Bagaimana Seharusnya Menyikapi Pandemik Virus Corona?

/ Maret 31, 2020
Sella Rachmawati
Beberapa minggu terakhir dunia khususnya Indonesia tengah ditimpa pandemik yang sangat membahayakan jika dilihat dari banyaknya orang yang meninggal, Covid 19. Beberapa kabar menyebutkan bahwa virus ini adalah senjata biologis yang sedang disiapkan oleh orang-orang yang berkepentingan lalu kemudian ia bocor.

Ada juga kabar yang menyebutkan bahwa virus ini datang dari hewan-hewan yang dijual bebas di salah satu pasar di Wuhan, Cina. Entah mana yang benar, yang jelas saat ini terjadi adalah kepanikan di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Pemerintah Indonesia sedang dan akan terus berusaha mencegah penyebaran Covid-19 menjadi semakin meluas. Dimulai dengan diliburkannya anak-anak sekolah, social distancing atau physical distancing, kemudian ramai ajakan bekerja dari rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Semua itu adalah usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengajak masayarakatnya.

Tapi sayang, beberapa masyarakat abai dengan anjuran tersebut hal ini karena tidak ada ketegasan dari pihak yang berwenang. Beberapa influencer sebutlah dr. Tirta dalam akun instagramnya meminta ketegasan dari pemerintah bahkan untuk karantina wilayah, dan mempersiapkan dengan matang masalah perekonomian yang mungkin akan terjadi kemudian.

Memang akan menjadi hal yang sulit jika melihat kondisi Indonesia. Tapi menurut penulis yang notabene awam, agaknya kita harus mengambil beberapa risiko untuk kemaslahatan yang lebih besar.

Sebenarnya, kondisi seperti ini adalah kondisi di mana rakyat Indonesia bisa saling membantu satu sama lain, yang tebiasa bergelimang harta bisa menyumbangkan sebagian hartanya untuk membantu dalam penanganan Covid-19, entah berbentuk alat kesehatan atau bahan makanan pokok untuk kalangan yang menjadi kepala keluarga yang harus tetap bekerja dalam wabah pandemik ini agar mereka bisa melakukan kegiatan di rumah saja dan melakukan apa yang disarankan pemerintah.

Sepertinya setiap lapis masyarakat jika memiliki kesadaran dan kebijaksanaan, kita bisa bersama-sama memerangi Covid 19 ini, dengan tidak menjunjung ego masing-masing dan mengambil keuntungan pribadi. Ayolah, kita bisa kok.

Selain usaha yang kita lakukan, kita juga harus tetap berhusnudzan kepada Sang Maha Segala, berdoa, dan menjadikan kondisi ini sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang masih mau mengingatkan kita untuk peduli sesama dan menjadikan bumi lebih tenang karena bersih dari polusi dan kerusakan-kerusakan lainnya yang pernah kita perbuat entah akhlak kita yang buruk kepada sesama manusia atau kepada makhluk lainnya.

Semoga pandemik ini segera berakhir, dan setelahnya semoga kita mampu menafsirkan maksud Allah mengirimnya. Semoga kita selalu dalam Rahman Rahim-Nya. Amin. Wallahu’alam.
Sumber gambar: radioidola.com
Sella Rachmawati
Beberapa minggu terakhir dunia khususnya Indonesia tengah ditimpa pandemik yang sangat membahayakan jika dilihat dari banyaknya orang yang meninggal, Covid 19. Beberapa kabar menyebutkan bahwa virus ini adalah senjata biologis yang sedang disiapkan oleh orang-orang yang berkepentingan lalu kemudian ia bocor.

Ada juga kabar yang menyebutkan bahwa virus ini datang dari hewan-hewan yang dijual bebas di salah satu pasar di Wuhan, Cina. Entah mana yang benar, yang jelas saat ini terjadi adalah kepanikan di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Pemerintah Indonesia sedang dan akan terus berusaha mencegah penyebaran Covid-19 menjadi semakin meluas. Dimulai dengan diliburkannya anak-anak sekolah, social distancing atau physical distancing, kemudian ramai ajakan bekerja dari rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Semua itu adalah usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengajak masayarakatnya.

Tapi sayang, beberapa masyarakat abai dengan anjuran tersebut hal ini karena tidak ada ketegasan dari pihak yang berwenang. Beberapa influencer sebutlah dr. Tirta dalam akun instagramnya meminta ketegasan dari pemerintah bahkan untuk karantina wilayah, dan mempersiapkan dengan matang masalah perekonomian yang mungkin akan terjadi kemudian.

Memang akan menjadi hal yang sulit jika melihat kondisi Indonesia. Tapi menurut penulis yang notabene awam, agaknya kita harus mengambil beberapa risiko untuk kemaslahatan yang lebih besar.

Sebenarnya, kondisi seperti ini adalah kondisi di mana rakyat Indonesia bisa saling membantu satu sama lain, yang tebiasa bergelimang harta bisa menyumbangkan sebagian hartanya untuk membantu dalam penanganan Covid-19, entah berbentuk alat kesehatan atau bahan makanan pokok untuk kalangan yang menjadi kepala keluarga yang harus tetap bekerja dalam wabah pandemik ini agar mereka bisa melakukan kegiatan di rumah saja dan melakukan apa yang disarankan pemerintah.

Sepertinya setiap lapis masyarakat jika memiliki kesadaran dan kebijaksanaan, kita bisa bersama-sama memerangi Covid 19 ini, dengan tidak menjunjung ego masing-masing dan mengambil keuntungan pribadi. Ayolah, kita bisa kok.

Selain usaha yang kita lakukan, kita juga harus tetap berhusnudzan kepada Sang Maha Segala, berdoa, dan menjadikan kondisi ini sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang masih mau mengingatkan kita untuk peduli sesama dan menjadikan bumi lebih tenang karena bersih dari polusi dan kerusakan-kerusakan lainnya yang pernah kita perbuat entah akhlak kita yang buruk kepada sesama manusia atau kepada makhluk lainnya.

Semoga pandemik ini segera berakhir, dan setelahnya semoga kita mampu menafsirkan maksud Allah mengirimnya. Semoga kita selalu dalam Rahman Rahim-Nya. Amin. Wallahu’alam.
Sumber gambar: radioidola.com
Continue Reading
Panji Futuhrahman
Corona Covid-19 mulai menyebalkan, kita sebagai bangsa berpredikat tersantai di dunia tak bisa lagi menghadapinya dengan bercanda. Tapi tidak juga kemudian harus tertekan dan ketakutan karena dua hal itu justru akan menghilangkan kewaspadaan dan akal sehat kita.

Menurut seorang ahli yang menekuni bidang per-virus-an virus hidup pada gelombang tertentu dan besaran gelobang yang dihasilkan badan kita ketika takut adalah gelombang yang lifeable bagi virus, maka besar kemungkinan virus akan langsung menganggap badan kita sebagai “rumah yang tepat" jika kita dalam kondisi takut.

Di samping itu ada semacam permainan pikiran yang ilmiahnya disebut psikosomatis. Sederhananya badan kita tiba-tiba merasakan gejala yang sama dengan yang sering kita bicarakan. Tiba-tiba kita batuk, bersin, demam dan linu-linu padahal bukan karena terjangkit virus tapi semata-mata kita terlalu sering menerima informasi tentang gejala virus tersebut. Jadi penting juga kita meminimalisir persebaran info tentang virus ini. Jangan keseringan! karena justru malah bikin kita rentan dan stress. Maka jelas saya tidak tertarik membahas panjang lebar tentang virus ini, saya akan bahas hal lain yang terimbas oleh pandemik ini.

Salah satu yang terimbas oleh pandemik ini adalah sekolah. Sudah dua minggu proses belajar dikembalikan ke rumah dan berdasarkan intruksi terbaru akan digenapkan hingga sebulan. Bahkan beberapa daerah meliburkan siswanya lebih lama lagi. Namun demikian proses pembelajaran harus berlangsung. Berbagai media digunakan guru agar pembelajaran tetap berjalan, berbagai metode coba digalakkan.

Namun baru seminggu bergulir KPAI sudah ikut repot dengan memberi saran agar guru tak kebanyakan memberi tugas, tugas tidak memberatkan siswa dll. Hemat dari saya jangan dulu banyak intervensi, toh guru di bawah lembaga sekolahnya masing-masing pasti akan membuat regulasi internal. Tulisan saya di bawah ini akan coba menyumbangkan pemikiran sebagai sesama profesi terkait pelaksanaan belajar mengajar dalam jaringan yang  ideal di tengah pandemik Covid 19 ini.

Pertimbangkan Social dan Physical Distancing
Sebelum merancang pembelajaran dalam jaringan, kita mesti memahami bahwa situasi yang dihadapi hari tidak biasa. Ada social dan physical distancing yang harus diperhatikan. Artinya proses belajar di rumah tetap harus menghindari berkumpulnya anak-anak itu.

Jangan sampai tugas yang diberikan guru justru membuat anak berkumpul karena tugasnya tugas kelompok yang hanya bisa dikerjakan jika mereka berkumpul di satu tempat.

Atau justru menyuruh setiap anak mencetak / print materi atau tugas, sudah pasti tidak setiap anak punya printer dan hal itu membuat anak pergi ke warnet atau menumpang print di rumah kawannya. Hal ini akan membuat tujuan awal dari dikembalikannya proses belajar ke rumah agar kontak fisik yang biasa terjadi di sekolah terbatasi malah tidak tercapai. Alhasil membuka kembali peluang bagi menyebarnya virus ini.

Equivalensi Durasi Belajar
Ketika pembelajaran berlangsung di sekolah seperti biasanya, siswa, guru dan seluruh prasarana yang tersedia memang sudah dirancang dan disiapkan bagi terjadinya proses belajar. Lain halnya saat pembelajaran dilaksanakan di rumah. Siswa tidak sepenuhnya dalam kondisi yang siap belajar atau setidaknya tidak sesiap ketika dia ada di sekolah.

Kondisi rumah baik secara fisik maupun interaksi yang terjadi di dalam rumah mereka masing-masing tentu beragam. Kondisi ini mesti kita pahami pula, terlebih bagi siswa yang berasal dari daerah non perkotaan. Tidak semua siswa dalam kondisi serba leluasa. Maka di sini guru mesti bijak dalam menentukan durasi belajar.

Jika di sekolah mata pelajaran A berlangsung selama 2 jam pelajaran dalam seminggu yang artinya selama kurang lebih 90 menit untuk tingkat SMA. Kita tahu selama dua jam itu di dalamnya ada waktu yang digunakan guru untuk mengabsen, merapikan dan menyiapkan kelas dan peserta didik, belum lagi jika ada ice breaking di tengah pembelajaran atau doa pembuka dan penutup sebelum pembelajaran dimulai.

Maka kita bisa asumsikan semua kegiatan pra dan pasca pembelajaran itu menghabiskan waktu setidaknya 15 menit. Jadi waktu efektif itu hanya tersisa sekitar 75 menit.

Waktu efektif ini kita implementasikan kepada kegiatan belajar di rumah. Maka mata pelajaran A tadi dalam memberikan pembelajaran jarak jauh kepada siswanya akan lebih bijak jika tak melebihi waktu efektif tadi yakni 75 menit. Di dalamnya sudah termasuk panduan belajar/mengerjakan tugas, pemberian materi dan penugasannya. Itu semua mestinya memungkinkan untuk selesai dalam waktu 75 menit tadi. 

Belajar Di rumah Bukan Hanya Mengerjakan Tugas.
Proses belajar tidak bisa hanya diwakili oleh pemberian tugas. Proses Belajar mengajar sebagaimana kita tahu menyaratkan adanya peserta didik sebagai pribadi yang belajar. Belajar artinya ada proses yang membuat anak dari semula tidak tahu menjadi tahu, dari semula tidak paham menjadi paham, dari awalnya tidak bisa menjadi mahir.

Tidak apa jika pendidik dan peserta didik tidak berada dalam ruangan yang sama namun proses memfasilitasi peserta didik agar belajar ini harus tetap ada. Caranya bisa beragam, apakah melalui komunikasi jarak jauh yang hanya berupa teks atau tatap muka seperti video conference, atau panduan belajar yang sudah tersusun dengan rapi dan dipahami peserta didik, setidaknya ada upaya pendidik di sana dalam membantu siswa menguasai suatu kompetensi.

Dan tentunya ada materi belajar  yang diberikan oleh pendidik. Pemberian materi ini tidak melulu guru yang menyuapi, bisa juga kita meminta siswa yang mencari tahu, namun jangan lupa! jika kita menggunakan metode yang kedua disebut, maka guru harus memastikan apakah yang siswa dapatkan sudah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh guru? Jika belum sesuai, artinya guru harus turun tangan meluruskan atau melengkapi yang belum sempurna.

Sekedar mengingatkan, langkah memastikan apa yang siswa dapat itu bukan dengan ulangan, sekali lagi, proses ini tidak tepat jika dijadikan ulangan. Karena jika guru hanya memberi poin-poin apa yang mesti dicari lalu setelah siswa mencari langsung di lakukan tes. Maka bukan salah siswa jika mereka menjawab dengan keliru, karena bisa jadi memang itu yang ditemukan siswa dalam pencariannya.

Langkah memastikan ini kalau dalam pembelajaran klasikal biasanya terdapat dalam proses presentasi siswa dan sesi tanya jawab. Di sinilah guru dapat memastikan apakah siswa sudah mempelajari materi yang seharusnya atau belum? Dan jika keliru atau kurang lengkap di sinilah fungsi guru untuk menyempurnakan.

Lalu Bagaimana proses ini bisa terjadi dalam pembelajaran non klasikal dan dalam jaringan? Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan meminta siswa mengumpulkan catatan. Bisa berupa foto atas buku catatan mereka lalu dikumpulkan kepada guru, atau catatan itu mereka buat dalam bentuk digital dan dikirim filenya kepada guru mata pelajara bersangkutan. Setelah itu guru memberikan feedback : apresiasi terhadap hasil belajar yang sesuai dan masukan juga perbaikan kepada siswa yang  hasil belajarnya belum sempurna. Hal ini dimaksud untuk memastikan siswa menguasai kompetensi yang diharapkan.

 Selesaikah sampai sini? Tentu belum. Setelah proses belajar dipastikan terjadi dan siswa sudah dipastikan pula menguasai kompetensi yang diharapkan, barulah setelah itu boleh diadakan ulangan atau evaluasi untuk mengukur capaian penguasaan kompetensi.

Media yang Sesuai Bagi Siswa dan Guru
Berikutnya yang tak kalah penting adalah pemilihan media yang akan menghubungkan antara siswa dan guru. Di awal pelaksanaan pembelajaran di rumah, banyak sekali broadcast di grup-grup WhatsApp tentang banyaknya pilihan platform pendidikan. Tapi tak sedikit pula kekurangannya. Sebut saja Ruangguru, sepengetahuan saya di dalamnya hanya ada mata pelajaran yang  di-UN-kan saja, sedangkan di luar itu ada banyak mata pelajaran lain yang tak terfasilitasi.

Rumah belajar yang digadang-gadang serupa ruang guru namun milik pemerintah dan gratis, jangankan untuk mencari tahu apa saja di dalamnya, bisa masuk halaman utamanya saja tak tahu kita harus tunggu loadingnya sampai kapan.

Selain itu masih banyak lagi namun jika sebagian guru mempertimbangkan kepraktisan atau bahasa lembutnya “terjangkau oleh semua kalangan”, apalagi intruksi belajar di rumah ini terjadi begitu mendadak, saya yakin sedikit sekali yang menggunakan platform-platform itu.

Tapi bukan guru namanya jika tak bisa eklektik terhadap kondisi. Media  sosial Whatsapp, Instagram, Line, Facebook, Hangout, Zoom hingga aplikasi turunan Google Seperti Gmail, Drive, Form dan Site semuanya bisa digunakan.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kesiapan siswa dan kesiapan gurunya. Sebagaimana pepatah Bob Marley: “Not the gun but the man behind the gun”. Bukan tentang perangkatnya, tapi ini semua bergantung pada siapa yang menggunakan perangkatnya.

Yang utama harus diperhatikan adalah prinsip dasar teknologi yaitu memudahkan pekerjaan manusia. Jangan sampai penggunaan semua media pembantu berbasis teknologi itu justru sebaliknya membuat manusia berkerja  berkali lipat dari semestinya.

Kesiapan siswa, ketersediaan perangkat dan jaringan, pemahaman siswa terhadap pengoperasian perangkat, dan bagaimana guru mengoperasikan dan mengarahkan siswa dalam menggunakan perangkat yang digunakan, belum lagi guru masih punya kewajiban memeriksa dan menilai pekerjaan siswa. Keseluruhan itu jika kita gunakan prinsip teknologi yang paling dasar tadi, maka harus lebih meringankan siswa dan guru, ketimbang menyulitkanya.

Di sini guru harus mau belajar. Inovatif dan kreatif sejatinya nomor kesekian dan akan otomatis muncul pada pribadi guru yang mau belajar dan mencari tahu hal-hal baru. Dan di era keterbukaan informasi dan kala jutaan orang hari ini sudah punya Blog dan Chanel Youtube, cara membuat apa pun sudah ada di internet hari ini, maka yang dibutuhkan hanya tinggal keinginan untuk belajar.

Tidak perlu mengejar materi
Di tengah kondisi yang tidak satu pun dari kita menginginkan seperti ini, kurang bijak bagi  seorang guru untuk tetap mengacu pada tuntutan silabus terkait kompetensi yang harus dikuasai siswa.

Menteri pendidikan dalam surat edarannya nya sudah jelas mengenai hal ini bahwa guru tidak berkewajiban bahkan sebaiknya tidak mengejar materi sesuai silabus. Karena selain ada materi belajar, guru-guru juga diharapkan bisa turut andil dalam perang melawan pandemik ini.

Selain tetap mengajar dan mencerdaskan anak bangsa sesuai bidangnya masing-masing, guru juga semestinya turut menggalakkan pola hidup bersih dan sehat, juga pengetahuan-pengetahuan mengenai virus ini dan pencegahannya, serta membantu masyarakat memastikan anak-anak ini mematuhi social distancing juga memberikan motivasi agar kita sama-sama punya optimisme dalam melawan musuh bersama ini.

Di samping itu siswa juga tidak dalam kondisi yang sepenuhnya siap belajar, setidaknya kondisi mereka tak seoptimal seperti saat mereka ada di sekolah.

Dari keseluruhan yang sudah dibahas, saya tidak bermaksud memperkeruh atau mempersulit siapa pun, pertimbangan terhadap anjuran pemerintah yakni social dan physical distancing, pembelajaran di rumah yang tidak hanya berarti pemberian tugas semata,  pemilihan media yang sesuai dan tepat guna serta penyederhanaan materi memang sudah sepatutnya dipertimbangkan oleh pendidik dalam rangka tetap menjalankan proses belajar mengajar yang sesuai ditengah pandemik Covid-19 ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan masukan positif bagi kawan-kawan seprofesi juga jika ada masukan dan saran terhadap penulis terkait tulisan ini tentu akan sangat terbuka dan terbantu.
Sumber gambar: primaindisoft.com

Mendidik di tengah Pandemi

by on Maret 31, 2020
Panji Futuhrahman Corona Covid-19 mulai menyebalkan, kita sebagai bangsa berpredikat tersantai di dunia tak bisa lagi menghadapinya denga...

Tulisan salah seorang teman lama saya mengenai relasi antara agama dan sains, atau dapat juga dispesifikkan menjadi relasi antara Tuhan dan manusia, kembali mengingatkan pada masa di mana saya mengalami kegoncangan iman yang cukup serius.

Konteks dalam tulisannya itu ialah mengenai bagaimana peran Tuhan dalam kasus virus Corona yang hari ini sedang melanda ke hampir seluruh negara. Apakah dengan beribadah, berdoa bersama, dan melakukan ritual-ritual sakral lainnya akan dapat membasmi virus mematikan tersebut?

Seperti yang kita ketahui, masyarakat Indonesia “sangat religius”, maka dalam menyelesaikan banyak problem, termasuk soal Corona ini, tidak akan bisa melepaskan diri dari pendekatan-pendekatan keagamaan. Ada yang percaya kalau air wudu bisa menghindarkan kita dari virus. Ada yang membaca qunut nazilah. Dan ada juga yang membaca doa-doa tertentu, yang diyakini cukup ampuh melindungi pembacanya tertular dari virus Corona.

Namun bagi teman saya ini, setidaknya menurut yang saya pahami dari artikel tersebut, agama/Tuhan bukanlah solusinya, atau tidak bisa menjadi solusi. Lalu siapa yang bisa menanggulangi persoalan ini? Tidak ada kemungkinan lain selain manusia sendiri, dalam hal ini adalah sains, bukan Tuhan. Manusialah, dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, yang dapat mengalahkan virus tersebut.

Jika kita mau tarik persoalan ini ke ranah yang lebih filosofis, kita akan menemukan satu pertanyaan radikal yang mendasari perbedaan atau pemisahan dua pandangan di atas, seperti “Apakah Tuhan benar-benar berperan di dalam kehidupan kita?” Kalau iya, bagaimana prosedurnya? Sebab menurut pandangan saya, meskipun masih belum final, sepertinya Tuhan tidak ikut campur dalam kehidupan umat manusia, kecuali sekadar melalui mekanisme hukum alam yang telah dibuatnya.

Sering mendengar kata-kata ini? “Kita diminta untuk membuat rencana/berusaha, untuk hasilnya biar Tuhan yang memutuskan,” atau “Ikhtiar dulu baru tawakal!” Nah, masalahnya adalah kita telah menerima pemahaman ini secara taken for granted sejak kecil. Tapi kalau boleh jujur, setidaknya menurut nalar saya, pandangan ini cukup bermasalah, kalau enggan berkata paradox. Jika pada akhirnya Tuhan yang menentukan hasilnya, lantas buat apa manusia berusaha? Tuhan mau melihat usaha kita? Kata teman saya, ini argumen sampah.

Yang saya pahami, manusia akan menerima dari apa yang diusahakannya. Menulai apa yang ditanamnya. Hubungan sebab-akibat ini konkret, masuk akal bagi saya. Meskipun saya harus berhati-hati untuk mengungkapkan relasi ini, karena pada kenyataannya hubungan tersebut tidak sesederhana “Jika X maka Y”, sebab semakin rumit suatu perbuatan atau tindakan maka tentu saja faktor-faktornya semakin banyak, hingga barangkali sulit untuk mengetahui faktor mana yang paling dominan yang membuahkan hasil Y tersebut.

Seumpama, sekali lagi seumpama, saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Harvard (disimbolkan dengan Y). Di sini saya bisa memasukkan beberapa faktor (diberi simbol X) mengapa saya bisa diterima di Harvard, seperti (X1) saya mendaftarkan diri secara administratif; (X2) melampirkan track record hasil achievement saya yang selaras dengan bidang yang ingin saya pelajari; (X3) saya mempersiapkan diri secara matang untuk sesi wawancara; (X4) peserta seleksi yang secara kualitas berada di bawah saya; dan ini list ini bisa terus diperpanjang.

Barangkali saya bisa menerka-nerka faktor apa yang menyebabkan saya bisa diterima, tapi saya tidak akan mengetahuinya secara pasti karena begitu banyaknya faktor X tersebut. Namun satu hal yang pasti, faktor-faktor religius (saya berdoa atau doa orang tua, dll) sulit dijadikan sebagai faktor yang menentukan (key factors) keberhasilan tersebut. Memang kesannya Tuhan tidak berperan di sana, kecuali sekadar yang menciptakan sarana hukum sebab-akibat. Yang ada di sini hanyalah kehendak-kehendak manusia. Sehebat dan sebanyak apa pun saya berdoa atau beribadah, kalau saya tidak mendaftarkan diri secara administratif ke Harvard, saya tetap tidak akan bisa diterima di kampus ternama tersebut.

Begitu pula dengan kematian. Masyarakat regius di Indonesia meyakini bahwa kematian ada di tangan Tuhan. Bahkan ada ustaz yang berkata bahwa sakit tidak ada hubungannya dengan kematian. Argumennya, ada manusia yang mati secara “tiba-tiba” sedangkan di sisi lainnya ada manusia yang tidak meninggal meski sudah menderita sakit selama bertahun-tahun. Sebenarnya kita tidak bisa bilang “tiba-tiba” karena jika mau dilacak, kita akan mengetahui faktor apa yang menjadi penyebab dirinya meninggal. Maka wajar jika kemudian keyakinan-keyakinan yang semacam ini (predestinatif) ditunggangi secara tak bertanggung jawab oleh beberapa kalangan, termasuk para perokok. Meskipun para dokter sepakat kalau rokok itu buruk bagi kesehatan, namun mereka tetap saja tak peduli. "Kan kematian ada di tangan Allah, bukan karena rokok." Jika kasusnya adalah Corona, mereka akan bilang tidak takut mati karena Corona, dan tetap ngotot pergi ke rumah ibadah atau perkumpulan keagamaan. 

Orang yang meyakini bahwa kematian mutlak ada di tangan Tuhan akan kesulitan menjawab kasus orang yang meninggal karena bunuh diri, yang jelas-jelas merupakan kehendak pribadinya sendiri (anggaplah seperti itu, meskipun bisa saja karena adanya paksaaan dari eksternal). Masa sih mereka akan bilang kalau bunuh diri itu adalah kemauan Tuhan? Hmm.

Akhirnya, dapatkah kita mulai mengatakan kalau memang manusialah yang berkehendak atas dirinya dan sekitarnya.


sumber gambar: kompas.com
Ditulis oleh: Raden Agung Fajar

Hingga kini memasuki bulan Maret 2020 dunia masih digemparkan dengan wabah penyakit yang berasal dari Wuhan, China kemudian menyebar dengan pesat yang berawal dari satwa dan menular pada manusia.  Dunia medis menyebut wabah ini sebagai virus jenis baru yakni Coronavirus.

Para peneliti dunia kesehatan dari berbagai dunia bahu-membahu untuk pengendalian, pencegahan, tindakan dan mencari vaksin dengan alokasi dana yang luar biasa demi menangkal wabah ini. Tiongkok, Amerika Serikat, Korea Selatan, Iran menganggarkan dana yang begitu besar dalam kasus tersebut. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang sudah ditetapkan sebagai negara maju?

Pada awalnya Indonesia begitu tenang karena Covid-19 belum menjangkit penyebaranya ke Indonesia bahkan dunia mengapresiasi atas sterilnya Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga Asean seperti Singapura dan Malaysia hingga akhirnya virus ini terbawa oleh Warga Negara Asing asal Jepang yang terinfeksi dan menular pada dua Warga Negara Indonesia dan Kementrian Kesehatan yang selanjutnya disebut Kemenkes mengkonfirmasi mereka positif terinfeksi pada Senin 2 Maret 2020.

Sempat mengalami tumpang tindih antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Pusat mengenai pengendalian virus ini, Pemprov DKI Jakarta menggaungkan transparansial atas keterbukaan informasi wabah virus dengan maksud mempermudah untuk memerangi virus ini lain hal dengan pemerintah pusat yang justru memberi diskon dalam hal penerbangan dan tetap mempromosikan destinasi-destinasi pariwisata dengan tujuan perekonomian yang tetap stabil meskipun hadirnya wabah virus, pemerintah pusat mengintruksikan agar tetap tenang dan mensosialisasikan upaya pencegahan Covid-19.

Tidak hanya itu, mengenai anggaran untuk Covid-19 Indonesia terbilang rendah hanya mencapai miliaran tidak sebanding dengan pembangunan yang diagungkan terutama proyeksi perpindahan ibu kota.

Dalam penjabaran singkat tersebut peran kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah begitu vital, hukum selalu menjadi alat dalam hal pengendalian. Kebijakan yang tepat sasaran akan mempengaruhi pengendalian agar tidak memperburuk situasi yang berdampak pada segala aspek. Dalam hal ini diharapkan dinamika politik yang ada wajib dikesampingkan demi bersatunya seluruh unsur baik masyarakat, pemangku kebijakan, media dan peneliti atau akademisi dunia kesehatan. Bagaimana tidak, Masuknya virus ini dimulai dari awal Maret sampai tertanggal 14 Maret 2020 begitu melonjak tajam hingga menyeret salah satu nama Menteri.

Jika kita meninjau dalam kebijakan-kebijakan dunia yang begitu beraneka ragam dalam upaya pencegahan seperti memberlakukan lockdown, menutup penerbangan dari negara-negara yang memiliki banyak kasus, menutup sementara umrah dan sejenisnya, meniadakan ibadah Jum’at dan lain sebagainya sampai pada tingkat World Healt Organization (WHO) menetapkan CoronaVirus sebagai Pandemi.

Kabar terbaru Indonesia telah menaikan anggaran menjadi kurang lebih 1 Triliun untuk pengendalian Covid-19 dan Pemprov DKI Jakarta menutup tempat-tempat keramaian seperti meniadakanya agenda Car Free Day bahkan memberlakukan sekolah-sekolah untuk belajar dirumah dalam dua pekan sampai menunggu hasil perkembangan dari Covid-19. Dunia hiburan, pendidikan, pariwisata telah terdampak akibat wabah ini lalu apakah kebijakan-kebijakan daerah lain baik tingkat satu maupun daerah tingkat dua telah cepat tanggap dalam upaya pengendalian ini demi menekan rendahnya angka yang terinfeksi?

Kita melihat pergerakan yang masif hanya pada Pemerintahan Pusat dan DKI Jakarta meskipun Kemenkes telah menginformasikan kasus-kasus baru muncul pada daerah-daerah lain. Diharapkan para Bupati dan Gubernur di seluruh tanah air mulai memberlakukan kebijakan-kebijakan yang dapat melindungi warganya dengan tetap saling terintegerasi satu sama lain agar Covid-19 tidak memperburuk keadaan melalui penyebaranya.

Masyarakat pun harus tetap optimis untuk menangkal virus ini dengan berbekal pengetahuan, pengendalian yang aktual serta doa sebagaimana Indonesia yang kental dengan unsur agama agar tidak membuat kegaduhan dan memperburuk keadaan yang dapat berpengaruh menimbulkan masalah-masalah baru baik dalam konteks sosiologis, ekonomi dan konteks lainya karena dalam kasus Covid-19 sudah banyak yang berhasil negatif dari yang semula positif.

Seluruh Pemerintah Daerah harus segera melakukan analisa dan management resiko sebelum kasus-kasus Covid-19 menular terhadap masyarakat baik dengan menyiapkan anggaran, tenaga medis, pengedukasian masyarakat, dan berbagai kebijakan-kebijakan lain yang bersifat tepat, bijak dan strategis karena wabah penyakit bukan hal yang baru melainkan sudah muncul sejak zaman mitologi hingga kini memasuki modernisasi.

Oleh karena itu peran hukum dalam hal kebijakan menjadi sentral apa pun produk hukum yang ingin dibuat untuk menekan angka penyebaran dan memberhentikan masalah-masalah baru.

Jika kita ambil contoh dalam hal analisa resiko, proteksi masyarakat memang penting tetapi bukan berarti melupakan juga satwa-satwa yang dapat berpotensi terinfeksi, apabila hal ini terjadi menjadi pekerjaan rumah baru karena jika manusia yang terinfeksi sedikit mudah dalam hal menyelidiki karena manusia bersifat komunikatif namun apabila terjangkit pada satwa baik liar maupun peliharaan,  kita akan lebih sulit mengidentifikasi, melihat rekam jejak dan melihat riwayat dari hewan tersebut yang beresiko menimbulkan penularan-penularan baru. Itu hanya bagian contoh kecil dari analisa resiko yang dimaksud dan masih banyak analisa resiko-resiko lain yang bersumber pada Covid-19 serta peran pemangku kebijakan adalah salah satu kunci dalam seluruh pengendalian wabah penyakit global ini sebagaimana yang telah dirumuskan Mochtar Kusumaatmadja yakni “Hukum merupakan suatu alat untuk memelihara ketertiban dalam masyarakat”.

Sumber gambar: cnbcindonesia.com
Sindi Yunita
(Pelajar di SMAN 1 Ngamprah)
Di Era 4.0, semakin berkembangnya IPTEK semakin banyak tantangan yang perlu disikapi oleh para milineal. Salah satunya, mengenai bersosial media. Sosial media telah masuk ke ranah masyarakat luas yang darinya timbul dampak positif dan  negatif. Dampak positif dari perkembangan IPTEK membuat segala hal menjadi mudah. Lalu media sosial pun dapat dijadikan sebagai alat edukasi.

Namun, perlu digaris bawahi bahwa media sosial dapat dianalogikan sebagai pedang bermata dua, jika kita tidak menanggapinya secara bijak akan timbul dampak negatif. Salah satunya mengenai akses konten bebas yang mencakup perilaku-perilaku menyimpang, seperti pergaulan bebas dan zina.

Dilansir dari Kompasania.com bahwa yang unik adalah para pelaku zina kebanyakan para remaja, hal ini menjadi hal yang krusial dan zina dalam pandangan Islam adalah suatu dosa besar. Semua umat Islam percaya, meyakini dan sepakat semua kegiatan yang mendekati zina adalah suatu tindakan  yang keji.

Menurut Ustad Ali Musri, dikutip dari republika.com menyatakan bahwa dosa-dosa yang kerap terjadi di dunia maya yaitu melihat hal-hal yang haram di internet, seperti aurat lawan jenis. Hal ini akan berdampak pada kerusakan akhlak dan mengarah ke pergaulan bebas serta hubungan sesama jenis.

Lantas bagaimana agar kita tetap terhindar dari perilaku menyimpang dari dunia maya? Caranya adalah dengan sadar diri dan memegang selalu agama Islam. Selain itu kita harus senantiasa menciptakan lingkungan yang sehat dan perlu pemahaman lebih mengenai pergaulan bebas. Semoga Allah senantiasa melindungi kita.

sumber gambar: okaydoc.com
Oleh: Yadi Mulyadi
Manusia pada dasarnya ialah makhluk pencari kebenaran. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada, tetapi selalu mencari dan mencari kebenaran yang sesungguhnya dengan bertanya-tanya untuk mendapatkan jawaban. Namun setiap jawaban itu juga selalu memuaskan manusia. Ia harus mengujinya dengan metode tertentu untuk mengukur apakah yang dimaksud di sini bukanlah kebenaran yang bersifat semu, melainkan kebenaran yang bersifat ilmiah yaitu kebenaran yang bisa diukur dengan cara-cara ilmiah.

Jujun S. Suriasumantri (2010) mengatakan pengetahuan merupakan khazanah kekayaan mental yang secara langsung atau tak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Pengetahuan juga dapat dikatakan sebagai jawaban dan berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Dan suatu pertanyaan diharapkan mendapatkan jawaban yang benar. Maka dari itu muncullah masalah, bagaimana cara kita menyusun pengetahuan yang benar? Masalah inilah yang pada ilmu filsafat disebut dengan epistemologi.

Sebelum lebih jauh membahas tentang  kebangkitan epistemologi maka kita harus tahu dulu mengenai pengertian epistemologi. Imam Wahyudi (2007) memahami, secara etimologis, epistemologi berasal dan bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan; logos biasanya dipakai untuk menunjuk pengetahuan sistematik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa epistemologi yaitu pengetahuan sistematik tentang pengetahuan. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier pada 1854, yang membuat dua cabang filsafat sekaligus sebagai pembeda keduanya, yakni epistemologi dan ontologi.

Dalam filsafat ilmu pengantar untuk memahami mesin riset Tedi Priatna (2014) menjelaskan bahwa epistemologi adalah konsisten prosedur atau cara memperoleh suatu pengetahuan, cara tersebut disebut dengan metode ilmiah, epistemologi ilmu (metode ilmiah) Metode ilmiah adalah prosedur pengembangan ilmu yang terdiri dari tiga tahapan pokok, yaitu: pertama nasalah dan perumusannya; kedua rasionalisasi/ logico: ada proposisi deduktif yang didasarkan pada logika, asumsi, postulat atau teori dan diakhiri oleh Hipotesis; ketiga Pembuktian empirik/ verifikasi (pada sains positivistik menggunakan statistik). Metode ilmiah sering dideskripsikan dengan istilah: Logico -Hypotetico –Verifikatif; sebagian  menyebutnya: Rasional –Empirik –Terukur; lebih singkat lagi: Rasional dan Empirik. Uji rasional -empirik itulah yang disebut denganRiset (Research).

Ada beberapa metode yang populer dan dijadikan rujukan dalam memperoleh sumber pengetahuan dalam epistemologi pengetahuan, Sebagaimana dikemukakan Imam Wahyudi (2007) sebagai berikut:

Metode Empirisme
Empirisme yaitu suatu cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman indrawi.

Metode Rasionalisme
Rasionalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber pengetahuan yang berlandaskan pada akal. Bukan karena rasionalis memengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam dan barang sesuatu.

Metode Fenomenalisme
Fenomenalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan rnenggali pengalaman dan dalam dirinya sendiri. Tokoh yang terkenal dalam metode ini ialah Immanuel Kant.

Intuisionisme
Intuisionisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan menggunakan sarana intuisi untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisis, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dan pengetahuan intuitif. Tokoh yang terkenal dalam aliran ini ialah Bergson.

Kebangkitan Epistemologi Popper
Di awal abad ke-20 muncul seorang filsuf, Karl Raimund Popper, yang mengajukan kritik terhadap arus neopositivisme yang bercorak induktif-verifikatif. Dia mengemukakan solusi ilmu dengan epistemologi yang dikenal dengan konjektur dan falsifikasi. Pada dasarnya teori falsifikasi yang dibangun oleh Popper merupakan bantahan dan sanggahan dan induksi dan verifikasi yang banyak dikembangkan oleh para filsuf sebelumnya.

Selanjutnya terkait konjektur, dalam kaitan membangun hipotesis untuk objektivitas,ini menjadi suatu tagihan dalam epistemologi deduktif. Konjektur secara bahasa berarti dugaan, prakonsepsi, atau dapat juga disebut dengan asumsi. Konjektur dipandang oleh Popper sesuatu yang harus ada sebelum seseorang melakukan analisis terhadap suatu objek permasalahaan. Prakonsepsi (konjektur) memiliki peran penting dalam penelitian, yaitu sebagai upaya artikulasi terhadap persoalan yang diteliti.

Kebangkitan Epistemologi Capra
Menurut Capra (1991), dalam sejarah ilmu pengetahuan diketahui bahwa fisika modern dimulai sejak Galileo, yang memilki ciri kombinasi antara pengetahuan empiris dan matematika. Oleh karena itu, Capra melihat Galileo sebagai bapak dan sains modern. Tetapi ia juga melihat bahwa akar dan perkembangan sains bermula dari filsafat Gerika, khususnya dari arus pikir Milesian, yang dapat dikatakan sangat mirip dengan konsep pikir monistis dan organis, filsafat India dan China Kuno.

Paradigma inilah yang diimpor dan mewarnai pikiran Capra di dalam meninjau seluruh perkembangan sains modern. Hal ini jelas, seperti yang diakuinya, bahwa pikiran itu mulai berkembang di tengah-tengah masyarakat Barat sekitar 20 tahun terakhir, akibat masuknya mistisisme Timur ke Barat.

Kebangkitan Epistemologi Thomas Kuhn
Paradigma Thomas Kuhn berusaha melakukan dobrakan, dunia sains dituntut untuk meginterpretasi ulang perkembangan sejarahnya. Kuhn melihat bahwa sains bukanlah merupakan suatu pergerakan sinambung dan sains-normal (normal-science), melainkan lebih merupakan loncatan paradigma sebagai akibat terjadinya revolusi sains (sciencer evolution). Paradigma yaitu tema pokok Kuhn dalam bukunya, The Structure. Pada setiap kali kesempatan menampilkan ide baru, Kuhn menggunakan tema paradigma ini dengan arti yang berbeda. Dewasa ini term paradigma muncul di berbagai diskursus, sering kali dalam arti cara “berpikir” atau “pendekatan terhadap masalah.” Walau Kuhn secara umum berhasil memopulerkan penggunaannya, tapi dalam kenyataannya kepopuleran tema ini tidak beriringan dengan aspek utama argumentasi Kuhn pada The Structure.

Kebangkitan Epistemologi Thomas Aquinas
Paradigma Thomas Aquinas ditemukan dalam Summa Theologia. Dalam buku ini dia berhasil memberikan argumen logis tentang adanya Tuhan. Lima argumen itu antara lain: Pertama, argumen gerak. Menurut Thomas Aquinas, alam ini selalu bergerak, gerak tentu saja tidak berasal dari alam itu sendiri, gerak itu menunjukkan adanya penggerak yakni Tuhan, Dialah penggerak utama dan yang pertama. Kedua, argumen kausalitas. Menurut Thomas Aquinas tidak sesuatu pun yang mempunyai penyebab pada dirinya sendiri, sebab itu harus berada di luar dirinya. Ketiga, argumen kemungkinan. Thomas mengatakan adanya alam ini bersifat mungkin ada dan mungkin tidak ada. Kesimpulan yang diperoleh dan kenyataan alam ini dimulai dari tidak ada, lalu muncul atau menjadi ada kemudian menjadi tidak ada.  Keempat, argumen tingkatan.

Thomas meyakini bahwa isi alam ini ternyata bertingkat-tingkat (levels). Ada yang dihormati, lebih dihormati, dan terormat. Ada indah, lebih indah, sangat indah, dan sebagainya; yang maha sempurna yaitu penyebab yang sempurna, yang sempurna yaitu penyebab yang kurang sempurna, yang atas penyebab yang bawah. Tuhan ialah yang tertinggi, Dia penyebab di bawahnya. Kelima, argumen teologis. Thomas mengatakan tujuan alam ini bergerak menuju sesuatu, padahal mereka tidak tahu tujuan itu. Ada sesuatu yang mengatur alam menuju tujuan alam, Dia ialah Tuhan.

Sumber gambar: freiheitslexikon.de

Referensi :
Imam Wahyudi. 2012. Pengantar Epistemologi. Yogyakarta: Badan Penerbit Filsafat UGM.
Jujun S. Suriasumantri. 2010. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: PT Penerbar Swadaya.
Mukhtar Latif. 2015. Orientasi Kearah Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.
Tedi Priatna. 2014. Filsafat Ilmu Pengantar untuk Memahami Mesin Riset, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Bandung. http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/9745 :


Oleh: M Jiva Agung W
Tidak ada isu yang paling hot hari ini selain seputar perpolitikan Indonesia karena tema inilah yang paling mudah digoreng untuk meriuhkan suasana sekaligus menjadi penambah pundi-pundi uang bagi pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya. Dan tiada satu person yang paling tersoroti dalam hal ini selain sosok fenomenal Rocky Gerung (RG) yang belakangan terpaksa harus terkena delik atas pengaduan beberapa kalangan yang berkeberatan atas ucapannya mengenai kefiksian kitab suci beberapa waktu lalu di acara Indonesia Lawyers Club (ILC).

Tentu kita tidak bisa menyangkal adanya unsur-unsur politik di dalam kekontroversian ini, tetapi pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas dan masuk ke ranah politik, apalagi pendekatan hukum. Alih-alih murni berdasarkan analisis ilmiah dari sudut pandang ilmu logika. Dan saya sangat berterima kasih kepada Dr. Otong Sulaeman juga rekan-rekan peserta short course Filsafat Islam yang telah memberikan pencerahannya.

Dari serangkaian ucapannya di media, kita dapat mengatakan bahwa pernyataan kontroversi RG didasarkan pada penalaran dua proposisi[1] berikut: pertama, “fiksi mengaktifkan imajinasi” dan kedua “kitab suci mengaktifkan imajinasi”. Dari dua proposisi ini kemudian diambil kesimpulan bawa kitab suci itu fiksi. Model penalaran ini bertumpu tiga buah kata, yakni “fiksi”, “kitab suci”, dan “mengaktifkan imajinasi”, yang dianggap RG satu sama lain memiliki relasi.

Dalam ilmu logika terdapat empat jenis relasi, yaitu ekuivalensi (bermakna sama dengan simbol = ), diferensia (bermakna saling lepas dengan simbol ⊃⊂), umum-khusus absolut yang dalam matematika disebut himpunan bagian (bersimbol ), dan umum-khusus beririsan (bersimbol ∩).
Untuk pengambilan kesimpulan berdasarkan dua proposisi hanya dapat diambil secara benar jika berada dalam dua kondisi: pertama, jika kedua pernyataan yang dijadikan sebagai proposisi sama-sama memiliki relasi ekuivalensi. Sebagai contoh, jika A ekuivalen dengan B; dan B ekuivalen dengan C, maka A ekuivalen dengan C, atau kedua, jika kedua pernyataan membentuk silogisme deduktif di mana ketiga konsep tersebut membentuk relasi umum-khusus absolut secara bertingkat. Sebagai contoh, semua manusia mengalami kematian; Rocky Gerung adalah manusia, maka simpulannya Rocky Gerung pasti mengalami kematian.

Sekarang mari kita uji pernyataan RG dengan asumsi yang pertama (ekuivalen).Pertanyaan mendasarnya ialah apakah di antara “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” terjadi relasi ekuivalensi? Jelas tidak! Mengaktifkan imajinasi bukanlah sifat substansial dari fiksi melainkan sekadar sifat aksidentalnya. Kita tidak bisa menyatakannya secara bolak-balik seperti “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi” dan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi”

Dr. Otong Sulaeman mengungkapkan, “setiap fiksi memang mengaktifkan imajinasi tetapi yang dapat mengaktifkan imajinasi bukan hanya fiksi melainkan juga biografi tokoh besar, foto seseorang, bahkan kuliah ilmiah seorang profesor” Jadi, alih-alih berelasi ekuivalensi, “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” memiliki model relasi himpunan bagian [fiksi merupakan bagian dari hal-hal yang dapat mengaktifkan imajinasi, tetapi tidak dengan sebaliknya].

Begitu pun dengan relasi “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” karena keduanya memiliki substasi yang berbeda. Daripada dianggap sebagai relasi ekuivalen, keduanya lebih tepat memiliki relasi umum-khusus beririsan, karena harus diakui bahwa ada sebagian kesamaan antara “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” seperti perihal eskatologis.

Setelah gagal lulus dalam ujian kondisi pertama, mari kita uji pertanyaan RG dengan kondisi kedua (silogisme). Dr. Otong Sulaeman menggambarkan bahwa jika hendak dipaksakan apa yang dikehendaki oleh RG maka penggambarannya adalah:
Dari diagram ini terbaca bahwa premis pertamanya (mayor) sudah salah karena terbalik, bukan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi” tetapi yang benar adalah “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi”. Pun dengan premis keduanya (minor) karena tidak semua isi kitab suci mengaktifkan imajinasi, melainkan sebagiannya saja. Kalau pengujian kebenaran setiap premisnya saja sudah salah, maka pengambilan keputusan hanya akan menimbulkan kesesatan simpulan.

Tidak Seutuhnya Salah
Memang, sebagaimana telah disampaikan di atas, jika dikaji dalam pandangan murni ilmu logika, pernyataan RG jelas mengandung kecacatan, tetapi pertanyaannya apakah kita mesti mengaplikasikan pernyataan baku sesuai kaidah ilmu logika di dalam setiap perbincangan tatap muka?

Saya beri contoh. Dalam suasana percakapan, Jaelani berkata bahwa Alquran adalah obat. Dalam konteks ini saya yakin mitra bicaranya akan segera memahami maksud yang dikehendakinya, bahwa Jaelani memang ingin mengatakan bahwa Alquran mengandung unsur pengobatan/penyembuhan tanpa bermaksud bahwa esensi dari Alquran itu sendiri adalah obat. Mitra bicaranya pun paham bahwa Jaelani tidak sedang mengatakan bahwa keseluruhan isi Alquran—adalah obat—melainkan sekadar untuk menyebut sebagiannya saja.

Dalam kehidupan sehari-hari kita telah terbiasa mendengar kata-kata semacam “warga Bekasi berdemo”, “Banser membakar bendera tauhid”, atau “Remaja tawuran” dan langsung memahami bahwa yang dimaksud ialah bukan seluruh warga Bekasi berdemo atau seluruh anggota Banser membakar bendera, atau seluruh remaja tawuran. Dan memang itulah yang sedang dimaksudkan oleh bung Rocky. Ketika memberi contoh kefiksian kitab suci beliau segera memberi contoh hal-hal yang berbau eksatologis yang baginya memiliki padanan dengan fiksi karena keduanya sama-sama mengaktifkan imajinasi. Apakah mengaktifkan imajinya termasuk substansi atau sekadar aksidental, dalam sebuah percakapan redaksi ini sudah tidak terlalu berpengaruh lagi.

Tetapi harus diakui juga bahwa untuk pernyataan RG ini tidak bisa disamakan secara total dengan contoh-contoh yang sudah saya berikan di atas, sebab beliau telah berani masuk ke ranah yang dianggap sakral oleh, setidaknya, masyarakat Indonesia, yaitu agama.

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, hal-hal yang berbau agama, entah itu konsep abstraknya, ritualistiknya,  maupun sekadar atribut keagamaannya, sama-sama bernilai suci sehingga kita harus berhati-hati ketika membicarakannya—tentu saja berbeda dengan budaya di Barat yang cenderung bebas dan terbuka.

Nah, persoalannya ialah ketika RG mencoba untuk menyandingkan hal yang sakral dengan sesuatu yang telah lazim dianggap berkonotasi negatif (fiksi). Redaksi fiksi secara umum kita pahami sebagai sesuatu yang tidak faktual, karangan manusia, memuat kepalsuan, cerita-cerita yang sulit untuk diverifikasi kebenarannya, atau sebagaimana yang dipahami oleh RG—sesuatu yang mengaktifkan imajinasi. Maka wajar ketika mereka mencoba untuk mengartikulasikan pemaknaan ini kepada kitab sucinya masing-masing, muncul keberatan.

Ini bagaikan ucapan, “Jackson itu pincang” yang meskipun secara fakta memang demikian keadaannya, tetapi siapa yang mau dipanggil dengan sebutan yang berkonotasi “negatif”? Orang-orang ribut mengenai kata pincang yang secara lazim telah dipahami sebagai suatu redaksi yang kurang baik digunakan, tetapi kemudian RG—dalam beberapa kesempatan—hendak menyampaikan bahwa pincang itu bukanlah suatu redaksi yang berkonotasi buruk melainkan sebaliknya.

Di atas semua perdebatan ini, setidaknya kita tetap harus berterima kasih kepada bung Rocky yang telah memunculkan percakapan “kefilsafatan” dan “logika” di ranah publik sehingga mulai hilanglah persepsi buruk mengenai filsafat atau logika yang kadung dianggap ilmu sesat-menyesatkan, di luar konteks apakah ilmu tersebut telah digunakannya secara benar atau salah.    

Keterangan: Tulisan ini sudah pernah diposting di website Qureta.com, dengan judul “Dilema Ucapan Kitab Suci Fiksi”
Sumber gambar: Fajar.co.id

Referensi
Priatna, Tedi. (tt). Filsafat Ilmu: Pengantar untuk Memahami Mesin Riset. PPT Bahan Ajar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN SGD Bandung



[1] Suatu pernyataan mengenai satu hubungan antara dua atau lebih konsep (dalam paradigma positivistik). Sedangkan dalam penelitian kualitatif, proposisi dipahami sebagai suatu pernyataan yang terdiri dari satu konsep atau lebih yang dapat dibenarkan atau disalahkan (Priatna, tt: 30).


Rike Adelia Hermawan



Saya heran dengan respon sebagian besar kita tentang ceramah Gus Muwafiq yang santer dibicarakan itu. Orang-orang yang pro, habis-habisan membela Gus Muwafiq dengan pendapatnya, memaparkan bahwa apa yang disampaikan Gus Muwafiq ada dalam kitab ABC. Sayangnya, tak disertai dengan bukti teks kitab tersebut, sehingga jauh lebih kental unsur pembelaannya atau pembenarannya.
Orang-orang yang kontra, tidak menyetujui apa yang disampaikan Gus Muwafiq dan menganggapnya sebagai perilaku tak sopan atau penghinaan terhadap Rasulullah yang mulia. Sayangnya, mereka menggugat ceramah yang “menurutnya” menghina Rasulullah dengan “menghina” Gus Muwafiq. Jadi kalau (betul) begitu, sama-sama menghinda dong? Sedang kita tahu bahwa penghinaan terhadap siapa pun adalah hal yang salah.

Saya sebetulnya jauh lebih melihat pada betapa beraganmya tiap-tiap orang “menggambarkan Rasulullah.” Penggambaran tentang “siapa dan bagaimana Rasulullah” itu sangat erat kaitannya dengan pengalaman tiap-tiap orang; yang pastinya berbeda.

Ada yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang pemimpin masyarakat. Ada pula yang menggambarkannya sebagai pemimpin agama. Pun beragamnya penggambaran kita terhadap kepribadian Rasulullah: ada yang menggambarkan Rasulullah sebagai orang yang tegas. Ada pula yang menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang lemah lembut. Bahkan ada juga yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang humoris, karena dalam beberapa kisah pernah diceritakan bahwa Rasulullah kerapkali bercanda dengan orang-orang di sekitar beliau.

Penggambaran kita terhadap “siapa Rasulullah” ini pulalah yang kemudian akan memengaruhi bagaimana kita bersikap dan membicarakan Rasulullah.

Yang menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang tegas, barangkali akan lebih banyak memunculkan kepempimpinan Rasulullah dalam perang; dan orang-orang yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang humoris, barangkali akan lebih banyak memunculkan obrolan-obrolan santai Rasulullah yang tidak melulu serius, tapi kadang penuh jenaka juga.

Ada orang-orang yang mengedepankan penghormatan, dan ada pula yang mengedepankan kemesraan.

Hemat saya yang awam ini, ceramah Gus Muwafiq hanya ingin menguatkan sisi kemanusiaannya Rasulullah. Bahwa bagaimana pun mukjizat yang beliau miliki, beliau tetap manusia biasa yang merasa lapar, bahagia, bersedih dan lain sebagainya. Sama sekali tidak bermaksud untuk tak hormat atau menghina Rasulullah. Sebab, jangankan menggambarkan Rasulullah yang hidup 1500 tahun lalu, adik-kakak juga menggambarkan orang tuanya dengan pribadi yang berbeda, tergantung pengalamannya.

Gus Muwafiq juga manusia yang bisa salah. Beliau juga sudah meminta maaf. Nanti, kita tanyakan langsung pada Rasulullah sebenarnya seperti apa beliau ini. Kalau ternyata penggambaran kita terhadapnya salah, ya tidak apa-apa. Tinggal minta maaf saja kepada beliau.

Shollu ‘alan Nabi. Selamat hari Jumat

Sumber gambar: cnnindonesia.com
Rd Agung Fajar
Pada era awal presiden Joko Widodo di periode yang kedua, kita kembali tergiring dalam isu pengkonfrontasian antara nasionalisme dan islamisme. Terlihat dari fenomenal yang terjadi sekarang antara penguasa dan organisasi masyarakat yang bergerak dalam agama yakni Front Pembela Islam (FPI), kejadian tersebut dikarenakan FPI yang sudah berdiri selama dua puluh tahun merasa dipersulit oleh penguasa mengenai SKT yang belum diterbitkan oleh pihak penguasa. Penguasa menganggap bahwasanya FPI menjadi ancaman negara ketika mengangkat label “NKRI Bersyariah” dalam tubuh organisasinya.

Frasa bersyariah menjadi polemik yang sekarang masih diperdebatkan karena dalam pandangan penguasa, frasa tersebut mengarah pada khilafah yang menjalar terhadap sistem negara sehingga terindikasi akan merusak sistem negara Indonesia namun beda hal dari pihak FPI yang menginterpretasikan menjalankan syariat agama islam dalam satu ruang lingkup NKRI.

Saat fenomenal tersebut muncul, narasi-narasi panjang telah diuraikan oleh semua pihak dan kembali dibenturkanya antara nasionalisme dan islamisme, pancasila kehilangan panorama ketika isu pengkotak-kotakan terjadi yang sebenarnya nilai-nilai pancasila hadir dari kedua benturan tersebut. Pancasilais lahir dari nasionalisme yang besar dari warga negara terhadap negaranya dan semangat keislaman selalu hadir disetiap silanya.

Memang buntut dari era digitalisasi di mana masyarakat dengan mudah melahap tanpa mengkaji, menimbang, berbekal wawasan yang minim sehingga terpengaruh akan perbedaan pendapat yang terjadi. Fenomenal seperti ini membawa kemaluan terhadap negara karena persoalan administrasi begitu lebih panas dibandingkan persoalan-persoalan lainya seperti kesejahteraan, lingkungan dan lain sebagainya.

Kurangnya dialog dari semua pihak serta masuknya sedikit bumbu politis menjadi pemicu utama sehingga persoalan administrasi ini begitu booming mengalahkan persoalan-persoalan lain. Kegaduhan tidak akan terjadi jika masyarakat dapat menilai dengan baik dan benar, artinya persoalan tersebut dapat diselesaikan dalam satu meja melalui dialog yang menghasilkan kesamaaan pandangan mengenai syarat-syarat dari penguasa dan anggaran dasar anggaran rumah tangga (ADA/RT) FPI.

Negara ini memang masih terlalu muda dapat ditinjau melalui usia dan cara-cara negara ketika menghadapi persoalan, negara masih belum mampu tenang dalam menanggapi managemen konflik yang terjadi sehingga dengan mudah kegaduhan muncul yang dapat berakibat timbulnya perpecahan antar golongan.

Jika melalui lisan, semua tentu mengatakan bahwa dirinya seorang pancasilais tetapi apabila melalui nilai, pancasilais tersebut belum tentu hadir melekat didalam kehidupan sehari-hari. Hal tesebut berlaku juga untuk negara, berapa banyak negara ini tidak mencerminkan nilai-nilai pancasila pada instrumen penyelenggaranya. Mengambil contoh dari sila kelima, dimana beberapa wilayah di penjuru negeri belum merasakan tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nasionalisme lahir saat seseorang memfitrahkan dirinya untuk negara dan islamisme muncul sebagai syariat pada kehidupan sehari-hari dalam keyakinan individu pada ruang teologis, Siapapun baik nasionalisme dan islamisme berhak untuk menganut faham tersebut yang tidak boleh adalah ketika islamisme dibenturkan pada ranah sistem negara. Negara berhak melindungi penganut faham apapun selagi tidak keluar dari koridor pancasila dan konstitusi. Pengkolaborasian islamisme dan nasionalisme tersebut merupakan hal subtantif bagi warga negara yang menganut ajaran-ajaran islam karena keterpaduan nasionalisme dan islamisme bermuara pada lahirnya pancasila dapat pula ditinjau dari sejarah asal muasal pancasila.

Islam menyerukan bahwasanya tiada tuhan selain Allah yang bersifat esa, menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan memiliki akhlaqul kharimah hingga sampai pada sila terakhir dari pancasila untuk kemaslahatan bersama. Nasionalisme berperan sebagai benteng terakhir dalam menjaga keutuhan negara, melalui sudut pandang libertarian, negara dianggap tidak semestinya mencampuri persoalan yang masuk dalam ruang lingkup privat contohnya dalam hal agama. Apabila negara terlalu mencampuri maka dapat dikatakan munculnya suatu kepanikan dari negara terhadap warga-warganya sehingga bermuara saling menuding, memantau dan mengawasi. Hal ini tentu saja mengganggu kebebasan warga negara saat selalu diawasi dengan bidikan melawan pilar-pilar negara dan menghasilkan keotoriterian negara.

Kacau memang, saat ingin melindungi pancasila jika melakukan cara-cara diatas justru menjadi luka bagi pancasila karena keotoriteran tersebut yang menciderai kedaulatan yang sesungguhnya yakni rakyat, pun golongan penganut khilafah yang ingin mengganggu sistem negara.

Saat ini memang pancasila bersifat final tetapi tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan final tersebut berlaku karena dalam konteks sosial, sebuah ideologi dapat berubah kapanpun dari masyarakat-masyarakat yang memiliki kuasa dan wewenang selain itu sifat dari suatu masyarakat yang dinamis. Tetapi, final tersebut akan tetap utuh dan terjaga apabila negara tidak terlalu sensitif pada ranah privat terhadap warganya, tidak menciderai pancasila dan konstitusi, serta pengembangan dan membumikan pancasila yang menitikberatkan pada nilai-nilai dalam kehidupan bukan selalu teori dengan balutan sosialisasi dengan kesimpulan biarkan negara membebaskan warganya dalam aliran apapun selagi tidak bertentangan dengan konstitusi dan pancasila masih menjadi hirarki tertinggi dari individu pribadi.

sumber gambar: indopolitica.com
Tadi siang aku, ayah, dan bunda jalan-jalan ke mall naik motor yang ayah beli beberapa waktu lalu. Sejujurnya aku senang sekali karena kalau diingat-ingat, terakhir kali kami pergi bersama adalah tiga bulan yang lalu. Sudah cukup lama. Waktu itu kami bermain bersama di rumput buatan yang ada di samping masjid agung Bandung.

Tapi sekarang berbeda, karena ayah dan ibu mengajakku pergi ke Bandung Indah Plaza (BIP) di Jalan Merdeka. Mau membeli keperluan bulanan katanya, sekalian melihat-lihat sepatu atau baju. Aku yakin Kak Via iri deh kalau tahu kami pergi bersama karena ia sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah teman kampusnya yang ada di daerah Cimahi.

Bunda memakaikan aku jaket karena cuacanya sedang dingin terus. Aku suka dengan bunda hari itu. Dia terlihat cantik dengan baju terusan berwarna merah yang dibalut dengan kerudung hitam.

“Mira..” sambil membalikkan badan “Tolong kancingkan dong!” Aku mengancingkan baju belakangnya. Setelah itu bunda kembali berdandan.

Ayah juga sibuk berdandan. Dengan kaos bermotif abstrak dan celana jins, ayah dengan kerennya menyisir helai demi helai rambutnya yang digiring ke sebelah kanan. Ia juga menyemprotkan banyak sekali parfum ke hampir seluruh bagian tubuhnya. Bahkan mengalahkan bunda yang hanya menggunakannya di bagian-bagian tertentu saja. Aku tersenyum kecil. Namun beberapa waktu kemudian senyumku menghilang seketika saat ayah memandangi ibu dengan mata nanar.

“Kenapa pakai baju itu?”

Bunda yang sedang mengambil tas kecil dari dalam lemari lantas mengarahkan pandangannya ke ayah. Ia terlihat kebingungan.

“Kayak mau ke pengajian aja. Mbok-mbok banget sih.” Tutur ayah. Sekarang nadanya agak melengking.

Bunda memandangi pakaian yang melekat pada tubuhnya, terlihat sedih. Wajahnya menunjukkan penolakan tapi ia segera menuju ke kamar, mengganti baju. Saat itu aku sedang duduk di kursi lipat, terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Tapi aku tidak suka dengan suasana itu.

**

Tidak seperti hari Minggu biasa, jalanan macet sekali. Bahkan motor ayah pun sulit bergerak. Entah ada apa atau memang Bandung sudah sangat ramai. Aku tidak tahu. Aku hanya berharap semoga Mang Oded bisa melakukan sesuatu supaya jalanan di Bandung tidak terlalu macet amat.

Meski cuacanya sejuk, tetapi tidak dengan hati ayah. Setidaknya itu yang aku rasakan. Ia tak sabaran. Aku dan bunda hampir saja terjatuh karena ayah sering ngegas-ngerem dengan mendadak. Kulihat ibu mengelus-ngelus dada. Diam-diam aku menirunya.

Sesampainya di BIP kami langsung menuju super marketnya. Di sana kami berpisah. Ayah sendirian, sedangkan aku bersama bunda. Kata ayah aku boleh beli apa saja asal jangan banyak-banyak juga. Sewajarnya saja.

“Shampo kamu sudah habis kan?” Bunda bertanya kepadaku sambil memasukkan dua buah shampo. Satu untukku dan satu lagi untuknya.

Mulai dari peralatan mandi hingga kebutuhan makanan pun kami borong. Tak lupa mie goreng dan soun, makanan kesukaan keluarga kami selain bakso tentunya.

“Bunda, ini enggak apa-apa kan?” Aku mamasukkan beberapa macam snack dengan rasa yang semuanya sama, yakni rumput laut. Aku suka sekali rumput laut dan segala makanan yang rasanya rumput laut. Lucunya, bunda malah sangat tidak suka. Rasanya aneh, katanya. Pernah aku menawarkan bunda Tao Kae Noi, makanan ringan rumput laut dari Thailand. Seketika bunda memuntahkannya.

**

Sudah lama bunda menginginkan baju baru. Makanya, setelah selesai berbelanja di supermarket, aku, ayah dan bunda langsung meluncur ke gerai pakaian. Betapapun, ia selalu mendahulukan aku. Ia memilih-milihkan baju untukku.

“Coba deh kamu pakai yang ini!” Ucapnya sambil memegang sebuah baju kasual beserta bawahannya.

“Aku kurang suka, bunda.”

“Hmm. Ya sudah pilih baju yang kamu suka.”

Sementara itu bunda mulai melirik-lirik pakaian incarannya yang diam-diam aku pun memperhatikannya yang tidak lain adalah pakaian yang sempat bunda lirik saat kami berpapasan dengan toko tersebut saat hendak menuju ke super market. Kemudian bunda menunjukkan pakaian itu kepada ayah.

“Yah, bunda suka sama baju ini. Beli yang ini yah!”

Hanya beberapa detik ayah memandangi baju pilihan bunda, lalu ia mengungkapkan ketidaksetujuannya.

“Jangan ah. Jelek banget. Yang lain saja.” Jawab ayah dengan ketus.

“Tapi bunda suka yang ini, ayah.” Ibu mengeluh dengan sedikit memelas.

“Kalau ayah bilang tidak suka ya tidak suka.” Ayah mulai ngegas.

Aku yakin bunda amat sedih. Bagaimana tidak. Itu baju yang sejak dari awal sudah ditandainya. Beberapa menit kemudian bunda menawarkan dua helai baju lagi. Dan masih sama, ayah tak menyukainya. Aku melihat bunda hampir putus asa.

“Terus bunda harus membeli baju yang seperti apa?”

“Masak kamu pilih yang bagus saja tidak bisa! Masak harus ayah yang turun tangan. Lagian aneh-aneh saja. Seleramu kampungan banget sih!”

“Tapi kan bunda yang memakai bajunya. Bukan ayah.” Bunda mencoba untuk memberi pengertian dan terlihat jelas kalau wajahnya sudah tak seceria saat ia memilih-milih baju.

“Bunda ini kok, tidak bisa menghasilkan uang saja sudah berani ngebantah ayah ya! Enggak nurut banget sih jadi istri.” Ayah mulai menggerutu. Dan akhirnya ia nyelonong keluar dari gerai.

Dek! Kok bunda yang dibentak, tapi aku yang sedih yah. Atau lebih tepatnya kesal. Lalu aku mendekati bunda.

“Bunda....” Aku hanya bisa mengucapkan kata singkat itu sambil memeluk erat dirinya tanpa sepatah kata tambahan lagi, namun aku yakin bunda memahaminya.

“Iya. Enggak apa-apa sayang.” Bunda mengelus kepalaku “Yuk kita pulang. Mungkin nanti saja bunda membeli bajunya.”

 sumber gambar: hipwee.com

Bundaku yang Malang

by on November 07, 2019
Tadi siang aku, ayah, dan bunda jalan-jalan ke mall naik motor yang ayah beli beberapa waktu lalu. Sejujurnya aku senang sekali karena kal...

“Mira, lekas ganti baju sekolahmu. Makan siangmu sudah bunda siapkan di atas meja!”

“Baik, bunda.” Aku segera bangun dari sofa cokelat muda yang memang sejak tahun lalu dipindah ke pojok teras rumah. Aku melihat bunda sedang menstandarkan sepeda yang baru saja ia gunakan untuk menjemputku pulang sekolah. Kemudian ia hilir mudik memindahkan pakaian kering dari jemuran ke dalam rumah. Mataku mengintai gerak-geriknya dengan saksama.

“Bunda, kakinya kenapa? Kok jalannya pincang?”

Sambil masih memegang beberapa helai pakaian, bunda menoleh ke arahku. Bunda menumpahkan senyum meski terlihat kurang natural.

“Mira memangnya lupa apa yang kemarin kita lakukan? Sepertinya bunda keseleo.”

 Aku mencoba untuk mengingat-ingat lagi. Kemarin kamiaku, bunda, dan ayah―kerja bakti seharian membersihkan pagar rumah yang sudah sangat kotor.

Eh, tapi, aku kira bukan hanya karena itu yang menyebabkan bunda keseleo. Ini pasti karena bunda hampir tak punya waktu untuk beristirahat. Jadi kakinya mudah sakit. Kalau aku perhatikan lagi, dari pagi hingga malam ada saja yang bunda lakukan. Hampir selalu saat posisi terjaga, mungkin sekitar jam setengah enam pagi, aku melihat bunda sedang salat subuh di ruang mushola rumah.

Tetapi ketika aku sedang berjalan untuk menuju toilet, yang kemudian melanjutkan untuk tidur lagi, aku melihat bunda sedang sibuk memasak di dapur. Sesekali aku melihat jam dinding yang ada di ruang tengah, dan itu menunjukkan waktu jam 4 pagi. Aku membuka sedikit gorden jendala dan yang terlihat hanyalah kegelapan.

Pernah aku bertanya mengapa bunda bangun terlalu pagi. Katanya ia perlu melayani ayah yang harus pergi bekerja sekitar jam 5 pagi. Mulai dari membuatkan sarapan, menyiapkan bekal makan siang, memeriksa barang-barang yang perlu dimasukkan ke dalam tas, hingga menaruh sepatu, kaos kaki, dan jaket ke sofa. Setelah ayah berangkat, barulah bunda menyiapkan segala keperluanku untuk sekolah.

Seusai aku salat dan mandi, bunda memakaikanku seragam sekolah meski belakangan aku sudah bisa mengenakannya sendiri. Lalu, bunda menyuapkan aku. Maklum, aku masih sangat lama kalau makan sendiri, jadi bunda sering tak sabaran. Jika masih ada waktu luang, barang 5-10 menit, bunda terkadang mengetes pelajaran yang akan aku pelajari nanti.

Seperti memperlakukan ayah, bunda pun memasukkan seluruh peralatan “perangku” seperti tempat pensil, buku pelajaran, hingga bekal makan siang ke dalam tas. Kemudian, beberapa menit sebelum jam 7, bunda mengantarkanku ke sekolah dengan sepeda, kendaraan yang sudah digunakannya untuk mengantar-jemputku sejak aku TK.

Aku kasihan melihat bunda menggoes sepeda di saat orang tua yang lain telah menggunakan motor. Pasti capek. Tapi ia berkata “Bunda enjoy kok.” Katanya saat aku meminta bunda untuk belajar mengendarai sepeda motor. 

Aku tak tahu apa yang bunda lakukan setelah itu. Hanya saja yang pasti, saat hari minggu tiba di mana suatu waktu aku pernah full seharian “menempel” pada bunda, sedikit banyak aku mengetahui apa saja yang bunda lakukan. Paginya, bunda harus merapihkan tempat tidur, berbelanja ke pasar, memasak untuk makan siang, menyapu, mengepel, menggosok baju, dan dilanjutkan dengan menyuci piring dan membersihkan kamar mandi.

Di sela-sela itu, bunda menyempatkan waktu untuk salat duha dan membaca Alquran. Kemudian dilanjutkan lagi dengan menyetrika dan memasak untuk makan malam pada sore harinya.

Malamnya, di hari-hari biasa, bunda selalu mengajarkan aku pelajaran sekolah. Aku tidak pernah absen belajar dengan bunda, apalagi kalau menjelang ujian. Dan satu lagi aktivitas yang tak pernah tak dilakukan, setiap malam aku melihat bunda selalu memijat ayah. Tapi aku sering kasihan melihat bunda yang tak jarang terlihat muram saat dimarahi ayah, meski aku tidak terlalu paham dengan persoalannya. Satu hal yang masih segar dalam ingatanku ialah saat bunda dimarahi ayah karena melakukan sedikit kecerobohan saat membantu ayah membersihkan pagar. Jelas, aku merasakan apa yang bunda rasakan karena aku pun, kemarin dimarahi ayah.

“Mira!” bunda menyentak “Jangan melamun. Itu cepat makan makananmu! Nanti keburu dingin. Bunda mau menyuci sepatumu dulu.” Aku tersadar dari lamunanku.

“Bunda...” bibirku spontan berucap.

“Apa lagi, nak?”

“Setelah aku makan, bunda aku pijitin yah kakinya.”

Bunda tersenyum tapi juga terlihat sedikit terkejut. “Aduuh, anak saleh. Makasih yah.” Bunda mengelus kepalaku yang terbungkus kerudung sekolah berwarna putih yang terlihat sudah agak kusam.


sumber gambar: aura.tabloidbintang.com

Bundanya Mira

by on November 07, 2019
“Mira, lekas ganti baju sekolahmu. Makan siangmu sudah bunda siapkan di atas meja!” “Baik, bunda.” Aku segera bangun dari sofa cokel...