Aksesibilitas Anak Berkebutuhan Khusus



Hennika Arumsari
 “Seorang bayi tak dilahirkan -ke dunia ini- melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi –sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? Abu Hurairah berkata, Apabila kalian mau, maka bacalah firman Allah yang berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.’ (QS. Ar-Ruum ayat 30). Telah menceritakan kepada kami Abu bakr bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdul ‘Alaa Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid; telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaq keduanya dari Ma’mar dari Az-Zuhri dengan sanad ini dan dia berkata ; ‘Sebagaimana hewan ternak melahirkan anaknya, -tanpa menyebut cacat (HR. Muslim No. 4803).
Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk. Lengkap dengan segala kemampuan dan keahlian terbaiknya. Dalam salah satu artikelnya, Al-Kautsar Kalebbi menyebutkan bahwa dalam struktur jasad dan ruhiyah itu Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang, yang dalam psikologis behaviorisme disebut prepoten refleksi (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang). Dalam pandangan Islam, pada dasarnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan suci. Kesucian manusia itu dikenal dengan istilah fitrah (Kalebbi, 2013).
 
Setiap manusia dilahirkan dalam fitrah, yang di dalam dunia pendidikan Islam memiliki makna bahwa manusia sebagai makhluk pedagogik. Maksudnya, mereka adalah makhluk Allah yang dilahikan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik. Oleh karenanya, berbagai potensi dasar atau fitrah yang dimiliki manusia harus ditumbuhkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayat (Majid, 2013)

Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap lembaga pendidikanlah untuk dapat memberikan proses dan fasilitas pendidikan yang terbaik bagi seluruh peserta didiknya. Namun, bagaimana dengan dunia pendidikan bagi anak-anak disabilitas? hak-hak mereka telah terpenuhi? 

Satu hal yang harus ditanamkan dalam benak setiap pendidik, yaitu anak-anak berkebutuhan khusus juga mempunyai hak yang sama dalam hal mengenyam pendidikan, karena mereka juga terlahir sebagai fitrah, lahir sebagai manusia yang mempunyai potensi. Potensi yang harus dikembangkan melalui berbagai akses penunjang yang biasa di sebut dengan aksesibilitas. 

Akses-akses tersebut sangat berguna untuk membantu setiap anak berkebutuhan khusus sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Sayang, realitanya masih banyak lembaga pendidikan, terkhusus juga SLB di Indonesia, yang belum memiliki aksesibilitas yang memadai. 

Betapapun, kita tidak menutup mata bahwa usaha-usaha untuk mengarah pada perbaikan aksesibilitas terus-menerus ditingkatkan. Beberapa penelitian menujukkan bahwa sejumlah aksesibilitas sudah diterapkan dan digunakan di beberapa Sekolah Luar Biasa. Baik dari segi fasilitas, maupun metode pembelajaran. Selain itu, bagi anak-anak berkebutuhan khusus juga telah mendapat perhatian dari pemerintah pusat berupa dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang diwujudkan dalam pemberian perlengkapan sekolah serta peralatan praktik. 

Dengan adanya perhatian dari pemerintah pusat serta adanya kemudahan akses informasi, telah memberikan efek positif bagi para orang tua untuk mau menyekolahkan anaknya yang berkebutuhan khusus di SLB C bagian Tunagrahita. Sedangkan di level masyarakat, perhatian kepada anak berkebutuhan khusus ditunjukkan dengan adanya tenaga pendidik yang ahli menangani anak berkebutuhan khusus (Andhita, 2014).   

Sejatinya mereka pun memiliki cita-cita, layaknya anak-anak normal lainnya. Mereka berkembang, mengamati, dan memiliki rasa ingin tahu. Maka jika kekurang-kekurangan yang mereka miliki ditransformasi sedemikian rupa melalui proses pendidikan yang sangat optimal, betapa banyaknya generasi bangsa yang bisa lahir dengan kemampuan yang extraordinary, karena sejatinya bukan kekurangan yang mereka miliki, tetapi hanya kelebihan yang belum tersalurkan. Maka lihatlah pada kemampuan mereka, bukan kekurangannya!

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam, UPI Bandung

Referensi
Andhita, U. F. (2014). Aksesibilitas Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Jember (Studi Kasus di. Skripsi , vii.
Kalebbi, A. (2013, November 20). FITRAH DALAM PERSPEKTIF AL- QURAN. Retrieved Januari 6, 2017, from alkautsarkalebbi on the Journey: http://alkautsarkalebbi.wordpress.com
Majid, N. (2013, Desember 16). KONSEP PENDIDIKAN ISLAM TENTANG FITRAH MANUSIA. Retrieved Januari 6, 2017, from afifbocahmujur: afiflanus.bogspot.com


Sumber gambar: FB The Artidote

2 komentar: