Berislam: Bersatu dalam Keragaman


Rahmatullah Al-Barawi

Ada satu ungkapan menarik, jika dahulu Nabi Muhammad saw. berdakwah, untuk mengislamkan orang kafir, maka fenomena yang terjadi saat ini, justru sesama Muslim, berebut saling mengafirkan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Bukankah sesama mukmin itu bersaudara? Bahkan, dalam salah satu hadits digambarkan bahwa hubungan seorang mukmin itu laksana satu anggota tubuh atau bangunan yang kokoh.

Jika ditilik mendalam, salah satu akar permasalahannya ialah karena adanya ketidaksiapan dan kekurang dewasaan umat Muslim dalam menghadapi keragaman dan perbedaan pendapat. Saat ini, tuduhan kafir, musyrik, bid’ah, dan lain sebagainya, seringkali disematkan kepada saudara sesama muslimnya sendiri hanya karena berbeda pendapat. Semudah itukah kita melontarkan cacian dan makian?

Padahal, keragaman dan perbedaan pendapat telah mewarnai khazanah sejarah peradaban Islam di dunia dan Nusantara. Jika kita sadar dan membuka kembali sejarah-sejarah Islam, sebenarnya banyak khazanah-khazanah perdamaian yang ditemukan antar umat Islam, di samping beberapa catatan kelam masa lalu. Tentu, hal-hal baik yang ada di masa lalu dapat kita tingkatkan, dan hal-hal buruk, dapat dijadikan sebagai pelajaran untuk tidak masuk ke dalam lubang yang sama. Berikut akan saya paparkan sebagiannya:

1.      Masjid sebagai pemersatu umat
Sebagaimana jamak diketahui, salah satu fase perkembangan umat Islam di masa Nabi Muhammad saw. adalah ketika beliau bersama kaum Muhajirin hijrah ke Yatsrib (Madinah). Menurut Muhammad al-Ghazali dalam fiqh al-sirah sebagaimana dikutip oleh Zuhairi Misrawi, fondasi awal yang dilakukan oleh Nabi Muhammad di Madinah adalah menjadikan masjid sebagai sentral untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah Swt[1]
Masjid tersebut dibangun di atas lahan kurma milik dua anak yatim yang diadopsi oleh As’ad bin Zararah, yaitu Sahl dan Suhail. Menariknya, selama pembangunan masjid tersebut, kaum Anshar dan Muhajirin saling bahu membahu membangun masjid sesuai dengan arahan Nabi Muhammad saw[2]. 

Satu hal yang perlu dicermati, kaum Anshar merupakan masyarakat pribumi Madinah. Sedangkan kaum Muhajirin adalah masyarakat pendatang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah. Di tengah perbedaan sosial, ekonomi, dan budaya, mereka tetap dapat bersatu di bawah komando Nabi Muhammad saw. untuk membangun masjid. Pada masa ini, masjid menjadi simbol pemersatu dan tempat berkumpulnya umat Muslim di mana pembinaan dan pendidikan dipusatkan di masjid.

Hal ini tentu berbeda dengan fenomena saat ini, dimana masjid seolah-olah memiliki label dan madzhab tertentu, sehingga orang cenderung enggan ke masjid yang pahamnya berbeda dengan yang diyakininya.

2.      Madinah: simbol persaudaraan di tengah kemajemukan
Selain menggerakkan umat melalui masjid, di masa awal, Nabi Muhammad saw. juga mengikat persaudaraan kaum Anshar dan Muhajirin di bawah naungan ukhuwwah Islamiyah. Beliau mulai mereformasi pola relasi saat itu dengan membangun di atas relasi keyakinan yang menjunjung tinggi persaudaraan dan toleransi.[3]

Dengan semangat ukhuwwah Islamiyah, umat Muslim dapat bersatu di tengah kemajemukan suku dan budaya. Bahkan di masa tersebut, saling mewarisi harta kekayaan antara Anshar dan Muhajirin sudah menjadi satu tradisi, sebelum turun ayat yang membatasi pewarisan hanya sebatas orang-orang yang berhubungan darah (ulul arham).

3.      Ragam Bacaan Al-Quran
Salah satu keragaman dalam Islam juga nampak ketika mengapresiasi Al-Quran. Sejak awal, para sahabat membaca Al-Quran yang sama dengan cara dan logatnya masing-masing. Orang-orang Suriah mengikuti bacaan Ubay ibn Ka’ab, orang-orang Kufah mengikuti Abdullah ibn Mas’ud, sedangkan orang-orang Hims mengikuti al-Miqdad, dan orang-orang Basrah mengikuti Abu Musa.[4]

Keragaman bacaan Al-Quran tak lantas membuat mereka saling mengafirkan dan mengukur kebenarannya sendiri-sendiri. Para sahabat yang berasal dari berbagai suku dengan dialek (lahjah) yang beragam, membaca Al-Quran tidak hanya dengan dialek Quraish, tetapi juga dialek lain seperti Hudhayl, Tamim, Hawazin, Thaqif, Kinanah, Yaman, dll.[5]
Ini baru dalam satu aspek saja, yaitu pembacaan Al-Quran. Keragaman akan lebih terlihat ketika menelaah khazanah penafsiran Al-Quran. Dari masa ke masa, ribuan karya kitab tafsir sudah menjadi saksinya.

4.      Pelopor ilmu nahwu dari kalangan Syiah
Salah satu tokoh penting peletak dasar ilmu nahwu adalah Abul Aswad. Alkisah, Rasulullah saw. mendengar seseorang membaca ayat: innallaaha bari`un minal musyrikina wa rasulahu, yakni dengan mengkasrahkan huruf lam para rasulahu menjadi rasulihi. Rasul kemudian menegur dan memberi isyarat kepada Ali bin Abi Thalib agar meletakkan sebuah al-nahw (cara) dan merumuskan kaidah sehingga dapat mencegah kekeliruan dalam membaca. Kemudian Ali bin Abi Thalib meminta Abul Aswad Duali untuk menyusun kaidahnya.[6]

Abul Aswad hanyalah satu tokoh di antara banyaknya tokoh Syiah yang memberikan sumbangsih terhadap ilmu dan peradaban Islam. Jika kita masih berdebat dan berhenti pada pembahasan teologis, maka kita tidak akan banyak melihat permata-permata pengetahuan dari ilmuwan dan ulama Syiah.

5.      Bayt al-Hikmah: masa kejayaan Islam
Harun al-Rasyid (786-813 M) adalah tokoh yang masyhur dalam sejarah Islam. Beliau dikenal sebagai pecinta ilmu pengetahuan, sastra, dan filsafat. Begitu pula putranya, Khalifah al-Ma’mun (813-847 M), pada zaman dua khalifah inilah, Baghdad berkembang sebagai pusat peradabana dunia ditandai dengan penulisan dan penerjemahan buku.

Bayt al-Hikmah merupakan lembaga yang mengkaji ilmu pengetahuan, pelajaran berbagai bahasa, metode penerjemahan, dan penelitian ilmiah. Diskusi-diskusi ilmiah antara ulama dan ilmuwan juga berkembang di mana-mana. Hal ini melahirkan intelektual Muslim yang namanya dikenang sepanjang masa, seperti al-Kindi dan al-Khawarizmi[7]. Oleh karena itu, agama dan ilmu pengetahuan seharusnya berjalan selaras, saling mengisi dan berkontribusi satu sama lain. Sikap kritis dan ilmiah yang dibangun oleh tokoh dan filsuf Mu’tazilah saat itu, melahirkan karya-karya dan sumbangsih yang luar biasa bagi dunia.

6.      Dakwah Wali Songo: konstruktif, bukan destruktif
Dakwah kultural Wali Songo menggunakan beberapa metode yang secara inspiratif mencontoh gerakan dakwah Nabi Muhammad saw.[8] misalnya, berdakwah melalui jalur keluarga/perkawinan. Raden Rahmat (Sunan Ampel) menggunakan metode ini untuk memperluas dakwah Islam dengan menjalin hubungan genealogis dengan para tokoh Islam muda. Contohnya putri beliau yang bernama Dewi Murthosiyah dikawinkan dengan Raden Ainul Yaqin dari Giri, Dewi Murthosimah dikawinkan dengan Raden Patah (Bupati Demak) dan putri yang bernama ‘Alawiyah dikawinkan dengan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)[9].

Selain itu, basis pendidikan pesantren menjadi sarana awal untuk menanamkan nilai-nilai keislaman. Metode ini pertama kali dirintis oleh Maulana Malik Ibrahim yang mengemas pendidikan Islam dengan bentuk asrama yang pada saat itu banyak digunakan oleh pendeta dan biksu. Hal ini merupakan langkah persuasif-edukatif dalam mengembangkan dakwah Islam yang kultural sehingga masyarakat tidak kaget dalam menerima nilai-nilai Islam.[10]

Tak kalah pentingnya adalah mengembangkan kebudayaan Jawa. Contohnya perayaan Sekaten yang sampai saat ini masih berlangsung tiap tahunnya. Perayaan Sekaten mengemas budaya yang di dalamnya terdapat nilai-nilai islami. Dengan kata lain, kulitnya budaya, tetapi substansinya islami.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejak awal, Islam telah berkembang dan diapresiasi secara beragam. Keragaman tersebut tidak menjadi penghalang untuk bersatu, justru dari keragaman itulah persatuan semakin indah. Selain itu, Islam juga memiliki sifat yang apresiatif terhadap ilmu pengetahuan dan budaya lokal. Karenanya, ajaran Islam lebih mudah diterima dan dapat berkembang dengan pesat.

Dua karakteristik inilah yang seharusnya dikembangkan dalam berdakwah dan menjalankan ajaran Islam. Dengan banyaknya ilmu pengetahuan, tak akan mudah seseorang untuk mengafirkan dan menyalahkan orang lain. Sebaliknya, dengan wawasan yang luas, orang akan lebih mudah menerima perbedaan.

Sejatinya tuduhan kafir terhadap orang lain memiliki dampak yang sangat besar, sebagaimana ancaman Nabi saw., jika seseorang menuduh orang lain kafir, padahal tidak demikian, maka tuduhan kafir tersebut kembali kepadanya. Inilah salah satu prinsip yang dipegang oleh Yusuf al-Qaradhawi dalam fiqh al-ikhtilaf, bahwa selama seseorang masih mengucapkan Laa Ilaaha illa Allah, maka jangan mengafirkannya.

Selain itu, sikap apresiatif terhadap budaya lokal atau dalam bahasa agama, ‘urf, menjadikan ajaran Islam dapat menyebar dan dirasakan oleh masyarakat banyak. Islam tidak hanya khusus bagi orang Arab semata, tetapi, juga bagi seluruh masyarakat, bahkan seluruh alam, rahmatan lil ‘alamin. Karenanya, dakwah-dakwah yang aplikatif seperti yang dikembangkan oleh Wali Songo harus terus ditingkatkan. Sehingga yang berkembang adalah citra Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Wallahu A’lam bish Showwab.

*Penulis adalah alumni Tafsir Al-Quran dan Hadis UIN Yogyakarta dan aktivis perdamaian YIPC

Sumber gambar: FB Drawing Pencil

[1] Zuhairi Misrawi, Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad Saw, (Jakarta: Kompas, 2009), hlm. 227.
[2] Zuhairi Misrawi, Madinah: Kota Suci..., hlm. 227-228.
[3] Zuhairi Misrawi, Madinah: Kota Suci..., hlm. 233.
[4] Al Makin, Keragaman dan Perbedaan: Budaya dan Agama dalam Lintas Sejarah Manusia, (Yogyakarta: Suka-Press, 2016), hlm. 126.
[5] Al Makin, Keragaman dan Perbedaan..., hlm. 127.
[6] Hasan Sayid Shadr, Madrasah Ahlulbait: Sumbangan Terhadap Ilmu dan Peradaban Islam, terj. Ammar Fauzi, (Jakarta: Nur Al-Huda, 2016), hlm. 297-298.
[7] Abdul Hadi WM, Cakrawala Budaya Islam, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2016), hlm. 215-218.
[8] Ridin Sofwan (dkk.), Islamisasi di Jawa: Wali Songo Penyebar Islam di Jawa, Menurut Penuturan Babad (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004),  hlm. 271-280.
[9] Ridin Sofwan (dkk.), Islamisasi di Jawa…, hlm. 271.
[10] Ridin Sofwan (dkk.), Islamisasi di Jawa…, hlm. 273.

1 komentar: