi perbedaan dalam beberapa penekanannya, sesuai dengan konteks dan kebutuhan zaman. Dan di dalam buku yang disebut di awal, Asy’arie mengulas setidaknya delapan buah objek kajian. Yang pertama adalah perihal ontologi. Di sini ia mengurai tema-tema yang sudah lazim dibahas, seperti Yang Ada (being), Yang Nyata (reality), Esensi dan Eksistensi, Hakikat Kemajemukan (pluralitas), dan Hakikat Perubahan. Objek yang menjadi kajian keduanya ialah seputar epistemologi. Lalu tentang etika dengan menyuguhkan isu hakikat baik-jahat, etika politik-sosial-ekonomi-kebudayaan, dan tentu agama. 

Estetika menjadi objek kajiannya yang keempat sedangkan teologi, dengan membahas Tuhan dalam persepsi dan konsepsi, pengalaman-pengalaman spiritual dan sistem teologi tauhid, dibubuhkan dalam objek kajian yang kelima. Kosmologi, yang disimpan di bab ketujuh, menarasikan seputar hakikat alam semesta, teori penciptaannya, dan mekanismenya. Tak lupa Asy’arie juga meluangkan tempat bagi persoalan ruang, waktu, dan gerak yang tentu selalu menjadi bahan diskusi menarik sepanjang bentangan sejarah umat manusia.

Objek kajian yang selanjutnya ia paparkan ialah mengenai antropologi, menelaah hakikat manusia, penciptaan, kedudukan-peran, dan tujuannya. Uniknya, ia juga menilik konsep ruh, sesuatu yang amat jarang dikupas dalam buku-buku filsafat. Tidak sempurna rasanya jika kajian eskatologi dilewatkan. Di simpan di bagian akhir, dengan lihai Asy’arie mendiskusikan isu-isu seputar kematian, hari kiamat, kebangkitan, kehidupan akhirat, surga-neraka, dan perjalanan menuju Tuhan. 

Yang menjadi kekhasan dari produk gagasan Asy’arie ini ialah usahanya untuk memadukan dan menyintesiskan dua buah pandangan yang sejak dulu sulit untuk “berdamai” yakni dari golongan rasionalis, dan di sisi lain dari kaum sufistik. Masing-masing mengklaim bahwa kebenaran hanya akan didapat melalui proses seperti yang mereka jalani. Untuk itu, upaya yang dipromosikan oleh Asy’arie ini, meski tak tergolong baru sama sekali, bisa menjadi sebuah alternatif jawaban, sekaligus semakin memperkaya khazanah ilmu keislaman. 

Agaknya pandangan-pandangan Asy’arie ini telah dipaparkan pula oleh seorang filsuf sekaligus sufi besar, Al-Suhrawardi, yang kemudian disempurnakan Mulla Shadra yang menyatakan bahwa pencarian dan perolehan kebenaran dilalui, pertama-tama, dengan melakukan lakon tazkiyatun nafs (perbersihan jiwa), hingga memperoleh ketersingkapan rahasia-rahasia Ilahi yang levelnya tidak lagi ilmul yaqin melainkan telah mencapai haqul yaqin (kebenaran yang tak diragukan sedikit pun karena merupakan pemberian Tuhan secara taken for granted), yang pada akhirnya dapat dideskripsikan ke dalam cara-cara diskursif-logis (demonstrasional). 

*Penulis adalah guru PAI di Bandung

Referensi:
Priatna, Tedi. (tt). "Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu'tazilah" Artikel, hlm. 1-13
Sumber gambar: FB Seyyed Hossein Nasr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar