Surya Dinullah

Pertemuan dengan sahabat-sahabat lama sejenak membawaku berpetualang dalam alam pikiran. Pernyataan spontan yang membuatku mempertanyakan kembali kehidupan seperti apa yang seharusnya aku jalani kini, terlontar dalam obrolan kami. Entah mengapa pernyataan tersebut membuat aku semakin bergairah untuk hidup.

Awalnya pembicaraan kami tidak jauh dari pernikahan, pendidikan, usaha atau pekerjaan. Hal-hal tersebut lah yang cukup banyak jadi bahan untuk berbincang sehingga kami dapat melepas rindu karena cukup lama tidak bertemu.

Hingga pada akhirnya giliranku untuk membahas tentang kegiatanku selama ini. Satu persatu teman-teman yang telah mendengarkannya memberikan beberapa masukan termasuk sebuah komentar yang membuatku harus kembali mempertanyakan eksistensiku sebagai manusia, mempertanyakan kembali waktu-waktu yang telah terpakai yang pada usia saat ini di mana seharusnya aku telah mencapai sesuatu.

Lalu aku mencoba menari-nari mencari ukuran pencapaian yang seharusnya tercapai oleh manusia yang tengah berusia 25 tahun.

Sialnya, hal tersebut membuatku sadar bahwa aku terlalu cuek dengan dunia. Ketika aku mengukur dengan materi, ternyata aku hanya baru menghasilkan 648.000 ribu rupiah setelah 2 bulan lulus kuliah sebagai tenaga pendidik di sebuah sekolah negeri (jumlahnya dirapel dua bulan biar ga terlalu ngenes hahaha). Pantas saja temanku berkomentar “maneh teh nanaonan nu, kacape-cape kikituan” dalam bahasa Indonesia berarti “kamu itu apa-apaan nu, capek-capek berkegiatan seperti itu”.

Belum lagi kegiatan dengan komunitas-komunitas lain yang malah aku harus merogoh kantong guna iuran bulanan kegiatan, seperti membuat rak buku untuk perpustakaan keliling menggunakan motor bebek; kegiatan kepanti-asuhan mengajar seni lukis; dan kegiatan-kegiatan lainnya yang harus membuat aku puasa makan di cafe-cafe mahal.

Tapi poin pentingnya dari tulisanku kali ini bukan pada curhatan seorang sarjana muda yang mencoba membuat kesan pilu atau heroisme. Namun ada pada, hmmmm entah lah. Mungkin tak ada poin penting sebetulnya hahahaha.

Jika kata Gie “Kita yang tak pernah menanam apa-apa, tidak akan menuai apa-apa.” Berbanding terbalik dengan itu, maka aku mencoba menanam sebanyak mungkin hal-hal yang tidak merugikan orang-orang dan mencoba untuk tidak menanam angin agar tidak menuai badai dikemudian hari. Sederhananya, kita ini hidup dalam sebuah konsep sebab-akibat “apa yang kita lakukan, akan kembali kepada kita” atau biasa disebut dengan karma.

Temanku yang melakukan sebuah perjalanan jauh menggunakan kereta api menuturkan bahwa dirinya menjadi saksi jika seseorang telah percaya bahwa karma itu nyata maka seseorang itu pasti akan selalu berbuat baik dalam menjalani hidupnya.

Ketika temanku itu kemalaman di sebuah stasiun kereta dan tidak mungkin mencari hotel atau semacamnya untuk beristirahat karena memang budgetnya tidak ada (dasar treveller kere). Tapi seperti yang telah dijanjikan, bahwa orang-orang kere ialah yang paling disayang Tuhan, maka Ia memberikan pertolongan-Nya lewat petugas kebersihan yang kebetulan jaga malam.

Melihat gelagat temanku yang terlihat bingung, petugas kebersihan itu pun menawarkan agar temanku bermalam di stasion saja, bahkan ia mengarahkan temanku pada satu ruangan tertutup agar tidak langsung terterpa angin ketika tidur. Mungkin sang petugas paham betul, jika tubuh sekurus temanku itu biasa tumbang di hempas angin malam. Makanya ia menyuruh untuk tidur di dalam ruangan.


Bagi orang tidur, malam akan terasa sekejap, apalagi jika bermimpi indah. Nah, entah apa yang dimimpikan oleh temanku itu, dia dibangunkan paksa ketika subuh, sayangnya bukan untuk solat subuh!

Tapi untuk dimarahi oleh orang yang berseragam lengkap PT KAI, dan yang sedihnya yang paling banyak dimarahi adalah petugas kebersihan yang memperbolehkan temanku tidur di ruangan tersebut. Sial, orang baik memang tak selalu bernasib baik. Tapi bukan orang baik namanya jika tak siap dengan risiko-risiko semacam itu.

Temanku yang tak merasa enak dengan petugas yang dimarahi itu mencoba meminta maaf.

Dia berkata: “Pak maaf, gara-gara mengizinkan saya tidur di sini, bapak jadi kena marah (oleh) atasan.”

Sang petugas: “Ndak papa mas, Bapak cuma berharap jika anak bapak nanti mengalami kesulitan, mudah-mudahan ada yang bantu juga.”

Jawaban sang petugas kebersihan begitu sederhana, cerminan hidup orang yang percaya pada karma sebab alam merespon pikiran perbuatan positif maupun negatif dan mengembalikan ke tubuh dengan balasan yang sama. Jika tidak di dunia, maka ia akan kembali ke dimensi yang lain.

*Penulis adalah guru PAI

Sumber gambar: FB Other Perspective







Rahmatullah Al-Barawi

Hampir setiap hari kita tidak pernah lepas dari teknologi, terutama gadget. Mulai dari orang dewasa hingga anak balita sudah dapat mengaksesnya. Karenanya semua informasi dapat dengan mudah ditemukan melalui benda kecil tersebut, termasuk di dalamnya pesan-pesan broadcast dari whatsapp dan messenger seputar hadis Nabi Saw.

Pola pesan yang beredar di sosial media secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: mengutip satu dua ayat atau hadis saja, diterjemahkan, kemudian ada penjelasan hadis yang dipahami secara tekstual, dan diakhiri dengan gebrakan semangat untuk ‘hijrah’, berubah, dan bantu viralkan pesan tersebut.

Boleh dikatakan setiap orang di era millennial saat ini dapat mengakses dan belajar keislaman secara praktis dan cepat. Betapa tidak?, cukup searching kata kunci di mbah google, maka ia akan mengeluarkan ribuan fatwa yang dapat diseduh siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Jika kita lapar, cukup pakai aplikasi go-food, maka semua hidangan akan tersedia tanpa perlu bersusah payah mengeluarkan tenaga.

Mirisnya paradigma tersebut juga diaminkan untuk digunakan dalam belajar agama. Dewasa ini, terlihat semangat keberagamaan masyarakat Indonesia semakin meningkat, namun sayang, cara yang ditempuh layaknya aplikasi go-food tadi, cukup belajar sebentar dari internet, baca beberapa artikel, blogspot, sudah dapat menyimpulkan fatwa.

Celakanya, fatwa atau pendapat ulama-ulama terdahulu seringkali diabaikan hanya dengan melihat satu teks ayat atau hadis yang dipahami secara tekstual. Luar biasa bukan? Ulama yang sepanjang hayatnya belajar ilmu agama dengan mudah di-bid’ah-kan, dikafirkan, dan yang lebih parah di-neraka-kan.

Sobat muda, memahami hadis itu ibarat memahami hati wanita yang sukar untuk dimengerti. Bukan berarti hadis itu sama dengan wanita lho, jangan di-pleset-kan, nanti jatuh, jadi sakit. Hadis Nabi Saw itu adalah respon Nabi terhadap satu kasus yang terjadi saat itu. Karenanya, dalam satu permasalahan, Nabi Saw dapat memberikan respon yang berbeda bisa berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuan, sesuai dengan konteks lawan bicara dan situasi yang terjadi saat itu.

Oleh karena itu, dalam memahami hadis, tidak cukup hanya dengan satu atau dua hadis saja lantas bisa berfatwa. Itu ibarat kita baru jatuh cinta pada pandangan pertama langsung melamar wanita pada saat itu juga, bisa dipastikan apa yang terjadi, putus harapan sebelum berjuang.

Selain itu, memahami hadis juga harus melihat konteks sejarah atau asbab wurud-nya. Tanpa memahami hal itu, dikhawatirkan yang terjadi adalah misinterpretasi. Misalnya kita mau mengadakan pendekatan dengan seorang wanita, kita ajak dia makan di restoran, tapi dia menolak makan di restoran. Bukan berarti kemudian wanita tersebut tidak mau makan bersama kita.

Ternyata, usut punya usut, wanita tersebut lebih senang dan terbiasa dengan makanan rumahan. Di sini diperlukan kepekaan dan kejelian seorang lelaki dalam memahami hati seorang wanita. Persis seorang yang belajar memahami hadis, ia juga perlu jeli dan cermat.

Sebenarnya Dr. Yusuf al-Qaradhawi, ulama kontemporer, telah memberikan langkah-langkah aplikatif bagi kita yang mau ‘serius’ belajar hadis agar dapat memahami hadis secara tepat. Beliau menuliskan ada delapan langkah berinteraksi dengan hadis sebagaimana yang ditulis dalam kitab Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah. Delapan hal tersebut adalah:

1. Memahami hadis sesuai dengan petunjuk al-Qur`an

2. Menghimpun hadis-hadis yang setema

3. Kompromi atau tarjih terhadap hadis-hadis yang kontradiktif

4. Memahami hadis sesuai dengan latar belakang, situasi, kondisi, dan tujuannya

5. Membedakan antara sarana yang berubah dan tujuan yang tetap

6. Membedakan antara ungkapan hakikat dan majaz

7. Membedakan antara yang Gaib dan yang Nyata

8. Memastikan makna kata-kata dalam hadis

Tulisan ini tidak akan membahas satu per satu langkah tersebut, rujuklah langsung ke tulisan Yusuf al-Qaradhawi. Poinnya adalah bahwa memahami hadis itu butuh usaha dan pendekatan yang sungguh-sungguh (ijtihad).

So, jika ada pesan dari whatsapp anda yang mengatakan ‘Minumlah kencing unta, karena itu obat’ atau ‘Jauhilah musik karena itu haram’, maka jangan langsung terima apa adanya. Rujuklah dan lihatlah pendapat ulama-ulama yang otoritatif dari sumber aslinya, tidak sekadar qola wa qila, sanad pesan whatsapp itu mardud (tertolak) dalam periwayatan hadis, karena hal itu adalah bid’ah.

Melalui tulisan ini, di tengah semangat zaman yang serba instan dan cepat, ada dua hal yang tidak dapat ditempuh dengan kecepatan dan keringkasan, yaitu belajar agama dan memahami hati wanita. “Ingat akhi, yang berat itu bukan rindu sebagaimana kata Dilan, tapi candu dalam kebodohan dan kemalasan, aku dan kamu, kita semua harus melawan kecanduan tersebut, Allahuakbar..!!”. Wallahu A’lam bish Showwab.

*Penulis adalah alumni S1 Tafsir Al-Quran dan Hadis UIN Yogyakarta dan aktivis perdamaian komunitas YIPC

Sumber gambar: fb other perspective
Fahmi Munib

Dalam balada Layla Majnun saya menemukan makna rasa cinta, bahwa ketika Khalifa ingin memiliki badannya Layla, padahal badan hanya bayangan. Ia mengejar bayangan. Sampai capek, lelah, hasilnya tetap saja nol besar.

Sementara, Qais ingin menyelami Layla, ingin menyatu dengan Layla, dan Dia berhasil. Karena untuk melihat (kecantikan) Layla, yang dibutuhkan adalah sepasang mata milik orang gila.

Seolah tak pernah kita bayangkan bagaimana jika rasa tak pernah ada, menangis tanpa rasa sedih, tersenyum tanpa ada bahagia, merenung tanpa rasa jenuh, atau bahkan hina tanpa rasa bersalah, semua ini tentang rasa.

Ada macam variasi rasa yang sering kita jumpai, setiap indera memiliki hak untuk merasakan rasa yang berbeda, saat mencicipi permen lidah merasakan manisnya gula yang ada dalam permen, saat membasuh muka dengan air kulit merasakan sejuk luar biasa, saat kulit teriris pisau rasa sakit sekujur tubuh yang dzohir merasakan, pun demikian saat hati tercabik rasa sakit mulai menjalar di sekujur batin, semua ini tentang rasa.

Lalu darimana datangnya rasa? kenapa terkadang muncul secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba juga, padahal sesekali kita ingin mengucap terima kasih karena sebuah rasa, sesekali juga kita ingin memarahi rasa karena begitu peliknya dia ada, tapi apa daya sekali lagi ini semua tentang rasa.

Kenyataannya kita hanyalah seorang peminjam rasa dari sang Mahapemilik rasa, kita meminjam rasa bahagia, kita meminjam rasa sakit, kita meminjam rasa malu, kita meminjam rasa berani, kita meminjam rasa manis, kita meminjam rasa pahit, bahkan rasa hambar pun tak luput kita pinjam.

Tuhan, ampunilah aku yang terkadang lupa bahwa rasa adalah nikmat yang engkau berikan percuma untukku, layaknya udara yang aku hirup, pandangan yang akulihat, dan suara yang aku ucap, aku memohon padaMu jangan berikan rasa sedih disaat aku bahagia, rasa pahit disaat aku menikmati rasa manis, dan yang paling ingin aku mohon padamu Tuhan jangan pernah hilangkan rasa cintaku kepadaMu walaupun semua ini hanya tentang rasa.

*Penulis adalah blogger, penulis, dan alumni S1 UPI Bandung

Sumber gambar: www.exhibition.xlv.gov.au

Panji Futuhrahman
Dewasa ini kita makin banyak bergantung dengan media sosial berbasis internet. Baik sebatas untuk berkomunikasi, mengabadikan momen spesial, bahkan hingga menjadikannya mata pencaharian. Untuk yang terakhir disebut ini banyak sekali ragam dan caranya. Mulai dari yang berjualan sebagaimana umumnya kita ketahui, sebut saja berjualan baju misalnya. Si empunya produk memasang gambar bajunya yang hendak dijual, ia tuliskan spesifikasi juga cara pembeliannya. Ini yang bisa dibilang paling sederhana. 

Ada juga yang meraup untung dengan menjadi pengiklan. Ia biasanya tidak punya barang yang dijual, ia mempromosikan barang orang lain, dan dari jasa mempromosikannya itulah ia dapat uang. Dua bisnis ini masih terlihat biasa saja, bisa dikatakan bisnis ini bisnis gaya lama kemudian bertransformasi menjadi berbasis internet. 

Namun zaman baru pastilah juga membawa kebiasaan-kebiasaan baru. Di zaman yang serba internet ini, banyak bermunculan bisnis-bisnis yang sepertinya sama sekali tidak terpikirkan di zaman sebelumnya, sebagai contoh sebut saja jasa jual beli follower dan like (orang memperjualbelikan follower dan like di instagram untuk menunjukkan eksistensi). Bisnis ini, meski terdengar konyol, nyatanya makin menjamur saja dari hari keharinya, hal ini menunjukkan: ada orang yang membeli follower dan like di instagram untuk menunjukkan eksistensi. 

Untuk media sosial instagram kita juga mengenal bisnis ala official account. Sedikit penjelasan untuk bisnis ini adalah adanya orang yang membuat akun, bisa berisi info-info seperti info sepakbola terkini, info kesehatan, info lalu lintas, bisa juga berisi humor-humor baik gambar maupun video. Bisa juga berisi konten-konten kepemudaan, penyiaran agama bahkan ada juga yang berisi konten khusus dewasa dan kekerasan sekalipun. Semakin akunnya populer, semakin banyak follower dan like di setiap post-nya maka “harga” akun itu semakin mahal. 

Di kemudian hari akun itu bisa di jual, bisa jadi pembelinya merupakan penjual suatu produk, ia ganti semua fotonya dengan barangnya, ia tak perlu susah-susah mencari follower karena akun itu sudah memiliki banyak follower, bisa juga di kemudian hari akun itu menawarkan profilnya kepada pedagang supaya tertarik untuk “ikut promosi” barang dagangannya lewat akun itu. Dengan follower yang banyak, dapat dipastikan informasi mengenai barang jualannnya sampai ke calon pembeli.

Selain instagram, penulis melihat media sosial yang hingga kini sangat digandrungi adalah youtube. Portal berbagi video ini nyatanya juga tidak sekadar digunakan untuk kepentingan pribadi seperti menyimpan video untuk kenang-kenangan saja, youtube kini laris dipakai untuk mencari uang juga. Beberapa orang memanfaatkan youtube untuk membuat semacam video blog atau yang kini dikenal sebagai Vlog. Isi dari Vlog itu sendiri beragam, mulai dari tutorial berkerudung, tutorial bermain game, tutorial bela diri praktis, atau ada juga yang sekadar menampilkan kehidupan sehari-hari, dan masih banyak ragam lainnya. 

Orang-orang itu mendapatkan uang dari banyaknya orang yang melihat videonya. Dari sana ia memiliki viewer, semakin banyak viewer semakin mahal harga videonya untuk disisipi iklan. Bisa juga mereka mendapat uang melalui sponsor-sponsor, misalnya ada yang melakukan tutorial berkerudung, ia bukan pemilik merk dagang kerudung tersebut, tapi ada produsen kerudung yang mensponsori videonya dengan memberi sejumlah uang dan atau kerudungnya untuk menjadi bahan yang digunakan saat video tutorial berkerudung itu berlangsung.

Namun sayangnya, zaman baru tidak hanya membawa kebiasaaan baru, ia juga berisikan senjata baru. Para pencari untung ternyata melakukan banyak cara agar akunnya tetap laris, termasuk menggunakan cara-cara yang tidak bersih, baik yang berbisinis ala official account dalam instagram maupun yang berbisnis ala vlog di youtube. Beberapa dari mereka melakukan trik-trik agar tetap laris. Dalam kasus official account misalnya, tak jarang yang menyisipkan konten-konten porno agar akunnya semakin ramai, meskipun terlarang, nyatanya dengan menyisipkan konten-konten porno akun tersebut jadi semakin populer. 

Senada dengan hal tersebut, para penggiat youtube melakukan hal yang hampir serupa, kita sempat dibuat geger oleh akun-akun yang memamerkan kemesraaan dan bahkan tindakan menjurus asusila oleh para penggiat youtube ini. Ada juga yang sangat gemar menggunakan kata-kata kasar dan tak seharusnya diucapkan. 

Meskipun ini wilayah hak pribadi, namun saat mereka mengudarakan vlog mereka dan membiarkan orang-orang untuk mengaksesnya secara bebas tanpa tending aling-aling, saat itu juga mereka mestinya bisa mempertanggungjawabkan videonya dihadapan tata nilai etika yang berlaku.

Penggunaan konten porno dan bahasa kasar nyatanya mampu menyedot pengunjung, baik untuk instagram maupun youtube, konten porno seolah mewakili kedewasaan meskipun nyatanya yang mengakses tidak lain adalah anak dibawah umur atau anak usia sekolah dan konten bahasa kasar seolah mewakili keberanian dan kebebasan berekspresi. Tidak bisa dinafikan bahwa sejatinya secara demografi sebagian besar pengguna internet adalah anak muda usia sekolah itu sendiri. 

Ironisnya dari media sosial anak-anak menjadi tahu terhadap aktivitas seks yang belum semestinya meraka ketahui atau bahkan tidak layak mereka ketahui sama sekali seperti pelacuran. Lelucon-lelucon murahan yang dibalut seks bebas biasanya menjadi viral dan dianggap hal yang umum untuk diketahui. Padahal hal tersebut sangat jauh dari norma dan tata nilai yang berlaku. 

Lebih parah lagi jika konten porno itu dibagikan lewat situs youtube, bahkan ada youtuber yang hingga kini terkenal namanya karena keberaniannya mengunggah kemesraan dengan pasangannya. Padahal kemudian hari diketahui yang bersangkutan masih duduk di bangku sekolah atas (SMA) saat itu. Tidak sampai di sana, yang bersangkutan acap kali berucap kata-kata kasar seolah hal itu adalah hal lumrah dan dijadikan guide bagi siapa saja yang hendak menjadi anak gaul masa kini.

Tak sedikit, yang karena geramnya melihat fenomena ini, kemudian ada yang mencoba menegur pihak-pihak yang menyeleweng tersebut. Ada yang menegur dengan dalil agama, ada yang menyindir dengan etika bergaul, ada yang membawa tata nilai luhur bangsa sampai ada yang membawa dalil hukum yang berlaku namun semuanya bergeming. Ada satu hal yang paling sering dijadikan justifikasi atas perilaku menyimpang mereka ini: Kreativitas.

Disini sebetulnya letak miskonsepsi yang entah dari mana awal mulanya, tapi yang pasti, sejauh ini kreativitas sering dipahami sebagai melawan arus dan menabrak batas. Padahal sejatinya kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dengan tetap memperhatikan batasan-batasan yang ada tanpa perlu selalu melawan arus umum. Batasan itu bisa berupa batasan agama, batasan norma atau batasan hukum. 

Orang yang merasa diri kreatif dan out of the box namun dalam proses kreatifnya ternyata menabrak batasan-batasan itu tidak lain adalah manusia anarkis—baik secara tindakan maupun pikiran—yang malas berfikir lebih jauh untuk menciptakan hal baru yang tidak melanggar batasan itu. Sejatinya, mereka yang sungguh-sungguh kreatif adalah yang bisa menciptakan hal baru dengan tetap memperhatikan norma dan aturan yang belaku di masyarakat. 

Dengan demikian, sangat keliru jika ada orang-orang yang berdalih mengusung kreativitas namun secara sadar melanggar batasan yang ada. Meskipun batasan itu sendiri sangat subjektif. Tapi batasan-batasan itu tidak muncul secara tiba-tiba atau serampangan, batasan itu muncul untuk menjaga hal-hal yang dianggap berharga oleh masyarakat umum, misalnya: moral anak muda. Kita bisa berdebat dari pagi hingga subuh lagi untuk memperdebatkan sejauh mana batasan gambar/video dapat disebut berisi unsur pornogafi atau tidak, namun patut dipahami bahwa di era internet ini, semua bisa dengan mudah mengakses segalanya. 

Mungkin orang dewasa bisa memilih dan memilah konten yang layak ia tiru dan tidak, tapi anak muda bisa saja melihat hal tersebut sebagai contoh yang mesti ditiru. Bayangkan jika kemudian hari anak muda beranggapan bahwa hubugan badan pranikah adalah hal lumrah! Padahal baik secara norma maupun aturan itu jelas-jelas perilaku buruk dan salah.

Disamping itu kita tidak boleh menafikan peran pengawasan dan bimbingan orang tua terhadap apa yang diakses anaknya di internet. Jika kemudian hari anjuran untuk memilah dan memilih konten yang baik untuk dibagikan diinternet diabaikan oleh para penggiat internet itu, dan bahkan jika kemudian hari ada regulasi yang ketat tentang hal ini sekalipun, tetap saja benteng terakhir pertahanan untuk menjaga moral anak bangsa adalah peran pengawasan dan bimbingan orang tua itu sendiri. 

*Penulis adalah guru PAI di SMAN 1 Cikarang Utara

Sumber gambar: FB The Artidote


Hennika Arumsari
 “Seorang bayi tak dilahirkan -ke dunia ini- melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi –sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? Abu Hurairah berkata, Apabila kalian mau, maka bacalah firman Allah yang berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.’ (QS. Ar-Ruum ayat 30). Telah menceritakan kepada kami Abu bakr bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdul ‘Alaa Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid; telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaq keduanya dari Ma’mar dari Az-Zuhri dengan sanad ini dan dia berkata ; ‘Sebagaimana hewan ternak melahirkan anaknya, -tanpa menyebut cacat (HR. Muslim No. 4803).
Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk. Lengkap dengan segala kemampuan dan keahlian terbaiknya. Dalam salah satu artikelnya, Al-Kautsar Kalebbi menyebutkan bahwa dalam struktur jasad dan ruhiyah itu Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang, yang dalam psikologis behaviorisme disebut prepoten refleksi (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang). Dalam pandangan Islam, pada dasarnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan suci. Kesucian manusia itu dikenal dengan istilah fitrah (Kalebbi, 2013).
 
Setiap manusia dilahirkan dalam fitrah, yang di dalam dunia pendidikan Islam memiliki makna bahwa manusia sebagai makhluk pedagogik. Maksudnya, mereka adalah makhluk Allah yang dilahikan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik. Oleh karenanya, berbagai potensi dasar atau fitrah yang dimiliki manusia harus ditumbuhkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayat (Majid, 2013)

Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap lembaga pendidikanlah untuk dapat memberikan proses dan fasilitas pendidikan yang terbaik bagi seluruh peserta didiknya. Namun, bagaimana dengan dunia pendidikan bagi anak-anak disabilitas? hak-hak mereka telah terpenuhi? 

Satu hal yang harus ditanamkan dalam benak setiap pendidik, yaitu anak-anak berkebutuhan khusus juga mempunyai hak yang sama dalam hal mengenyam pendidikan, karena mereka juga terlahir sebagai fitrah, lahir sebagai manusia yang mempunyai potensi. Potensi yang harus dikembangkan melalui berbagai akses penunjang yang biasa di sebut dengan aksesibilitas. 

Akses-akses tersebut sangat berguna untuk membantu setiap anak berkebutuhan khusus sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Sayang, realitanya masih banyak lembaga pendidikan, terkhusus juga SLB di Indonesia, yang belum memiliki aksesibilitas yang memadai. 

Betapapun, kita tidak menutup mata bahwa usaha-usaha untuk mengarah pada perbaikan aksesibilitas terus-menerus ditingkatkan. Beberapa penelitian menujukkan bahwa sejumlah aksesibilitas sudah diterapkan dan digunakan di beberapa Sekolah Luar Biasa. Baik dari segi fasilitas, maupun metode pembelajaran. Selain itu, bagi anak-anak berkebutuhan khusus juga telah mendapat perhatian dari pemerintah pusat berupa dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang diwujudkan dalam pemberian perlengkapan sekolah serta peralatan praktik. 

Dengan adanya perhatian dari pemerintah pusat serta adanya kemudahan akses informasi, telah memberikan efek positif bagi para orang tua untuk mau menyekolahkan anaknya yang berkebutuhan khusus di SLB C bagian Tunagrahita. Sedangkan di level masyarakat, perhatian kepada anak berkebutuhan khusus ditunjukkan dengan adanya tenaga pendidik yang ahli menangani anak berkebutuhan khusus (Andhita, 2014).   

Sejatinya mereka pun memiliki cita-cita, layaknya anak-anak normal lainnya. Mereka berkembang, mengamati, dan memiliki rasa ingin tahu. Maka jika kekurang-kekurangan yang mereka miliki ditransformasi sedemikian rupa melalui proses pendidikan yang sangat optimal, betapa banyaknya generasi bangsa yang bisa lahir dengan kemampuan yang extraordinary, karena sejatinya bukan kekurangan yang mereka miliki, tetapi hanya kelebihan yang belum tersalurkan. Maka lihatlah pada kemampuan mereka, bukan kekurangannya!

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam, UPI Bandung

Referensi
Andhita, U. F. (2014). Aksesibilitas Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Jember (Studi Kasus di. Skripsi , vii.
Kalebbi, A. (2013, November 20). FITRAH DALAM PERSPEKTIF AL- QURAN. Retrieved Januari 6, 2017, from alkautsarkalebbi on the Journey: http://alkautsarkalebbi.wordpress.com
Majid, N. (2013, Desember 16). KONSEP PENDIDIKAN ISLAM TENTANG FITRAH MANUSIA. Retrieved Januari 6, 2017, from afifbocahmujur: afiflanus.bogspot.com


Sumber gambar: FB The Artidote