Membicarakan Gang yang Kesepian

/ Agustus 09, 2019
Azan  isya belum rampung seluruhnya dikumandangkan muazin. Tak terlalu peduli hal itu, anak kecil masih berlarian di gang ketiga dari jalan raya kalau kamu masuk dari arah kolam renang kadang jadi tempat resepsi.  Di gang tak terlalu ramai seperti biasanya. Jika hari-hari sebelumnya padat sejak masuk gapura oleh motor ojek online yang parkir, menunggu pengemudinya istirahat atau sambil menunggu orderan masuk, sekarang kerumunan itu tak terlihat. Entah tidak ada orderan entah memang semua sedang pergi menarik penumpang.
Di sebrang gang ada Indomart yang malam itu terasa kurang ramai. Biasanya toko itu riuh oleh bocah-bocah yang menarik baju dan lengan ayah atau ibunya sekadar merengek minta es krim atau kudapan lainnya. Malam itu hanya ada seorang. Si bocah bersama ibunya yang sudah berpakaian tidur memborong es krim hingga empat bungkus. Patut dicurigai itu bukan murni permintaan si anak, bisa jadi ayahnya bisa jadi kakak-kakaknya bahkan bisa jadi ibunya yang ingin ngemil es krim di malam yang cenderung sepi itu.

Malah kasir disibukkan dengan menghitung receh yang ditukar laki-laki usia tanggung. Para ekonom cap warung kopi memperbincangkan si mas-mas yang tukar receh dikarenakan jumlah uangnya tak terlalu banyak dan tampilannya yang terlalu “berada”. Untuk dianggap sebagai tukang parkir yang menukar penghasilannya meniup peluit seharian, laki-laki tadi tak cukup masuk kriteria. “Kayaknya itu anak kos yang kepepet bongkar celengan karena kiriman bulanan dari orangtuanya keburu habis diawal bulan”. Begitu kesimpulan sementara hasil diskusi ketat para penjaga pos ronda tak jauh dari patung unta yang menjadi monumen selamat datang di gang itu.

Anggota diskusi malam itu mulai mengait-ngaitkan fenomena gang sepi, driver ojol yang tak kelihatan, hingga kasir yang malah sibuk menghitung uang bongkaran celengan anak kos dengan kondisi ekonomi makro. Menurut salah seorang anggota forum yang mewakili peternak ikan cupang hias hal ini tidak aneh, mengingat pasca hajat besar bangsa bernama pemilu, uang biasanya ngumpul di saku-saku pemodal caleg. Pengeluaran yang begitu besarnya harus segera diimbangi dengan cadangan harta yang memadai, setidaknya sampai modal mereka balik agar bisnis tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ia juga sedikit cerita, bahkan dirinya mesti mengobral besar-besaran koleksi ikan hiasnya melalui flash sale dan open bid di akun instagramnya agar setidaknya tetap ada pemasukan bagi dapurnya. Kondisi susah begini ini orang jarang kepikiran beli ikan hias, untuk makan saja masih cubit-cubitan dengan biaya anak yang baru masuk tahun ajaran baru.

 Pak guru yang ngontrak di pintu ketiga kontrakan punya Cici Mey ikut menambah materi obrolan. Ia yang pulang menyantap nasi uduk melaporkan kondisi terkini bahwa nasi uduk Ma Ncop tak seperti biasanya, masih bersisa hingga lewat jam 8 malam. Padahal uduk ini terkenal lakunya, si Ma buka jam 5 sore dan jangan coba-coba beli uduk lewat dari azan isya atau kita hanya kebagian gorengan dan teh hangat nya saja. Nyelenehnya lagi, si guru bilang, kalau toko makanan kucing di sebelah jongko nasi uduk justru lebih ramai pengunjung. Ia mencoba menggiring opini bahwa terjadi ketimpangan disini. Saat yang susah hidupnya malam itu mesti pikir ulang untuk beli makan malam, di sisi lain ada yang berduit banyak bahkan sempat memikirkan beli makan untuk hewan.

 “Kenapa ya pa guru?” Tanya keponakan RT yang semenjak pamannya menjabat tiba-tiba menjadi sosok yang merasa paling perlu tahu terhadap segala kondisi yang menimpa rakyatnya.

Sambil melempar rokok filter yang dibeli setengah bungkus ke tengah arena tukar pendapat si guru berpendapat: “Mungkin orang-orang takut keluar rumah, khawatir tiba-tiba malam ini mati listrik lagi.”

“Tumben pa guru, biasanya bahwa dunhill sebungkus.” Sela anggota diskusi dari pojok arena sambil menarik sebatang rokok keluar dari kandangnya.

Rupanya ia kurang awas terhadap kondisi. Si guru juga sedang engap-engapan menghadapi situasi ekonominya. Karena semenjak terangkat jadi calon pegawai negei sipil. Uang dari gajinya yang masih 80 % itu tiap awal bulan sudah habis duluan untuk bayar cicilan, dan untuk kali ini, pemasukan lainnya yang biasa menambal kekosongan dompet masih tertahan oleh entah apa.

Pa guru sudah sepenuhnya bergabung dalam obrolan, ia melanjutkan uraiannya mengenai pengaruh trauma psikis masyarakat terhadap mati listrik dan kaitannya dengan menurunnya aktivitas ekonomi di gang haji Sarbat. Menurutnya mati listrik yang berlangsung 12 jam lebih tempo hari sudah meniggalkan efek trauma mendalam. Baik secara fisik maupun mental. Fisik para orang tua terganggu karena tidurnya kurang, harus mengipasi anaknya yang gelisah karena kegerahan sekaligus harus melindunginya dari gangguan nyamuk yang tidak terbendung kedatangannya. Di samping itu, mental masyarakat pun terganggu karena setiap kali ingin melakukan sesuatu, muncul dalam pikirannya andai di tengah pekerjaan berlangsung listrik mati seperti tempo hari, maka lebih baik diam dari pada pekerjaan jadi kacau. Bagi pak guru hal ini berarti negara gagal memberikan rasa aman dan nyaman terhadap rakyatnya.

“Bener pak, memang nyamuk itu lebih takut sama kipas angin ketimbang sama sopel”. Ucap pak RT sambil menunjuk sachetan lotion anti nyamuk yang sudah terpakai setengah dan sachetnya yang berisi setengahnya lagi itu disenderkan di bilik samping kanan pos ronda.

Peserta diskusi lain mengangguk, bahkan ada yang berucap iya sebagai tanda sepakat atas argumen pak Rt. Sedangkan pa guru sedikit kesal karena teman diskusinya malah salah fokus dan lebih  tertarik dengan pembahasan apa yang lebih ditakuti nyamuk. Upayanya membangun opini distrust terhadap pemerintah mental karena yang lain lebih tertarik terhadap fakta unik tentang nyamuk tadi. Namun di sisi lain ia juga tersenyum bangga atas imunitas rekan-rekan diskusinya terhadap penggiringan opini. Begitulah masyarakat kecil, tak sepenuhnya bisa dikendalikan seperti yang dinginkan orang-orang yang berkepentingan.

Sementara malam makin pekat, udara dingin kian menusuk, peserta diskusi sepakat untuk menyudahi gelar perkara malam itu dengan tanpa satu pun keputusan yang bulat karena memang diskusi malam itu tidak hendak menyeragamkan pikiran. Forum itu murni intelektual dalam rangka saling menambah wawasan antar anggota tanpa adanya paksaan dari satu anggota kepada anggota lain untuk sepakat terhadap argumen masing-masing.

Forum bakda isya menjelang tidur itu lebih intelek ketimbang forum-forum ilmiah di kampus-kampus yang kadang kedap saran dan anti kritik. Forum yang digelar serampangan ini jelas lebih terhormat ketimbang adu ilmu di grup Whatsapp yang asal copy-paste dan teruskan pesan karena setidaknya di forum ini ada tatap muka yang menjadi syarat bagi terjadinya silaturahim. Satu lagi yang paling penting, semua yang pulang dari forum diskusi hanya membawa pengetahuan tambahan tanpa meninggalkan dendam pribadi kepada siapa pun. 

Sumber gambar: streetpoems.blogspot.com
Azan  isya belum rampung seluruhnya dikumandangkan muazin. Tak terlalu peduli hal itu, anak kecil masih berlarian di gang ketiga dari jalan raya kalau kamu masuk dari arah kolam renang kadang jadi tempat resepsi.  Di gang tak terlalu ramai seperti biasanya. Jika hari-hari sebelumnya padat sejak masuk gapura oleh motor ojek online yang parkir, menunggu pengemudinya istirahat atau sambil menunggu orderan masuk, sekarang kerumunan itu tak terlihat. Entah tidak ada orderan entah memang semua sedang pergi menarik penumpang.
Di sebrang gang ada Indomart yang malam itu terasa kurang ramai. Biasanya toko itu riuh oleh bocah-bocah yang menarik baju dan lengan ayah atau ibunya sekadar merengek minta es krim atau kudapan lainnya. Malam itu hanya ada seorang. Si bocah bersama ibunya yang sudah berpakaian tidur memborong es krim hingga empat bungkus. Patut dicurigai itu bukan murni permintaan si anak, bisa jadi ayahnya bisa jadi kakak-kakaknya bahkan bisa jadi ibunya yang ingin ngemil es krim di malam yang cenderung sepi itu.

Malah kasir disibukkan dengan menghitung receh yang ditukar laki-laki usia tanggung. Para ekonom cap warung kopi memperbincangkan si mas-mas yang tukar receh dikarenakan jumlah uangnya tak terlalu banyak dan tampilannya yang terlalu “berada”. Untuk dianggap sebagai tukang parkir yang menukar penghasilannya meniup peluit seharian, laki-laki tadi tak cukup masuk kriteria. “Kayaknya itu anak kos yang kepepet bongkar celengan karena kiriman bulanan dari orangtuanya keburu habis diawal bulan”. Begitu kesimpulan sementara hasil diskusi ketat para penjaga pos ronda tak jauh dari patung unta yang menjadi monumen selamat datang di gang itu.

Anggota diskusi malam itu mulai mengait-ngaitkan fenomena gang sepi, driver ojol yang tak kelihatan, hingga kasir yang malah sibuk menghitung uang bongkaran celengan anak kos dengan kondisi ekonomi makro. Menurut salah seorang anggota forum yang mewakili peternak ikan cupang hias hal ini tidak aneh, mengingat pasca hajat besar bangsa bernama pemilu, uang biasanya ngumpul di saku-saku pemodal caleg. Pengeluaran yang begitu besarnya harus segera diimbangi dengan cadangan harta yang memadai, setidaknya sampai modal mereka balik agar bisnis tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ia juga sedikit cerita, bahkan dirinya mesti mengobral besar-besaran koleksi ikan hiasnya melalui flash sale dan open bid di akun instagramnya agar setidaknya tetap ada pemasukan bagi dapurnya. Kondisi susah begini ini orang jarang kepikiran beli ikan hias, untuk makan saja masih cubit-cubitan dengan biaya anak yang baru masuk tahun ajaran baru.

 Pak guru yang ngontrak di pintu ketiga kontrakan punya Cici Mey ikut menambah materi obrolan. Ia yang pulang menyantap nasi uduk melaporkan kondisi terkini bahwa nasi uduk Ma Ncop tak seperti biasanya, masih bersisa hingga lewat jam 8 malam. Padahal uduk ini terkenal lakunya, si Ma buka jam 5 sore dan jangan coba-coba beli uduk lewat dari azan isya atau kita hanya kebagian gorengan dan teh hangat nya saja. Nyelenehnya lagi, si guru bilang, kalau toko makanan kucing di sebelah jongko nasi uduk justru lebih ramai pengunjung. Ia mencoba menggiring opini bahwa terjadi ketimpangan disini. Saat yang susah hidupnya malam itu mesti pikir ulang untuk beli makan malam, di sisi lain ada yang berduit banyak bahkan sempat memikirkan beli makan untuk hewan.

 “Kenapa ya pa guru?” Tanya keponakan RT yang semenjak pamannya menjabat tiba-tiba menjadi sosok yang merasa paling perlu tahu terhadap segala kondisi yang menimpa rakyatnya.

Sambil melempar rokok filter yang dibeli setengah bungkus ke tengah arena tukar pendapat si guru berpendapat: “Mungkin orang-orang takut keluar rumah, khawatir tiba-tiba malam ini mati listrik lagi.”

“Tumben pa guru, biasanya bahwa dunhill sebungkus.” Sela anggota diskusi dari pojok arena sambil menarik sebatang rokok keluar dari kandangnya.

Rupanya ia kurang awas terhadap kondisi. Si guru juga sedang engap-engapan menghadapi situasi ekonominya. Karena semenjak terangkat jadi calon pegawai negei sipil. Uang dari gajinya yang masih 80 % itu tiap awal bulan sudah habis duluan untuk bayar cicilan, dan untuk kali ini, pemasukan lainnya yang biasa menambal kekosongan dompet masih tertahan oleh entah apa.

Pa guru sudah sepenuhnya bergabung dalam obrolan, ia melanjutkan uraiannya mengenai pengaruh trauma psikis masyarakat terhadap mati listrik dan kaitannya dengan menurunnya aktivitas ekonomi di gang haji Sarbat. Menurutnya mati listrik yang berlangsung 12 jam lebih tempo hari sudah meniggalkan efek trauma mendalam. Baik secara fisik maupun mental. Fisik para orang tua terganggu karena tidurnya kurang, harus mengipasi anaknya yang gelisah karena kegerahan sekaligus harus melindunginya dari gangguan nyamuk yang tidak terbendung kedatangannya. Di samping itu, mental masyarakat pun terganggu karena setiap kali ingin melakukan sesuatu, muncul dalam pikirannya andai di tengah pekerjaan berlangsung listrik mati seperti tempo hari, maka lebih baik diam dari pada pekerjaan jadi kacau. Bagi pak guru hal ini berarti negara gagal memberikan rasa aman dan nyaman terhadap rakyatnya.

“Bener pak, memang nyamuk itu lebih takut sama kipas angin ketimbang sama sopel”. Ucap pak RT sambil menunjuk sachetan lotion anti nyamuk yang sudah terpakai setengah dan sachetnya yang berisi setengahnya lagi itu disenderkan di bilik samping kanan pos ronda.

Peserta diskusi lain mengangguk, bahkan ada yang berucap iya sebagai tanda sepakat atas argumen pak Rt. Sedangkan pa guru sedikit kesal karena teman diskusinya malah salah fokus dan lebih  tertarik dengan pembahasan apa yang lebih ditakuti nyamuk. Upayanya membangun opini distrust terhadap pemerintah mental karena yang lain lebih tertarik terhadap fakta unik tentang nyamuk tadi. Namun di sisi lain ia juga tersenyum bangga atas imunitas rekan-rekan diskusinya terhadap penggiringan opini. Begitulah masyarakat kecil, tak sepenuhnya bisa dikendalikan seperti yang dinginkan orang-orang yang berkepentingan.

Sementara malam makin pekat, udara dingin kian menusuk, peserta diskusi sepakat untuk menyudahi gelar perkara malam itu dengan tanpa satu pun keputusan yang bulat karena memang diskusi malam itu tidak hendak menyeragamkan pikiran. Forum itu murni intelektual dalam rangka saling menambah wawasan antar anggota tanpa adanya paksaan dari satu anggota kepada anggota lain untuk sepakat terhadap argumen masing-masing.

Forum bakda isya menjelang tidur itu lebih intelek ketimbang forum-forum ilmiah di kampus-kampus yang kadang kedap saran dan anti kritik. Forum yang digelar serampangan ini jelas lebih terhormat ketimbang adu ilmu di grup Whatsapp yang asal copy-paste dan teruskan pesan karena setidaknya di forum ini ada tatap muka yang menjadi syarat bagi terjadinya silaturahim. Satu lagi yang paling penting, semua yang pulang dari forum diskusi hanya membawa pengetahuan tambahan tanpa meninggalkan dendam pribadi kepada siapa pun. 

Sumber gambar: streetpoems.blogspot.com
Continue Reading

Sebagaimana yang dilansir dari Harian Umum Pikiran Rakyat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, ingin menerbitkan surat edaran bersama berkenaan dengan usulan perpanjangan usia pensiun guru dari 60 menjadi 65 tahun. Baginya usia 60 masih terlalu dini untuk pensiun, masih segar bugar, dan produktif. Dikatakan bahwa langkah ini dilakukan dalam rangka menghalau sekolah atau Pemda yang masih menjalankan praktik rekrutmen guru baru yang disebabkan oleh kekosongan pengajar.

Pasca tersebarnya berita ini, muncul pro-kontra di dalam lingkarangan praktisi pendidikan, meskipun patut diakui bahwa yang terakhir (kontra) lebih dominan dibanding yang pertama. Bukan tanpa alasan, untuk pekerjaan seperti guru (pendidik) yang perlu berpikir keras mengenai model dan metode pembelajaran yang tepat sekaligus membina karakter peserta didik jelas merupakan sebuah pekerjaan yang berat. 

Bukan hanya membutuhkan kerja otak melainkan juga fleksibelitas mental dan fisik yang tinggi. Dan indikator ini sulit dimiliki oleh mereka yang sudah mencapai umur 60 tahun.

Namun informasi tersebut segera diklarifikasi oleh Muhadjir dalam Siaran Pers BKLM Nomor 254/Sipres/A5.3/VIII/2019 seperti yang dimuat dalam www.kemdikbud.go.id, dengan menyatakan bahwa masa pensiun guru PNS tetap di usia 60 tahun. Hanya saja mereka akan diminta untuk tetap mengajar sampai ada guru PNS pengganti.

Bagi penulis kebijakan ini tetap bermasalah. Pertama, mempekerjakan guru pensiun sembari menunggu guru PNS pengganti mengisyaratkan bahwa pemerintah tidak sigap dalam hal manajerial. Jika pemerintah memiliki data yang valid mengenai jumlah PNS beserta sisa waktu pengabdiannya, seharusnya mereka bisa melakukan perencanaan dan persiapan yang matang, sehingga ketika satu orang PNS pensiun, di waktu itu pula sudah ada PNS penggantinya. Dan bukan malah kelabakan dengan tetap memanfaatkan pensiunan PNS yang seharusnya dapat menghabiskan sisa hidupnya untuk beristirahat bersama sanak saudara.

Kedua, menurut Muhadjir ajakan untuk tetap mengabdi ini ditujukan bagi guru yang masih bersedia dan sanggup. Soal gaji akan diambil dari dana BOS. Kebijakan ini pun terkesan mengambang. Kalau alasannya agar dapat menghentikan rekrutmen guru honorer baru, jelas bahwa gagasan ini tidak bisa menyelesaikan masalah, sebab ajakan tersebut cuma bersifat sukarela, bukan kewajiban sehingga akan memungkinkan tetap terjadi kekosongan pengajar. 

Ditambah lagi, pensiunan PNS ini diberi gaji dari dana BOS yang, telah kita ketahui bersama, jumlahnya terbatas. Para pensiunan PNS yang rata-rata bergolongan IV A yang terbiasa mendapat gaji di atas 4 juta (belum termasuk beragam tunjangan dan sertifikasi) kemudian hanya digaji dari dana BOS. Mereka barangkali akan berpikir dua kali untuk menerima tawaran ini.

Ketiga, adalah soal umur itu sendiri. Menurut penulis, tetap mempekerjakan pensiunan guru berarti menghambat progresivitas dunia pendidikan. Alih-alih, penulis malah menyarankan agar para guru bisa pensiun di usia yang lebih dini, berkisar di umur 50 atau 55 tahun. 

Mengapa demikian? Sebab sebagaimana yang diungkapkan oleh sejarawan kontemporer, Yuval Noah Harari, dalam bukunya yang fenomenal 21 Lessons for 21st Century, bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat manusia hari ini sedang berjalan menuju perubahan terus-menerus yang begitu cepat. Kondisi ini membuat para guru harus bisa memberikan kemampuan kepada para siswanya untuk dapat menghadapi aneka perubahan, belajar hal baru, dan menjaga keseimbangan mental. Faktanya, kebanyakan orang yang berusia 50-an sudah tidak siap untuk menghadapi situasi ini.

sumber gambar: jawapos.com


Peradaban Islam pernah memasuki masa kejayaan. Bukan hanya karena luasnya wilayah kekuasaan, lebih dari itu ialah karena umat Islam dari berbagai kalangan (ilmuwan, filsuf, dan ulama) tengah menghasilkan kontribusi yang begitu besar dan banyak terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini semua terjadi di era dinasti Abbasiyah meskipun rintisannya telah dimulai semenjak dinasti Umayah berkuasa.

Dari sekian banyak perkembangan cabang ilmu, filsafat dan agama adalah yang paling seksi diperbincangkan oleh ilmuwan modern hari ini, baik dari kalangan orientalis maupun umat Muslim sendiri. Bisa dimaklumi mengapa filsafat dapat semarak di dunia Islam. Ini tiada lain karena umat Muslim mulai bersinggungan secara intim dengan peradaban-peradaban lain, khususnya Yunani, Persia dan India.

Semua pencapaian ini tidak bisa lepas dari, selain motivasi (dorongan) agama dan apresiasi masyarakat terhadap ilmu dan para ilmuwannya sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya yang berjudul Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, dukungan para penguasa—dan juga orang-orang kaya—dengan memberikan aneka macam bantuan dan perlindungan. Kartanegara mengistilahkannya dengan patronasi.

Dari sekian banyak patroniasi yang diberikan oleh para penguasa (khalifah), buku-buku sejarah mengungkapkan bahwa sumbangsih fasilitas yang paling berperan terhadap pencapaian golden age adalah pembentukkan lembaga pendidikan Baytul Hikmah yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid di Baghdad, Irak, namun dikembangkan secara signifikan oleh putranya, Al-Ma’mun yang berkuasa sekitar tahun 813-833 M. 

Dikatakan bahwa Baytul Hikmah merupakan sebuah lembaga riset pertama umat Islam yang berfokus pada penulisan dan penerjemahan karya ilmiah. Beberapa ilmuwan yang dikenal memiliki hubungan dengan lembaga ini di antaranya adalah Sahl bin Harun (sebagai kepala perpustakaan), Hunain bin Ishaq (ahli fisika), al-Khawarizmi (ahli matematika), dan Abu Utsman al-Jahiz (ahli biologi). Tingginya gairah masyarakat serta dukungan penuh khalifah membuat ratusan pelajar bekerja setiap hari, meningkatkan jumlah koleksi buku-buku terjemahan.

Sumbangsih Cina
Namun sadarkah kita bahwa pesatnya kegiatan ilmiah ini tidak akan dapat berjalan secara mulus dan masif tanpa bantuan sarana yang memadai, yaitu pabrik (industri) pembuatan kertas, yang ternyata berasal atau diadopsi dari Cina pasca umat Islam memenangkan perang atasnya di Pertempuran Talas (sekarang merupakan bagian dari wilayah negara Kirgistan, kawasan Asia Tengah) yang terjadi pada tahun 751 M.

Sayangnya pencatatan sejarah atas pertempuran ini, mungkin karena durasinya yang sebentar, luput dari perhatian para historian. Padahal sebagaimana yang dipaparkan oleh Eamonn Gearon dalam bukunya yang berjudul Turning Points in Middle Eastern History: Course Guidebook, pertempuran umat Muslim (pasukan dinasti Abbasiyah) dan Cina (pasukan dinasti Tang) merupakan sebuah pertemuan dan pengalaman penting bagi bangsa Arab karena pada akhirnya mereka dapat mengenal dan menggunakan teknologi pembuatan kertas yang didapatnya dari para tawanan perang yang dikenal amat sangat paham tentang hal ini, suatu pencapaian yang di kemudian hari menjadi satu buah titik balik terpenting dalam sejarah peradaban Islam dan Eropa.

Banyak kalangan yang meragukan pandangan ini sebab bagaimana mungkin peperangan yang hanya terjadi sebentar namun menghasilkan impact yang begitu besar. Namun Gearon tetap bersikukuh bahwa pendapatnya ini mendapatkan dukungan bukti historis yang kuat, salah satunya ialah  pabrik pembuatan kertas pertama di dunia Islam terletak di Samarkan, suatu wilayah yang hanya berjarak sekitar 300 mil dari Talas. Waktu berdirinya pun sangat berdekatan dengan periode pasca pertempuran Talas. Produksi kertas berskala besar berlangsung pada tahun 793 M di Baghdad dan terus mengalami perluasan ke berbagai wilayah, termasuk Mesir (pada tahun 900 M) dan Maroko (1100 M).

Betapapun demikian, harus diakui bahwa pendapat Gearon bukanlah pandangan arus utama. Meskipun Ziauddin Sardar, pemikir Muslim kontemporer kelahiran Pakistan yang berbasis di London, setuju bahwa umat Muslim mengenal kertas dari pertemuannya dengan bangsa Cina di peperangan Talas, tetapi secara implisit dia menolak “utang budi” Islam atas peristiwa ini yang terkesan dilebih-lebihkan oleh Gearon, sebab menurutnya proses pembuatan kertas yang diperkenalkan oleh orang-orang Cina tidak bisa dilanjutkan karena tidak adanya pohon murbei (sebagai bahan baku pembuatan kertas) di negeri Islam. Dari sini para sarjana Muslim kemudian berinovasi untuk menggantinya dengan bahan dari pohon linen, kapas, dan serat.

Kemunculan industri kertas memunculkan sejumlah profesi baru, salah satunya ialah warraq. Selain menjual kertas dan berperan sebagai agen, mereka pun bekerja sebagai penulis yang akan menyalin beberapa manuskrip yang dipesan oleh para pelanggannya. Mereka mendirikan kios di berbagai kota-kota besar, seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Granada, dan Fez. Kartanegara mengungkapkan bahwa kadang kios-kios ini menyediakan ruang-ruang khusus untuk sewa bagi mereka yang ingin membaca dan meneliti buku-buku tertentu. Diceritakan bahwa, seperti yang dikutip oleh Kartanegara, al-Jahiz lebih suka menyewa kios para warraq dan bermalam di tempat tersebut sambil membaca karena lebih ekonomis ketimbang harus membelinya.

Dalam perkembangan lebih lanjut para ilmuwan Muslim pun memperkenalkan bambu sebagai media untuk mengeringkan lembaran kertas basah, proses fermentasi dengan menambahkan pemutih atau bahan kimia lainnya untuk mempercepat pemotongan linen dan serat. Palu penempa besar juga digunakan untuk menggiling bahan-bahan yang akan dihaluskan. Ketika kincir angin ditemukan pada tahun 1151 M di Jativa (Spanyol) palu penempa tidak lagi menggunakan tenaga manusia.

Referensi
Kartanegara, M. (2006). Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam. Jakarta: Baitul Ihsan
Ruslan, H. (10 Maret 2008). Jejak Industri Kertas di Dunia Islam. Diakses dari republika.co.id pada 26 Juli 2019
AL. (November 2017). Pertempuran Talas 751 M (1-3). Diakses dari ganaislamika.com pada 26 Juli 2019

Islam, Cina, dan Kertas

by on Agustus 04, 2019
Peradaban Islam pernah memasuki masa kejayaan. Bukan hanya karena luasnya wilayah kekuasaan, lebih dari itu ialah karena umat Islam dari...


Beberapa waktu lalu saya diajak teman untuk berkunjung ke  event Big Bad Wolf (BBW) yang secara perdana diselenggarakan di Bandung. Sekadar informasi, BBW adalah sebuah pameran buku internasional yang sebagian besarnya diambil dari stok BookXcess, sebuah toko buku yang menjual buku berlebih atau sisa dari distributor internasional. Keunikan dari pameran ini adalah rentang waktunya yang cukup lama (satu minggu lebih) dan durasinya yang 24 jam non stop.

Saat itu hari minggu malam. Kami berangkat dari kamar kost sekitar 19.30 dan tiba di lokasi satu jam kemudian. Tidak disangka, animo masyarakat sungguh besar. Kami malah tidak bisa memasukkan kendaraan ke dalam hotel tempat pameran buku tersebut diselenggarakan. “Parkiran penuh!” ucap salah satu satpam yang saat itu mencoba untuk menghentika laju kendaan kami. Di sepanjang hotel berderet panjang mobil-mobil mewah. Sedangkan di sisi yang lain, berjejer motor yang memenuhi lapang, mungkin sekitar 100 meter per segi.

Ketika kami masuk, suasana sudah begitu ramai. Dalam benak saya semacam ada keganjilan, bagaimana mungkin ini bisa terjadi di Indonesia yang konon memiliki minat baca rendah. Rasionalitas saya mungkin masih bisa berkompromi kalau saja kejadian ini terjadi pada waktu siang atau sore, tapi ini menjelang tengah malam di mana keesokan harinya, tentu saja mayoritas dari mereka, harus beraktivitas. Suasana ini sebenarnya tidak jauh berbeda ketika pertama kali saya berkunjung ke BBW pada tahun 2016 silam di Surabaya.

Bukannya semakin menunjukkan kemerosotan daya beli akibat gempuran e-book, saya malah melihat, sebagai seseorang yang suka berkunjung ke toko-toko buku, industri buku konvensional (cetak) menunjukkan kekuataannya. Mampu bertahan dengan melakukan berbagai pembaruan-pembaruan yang kreatif. Hari ini buku pun semakin beragam. Penerbit juga tidak takut untuk memproduksi buku-buku babon bertebal delapan ratus hingga ribuan halaman.

Uniknya, bahkan meskipun harga-harga buku secara nasional dinaikkan, bercirikan pencantuman harga di barcode, tidak menghalangi para pencinta buku yang memilih membeli buku konvensional, termasuk saya sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir, menurut standar hari ini, buat apa kita membeli sesuatu yang berat, memakan tempat, dan mudah rusak.

Berbeda dengan pemeran buku nasional yang rutin saya hadiri di Bandung, yang biasanya dipenuhi oleh kalangan remaja (mahasiswa) dan pelajar sekolah yang dapat saya asumsikan sebagai golongan menengah ke bawah, di BBW saya mengamati bahwa kebanyakan pengunjung adalah dari kalangan menengah ke atas. Kulit bersih yang penuh dengan perawatan, out fit yang branded, juga wajah-wajah blasteran, baik campuran Tiongkok maupun Barat, berseliweran di tempat ini.

Untuk jenis buku. BBW menyediakan beragam genre, dari sejarah hingga sains, walaupun yang mendominasi adalah buku-buku anak dan novel. Saya sendiri, karena belakangan ini sedang tertarik dengan sains populer, berkat pengenalan yang dilakukan oleh Harari, di sini saya membeli buku dua buah buku yang berjudul Final Jeopardy: Man vs. Machine and the Quest to Know Everything karangan Stephen Baker dan From Here to Infinity: A Vision for the Future of Science torehan Martin Rees. Menariknya, kedua pengarang ini mencoba untuk mendialogkan pola interaksi antara manusia dan AI di masa depan, sebuah tantangan yang perlu dijawab oleh umat manusia hari ini.

Kalau saja bukan karena beberapa waktu sebelumnya saya tmembeli empat buah buku yang menguras kocek sekitar 300 ribuan, tentu saya tidak akan segan-segan untuk mengambil lebih banyak lagi.

Semua buku di sini memang sudah didiskon, sekitar 60-80%. Namun jika dikonversikan dengan standar harga buku-buku di Indonesia, dapat dikatakan bahwa sebenarnya harga buku yang dijual di sini adalah sama dengan harga buku yang diproduksi di dalam negeri.

Nasib yang sangat berbeda diperlihatkan oleh industri percetakan koran yang secara nyata menunjukkan kelesuan dan kemundurannya. Menurut saya koran hari ini sedang menunggu kepunahannya. Apalagi kalau bukan karena kepesatan laju info-teknologi yang memudahkan masyarakat mengakses informasi hanya melalui smartpohonenya. Mereka bisa berseluncur mencari informasi sebanyak yang mereka mau, bahkan dari pengambilan sudut pandang yang beragam.

Produksi harian mereka semakin minim, malah dibatasi hanya untuk para pelanggan setianya saja. Di setiap lapak penjualan, paling hanya tersedia satu hingga tiga buah oplah, itu pun biasanya jarang laku.

Hal yang sama pernah diutarakan oleh salah satu staf industri koran di Bandung. Ketika saya hendak mengambil honorarium, beliau berkata bahwa sebentar lagi koran mereka tidak akan memproduksi edisi cetak dan akan beralih ke elektronik sepenuhnya. Alasannya karena harga produksi dan kertas yang semakin melambung, sampai-sampai harus impor. Tapi bagi saya dia belum mengatakan yang seutuhnya, lebih substansial lagi, adalah karena pembaca yang semakin lari dan beralih ke portal-portal berita online yang lebih cepat, fleksibel, dan lebih-lebih gratis.

Sama-sama bermediakan kertas dan memberikan informasi, tetapi mengapa koran memunah sedangkan, di sisi lain, buku menguat? Menurut saya karena keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Sebagian besar konnten koran hanya menyampaikan sebuah berita, oleh karena itu sifatnya ringan (tidak mendalam).

Hari ini, karena masyarakat terpapar derasnya arus informasi, mereka lebih senang membaca berita secara sepintas lalu saja. Maka pilihan akses melalui media digital lebih disukai daripada harus ribet membeli koran cetak yang berbayar. Berbeda dengan buku yang memuat informasi mendalam dan kompleks, sehingga wajar untuk dicetak karena membutuhkan perhatian yang serius untuk menyimaknya. 


sumber gambar: ayobandung.com
Hal yang paling kusukai adalah memerhatikan orang. Entah sejak kapan kebiasaan ini kumulai, namun semakin hari diriku semakin menikmatinya. Mamahku misalnya, meski cuma sekadar dosen dia terlihat begitu sibuk, setidaknya terlihat dari betapa seringnya dia berbicara dengan rekannya melalui telepon. Entah apa yang dibicarakannya, karena dia lebih sering menggunakan bahasa Cina ketimbang Inggris. Mamah tumbuh hingga remaja di Negeri Bambu sebelum pada akhirnya bertemu dengan papah di Bandung. 

Papah, pria blasteran Belanda-Sunda, adalah orang yang cerdas dan banyak merenung, namun beberapa tahun belakangan ini dia lebih banyak bergerak. Maklum, papah sedang merintis bisnis properti dan—aku kira—dia memiliki progress yang sangat cepat. Namun ada harga yang perlu kami bayar, saking sibuknya dia hampir tidak memiliki waktu untuk keluarga dan suka pulang sesuka hati, bisa seminggu bahkan sebulan sekali.

Dulu dia tidak seperti itu, setidaknya ketika awal-awal papah memutuskan untuk memeluk agama Islam. Dia rajin berkunjung dan belajar ke beberapa guru yang dirasa cocok untuk membimbing dirinya. Dia juga membeli banyak sekali buku-buku agama di samping buku ekonomi. Sekarang hanya aku yang menyentuh buku-buku tersebut di perpustakaan pribadinya karena, tidak seperti teman-teman sebayaku yang kecanduan games, sejak kecil  aku gemar membaca.

Hobi ini membuatku kesulitan mencari teman yang setara. Tidak ada yang mengerti dengan apa yang kubicarakan, baik teman di sekolah maupun di tempat les. Namun belakangan ini aku menemukan tetangga yang memiliki kesamaan passion denganku. Fatima namanya. Ketika aku sedang jenuh membaca dan ingin menghirup udara segar di taman dekat rumah, kulihat ada seorang anak perempuan, berkacamata dengan rambut hitam kecokelatan, sedang duduk membaca sebuah buku di teras rumahnya. Aku mendekati perlahan, tapi tidak sampai melebihi batas pagar rumahnya yang masih tertutup rapat. Kulontarkan sebuah sapaan “hai” dan dia menengok dengan indahnya, melempar senyuman malu-malu tanpa membalas dengan sepatah kata pun.

Aku tersanjung ternyata di Bandung masih ada seorang anak yang membaca buku ketimbang sibuk memainkan gadgetnya. Karena penasaran dengan buku tebal berwarna hitam yang ada dihadapannya, aku bertanya:

“Sedang baca buku apa?”

“Dunia Sophie.” Fatima bangun dari tempat duduknya, menandai halaman tertentu di bukunya dengan sebuah pembatas cantik, kemudian menutupnya.

“Sophie? Apa yang Sophie katakan padamu?” Mulai timbul rasa penasaran di dalam diriku.

“Entahlah. Aku baru membaca sampai halaman ke seratus. Tapi yang pasti dia suka berkelana ke berbagai periode waktu.” Dia membolak-balikkan bukunya itu dan kembali berkata “Kata ayah sih, ini novel filsafat.”

“Filsafat?” daya ingatku kembali aktif. Rasa-rasanya aku juga pernah membaca buku yang ada judul filsafatnya di perpustakaan ayah namun tidak ada kata “Sophie” di dalamnya. Beberapa detik kemudian lampu di otakku menyala. Benar, aku pernah membaca buku yang judulnya Filsafat Islam. Dua buku yang berbeda sih, tapi aku yakin keduanya memiliki beberapa kesamaan.

Setelah pertemuan perdana itu, setiap rabu sore aku selalu berkunjung ke rumah Fatima. Kami saling bertukar buku dan berdiskusi. Aku tidak menyangka kalau ternyata kami memiliki kesamaan lain, sama-sama suka memerhatikan orang. Kami membicarakan kelakuan anak sebaya kami yang tampak lebih menonjolkan kebodohan, seperti gemar mengumbar kata-kata kotor, apalagi di Facebook dan Instagram. Agaknya tidak ada hal yang bisa mereka banggakan selain merias lidahnya dengan kata-kata tersebut. Selain itu, mereka juga sering membuang sampah sembarangan di samping meludah seenaknya. Ah, mereka semua sungguh menjijikkan.

Berjalannya waktu tanpa disadari ternyata tidak ada orang yang paling kuperhatikan selain Fatima. Sejak terbiasa mengunjungi rumahnya, aku selalu memerhatikan dirinya. Dia pintar, sedikit pemalu, tetapi juga blak-blakkan untuk menjelek-jelekkan orang lain, khususnya teman-teman perempuannya di sekolah. Katanya anak remaja perempuan hari ini banyak yang munafik, banyak topeng yang mereka gunakan hanya untuk mendapatkan perhatian. Mereka suka memposting foto genit bahkan seksi di akun media sosialnya untuk sekadar memperoleh like/love. Dan harus kontroversial supaya cepat mendapat banyak followers, karena implikasinya mereka akan dimintai endorse produk-produk kecantikan.

Mereka, masih menurut penuturan Fatima, lupa akan sesuatu yang lebih penting, yaitu kecerdasan. “Perempuan itu seksi bukan karena fisiknya tapi otaknya” ucapnya sambil menatapku tajam-tajam, memberi pesan implisit bahwa dia juga mau kalau aku setuju dengan pendapatnya.

Sayangnya aku adalah laki-laki kebanyakan, yang kampret dan mata keranjang. Seperti ada medan magnet yang kuat, mataku segera menatap lekat-lekat ketika ada perempuan yang menurutku cantik. Kalau seksi, misalnya berpakaian sangat terbuka, aku masih pilih-pilih. Jika berparas cantik, aku tentu tidak mau menyia-nyiakan karunia Tuhan, tetapi jika jelek, sebaliknya, aku suka mencemoohnya terus-menerus di dalam hatiku.

Jujur, aku suka melihat perempuan cantik di Instagram. Biasanya mereka adalah para celebgram yang umurnya tidak jauh berbeda denganku. Dalam sehari mereka bisa sampai memposting tiga hingga lima buah foto, belum ditambah dengan video yang diunggahnya di IG Story. Aku sangat menikmatinya. Betapa tidak, bukan hanya cantik, badan mereka mulus, suaranya manja, dan tentu saja glamor. Dari semua jenis pakaian, aku paling suka ketika mereka sedang mengenakan tank top putih dan celana jeans. Sungguh perpaduan yang sempurna.

Walaupun demikian, aku masih memiliki batasan yang dipegang kokoh. Aku tidak segila netizen yang tanpa malu-malu memberi komentar cabul nan mesum yang dalam beberapa level kukira sangat berlebihan dan bisa dianggap sebagai tindak pelecehan seksual menurut standar manusia modern.

Begitu pula ketika aku memandang sosok Fatima. Benar bahwa dia cerdas, dan aku melihat hal itu sebagai sesuatu yang berharga. Tetapi aku pun ingin melihatnya secara utuh. Kecantikan dan keimutannya harus juga dianggap sebagai suatu anugerah dan patut untuk dibanggakan. Apalagi kalau gigi gingsulnya mencuat ketika aku sedang melontarkan jokes yang sebenarnya garing, membuat jantungku berdegup kencang.

Satu lagi waktu indah yang tak bisa kulupakan, ialah momen sekian detik ketika dia sedang mengangkat kedua tangannya ke bagian belakang kepala untuk mengikat rambut. Ketiaknya yang terbuka-menantang, putih-mulus-polos dan wangi sungguh membuat pipiku memerah, malu, dan aku pun terpaksa harus mengalihkan pandangan supaya tidak dikira tak tahu diri.

Sementara aku masih malu-malu untuk mengungkapkan kalau aku suka memerhatikan tindak-tanduk orang lain, termasuk perempuan-perempuan cantik, ternyata Fatima lebih terbuka dan tanpa segan hati mengutarakan kalau dirinya menggemari banyak artis laki-laki korea, termasuk Lee Min Ho dan Song Joong-Ki. Baginya artis korea  selain memiliki ketampanan dan postur tubuh yang paripurna, mereka juga dilengkapi dengan segudang talenta.

Karena dia suka bercerita banyak hal, membuatku menjadi sosok yang berperan sebagai pendengar yang baik.  Sebagai bentuk penghormatan, aku harus memerhatikan wajah dan bibirnya. Sialnya, mataku kadang tidak bisa diajak kompromi. Mata ini menggodaku untuk melihat sesuatu yang kurang tepat, setidaknya dalam momen ini. Apalagi kalau bukan payudara. Dengan jarak di antara kami yang hanya terpisahkan sebuah meja kecil, membuatku cukup leluasa untuk melihat bentuk payudaranya yang ranum bak buah manggis yang siap matang.

Akhirnya aku rasa aku tengah menyukainya. Beruntungnya, cinta tak bertepuk sebelah tangan, sebab begitu pun dengan dia yang menyukai diriku. Aku merasa Fatima nyaman ketika ngobrol denganku. Matanya berbinar ketika dia melihatku datang mengunjunginya setiap rabu sore, satu hari dalam seminggu di mana dia terbebas dari segala macam les yang diikutinya, mulai dari biola, bahasa Arab, desain busana, hingga koding. Mungkin Fatima tidak menyadarinya, tapi aku tahu kalau dia suka mencuri-curi pandangan, menatap diam-diam diriku. Mulai dari rambut, pakaian, hingga kakiku. Di antara semua yang ditatapnya, wajahku-lah yang paling sering dia perhatikan.

Walaupun saling menyukai, aku tidak pernah menyatakan cinta kepadanya. Dan dia pun tidak memberi isyarat kalau aku harus berbuat demikian. Kami telah cukup nyaman dengan keadaan yang sekarang, tidak ada semacam keterikatan, karena kami berdua pun lebih senang merdeka dan fleksibel dalam menjalani hubungan.

Di kompleks perumahan di mana antar tetangga tidak saling mengenal, adanya dua orang remaja yang duduk di beranda bukanlah menjadi sebuah persoalan. Pernah sekali Fatima mengajakku untuk masuk ke rumahnya. Dia ingin membuatkanku kue hasil tangannya sendiri. Kulihat di setiap dinding, banyak sekali foto figura seorang laki-laki yang meraih banyak sekali penghargaan dan piala. Dan dia bilang itu adalah foto ayahnya yang merupakan seorang mantan atlit renang internasional dan sekarang menjadi pelatih di salah satu lembaga pelatihan renang terkenal di Malaysia. Jarak yang jauh membuat mereka jarang bersuara.

Aku tidak bertanya soal ibunya, tetapi seperti hendak melanjutnya jalan cerita yang terputus, dia mengaku bahwa ibunya adalah seorang dosen Bioteknologi yang gemar melakukan penelitian bersama professor dari luar negeri. Ketika kutanya di mana ibunya mengajar, ternyata sama dengan tempat mamahku bekerja. Sebuah kesamaan yang datang bertubi-tubi. Aneh tapi nyata.

Dari pengalaman ini aku seakan tengah mengamini pandangan dari sebuah buku yang kubaca kemarin yang mengatakan bahwa kita adalah sejumlah gelombang atau frekuensi di mana frekuensi yang sama secara natural akan saling terhubung atau mengalami daya tarik-menarik. Yang tidak memiliki kesamaan frekuensi secara sendirinya tidak akan saling terhubung. Benarkah demikian?

sumber gambar: erabaru.net

Cerminan Diri

by on Juli 04, 2019
Hal yang paling kusukai adalah memerhatikan orang. Entah sejak kapan kebiasaan ini kumulai, namun semakin hari diriku semakin menikmatiny...
Hari Jumat kemarin (28/06/2019) Dinas Pendidikan Kota Bandung yang diorganisir oleh PPSMP mengundang seluruh guru Pendidikan Agama Islam dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan jenjang SMP di Bandung untuk mengikuti kegiatan yang bertajuk “Bandung Santun Menuju Bandung Agamis”

Dari serangkaian kegiatan yang ada, saya tertarik pada salah satu sesi workshop di mana si pembicara memperkenalkan sebuah metode yang bernama iqra’ bil qalamfollow the line. Saya dan para partisipan lainnya disugukan oleh selembar kertas yang sudah bertuliskan satu buah surat pendek dari juz 30. Uniknya, tulisan Alquran yang dibubuhkan di sini masih begitu halus (tipis) walaupun tetap dapat terbaca.

Dan tanpa memberikan penjelasan yang panjang lebar, pemateri, yang konon telah melanglang buana untuk memberikan pelatihan ini di seluruh penjuru Indonesia, segera menyuruh kami untuk mempertebal tulisan tersebut dalam waktu kurang lebih lima belas menit saja. Sejujurnya saya yang tidak mahir menulis Arab, karena ketika kuliah pun lebih banyak mengetik langsung di laptop, agak kewalahan dan ternyata cukup melelahkan.

Setelah waktu habis dan dipersilahkan untuk mengumpulkan hasil kerja, kemudian pembicara memberikan penjelasan dan narasi yang panjang lebar berkenaan dengan kegiatan yang baru saja kami lakukan. Beliau mengungkapkan bahwa metode menebalkan huruf memiliki banyak manfaat, salah duanya ialah sebagai sarana terapi dan internalisasi nilai.

Masih ingatkah ketika kita belajar menulis huruf di bangku TK maupun SD, baik berupa huruf Indonesia maupun Arab? Yang lebih banyak kita lakukan sebenarnya bukan menulis melainkan menjiplak. Nah kira-kira seperti itu pulalah metode ini. Baginya aktivitas “menjiplak” bukanlah sesuatu yang buruk, sebab ketika kita sedang “menjiplak” pada saat itulah proses penginstalan berjalan. Huruf-huruf yang tertera pada kertas ditulis secara manual oleh kita sehingga, baik secara langsung maupun tidak, proses itu akan menciptakan imajinasi huruf di dalam benak. Orang yang sudah memiliki imajinasi atau “konsep abstraksi” yang matang di dalam benaknya, dia tidak perlu lagi membutuhkan visualisasi langsung ketika hendak mengaktualisasikannya.

Saya beri contoh. Seorang anak sekolah dasar yang diminta oleh gurunya untuk mendesripsikan atau menggambar sesuatu yang belum pernah dilihat dalam hidupnya, hewan kanguru misalnya, maka sudah dipastikan bahwa anak tersebut tidak akan bisa melakukannya. Sama halnya dengan laptop yang tidak pernah di masukkan CD instalasi suatu aplikasi tertentu, tentu laptop tidak akan bisa membaca dan menjalankan aplikasi tersebut.

Ini berbeda ketika sang anak sudah memiliki imajinasi atau “konsep abstraksi” kanguru di dalam benaknya, maka akan dengan mudah dia memberikan penjelasan kepada si guru, tanpa perlu melihat kanguru terlebih dahulu. Nah, cara supaya imajinasi ini terbentuk tiada lain ialah dengan secara terus-menerus memasukkan “konsep” tersebut ke dalam otak atau benak.
*
Pelajar hari ini lebih senang “menginstal” hal-hal yang kurang berfaedah, kalau enggan mau berkata buruk. Hampir tidak pernah mereka “menginstal” huruf-huruf Alquran, maka wajar sekali ketika diminta untuk membaca sebaris lafaz Arab atau Alquran, mereka kelabakan. Atas dasar realita inilah Ustaz Farza’in yang sekaligus pembicara di workshop ini membuat metode iqra’ bil qalam, menyuruh para pelajar Muslim yang belum bisa membaca Alquran dengan cara “menjiplak” atau menebalkan huruf-huruf yang tertera di kertas. Tujuannya supaya tercipta imajinasi di dalam benaknya.

Bukan hanya sebagai sarana penciptaan imajinasi, baginya metode ini juga ampuh sebagai terapi untuk meningkatkan atau mengembalikan fokus siswa. Menurut pembicara, ketika sang anak beristirahat dan mungkin mereka melakukan beberapa aktivitas, beberapa gelombang “pengganggu” masih terus mengikuti pikirannya meski dia telah masuk kelas untuk siap mengikuti pelajaran selanjutnya. Akibatnya fokus belajar menjadi hilang. Dan untuk menetralisir gelombang “pengganggu” tersebut, “menjiplak” Alquran merupakan salah satu cara ampuh, karena di dalam prosesnya membutuhkan pengerahan fokus dan konsenterasi yang cukup tinggi. Cukup dengan menerapkannya dalam rentang 10-15 menit, insyaaallah, menurutnya si anak akan benar-benar siap mengikuti pembelajaran yang baru.
Uztaz Farza’in malah memiliki ekspektasi yang lebih tinggi. Menurutnya jika proses ini terus berjalan hingga menjadi kebiasaan, maka output-nya adalah pembentukkan karakter Qurani. Hari ini sudah tercipta mushaf Alquran bil Qolam yang bahkan disahkan secara langsung oleh menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Beberapa Tanggapan
Secara sekilas metode ini bisa dikatakan bagus dan juga mudah dilakukan, bahkan ekonomis. Kalau metode ini berhasil, saya pun akan melihat dampak pertama yang muncul, yakni anak-anak akan bisa memiliki keterampilan menulis font/khat Arab atau Alquran yang indah. Betapa tidak, font yang biasa “dijiplak” atau ditebalkan adalah khat Naskhi.

Tetapi pertanyaan terbesar yang terlempar dari pikiran saya ialah, masih relevankah menulis, khususnya Alquran, secara manual di media kertas misalnya, ketika zaman sekarang semuanya sudah akan beralih ke media digital? Hari ini bagi saya proses penanaman imajinasi, kalau memang itu yang dikehedaki oleh metode ini, tidak perlu lagi dengan cara-cara yang manual. Bahkan kalau mau ekstrem atau revolusioner, sebagaimana yang diproyeksikan oleh para futurolog, di masa depan, cukup dengan menanamkan elektroda atau semacam cip berfitur tertentu ke dalam otak/tubuh manusia, mereka akan bisa langsung memiliki keterampilan atau pengetahuan yang telah diiput ke dalam elektroda tersebut.

Namun anggaplah cara revolusioner ini masih terlalu prematur, dan tidak ada salahnya untuk menggunakan cara-cara manual. Tetapi membelajarkan anak dengan menyuruh mereka sekadar mengikuti garis yang telah terlihat (follow the line) atau “menjiplak” akan sangat rawan membunuh kreativitas mereka, walaupun tentu saja harus diakui bahwa kreativitas biasanya diawali dengan peniruan.

Satu hal lain yang saya ragukan dari metode ini ialah soal kolerasi antara menulis mengikuti garis dengan tumbuhnya akhlak Qurani. Bagi saya ini terlalu berlebihan. Sebab pada kenyataannya tidak selalu ada kolerasi yang kuat antara orang yang sudah memiliki instalasi atau imajinasi perihal sesuatu yang suci/sakral, dengan akhlak mulia. Banyak yang sudah bisa membaca Alquran, rajin salat, dan melakukan ibadah-ibadah mahdah lainnya, tetapi perilaku tetap saja buruk.  

sumber gambar: fb iqro bil qolam
“Anggie, aku suka sama kamu. Mau enggak mau jadi pacar aku?”

Saya tidak tahu apakah kata-kata di atas masih biasa diungkapkan oleh generasi muda saat ini dengan menggunakan sepucuk surat? Daripada ribet menulis di kertas surat, lebih mudah bagi mereka untuk mengungkapkannya lewat aplikasi, mulai dari WhatsApp, Facebook, hingga Instagram. Tetapi bagi saya cara-cara yang demikian ini telah menghilangkan begitu banyak makna. Jelas, ini karena membuat surat cinta jauh lebih sulit sekaligus lebih menyertakan emosi dibanding sekadar mengetik.

Surat cinta membutuhkan perhatian penuh untuk dibaca dengan saksama. Jika dibandingkan dengan email atau pesan berbasis aplikasi yang bisa dengan mudah dilupakan, surat cinta akan membuat pembacanya duduk dengan penuh perhatian, membaca dan berusaha memahami pesan yang kita sampaikan. Dia akan memberi perhatian lebih karena dia tahu kita telah meluangkan waktu, usaha dan perhatian yang lebih untuk menulis surat cinta, setidaknya itu yang bisa ia lakukan sebelum memutuskan untuk merespon dengan sebuah surat balasan.
Di era saya di tahun 90-an, surat cinta menjadi primadona media ampuh untuk menyatakan cinta, walaupun mungkin hanya dengan menyertakan beberapa patah kata. Teman-teman perempuan saya yang berparas cantik sudah barang tentu sering sekali mendapatkan surat cinta. Ada laki-laki yang memasukkan surat itu ke tempat pensilnya, ada juga yang ke dalam tasnya. Tetapi bagi laki-laki yang, entah disebut nekad atau punya rasa percaya diri yang tinggi, dia berani memberikan surat cintanya langsung ke hadapan si perempuan yang dia suka. Sontak kelas menjadi ramai, dan karena malu si perempuan tersebut malah lari menjauh, walaupun beberapa hari kemudian diketahui bahwa mereka pada akhirnya berpacaran.

Trik ampuh para lelaki di zaman saya, selainkan memberi sepucuk kertas mereka juga biasa menaruh sesuatu yang lain di dalam surat tersebut. Bisa bunga, cokelat, atau sekadar hiasan-hiasan. Sesuatu yang indah dan girly akan memiliki penilaian lebih di mata perempuan.

Sebagai informasi, jangan dikira bahwa hanya kaum hawa saja yang mendapatkan surat pernyataan cinta, laki-laki tampan di sekolah saya dulu juga sering menerimanya, termasuk saya sendiri (ini bukan berarti saya ganteng ya! hehe). Ketika itu saya mencoba untuk membacanya secara perlahan. Bagus dan estetik memang isinya. Saya pun yakin kalau tulisan ini sudah mengalami beberapa kali revisian, yang berarti dia perlu mengganti sekian kertas, hingga pada akhirnya surat tersebut tiba di tangan saya. Tapi apa boleh buat, karena memang sedari awal saya tidak memiliki rasa sama sekali dengannya, saya tidak bisa membalas perasaannya.

Saya lupa apakah saya sempat pernah menyatakan cinta lewat surat, sebab dulu saya termasuk orang yang lebih senang menyimpan rasa, baik karena faktor pemalu maupun minder. Bahkan untuk cinta pertama saya, baru berani diperjuangkan setelah berada di bangku kelas tiga SMP. Padahal saya sudah menyukainya, mungkin sejak kelas tiga SD. Itu pun sebuah keberuntungan karena kami ditakdirkan untuk berada di satu sekolah yang sama ketika lulus SD. Kalau berbeda sekolah, sudah pasti saya hanya cukup berpuas diri dengan menyimpannya dalam hati.

Waktu itu saya bisa dibilang sebagai anak lelaki yang “gentle” karena berani mengungkapkan perasaan secara langsung, bukan lewat surat. Dari dulu memang sudah ada semacam stigma bahwa lelaki yang tidak berani menyatakan perasaannya secara tatap muka, dia adalah lelaki yang cemen. Betapapun demikian, ketika di masa-masa pacaran, surat atau kertas tidak luput kami jadikan sebagai media untuk saling berkomunikasi.

Namun setelah dipikir-pikir ada untungnya juga ketika menyampaikan perasaan yang sudah tidak lagi menggunakan kertas surat karena telah beralih ke pesan elektronik. Salah satunya ialah ketika ditolak. Karena ada sensasi yang berbeda antara menulis tangan dan mengetik, di mana yang pertama lebih menyertakan emosi dan perasaan yang kuat dibanding yang kedua, maka wajar kalau pihak yang menyampaikan perasaan tidak mengalami gejolak kekecewaan yang berlebihan.

Saya adalah orang yang termasuk di dalamnya. Beberapa kali saya mengungkapkan perasaan lewat surat elektronik. Meskipun telah berusaha untuk melibatkan seluruh emosi, tetap saja tidak bisa se-drama-tisir ketika saya menulisnya dengan tangan langsung. Dan benarlah, walaupun ditolak dan tentu saja kecewa, saya tidak terlalu depresi dan bisa menstabilkan diri dengan cepat. 

sumber gambar: uniqpost.com

Banyak broadcast berseliweran di grup WA yang nyinyir terhadap kebijakan sistem zonasi, mulai dari beli makanan harus zonasi hingga nyinyiran bekerja juga harus zonasi. Tapi saya tidak akan merespon pandangan ini karena menurut saya terlalu receh untuk ditanggapi.

Tulisan ini juga diusahakan untuk tidak akan mengulang beberapa ulasan teman-teman yang mencoba untuk melihat sisi positif sistem zonasi. Jika tertarik, silakan baca postingan Fahd Pahdepie di Facebook atau tulisan kakak tingkat saya, Gelar Riksa Abdillah (diposting di facebooknya juga). Dari pada berbuat demikian saya lebih banyak mengeksplorasi beberapa keluhan dan kritikan yang masih luput ditanggapi.

Ada yang bilang bahwa sistem zonasi itu bagus, tetapi karena hari ini situasinya masih belum ada pemerataan sarana prasarana atau fasilitas, maka seharusnya sistem tersebut ditunda terlebih dahulu. Saya tidak setuju dengan pandangan ini, sebab mau sampai kapan kita menunggu realisasi ini. Dengan kompleks dan banyaknya sekolah di Indonesia, pemerataan sar-pras atau fasilitas akan memakan waktu yang begitu lama, padahal tantangan pendidikan di abad 21 terus-menerus merongrong dan harus segera dihadapi.

Ada juga yang mengeluhkan penerapan zonasi karena belum meratanya lokasi sekolah negeri di Indonesia. Berkenaan dengan hal ini, saya malah melihat ada pesan instrinsik yang hendak digarap oleh pemerintah, bahwa masyarakat Indonesia harus segera beralih dari negeri oriented menuju tawaran beragam opsional pendidikan.

Mengapa demikian? Karena pemerintah menyadari bahwa mereka tidak akan bisa bergerak sendiri sehingga perlu juga mengaktualkan dan memberdayakan lembaga pendidikan lain, seperti sekolah swasta, bahkan pendidikan informal. Selama ini sekolah swasta masih dipandang sebelah mata sehingga wajar banyak di antara mereka yang akhirnya harus terpaksa gulung tikar karena kekurangan murid. Sudah kekurangan, yang mereka tampung biasanya adalah murid-murid “buangan” yang tidak diterima di sekolah negeri.

Salah satu alasan klasik mengapa masyarakat tidak mengambil sekolah swasta adalah karena biaya. Tapi bagi saya ada hal lain di belakang itu, yakni soal mind-set “pengemis” yang terus-menerus dipelihara.

Orang Indonesia maunya dimanja, kalau bisa semuanya serba gratis, mulai dari kesehatan hingga pendidikan. Lucunya, mereka lebih memilih untuk menginvestasikan hartanya ke sesuatu yang sangat materialistik dan berjangka pendek. Mudah membeli sepatu bermerk (nike, adidas, dll), tetapi berat sekali mengeluarkan harta untuk, misalnya membeli perlengkapan belajar.

Mudah untuk membeli mobil, motor, kuota, tetapi sulit berinvestasi untuk, misalnya, memberikan sokongan materi atas sesuatu yang menjadi passion si anak. Ngomel ketika anak butuh media/bahan tertentu untuk menunjang pembelajaran tapi mudah membeli tupperware atau perlengkapan mancing.

Pada hakikatnya, sesuatu yang “berharga” memang "mahal". Kita tidak ribut ketika mobil mewah/berkualitas, katakanlah Porsche atau Alphard, itu berharga mahal tetapi ketika bicara soal pendidikan berkualitas kita maunya gratisan? Bagaimana mungkin!! Jadi bagi saya, sekolah swasta yang menarik tarif mahal adalah sesuatu yang sangat masuk akal.

Anda akan ditertawakan ketika menuntut digratiskannya kursus bahasa Inggris yang berkualitas, katakanlah LIA atau British Council.

Pendidikan itu memang harus “mahal”, karena butuh banyak hal sebagai penyokongnya. Ketika kita memaksa untuk merendahkan tarif, seperti yang terjadi di sekolah-sekolah negeri (dipaksa untuk gratis), maka para praktisi yang ada di bawah-lah yang empot-empotan “mengakali” proses pembelajaran.

Orang tua di Indonesia harus diajarkan bahwa pendidikan itu “mahal” yang mulia. Jadi, daripada menuntut murah atau gratis, sebagai orang tua seharusnya bisa mati-matian mencari rezeki/dana untuk bisa menyekolahkan anaknya. Bagi yang benar-benar tidak bisa (sangat miskin dan tak berdaya), maka di sinilah tangan pemerintah muncul untuk membantu. Tapi tidak perlu semua dibantu, karena nanti malah akan menjadi pemalas.

Sebagian orang tua zaman dahulu rela kerja “mati-matian” supaya anaknya bisa sekolah atau kuliah, tapi orang tua sekarang rela “mati-matian” menginvestasikan uangnya untuk membeli smarphone baru, peralatan make up mahal, atau berjelajah ria ke luar negeri, umrah/haji berkali-kali, daripada untuk menumbuh-kembangkan buah hatinya.

Karena banyak orang tua yang memandang pendidikan bukan sebagai sesuatu yang mulia (dan patut untuk diperjuangkan), maka hal ini pun pada akhirnya menurun/tertular kepada anak-anak mereka. Apalagi ketika angka sudah tidak lagi diperlombakan, mereka seperti kehilangan arah, patah semangat, dan tidak memiliki gairah untuk berjuang.

Nilai (angka) oriented memang sudah sangat mengurat-akar di alam bawah sadar kita. Semua hal yang berkaitan dengan pendidikan selalu diukur dengan angka. Padahal pada kenyataannya perolehan nilai (angka) yang besar belum tentu selaras dengan kualitas dirinya. Sebagai contoh, siswa muslim sudah biasa memperoleh nilai tinggi di mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Anggaplah di rentang 90-an. Tetapi jika kita mau jujur, berapa persen sih siswa yang benar-benar pantas mendapat nilai itu? 15% juga terlalu besar.

Untungnya di bangku perkuliahan saya pelan-pelan menghilangkan pandangan angka oriented tersebut. Karena bagi saya pendidikan itu bukan soal angka. Dulu saya mendapatkan nilai A untuk mata kuliah Bahasa Arab padahal apa yang saya kuasai? Hampir nol. 

Kasus yang sebaliknya juga pernah terjadi, saya sangat menonjol di mata kuliah Pemikiran Islam (setidaknya dibanding teman-teman satu angkatan) eh saya malah dikasih nilai C sedangkan teman-teman saya mayoritas dapat B. Kalau saya sangat nuntut angka oriented, pasti hati selalu gundah-gulana, tetapi karena berusaha untuk mengubah pandangan tersebut, saya merasa tidak “dirugikan”.  Dan memang, ilmu tidak akan tertukar.

Pendidikan juga bukan soal bersaing dengan orang lain, tetapi jauh lebih sulit, yakni berjuang mengalahkan diri sendiri, menjadi pribadi yang lebih baik setiap saat yang tolok ukurnya adalah diri sendiri. 

Misalnya, jika dulu saya tidak paham soal algoritma, maka semester depan saya harus berjuang agar lumayan paham. Atau ketika sekarang saya belum menguasai percakapan dasar dalam bahasa Inggris di semester depan saya harus memiliki sedikit progres. Atau ketika dulu saya tidak paham tata krama, maka semester depan saya sudah mulai menerapkan tata krama tersebut, dll. Dan inilah yang perlu ditanamkan kepada para siswa hari ini yang sepertinya masih teracuni oleh nilai (angka) oriented.
 **
Sebagian guru khawatir kalau sistem zonasi ini akan mengorbankan siswa-siswa yang sudah memiliki potensi “unggul”, karena ketika digabung dengan mereka yang masih belum  “tersadarkan” maka anak mutiara ini akan mati sebelum berbuah. Bagi saya ketakutan ini dapat diatasi dengan memberikan mereka pengayaan dan tantangan yang berbeda dari murid-murid lainnya.

Guru-guru di sekolah negeri, khususnya yang sudah berstatus PNS/ASN, harusnya siap mengabdi bagaimana pun keadaannya, termasuk ketika mereka menampung siswa-siswa yang belum “tersadarkan”. Kalau mereka hanya mau menerima input yang bagus, lalu bagaimana nasib mereka yang belum “tersadarkan” ini? Siapa lagi yang akan merangkul mereka kalau bukan pemerintah dan aparaturnya!!

Salah satu kunci untuk mengatasi sistem zonasi yang katanya telah memberi sebuah kultur baru, yakni munculnya generasi “pemalas” dan tak “tersadarkan” ada pada sosok leader, kepala sekolah. Ketika kepala sekolah senatiasa merawat idealisme dan visi luhurnya, yang juga perlu ditularkan kepada rekan kerjanya (para guru), meskipun bukan suatu hal yang mudah, insyaallah perlahan-lahan para siswa akan tecerahkan, memahami dengan benar niat atau orientasi pendidikan yang dijalaninya, sehingga mereka akan memiliki semangat untuk memperjuangkannya.

sumber gambar: bbc.com

Rahmatullah Al-Barawi
Setiap tahun menjelang Idul Fitri, tradisi mudik menjadi hal yang unik. Sebab, fenomena ini nampaknya hanya terjadi di Indonesia sekaligus mengukuhkan argumen yang mendukung kebudayaan Islam di Nusantara (baca: Islam Nusantara).

Meskipun demikian, sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan hal tersebut. Tentu setiap insan merindukan kampung halaman tempat mereka pertama kali mengenal arti kehidupan.

 Jika boleh dikatakan, kerinduan tersebut merupakan ekspresi dari tradisi mudik asgar atau kecil. Karenanya tentu ada mudik yang akbar. Apa itu dan bagaimana hubungannya dengan kondisi keberagamaan kita saat ini?

Tulisan sederhana ini sebenarnya hanya mengundang pembaca untuk berefleksi sejenak. Jangan sampai mudik asgar yang hampir setiap tahun kita lakukan melalaikan kita dari perenungan mudik akbar, yaitu kembali ke kampung akhirat.

Nampaknya kesibukan duniawi, hiruk-pikuk ekonomi, politik identitas penuh caci-maki, dan keberagamaan kita yang kian jauh dari nilai-nilai Ilahi membuat kita terlena dan abai mempersiapkan bekal yang tepat untuk kehidupan di akhirat kelak. Poin yang terakhir menjadi penekanan utama dalam artikel ini.

Secara umum, keberagamaan kita masyarakat Indonesia semakin meningkat dari aspek kuantitas dan visualnya. Kita bisa lihat fenomena hijrah yang kian membanjiri generasi muda, artis ternama, hingga orang biasa.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan hal tersebut. Hanya saja yang terjadi adalah semangat keberagamaan kita semakin diukur dengan hal-hal visual, seperti penampilan fisik, pemilihan diksi kata yang berbau arab, dll. Hal ini semakin mendapatkan tempat ketika media sosial menjadi tempat ‘pelampiasan’ generasi milenial.

Semua kebaikan diumbar ke sosial media dengan beragam motivasi tentunya. Setiap orang dapat belajar agama dari internet tanpa harus bertatap muka secara langsung. Dalam konteks ini, transmisi dan otoritas pengetahuan keagamaan telah bergeser cukup signifikan. Generasi X dan Y, atau yang lahir sebelum tahun 90-an pasti merasakan perubahan tersebut.

Imbasnya, keberislaman kita semakin bersifat materialistik. Seseorang disebut orang baik jika ia dapat membangun ‘branding’ apik di media sosialnya. Entah di dunia nyata kelakuannya seperti apa, orang lebih memilih menampilkan citra positif sebanyak-banyaknya di sosial media. Sehingga Islam seolah disederhanakan hanya sebatas persoalan penampilan, halal haram, boleh tidak boleh, dan aturan-aturan lain yang sangat kaku.

 Padahal, Islam tidak hanya sebatas persoalan akidah yang melahirkan ilmu tauhid ataupun syariat seputar hukum fikih. Ajaran Islam sejatinya meliputi etika, akhlak, dimensi muamalah yang sedikit banyak diasah melalui perjalanan spiritual dalam tradisi tasawuf.

Kembali ke permasalahan awal, pembacaan ajaran Islam yang hanya seputar ketauhidan dan syariat semata membuat kita jarang introspeksi dengan mudik akbar. Di sinilah urgensi memahami ajaran Islam dari kacamata sufistik menjadi penting. Misalnya Imam Ibnu ‘Atha`illah al-Sakandari pernah mengatakan: ‘Am kaifa yahsulu ila Allah, wahuwa mukabbalun bi syahwatih’, Bagaimana bisa kita sampai kepada Allah, sementara hati kita masih terbelenggu dengan syahwat duniawi.

Untaian hikmah yang ditulis dalam kitab tasawuf fenomenal, Al-Hikam tersebut memberikan pelajaran sekaligus kritik terhadap keberagamaan kita dewasa ini. Di saat kita fokus melihat dan mencari kesalahan orang lain, abai melihat khilaf pribadi. Gegap gempita hoax dan ujaran kebencian di sosial media membuat kita terhanyut ikut serta begitu saja. Kita terlampau sering menuruti hawa nafsu birahi sehingga menjauhkan kita dari pancaran Ilahi.

Kesadaran ini juga yang membuat beberapa cendekiawan Muslim seperti Gus Ulil Abshar Abdalla, Cak Kuswaidi Syafi’i, Gus Mus, Habib Quraish Shihab, Gus Nadirsyah, Gus Baha`, dll mulai ‘turun gunung’ ke sosial media mendakwahkan Islam yang tidak ‘melulu’ soal halal haram semata, tetapi juga menyelami makna yang terkandung di dalamnya. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa nilai-nilai tasawuf perlu dibumikan.

Pertama, nilai sufistik dapat menjadi penawar dan counter narasi dari maraknya ajaran-ajaran Islam formalistik dan menjurus pada radikalisme. Kedua, laku spiritual yang dilakukan oleh para sufi dapat memberikan alternatif bagi generasi milenial untuk menemukan kebahagiaan yang sifatnya bukan visual, tetapi substansial. Ketiga, ajaran-ajaran tasawuf dapat menuntun kita dalam mengamalkan ajaran Islam yang ramah dan inklusif.

Meski demikian, jangan pahami bahwa ajaran tasawuf itu terbelakang, tertinggal, dan mengajarkan kita untuk pasrah dalam menerima keadaan. Semangat tasawuf sejatinya tidak berlawanan dengan semangat modernitas. Hanya saja, tasawuf menjadi alat kontrol agar kita tidak menjadikan modernitas sebagai dewa, melainkan hanya sebatas sarana untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Inilah pesan yang disampaikan oleh Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern.

Oleh karena itu, momentum idul fitri, kembali pada kesucian diri harus benar-benar dipahami sebagai langkah awal untuk menapaki kehidupan dengan visi jauh ke depan. Yakni dunia tidak dipandang sebagai tujuan, tetapi sarana untuk sampai pada kehidupan akhirat.
Keislaman yang sejati -atau meminjam istilah Haedar Nashir- yang otentik, hanya bisa terwujud manakala kita menyelami makna kehidupan ini dan tidak terjerumus pada aspek formal, visual, dan material semata.

Intinya, di tengah hiruk pikuk duniawi saat ini, kita butuh waktu reflektif untuk merenungkan diri. Jangan biarkan kita tenggelam dalam hegemoni dunia yang fana dan penuh tipu daya.

*Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana UIN Yogya

sumber gambar: ig @leila_qinsart