Dialog Antara Selembar KTP dan Status Beragama

Nir

Gesekan mesin roda dua dan roda empat di ruas jalan memulai polusi. Kendaraan berlalu-lalang padat merayap. Jalanan lumpuh. Tak lagi dapat dibedakan, mana ruang transportasi dan mana ruang pejalan kaki. Trotoar beralih fungsi menjadi pangkalan pedagang kaki lima. 

Kepulan-kepulan asap knalpot berdansa di udara, bergabung dan membuat pesta bersama asap-asap pabrik. Matahari hanya mengamati semua dari jauh, dari jarak pandang yang diatur dengan kecepatan cahaya. Di kota yang penuh sesak oleh manusia dan mesin-mesin, sebuah bus tua berhenti, menurunkan seseorang bertampang preman dan mengangkut beberapa anak berseragam. Setelah usai semua perkara, bus tua itu melaju lagi.

Si tampang preman berjalan gontai. Ia mengambil dompet di saku celananya. Mengamati helai-helai rupiah dan selembar KTP (kartu identitas penduduk) yang kemudian ia cabut secara paksa. Sejenak ia amati lekat-lekat KTP tersebut, kemudian tersenyum simpul. 

Dilemparnya dompet ke tong sampah dan membuang KTP begitu saja. Langkah gontainya diteruskan hingga ia tenggelam di persimpangan. Selembar KTP keluaran lama itu pun terombang-ambing oleh angin, sedang nasib si dompet, biarlah nanti petugas berseragam kuning yang mengurusnya. Angin membawa terbang KTP hingga terkapar dibawah lampu jalanan. Setelah lama, samar-samar sebuah percakapan kecil mulai terdengar. Ya, sebuah dialog yang sepertinya bersumber dari KTP dan isinya.

“Hai komponenku, apa kabar? Masih lelah? Yah sudahlah, lanjutkan lelapmu.” Ujar KTP

Aku tak bisa terlelap. Bisakah kau dongengkan aku?” Jawab Status Beragama

Tentang apa? Tragedi pencurian dompet milik si empunya KTP ini?”

 Ya. Tapi kurasa itu bukan sebuah dongeng. Jadi, mengapa si tampang preman tersenyum kala membacamu?”

 Entahlah, mungkin ia mengejekku karena aku bukan elektrik KTP, melainkan hanya selembar laminating."

Aku tadi mendengar ia bergumam. Begini agamanya sama denganku. Apa aku salah?”
 
Bukan, dia yang salah.”

 Apa yang salah? Karena ia mencuri dompet pemilik KTP ini?”

Benar sekali.”

 Mungkin helai-helai rupiah terlalu menggodanya.”

 Seharusnya, jika statusnya beragama, pasti ia tahu bahwa mencuri itu berdosa. Bukankah semua agama mengajarkan kebaikan? Bisa saja ia juga akan di tangkap jika ketahuan.”

 Status hanya sebagai formalitas. Dosa tak lagi menjadi hantu yang menakutkan. Karena ketakutan yang sebenarnya adalah kehidupan. Peduli apa soal dosa? Urusan yang abstrak terlalu rumit untuk diperbincangkan. Ketahuan? tak kau tengok rampok berdasi yang duduk di teras TV? apa mereka di tangkap? sudahlah, agama tak lagi dipusingkan di abad ini.”

 Mengapa begitu?”

 Kau tahu? Dari dua ratus sekian juta penduduk Indonesia, semuanya mencantumkanku pada KTP-nya. Tapi apa? Ini hanya pencitraan dan teks. Bukan lagi soal agama. Mungkin agama telah menjelma rupiah dan menina bobokan kesadaran moral pada kegelapan materi yang bersahaja."

 Jadi intinya?”

 Beberapa oknum menganggapku hanya bias tanpa kontribusi pasti pada Tuhannya. Hanya pemenuh ayat pertama pada pancasila yang berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa tapi tak mengerti siapa yang dituhankan. Entah Tuhan entah uang. Aku kecewa, tapi aku bisa apa?”
 Kita hanya bisa mengamati dan berharap. Siapa tahu angin sore ini sudi menerbangkanku pada tempat yang ramai dengan orang yang sedang memperbincangkan agama. Kemudian kita segera tahu, apa Tuhan masih penting atau hanya menjadi pelengkap kehidupan saja.”

“Di barat sana kabarnya orang-orang tak lagi dibuat pusing oleh agama. Agama adalah urusan intim antara Tuhan dan hamba, bukan hal yang harus diperdebatkan publik, disiarkan di seantero stasiun televisi. Ah lebih baik mereka mengurusi perekonomian negara yang semakin hari semakin ngos-ngosan. Bukankah begitu lebih baik?

“Lebih baik untuk siapa dulu? Kebaikan sepertinya sudah sama seperti kebenaran. Hanya ada dalam kesepakatan bersama antar oknum, selebihnya dapat sisa-sisa dan keberuntungan. Harapanku saat ini sederhana, semoga aku tak segera dipungut oleh petugas kebersihan. Aku tak ingin musnah sebelum mengetahui sampai kapan orang-orang di Indonesia berhenti mempermasalahkan agama.

“Lucu memang jika mengetahui masyarakat Indonesia masih memperdebatkan tentang agama siapa yang paling benar. Bukankah dasar negara adalah pancasila yang diambil dari Kitab Sutasoma? Bukan dari Al-Quran, Injil, Weda dan kitab suci lainnya?

“Sudahlah, mari kita istirahatkan raga kita di trotoar ini saja. Rasanya komponenku yang lain sudah bungkam dan menurut pada takdir yang berjalan.

Angin malam berembus, membawa KTP terbang bersama dedaunan kering dan sampah plastik, kemudian menurunkannya di depan pasar tradisional. Bercampur amis darah ikan serta bau selokan yang menyengatkan aroma busuk, selembar KTP laminating tergeletak, masih dalam lelapnya yang tentram. Sampai di sebuah subuh yang beku dengan suara para pedagang yang baru datang, membangunkannya. Sepagi itu pasar sudah riuh meributkan entah. Perlahan KTP yang baru terjaga menguping. Kemudian membangunkan Status Beragama.

“Hei bangun! Kau akan dihapus dari tubuhku!” Ujar KTP

“Apa? Kau bercanda? Apa hanya muslihat untuk membangunkanku?” Status Beragama terbangun kesal.

“Tidak. Dengarkan saja percakapan mereka. Sstttt…

“Ah orang pasar ternyata membaca koran juga, meskipun akhirnya berakhir menjadi bungkus sayur atau ikan.

“Kau tak dengar ucapanku? KAU AKAN DIHAPUS!!! Kenapa malah membahas orang pasar yang tidak penting itu?

“Iya aku tahu, aku dengar. Biar saja dihapus, toh bukan urusanku. Agama kan urusan hamba dan Tuhan, yang dihapus hanya status diKTP. Bukan keyakinan. Biar tidak penting, ini pengetahuan baru buatku. Terlalu lama terkurung di dalam dompet apek itu menjengkelkan juga. Aku jadi buta informasi, bahkan tentang orang-orang pasar yang membaca koran, aku juga baru tahu.

“Benar juga sih. Pasti masyarakat juga baik-baik saja, toh keyakinan mereka masih tetap ada. Hahaha, kelihatannya bahagia sekali kau keluar dari dompet. Mau berterimakasih pada pencuri waktu itu?

“Iya, tapi aku tidak tahu dimana keberadaan pencuri itu. Kau tidak senang berada diluar?

“Biasa saja. Toh sebenarnya tempat KTP memang di dalam dompet. Tidak keluyuran sampai ke pasar seperti saat ini.

“Ya nanti kalau kau disapu dan dibuang ketempat sampah umum, mungkin kita akan menemukan banyak KTP yang juga keluyuran. Berdoa lagi sana! Biar angin mau meniupkan kau ke tempat yang lebih nyaman. Aku masih mau jalan-jalan. Malas ada di pasar, bau.

“Eh kemarin aku berdoa ya? Pada siapa?” 

“Seingatku pada angin. Tuhanmu angin?

“Tuhanku manusia, tapi yang melahirkanku adalah mesin cetak. Jadi gimana?

“Ah bikin runyam saja. Kebanyakan Tuhan kau itu. Satu saja cukup. Di dalam pancasila kan ada. Tuhan itu esa, bukan jamak.”

“Iya nanti biar aku pikirkan lagi siapa yang paling berjasa, mungkin itu Tuhanku. Sementara, biar aku berdoa pada angin lagi ya. Aku juga bosan di pasar, terlalu ramai. Wahai angin yang baik, tolong tiupkan lagi aku ke tempat yang sedikit lebih nyaman. Amin.

Sementara mereka larut dalam pejam doa, angin tak kunjung datang berembus barang sedikit saja. Sampai lama, yang datang justru hujan. Air segera saja penuhi selokan yang sudah mampat dengan sampah plastik dan tangkai sayur. Banjir di pasar. Selembar KTP itu pun larut dalam keruh genangan panjang sampai jalan raya. Aliran dan arus air yang kuat membuatnya tertambat di dekat lampu merah, terjebak dalam tanah basah. Di sudut kota yang lain, dengung soal penghapusan status beragama masih riuh diperdebatkan. 

Sampai pada suatu hari yang benderang. Koran-koran memasang “Kolom Status Beragama di KTP Resmi di Hapuskan” sebagai headline. KTP yang lalu, sudah tidak lagi terkubur di tanah basah dekat lampu merah. Ia kini berada di depan tempat pembuangan akhir. Raganya sudah kotor dan lapuk, kolom-kolom dan komponennya mengabur. 

Di sebelahnya, surat kabar keluaran hari ini mewartakan keadaan masyarakat pasca penghapusan kolom status beragama, lima tahun sudah kejadian itu berlalu. Ternyata keadaan masyarakat berbeda dengan dugaan sebelumnya. Kini pemuka-pemuka agama kehilangan ruang sebagai misionaris. Pamor sebagai ustadz, pastor, dan pendeta menurun. Kitab-kitab suci dibakar dengan dalih sudah ada dalam bentuk digital. Rumah-rumah ibadah sepi tak berpenghuni. Adzan dan lonceng-lonceng tak lagi terdengar bersuara. Bukankah pengatur waktu ibadah sudah ada di smartphone masing-masing? Sedangkan pemerintah sedang memperdebatkan penghapusan sila pertama pada pancasila. 

Tuhan menjelma rupa-rupa, ada bos, ada dosen, ada majikan dan banyak lagi. Lalu masyarakat bertanya-tanya, jadi Tuhan itu siapa? KTP pun bergumam pada dirinya “aku belum menjawab pertanyaanmu kala itu wahai status beragama. Yah, mungkin Tuhan itu tidak ada. Yang ada hanya keyakinan dan khayalan manusia mengenaiNya.” 

*Penulis adalah aktivis perdamaian YIPC

sumber gambar: Akun FB Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar