Cinta Beda Agama: Resensi Buku Hujan Bulan Juni


Sella Rachmawati
Judul Buku     : Hujan Bulan Juni
Penulis            : Sapardi Djoko Damono
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan          : Agustus 2016
Tebal              : 135 Halaman

Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair, pujangga dan profesor di bidang sastra. Karya-karya berupa essai dan puisinya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Penghargaan yang ia terima pun tidak bisa dibilang sedikit, di antaranya adalah Iain Cultural Award (1978) dari Australian Cultural Council, Anugerah Puisi Putra (1983) dari Dewan Bahasa dan Sastra Malaysia, Hadiah Sastra (1984) dari Dewan Kesenian Jakarta, SEA-Write  Award (1986) dari Thailand, dan masih banyak lagi. Buku Hujan Bulan Juni ini  sebenarnya adalah salah satu puisi karya beliau yang dijadikan sebuah novel. 

Diceritakan bahwa Sarwono adalah seorang dosen muda dari UI yang selalu dipercaya oleh Kaprodi Antropologi di FISIP-UI untuk melakukan beberapa penelitian. Di sisi lain ia merupakan seorang pemuda keturunan Jawa, lebih tepatnya dari daerah Solo. Selain gemar melakukan berbagai macam penelitian, ia juga menyukai puisi serta menulis berbagai macam tulisan dan selalu ia kirimkan ke koran. Ia terkagum dengan puisi buatannya sendiri yang berada di halaman koran Swara Keyakinan

Sarwono bertemu Pinkan, gadis keturunan Manado-Jawa di rumah salah seorang teman SMA-nya, Pinkan adalah adik dari teman SMA-nya itu. Sejak pertama kali bertemu, Sarwono merasa menjadi pemeran utama dalam sebuah sinetron dan tentu saja ia beradu peran dengan Pinkan. Pinkan adalah wisudawan sastra Jepang yang sangat pintar dan kemudian ia dipercaya sebagai asisten dosen di jurusannya. 

Hubungan Sarwono dengan Pinkan sebenarnya sudah banyak diketahui penghuni kampus, bahkan jika Sarwono sedang sendirian dan bertemu dengan dosen muda lain ia akan ditanya: “kok sendirian? Pinkan mana?”. Selalu seperti itu. Hubungan antara Sarwono dan Pinkan enggan mereka sebut pacaran, mau disebut ­calon istri juga mungkin sekedar candaan. Entahlah, mereka terbelenggu dengan satu permasalahan yang menjadi dasar hubungan mereka: keyakinan. 

Setelah selesai melakukan penelitian di Yogyakarta, Sarwono kembali ditugaskan untuk melakukan penelitian di Manado dan kini Pinkan yang menjadi asistennya. Alasannya bahwa Pinkan asli orang Manado dan akan baik jika ia menjadi guide-nya. Selain melakukan penelitian, Sarwono diajak Pinkan untuk bertemu sanak saudaranya disana. 

Saat bertemu saudara-saudara Pinkan, terlebih tante-tantenya, terlihat bahwa Sarwono tidak disetujui oleh mereka jika harus menjadi bagian dari keluarganya. Hal ini dikarenakan perbedaan keyakinan antara Pinkan dan Sarwono. Bahkan tante-tante Pinkan berniat untuk menjodohkan Pinkan dengan pemuda lain yang juga tidak kalah hebat dengan Sarwono.

Walaupun demikian, Pinkan hanya cinta Sarwono, meskipun keyakinan mereka berbeda. Di sisi lain, Ibu Pinkan mulai memberikan tanda-tanda lampu hijau terkait hubungan anaknya dengan pemuda Jawa yang satu ini. Bisa dibilang hubungannya sudah mendapat restu. 

Setelah menemani Sarwono melakukan penelitian, Pinkan harus pergi ke Jepang. Ini adalah tugas yang diberikan Sensei Pinkan untuk menemani mahasiswa yang sedang melakukan studi di Jepang. Di tempat lain, sepulangnya Sarwono dari penelitian di Manado, ia tampak kelelahan, wajahnhya pucat pasi, badannya lemas: ia sakit. Ia memutuskan untuk pergi ke Solo beristirahat agar ada yang merawatnya di rumah. Semakin hari keadaan Sarwono tidak kunjung membaik. Akhirnya Sarwono harus dirawat, ia bermasalah dengan paru-parunya. 

Sarwono melarang siapapun menghubungi Pinkan terkait kondisinya tersebut. Namun pada akhirnya sampai juga kabar itu ke telinga Pinkan. Pada saat itu juga ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. 

Komentar:
Alur maju-mundur yang digunakan penulis membuat pembaca sedikit kebingungan, juga ada beberapa bahasa yang kurang familiar membuat pembaca harus mengulang kembali bacaannya. Namun, Pak Sapardi sangat piawai dalam mengolah kata juga cerita di dalam novel ini sehingga pembaca tidak dapat menebak cerita atau kejadian apa yang akan terjadi di bab selanjutnya. Sapardi menjadikan Sarwono sebagai tokoh utama yang menyukai sastra, dan puisinya yang indah membuat pembaca terkagum-kagum. 

*Penulis adalah guru PAI di Cimahi

Sumber gambar: www.kimfricung.blogspot.com

1 komentar: