Dari Pengagummu



Irfan Nurhakim  
 Untuk dirimu yang kukagumi selama bertahun-tahun:
Aku menulis ini disudut bumi yang sedang baik. Bersama tugas-tugas akhir di jurusan DKV yang menumpuk. Semesterku sudah cukup banyak walau belum mencapai dua digit angka. Dan, entah mengapa, di saat sekarang, aku sedang ingat kamu dan banyak hal tentang masa SMA dahulu. Tentang teman-teman, tentang guru-guru dan juga tentangmu. Aku ingin kembali ke masa itu, masa dimana aku bisa bersama teman-teman yang seru, juga masa saat kita satu sekolah dimana aku bisa melihatmu hampir di setiap hari.
Kiranya ada banyak hal yang ingin kuungkapkan, namun tak bisa karena tak cukup berani untuk mengatakannya. Maka kutuliskan di sini, sebagai 'pelampiasan' atas apa yang bersemayam dalam hati. Yang ini adalah lebih baik bila dicurahkan dari pada dipendam dan menjadi jerawat batu di wajahku yang barangkali tak begitu tampan.
Aku adalah pengagummu, yang seringkali menggunakan cocokologi untuk menghibur diri sendiri seolah kita adalah jodoh. Dan itu, menjadi harapan yang tumbuh dalam diri untuk bisa membuatku merasa baik-baik saja. Aku menemukan persamaan kita: Aku di Bandung, kamu di Bogor. Kamu tahu apa yang sama dari kedua kota itu? Ya, kota yang sama-sama berawalan huruf B. 
Selain itu, ada kesamaan lainnya, yaitu inisial nama panggilan kita sama, ya kan Ra? Kemudian kampung halaman kita di kota yang sama juga. Aku senang dengan banyak hal yang sama antara kita, walau itu sederhana, walau kadang itu dipaksakan. Andai saja, perasaan kita juga sama, ya. Haha.
Sejak kapan aku mengagumimu? Kira-kira saat di sekolah menengah pertama yang kemudian rasa itu menjadi-jadi ketika menginjak SMA. Barangkali saat itu kamu cukup menjadi primadona, menjadi siswi yang 'terlihat' dan dikenal di sekolah karena apa yang kamu raih saat itu. Tak heran bila banyak siswa yang menyukaimu, termasuk aku. Berbeda denganku, yang barangkali 'tak terlihat' karena aku bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Aku hanya siswa yang saat itu biasa-biasa saja dengan pencapaian yang standar, yang kadang di bawah rata-rata.
Sekarang sudah memasuki tahun ketujuh dan aku masih setia menjadi penggemarmu. Bagiku, segala hal tentangmu adalah hal yang paling enak untuk kucerna, pembahasan asyik yang selalu membuatku antusias, tak ada habisnya.
Aku senang dengan hal sederhana yang kamu lakukan padaku. Seperti notifikasi postingan baru darimu. Maka aku akan menjadi manusia paling pertama yang menyadarinya, saat tak ada satupun like atau komentar terbubuh di sana. Hanya saja, aku akan diam, tak langsung menyukai dan menjadi manusia pertama--karena takut kamu curiga. Aku akan menunggu beberapa lama untuk kemudian menyukainya. Tak jarang aku akan memikirkan, kalimat apa yang akan kupilih untuk mengomentari postinganmu namun kemudian urung, karena tak cukup mental bagiku berbuat seperti itu.
Atau, hal lain yang membuatku bahagia adalah saat kamu menyukai postinganku di sosial media, apa lagi ada komentarmu tersemat di sana. Maka akan ada lengkung senyum di wajahku, kemudian tanpa menunggu lama akan bertambahlah koleksi screenshoot di galeri.
Aku akan senang bukan kepalang, ketika di grup angkatan kita semua membahas sesuatu. Maka aku akan menunggu moment yang tepat untuk berkomentar. Aku diam, menatap layar smartphone dan dengan komentar yang sudah siap kukirim. Namun aku akan menunggu moment yang tepat untuk mengirimkannya yaitu sesaat setelah komentar darimu. Agar komentar kita berdampingan seolah bahwa kita sedang berdampingan.
Oh ya, pernah juga, di suatu reuni, kita semua berbaur. Kamu ingat? Aku duduk dari jauh, bercanda bersama teman-teman, kemudian diam-diam aku mencuri pandang padamu. Entahlah kamu 'melihatku' atau tidak saat itu. Yang jelas, saat itu, aku memerhatikan bagaimana caramu mengedipkan mata, juga bagaimana kamu berbicara dengan pelan kemudian menutup mulut dengan tangan saat tertawa. 
Maka ketika foto bersama, aku akan berusaha mencari cara bagaimana agar aku bisa berdiri di sebelahmu, ya, lagi-lagi agar seolah kita sedang berdua. Dan cekrek! Berhasil. Barangkali itulah satu-satunya foto yang aku benar-benar di sebelahmu, yang bisa aku crop dan menjadi koleksi pribadi.
Tentang foto, aku adalah penyenang fotografi sedari dulu. Kamu tahu itu. Kamu tahu objek apa yang paling kusenangi saat mengambil foto? Ya, itu, saat objeknya adalah dirimu. Aku menyukai seni bagaimana cara mengambil gambarmu diam-diam, pelan-pelan kemudian tatapanmu menyergap mataku yang sedang membidikmu melalui lensa. Kemudian aku akan salah tingkat setelahnya. 
Tetu saja, ada rasa senang saat aku berhasil mengambil gambarmu dengan sempurna. Maka akan kusimpan atau kuunggah foto itu, dan ada rasa kepuasan tersendiri saat bisa menandaimu di sana, walau tak berdua, walau kau sedang bersama teman lainnya. Tak apa.
Bila boleh jujur, aku pernah kecewa juga padamu. Saat SMA dulu kamu malah pacaran dengan orang lain. Atau barangkali aku yang kecewa pada diri sendiri karena jangankan mendapatkanmu, mendekati saja aku tak mampu. Kamu tahu, apa yang membahagiakan setelah kekecewaan itu? Ya, saat tahu kabar kamu putus dengan pacarmu. Ada kesenangan. Ada harapan lagi. Ah, andai akulah yang jadi lelakimu saat itu, aku tak akan menyianyiakanmu. Sayangnya lelakimu saat itu bukan aku. Dan sayangnya, saat ini aku masih begini, masih belum berani mendekati.
***
Terima kasih untuk banyak hal sederhana yang kamu tak menyadarinya namun cukup membuatku bahagia. Aku ingin meminta maaf sebelumnya, karena pernah suatu ketika, aku mengedit foto kita menjadi berdampingan. Juga pernah mengedit satu wajah berisi setengah-setengah dari wajah kita. Yang kata teman dekatku wajah kita mirip. Kau tahu? Ngedit fotonya susah. Aku harus menyesuaikan gaya foto dengan fotomu yang kuunduh dari sosial media. Entah berapa banyak foto yang kuambil, sebelum akhirnya berhasil menjadi masterpiece yang hanya kusimpan pribadi tak terpublikasi.
Aku mau tanya, pernahkah kamu menyusun kata, bagaimana harus menyapa saat kita bersua? Aku pernah, bahkan sering. Aku akan menyusun kalimat untuk banyak kemungkinan saat kita berjumpa, pikiran akan mencari diksi yang bagus dan topik yang tepat. Namun, ketika sudah kutemukan tak ada keberanian untuk melontarkannya selain sapaan hey dan senyum yang kubuat semanis mungkin. 
Ya, bagiku, bahagia itu sederhana: saat melihat senyummu, saat kau balas pesanku, saat kau menyukai postinganku, saat kau wisuda atau saat kamu mengucapkan selamat ulang tahun. Namun, kesedihan pun jadinya sederhana: saat melihatmu sedih, saat pesanku hanya dibaca, saat tak kutemui dirimu di timeline, saat kau kenapa-kenapa atau yang paling sakit atau saat kudapati kamu berfoto berdua dengan pacar barumu. Apa yang kubisa, selain menghela napas panjang dan berdoa agar kau tetap bahagia?
Mungkin aku jatuh cinta padamu. Aku tak tahu apakah kamu tahu tentang ini atau tidak. Jujur, kadang aku dilema antara terus berjuang atau melupakan. Banyak orang yang bilang agar aku melupakanmu tersebab oleh kamu sudah bersama orang lain. Ah, sayangnya mereka belum tahu, hal apa yang sudah kulalui. Hal-hal yang sudah kulakukan.Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang? Barangkali, ingin jadi diri sendiri, menjadi pengagummu dari jauh yang mudah-mudahan suatu saat akan menjadi pengagummu dari dekat. Maafkan aku yang hanya tak mengungkapkan cinta dengan terang-terangan. 
***
Aku sayang kamu. Di sini, mudah-mudahan kamu bisa tahu itu.
Sementara aku menulis ini, suara Tulus terdengar di pengeras suara dengan merdu: mengagumimu dari jauh...

*Penulis adalah aktivis perdamaian Peace Generation, YIPC, dan mahasiswa UIN Bandung
 Sumber foto: Akun FB All Art

Tidak ada komentar:

Posting Komentar