Kitab Suci Fiksi? Menelaah Ucapan Rocky Gerung

/ Desember 11, 2019

Tidak ada isu yang paling hot hari ini selain seputar perpolitikan Indonesia karena tema inilah yang paling mudah digoreng untuk meriuhkan suasana sekaligus menjadi penambah pundi-pundi uang bagi pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya. Dan tiada satu person yang paling tersoroti dalam hal ini selain sosok fenomenal Rocky Gerung (RG) yang belakangan terpaksa harus terkena delik atas pengaduan beberapa kalangan yang berkeberatan atas ucapannya mengenai kefiksian kitab suci beberapa waktu lalu di acara Indonesia Lawyers Club (ILC).

Tentu kita tidak bisa menyangkal adanya unsur-unsur politik di dalam kekontroversian ini, tetapi pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas dan masuk ke ranah politik, apalagi pendekatan hukum. Alih-alih murni berdasarkan analisis ilmiah dari sudut pandang ilmu logika. Dan saya sangat berterima kasih kepada Dr. Otong Sulaeman juga rekan-rekan peserta short course Filsafat Islam yang telah memberikan pencerahannya.

Dari serangkaian ucapannya di media, kita dapat mengatakan bahwa pernyataan kontroversi RG didasarkan pada penalaran dua proposisi[1] berikut: pertama, “fiksi mengaktifkan imajinasi” dan kedua “kitab suci mengaktifkan imajinasi”. Dari dua proposisi ini kemudian diambil kesimpulan bawa kitab suci itu fiksi. Model penalaran ini bertumpu tiga buah kata, yakni “fiksi”, “kitab suci”, dan “mengaktifkan imajinasi”, yang dianggap RG satu sama lain memiliki relasi.

Dalam ilmu logika terdapat empat jenis relasi, yaitu ekuivalensi (bermakna sama dengan simbol = ), diferensia (bermakna saling lepas dengan simbol ⊃⊂), umum-khusus absolut yang dalam matematika disebut himpunan bagian (bersimbol ), dan umum-khusus beririsan (bersimbol ∩).
Untuk pengambilan kesimpulan berdasarkan dua proposisi hanya dapat diambil secara benar jika berada dalam dua kondisi: pertama, jika kedua pernyataan yang dijadikan sebagai proposisi sama-sama memiliki relasi ekuivalensi. Sebagai contoh, jika A ekuivalen dengan B; dan B ekuivalen dengan C, maka A ekuivalen dengan C, atau kedua, jika kedua pernyataan membentuk silogisme deduktif di mana ketiga konsep tersebut membentuk relasi umum-khusus absolut secara bertingkat. Sebagai contoh, semua manusia mengalami kematian; Rocky Gerung adalah manusia, maka simpulannya Rocky Gerung pasti mengalami kematian.

Sekarang mari kita uji pernyataan RG dengan asumsi yang pertama (ekuivalen).Pertanyaan mendasarnya ialah apakah di antara “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” terjadi relasi ekuivalensi? Jelas tidak! Mengaktifkan imajinasi bukanlah sifat substansial dari fiksi melainkan sekadar sifat aksidentalnya. Kita tidak bisa menyatakannya secara bolak-balik seperti “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi” dan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi”

Dr. Otong Sulaeman mengungkapkan, “setiap fiksi memang mengaktifkan imajinasi tetapi yang dapat mengaktifkan imajinasi bukan hanya fiksi melainkan juga biografi tokoh besar, foto seseorang, bahkan kuliah ilmiah seorang profesor” Jadi, alih-alih berelasi ekuivalensi, “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” memiliki model relasi himpunan bagian [fiksi merupakan bagian dari hal-hal yang dapat mengaktifkan imajinasi, tetapi tidak dengan sebaliknya].

Begitu pun dengan relasi “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” karena keduanya memiliki substasi yang berbeda. Daripada dianggap sebagai relasi ekuivalen, keduanya lebih tepat memiliki relasi umum-khusus beririsan, karena harus diakui bahwa ada sebagian kesamaan antara “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” seperti perihal eskatologis.

Setelah gagal lulus dalam ujian kondisi pertama, mari kita uji pertanyaan RG dengan kondisi kedua (silogisme). Dr. Otong Sulaeman menggambarkan bahwa jika hendak dipaksakan apa yang dikehendaki oleh RG maka penggambarannya adalah:
Dari diagram ini terbaca bahwa premis pertamanya (mayor) sudah salah karena terbalik, bukan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi” tetapi yang benar adalah “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi”. Pun dengan premis keduanya (minor) karena tidak semua isi kitab suci mengaktifkan imajinasi, melainkan sebagiannya saja. Kalau pengujian kebenaran setiap premisnya saja sudah salah, maka pengambilan keputusan hanya akan menimbulkan kesesatan simpulan.

Tidak Seutuhnya Salah
Memang, sebagaimana telah disampaikan di atas, jika dikaji dalam pandangan murni ilmu logika, pernyataan RG jelas mengandung kecacatan, tetapi pertanyaannya apakah kita mesti mengaplikasikan pernyataan baku sesuai kaidah ilmu logika di dalam setiap perbincangan tatap muka?

Saya beri contoh. Dalam suasana percakapan, Jaelani berkata bahwa Alquran adalah obat. Dalam konteks ini saya yakin mitra bicaranya akan segera memahami maksud yang dikehendakinya, bahwa Jaelani memang ingin mengatakan bahwa Alquran mengandung unsur pengobatan/penyembuhan tanpa bermaksud bahwa esensi dari Alquran itu sendiri adalah obat. Mitra bicaranya pun paham bahwa Jaelani tidak sedang mengatakan bahwa keseluruhan isi Alquran—adalah obat—melainkan sekadar untuk menyebut sebagiannya saja.

Dalam kehidupan sehari-hari kita telah terbiasa mendengar kata-kata semacam “warga Bekasi berdemo”, “Banser membakar bendera tauhid”, atau “Remaja tawuran” dan langsung memahami bahwa yang dimaksud ialah bukan seluruh warga Bekasi berdemo atau seluruh anggota Banser membakar bendera, atau seluruh remaja tawuran. Dan memang itulah yang sedang dimaksudkan oleh bung Rocky. Ketika memberi contoh kefiksian kitab suci beliau segera memberi contoh hal-hal yang berbau eksatologis yang baginya memiliki padanan dengan fiksi karena keduanya sama-sama mengaktifkan imajinasi. Apakah mengaktifkan imajinya termasuk substansi atau sekadar aksidental, dalam sebuah percakapan redaksi ini sudah tidak terlalu berpengaruh lagi.

Tetapi harus diakui juga bahwa untuk pernyataan RG ini tidak bisa disamakan secara total dengan contoh-contoh yang sudah saya berikan di atas, sebab beliau telah berani masuk ke ranah yang dianggap sakral oleh, setidaknya, masyarakat Indonesia, yaitu agama.

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, hal-hal yang berbau agama, entah itu konsep abstraknya, ritualistiknya,  maupun sekadar atribut keagamaannya, sama-sama bernilai suci sehingga kita harus berhati-hati ketika membicarakannya—tentu saja berbeda dengan budaya di Barat yang cenderung bebas dan terbuka.

Nah, persoalannya ialah ketika RG mencoba untuk menyandingkan hal yang sakral dengan sesuatu yang telah lazim dianggap berkonotasi negatif (fiksi). Redaksi fiksi secara umum kita pahami sebagai sesuatu yang tidak faktual, karangan manusia, memuat kepalsuan, cerita-cerita yang sulit untuk diverifikasi kebenarannya, atau sebagaimana yang dipahami oleh RG—sesuatu yang mengaktifkan imajinasi. Maka wajar ketika mereka mencoba untuk mengartikulasikan pemaknaan ini kepada kitab sucinya masing-masing, muncul keberatan.

Ini bagaikan ucapan, “Jackson itu pincang” yang meskipun secara fakta memang demikian keadaannya, tetapi siapa yang mau dipanggil dengan sebutan yang berkonotasi “negatif”? Orang-orang ribut mengenai kata pincang yang secara lazim telah dipahami sebagai suatu redaksi yang kurang baik digunakan, tetapi kemudian RG—dalam beberapa kesempatan—hendak menyampaikan bahwa pincang itu bukanlah suatu redaksi yang berkonotasi buruk melainkan sebaliknya.

Di atas semua perdebatan ini, setidaknya kita tetap harus berterima kasih kepada bung Rocky yang telah memunculkan percakapan “kefilsafatan” dan “logika” di ranah publik sehingga mulai hilanglah persepsi buruk mengenai filsafat atau logika yang kadung dianggap ilmu sesat-menyesatkan, di luar konteks apakah ilmu tersebut telah digunakannya secara benar atau salah.    

Keterangan: Tulisan ini sudah pernah diposting di website Qureta.com, dengan judul “Dilema Ucapan Kitab Suci Fiksi”
Sumber gambar: Fajar.co.id

Referensi
Priatna, Tedi. (tt). Filsafat Ilmu: Pengantar untuk Memahami Mesin Riset. PPT Bahan Ajar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN SGD Bandung



[1] Suatu pernyataan mengenai satu hubungan antara dua atau lebih konsep (dalam paradigma positivistik). Sedangkan dalam penelitian kualitatif, proposisi dipahami sebagai suatu pernyataan yang terdiri dari satu konsep atau lebih yang dapat dibenarkan atau disalahkan (Priatna, tt: 30).



Tidak ada isu yang paling hot hari ini selain seputar perpolitikan Indonesia karena tema inilah yang paling mudah digoreng untuk meriuhkan suasana sekaligus menjadi penambah pundi-pundi uang bagi pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya. Dan tiada satu person yang paling tersoroti dalam hal ini selain sosok fenomenal Rocky Gerung (RG) yang belakangan terpaksa harus terkena delik atas pengaduan beberapa kalangan yang berkeberatan atas ucapannya mengenai kefiksian kitab suci beberapa waktu lalu di acara Indonesia Lawyers Club (ILC).

Tentu kita tidak bisa menyangkal adanya unsur-unsur politik di dalam kekontroversian ini, tetapi pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas dan masuk ke ranah politik, apalagi pendekatan hukum. Alih-alih murni berdasarkan analisis ilmiah dari sudut pandang ilmu logika. Dan saya sangat berterima kasih kepada Dr. Otong Sulaeman juga rekan-rekan peserta short course Filsafat Islam yang telah memberikan pencerahannya.

Dari serangkaian ucapannya di media, kita dapat mengatakan bahwa pernyataan kontroversi RG didasarkan pada penalaran dua proposisi[1] berikut: pertama, “fiksi mengaktifkan imajinasi” dan kedua “kitab suci mengaktifkan imajinasi”. Dari dua proposisi ini kemudian diambil kesimpulan bawa kitab suci itu fiksi. Model penalaran ini bertumpu tiga buah kata, yakni “fiksi”, “kitab suci”, dan “mengaktifkan imajinasi”, yang dianggap RG satu sama lain memiliki relasi.

Dalam ilmu logika terdapat empat jenis relasi, yaitu ekuivalensi (bermakna sama dengan simbol = ), diferensia (bermakna saling lepas dengan simbol ⊃⊂), umum-khusus absolut yang dalam matematika disebut himpunan bagian (bersimbol ), dan umum-khusus beririsan (bersimbol ∩).
Untuk pengambilan kesimpulan berdasarkan dua proposisi hanya dapat diambil secara benar jika berada dalam dua kondisi: pertama, jika kedua pernyataan yang dijadikan sebagai proposisi sama-sama memiliki relasi ekuivalensi. Sebagai contoh, jika A ekuivalen dengan B; dan B ekuivalen dengan C, maka A ekuivalen dengan C, atau kedua, jika kedua pernyataan membentuk silogisme deduktif di mana ketiga konsep tersebut membentuk relasi umum-khusus absolut secara bertingkat. Sebagai contoh, semua manusia mengalami kematian; Rocky Gerung adalah manusia, maka simpulannya Rocky Gerung pasti mengalami kematian.

Sekarang mari kita uji pernyataan RG dengan asumsi yang pertama (ekuivalen).Pertanyaan mendasarnya ialah apakah di antara “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” terjadi relasi ekuivalensi? Jelas tidak! Mengaktifkan imajinasi bukanlah sifat substansial dari fiksi melainkan sekadar sifat aksidentalnya. Kita tidak bisa menyatakannya secara bolak-balik seperti “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi” dan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi”

Dr. Otong Sulaeman mengungkapkan, “setiap fiksi memang mengaktifkan imajinasi tetapi yang dapat mengaktifkan imajinasi bukan hanya fiksi melainkan juga biografi tokoh besar, foto seseorang, bahkan kuliah ilmiah seorang profesor” Jadi, alih-alih berelasi ekuivalensi, “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” memiliki model relasi himpunan bagian [fiksi merupakan bagian dari hal-hal yang dapat mengaktifkan imajinasi, tetapi tidak dengan sebaliknya].

Begitu pun dengan relasi “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” karena keduanya memiliki substasi yang berbeda. Daripada dianggap sebagai relasi ekuivalen, keduanya lebih tepat memiliki relasi umum-khusus beririsan, karena harus diakui bahwa ada sebagian kesamaan antara “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” seperti perihal eskatologis.

Setelah gagal lulus dalam ujian kondisi pertama, mari kita uji pertanyaan RG dengan kondisi kedua (silogisme). Dr. Otong Sulaeman menggambarkan bahwa jika hendak dipaksakan apa yang dikehendaki oleh RG maka penggambarannya adalah:
Dari diagram ini terbaca bahwa premis pertamanya (mayor) sudah salah karena terbalik, bukan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi” tetapi yang benar adalah “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi”. Pun dengan premis keduanya (minor) karena tidak semua isi kitab suci mengaktifkan imajinasi, melainkan sebagiannya saja. Kalau pengujian kebenaran setiap premisnya saja sudah salah, maka pengambilan keputusan hanya akan menimbulkan kesesatan simpulan.

Tidak Seutuhnya Salah
Memang, sebagaimana telah disampaikan di atas, jika dikaji dalam pandangan murni ilmu logika, pernyataan RG jelas mengandung kecacatan, tetapi pertanyaannya apakah kita mesti mengaplikasikan pernyataan baku sesuai kaidah ilmu logika di dalam setiap perbincangan tatap muka?

Saya beri contoh. Dalam suasana percakapan, Jaelani berkata bahwa Alquran adalah obat. Dalam konteks ini saya yakin mitra bicaranya akan segera memahami maksud yang dikehendakinya, bahwa Jaelani memang ingin mengatakan bahwa Alquran mengandung unsur pengobatan/penyembuhan tanpa bermaksud bahwa esensi dari Alquran itu sendiri adalah obat. Mitra bicaranya pun paham bahwa Jaelani tidak sedang mengatakan bahwa keseluruhan isi Alquran—adalah obat—melainkan sekadar untuk menyebut sebagiannya saja.

Dalam kehidupan sehari-hari kita telah terbiasa mendengar kata-kata semacam “warga Bekasi berdemo”, “Banser membakar bendera tauhid”, atau “Remaja tawuran” dan langsung memahami bahwa yang dimaksud ialah bukan seluruh warga Bekasi berdemo atau seluruh anggota Banser membakar bendera, atau seluruh remaja tawuran. Dan memang itulah yang sedang dimaksudkan oleh bung Rocky. Ketika memberi contoh kefiksian kitab suci beliau segera memberi contoh hal-hal yang berbau eksatologis yang baginya memiliki padanan dengan fiksi karena keduanya sama-sama mengaktifkan imajinasi. Apakah mengaktifkan imajinya termasuk substansi atau sekadar aksidental, dalam sebuah percakapan redaksi ini sudah tidak terlalu berpengaruh lagi.

Tetapi harus diakui juga bahwa untuk pernyataan RG ini tidak bisa disamakan secara total dengan contoh-contoh yang sudah saya berikan di atas, sebab beliau telah berani masuk ke ranah yang dianggap sakral oleh, setidaknya, masyarakat Indonesia, yaitu agama.

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, hal-hal yang berbau agama, entah itu konsep abstraknya, ritualistiknya,  maupun sekadar atribut keagamaannya, sama-sama bernilai suci sehingga kita harus berhati-hati ketika membicarakannya—tentu saja berbeda dengan budaya di Barat yang cenderung bebas dan terbuka.

Nah, persoalannya ialah ketika RG mencoba untuk menyandingkan hal yang sakral dengan sesuatu yang telah lazim dianggap berkonotasi negatif (fiksi). Redaksi fiksi secara umum kita pahami sebagai sesuatu yang tidak faktual, karangan manusia, memuat kepalsuan, cerita-cerita yang sulit untuk diverifikasi kebenarannya, atau sebagaimana yang dipahami oleh RG—sesuatu yang mengaktifkan imajinasi. Maka wajar ketika mereka mencoba untuk mengartikulasikan pemaknaan ini kepada kitab sucinya masing-masing, muncul keberatan.

Ini bagaikan ucapan, “Jackson itu pincang” yang meskipun secara fakta memang demikian keadaannya, tetapi siapa yang mau dipanggil dengan sebutan yang berkonotasi “negatif”? Orang-orang ribut mengenai kata pincang yang secara lazim telah dipahami sebagai suatu redaksi yang kurang baik digunakan, tetapi kemudian RG—dalam beberapa kesempatan—hendak menyampaikan bahwa pincang itu bukanlah suatu redaksi yang berkonotasi buruk melainkan sebaliknya.

Di atas semua perdebatan ini, setidaknya kita tetap harus berterima kasih kepada bung Rocky yang telah memunculkan percakapan “kefilsafatan” dan “logika” di ranah publik sehingga mulai hilanglah persepsi buruk mengenai filsafat atau logika yang kadung dianggap ilmu sesat-menyesatkan, di luar konteks apakah ilmu tersebut telah digunakannya secara benar atau salah.    

Keterangan: Tulisan ini sudah pernah diposting di website Qureta.com, dengan judul “Dilema Ucapan Kitab Suci Fiksi”
Sumber gambar: Fajar.co.id

Referensi
Priatna, Tedi. (tt). Filsafat Ilmu: Pengantar untuk Memahami Mesin Riset. PPT Bahan Ajar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN SGD Bandung



[1] Suatu pernyataan mengenai satu hubungan antara dua atau lebih konsep (dalam paradigma positivistik). Sedangkan dalam penelitian kualitatif, proposisi dipahami sebagai suatu pernyataan yang terdiri dari satu konsep atau lebih yang dapat dibenarkan atau disalahkan (Priatna, tt: 30).


Continue Reading
Rike Adelia Hermawan



Saya heran dengan respon sebagian besar kita tentang ceramah Gus Muwafiq yang santer dibicarakan itu. Orang-orang yang pro, habis-habisan membela Gus Muwafiq dengan pendapatnya, memaparkan bahwa apa yang disampaikan Gus Muwafiq ada dalam kitab ABC. Sayangnya, tak disertai dengan bukti teks kitab tersebut, sehingga jauh lebih kental unsur pembelaannya atau pembenarannya.
Orang-orang yang kontra, tidak menyetujui apa yang disampaikan Gus Muwafiq dan menganggapnya sebagai perilaku tak sopan atau penghinaan terhadap Rasulullah yang mulia. Sayangnya, mereka menggugat ceramah yang “menurutnya” menghina Rasulullah dengan “menghina” Gus Muwafiq. Jadi kalau (betul) begitu, sama-sama menghinda dong? Sedang kita tahu bahwa penghinaan terhadap siapa pun adalah hal yang salah.

Saya sebetulnya jauh lebih melihat pada betapa beraganmya tiap-tiap orang “menggambarkan Rasulullah.” Penggambaran tentang “siapa dan bagaimana Rasulullah” itu sangat erat kaitannya dengan pengalaman tiap-tiap orang; yang pastinya berbeda.

Ada yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang pemimpin masyarakat. Ada pula yang menggambarkannya sebagai pemimpin agama. Pun beragamnya penggambaran kita terhadap kepribadian Rasulullah: ada yang menggambarkan Rasulullah sebagai orang yang tegas. Ada pula yang menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang lemah lembut. Bahkan ada juga yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang humoris, karena dalam beberapa kisah pernah diceritakan bahwa Rasulullah kerapkali bercanda dengan orang-orang di sekitar beliau.

Penggambaran kita terhadap “siapa Rasulullah” ini pulalah yang kemudian akan memengaruhi bagaimana kita bersikap dan membicarakan Rasulullah.

Yang menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang tegas, barangkali akan lebih banyak memunculkan kepempimpinan Rasulullah dalam perang; dan orang-orang yang menggambarkan Rasulullah sebagai seorang humoris, barangkali akan lebih banyak memunculkan obrolan-obrolan santai Rasulullah yang tidak melulu serius, tapi kadang penuh jenaka juga.

Ada orang-orang yang mengedepankan penghormatan, dan ada pula yang mengedepankan kemesraan.

Hemat saya yang awam ini, ceramah Gus Muwafiq hanya ingin menguatkan sisi kemanusiaannya Rasulullah. Bahwa bagaimana pun mukjizat yang beliau miliki, beliau tetap manusia biasa yang merasa lapar, bahagia, bersedih dan lain sebagainya. Sama sekali tidak bermaksud untuk tak hormat atau menghina Rasulullah. Sebab, jangankan menggambarkan Rasulullah yang hidup 1500 tahun lalu, adik-kakak juga menggambarkan orang tuanya dengan pribadi yang berbeda, tergantung pengalamannya.

Gus Muwafiq juga manusia yang bisa salah. Beliau juga sudah meminta maaf. Nanti, kita tanyakan langsung pada Rasulullah sebenarnya seperti apa beliau ini. Kalau ternyata penggambaran kita terhadapnya salah, ya tidak apa-apa. Tinggal minta maaf saja kepada beliau.

Shollu ‘alan Nabi. Selamat hari Jumat

Sumber gambar: cnnindonesia.com
Rd Agung Fajar
Pada era awal presiden Joko Widodo di periode yang kedua, kita kembali tergiring dalam isu pengkonfrontasian antara nasionalisme dan islamisme. Terlihat dari fenomenal yang terjadi sekarang antara penguasa dan organisasi masyarakat yang bergerak dalam agama yakni Front Pembela Islam (FPI), kejadian tersebut dikarenakan FPI yang sudah berdiri selama dua puluh tahun merasa dipersulit oleh penguasa mengenai SKT yang belum diterbitkan oleh pihak penguasa. Penguasa menganggap bahwasanya FPI menjadi ancaman negara ketika mengangkat label “NKRI Bersyariah” dalam tubuh organisasinya.

Frasa bersyariah menjadi polemik yang sekarang masih diperdebatkan karena dalam pandangan penguasa, frasa tersebut mengarah pada khilafah yang menjalar terhadap sistem negara sehingga terindikasi akan merusak sistem negara Indonesia namun beda hal dari pihak FPI yang menginterpretasikan menjalankan syariat agama islam dalam satu ruang lingkup NKRI.

Saat fenomenal tersebut muncul, narasi-narasi panjang telah diuraikan oleh semua pihak dan kembali dibenturkanya antara nasionalisme dan islamisme, pancasila kehilangan panorama ketika isu pengkotak-kotakan terjadi yang sebenarnya nilai-nilai pancasila hadir dari kedua benturan tersebut. Pancasilais lahir dari nasionalisme yang besar dari warga negara terhadap negaranya dan semangat keislaman selalu hadir disetiap silanya.

Memang buntut dari era digitalisasi di mana masyarakat dengan mudah melahap tanpa mengkaji, menimbang, berbekal wawasan yang minim sehingga terpengaruh akan perbedaan pendapat yang terjadi. Fenomenal seperti ini membawa kemaluan terhadap negara karena persoalan administrasi begitu lebih panas dibandingkan persoalan-persoalan lainya seperti kesejahteraan, lingkungan dan lain sebagainya.

Kurangnya dialog dari semua pihak serta masuknya sedikit bumbu politis menjadi pemicu utama sehingga persoalan administrasi ini begitu booming mengalahkan persoalan-persoalan lain. Kegaduhan tidak akan terjadi jika masyarakat dapat menilai dengan baik dan benar, artinya persoalan tersebut dapat diselesaikan dalam satu meja melalui dialog yang menghasilkan kesamaaan pandangan mengenai syarat-syarat dari penguasa dan anggaran dasar anggaran rumah tangga (ADA/RT) FPI.

Negara ini memang masih terlalu muda dapat ditinjau melalui usia dan cara-cara negara ketika menghadapi persoalan, negara masih belum mampu tenang dalam menanggapi managemen konflik yang terjadi sehingga dengan mudah kegaduhan muncul yang dapat berakibat timbulnya perpecahan antar golongan.

Jika melalui lisan, semua tentu mengatakan bahwa dirinya seorang pancasilais tetapi apabila melalui nilai, pancasilais tersebut belum tentu hadir melekat didalam kehidupan sehari-hari. Hal tesebut berlaku juga untuk negara, berapa banyak negara ini tidak mencerminkan nilai-nilai pancasila pada instrumen penyelenggaranya. Mengambil contoh dari sila kelima, dimana beberapa wilayah di penjuru negeri belum merasakan tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nasionalisme lahir saat seseorang memfitrahkan dirinya untuk negara dan islamisme muncul sebagai syariat pada kehidupan sehari-hari dalam keyakinan individu pada ruang teologis, Siapapun baik nasionalisme dan islamisme berhak untuk menganut faham tersebut yang tidak boleh adalah ketika islamisme dibenturkan pada ranah sistem negara. Negara berhak melindungi penganut faham apapun selagi tidak keluar dari koridor pancasila dan konstitusi. Pengkolaborasian islamisme dan nasionalisme tersebut merupakan hal subtantif bagi warga negara yang menganut ajaran-ajaran islam karena keterpaduan nasionalisme dan islamisme bermuara pada lahirnya pancasila dapat pula ditinjau dari sejarah asal muasal pancasila.

Islam menyerukan bahwasanya tiada tuhan selain Allah yang bersifat esa, menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan memiliki akhlaqul kharimah hingga sampai pada sila terakhir dari pancasila untuk kemaslahatan bersama. Nasionalisme berperan sebagai benteng terakhir dalam menjaga keutuhan negara, melalui sudut pandang libertarian, negara dianggap tidak semestinya mencampuri persoalan yang masuk dalam ruang lingkup privat contohnya dalam hal agama. Apabila negara terlalu mencampuri maka dapat dikatakan munculnya suatu kepanikan dari negara terhadap warga-warganya sehingga bermuara saling menuding, memantau dan mengawasi. Hal ini tentu saja mengganggu kebebasan warga negara saat selalu diawasi dengan bidikan melawan pilar-pilar negara dan menghasilkan keotoriterian negara.

Kacau memang, saat ingin melindungi pancasila jika melakukan cara-cara diatas justru menjadi luka bagi pancasila karena keotoriteran tersebut yang menciderai kedaulatan yang sesungguhnya yakni rakyat, pun golongan penganut khilafah yang ingin mengganggu sistem negara.

Saat ini memang pancasila bersifat final tetapi tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan final tersebut berlaku karena dalam konteks sosial, sebuah ideologi dapat berubah kapanpun dari masyarakat-masyarakat yang memiliki kuasa dan wewenang selain itu sifat dari suatu masyarakat yang dinamis. Tetapi, final tersebut akan tetap utuh dan terjaga apabila negara tidak terlalu sensitif pada ranah privat terhadap warganya, tidak menciderai pancasila dan konstitusi, serta pengembangan dan membumikan pancasila yang menitikberatkan pada nilai-nilai dalam kehidupan bukan selalu teori dengan balutan sosialisasi dengan kesimpulan biarkan negara membebaskan warganya dalam aliran apapun selagi tidak bertentangan dengan konstitusi dan pancasila masih menjadi hirarki tertinggi dari individu pribadi.

sumber gambar: indopolitica.com
Tadi siang aku, ayah, dan bunda jalan-jalan ke mall naik motor yang ayah beli beberapa waktu lalu. Sejujurnya aku senang sekali karena kalau diingat-ingat, terakhir kali kami pergi bersama adalah tiga bulan yang lalu. Sudah cukup lama. Waktu itu kami bermain bersama di rumput buatan yang ada di samping masjid agung Bandung.

Tapi sekarang berbeda, karena ayah dan ibu mengajakku pergi ke Bandung Indah Plaza (BIP) di Jalan Merdeka. Mau membeli keperluan bulanan katanya, sekalian melihat-lihat sepatu atau baju. Aku yakin Kak Via iri deh kalau tahu kami pergi bersama karena ia sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah teman kampusnya yang ada di daerah Cimahi.

Bunda memakaikan aku jaket karena cuacanya sedang dingin terus. Aku suka dengan bunda hari itu. Dia terlihat cantik dengan baju terusan berwarna merah yang dibalut dengan kerudung hitam.

“Mira..” sambil membalikkan badan “Tolong kancingkan dong!” Aku mengancingkan baju belakangnya. Setelah itu bunda kembali berdandan.

Ayah juga sibuk berdandan. Dengan kaos bermotif abstrak dan celana jins, ayah dengan kerennya menyisir helai demi helai rambutnya yang digiring ke sebelah kanan. Ia juga menyemprotkan banyak sekali parfum ke hampir seluruh bagian tubuhnya. Bahkan mengalahkan bunda yang hanya menggunakannya di bagian-bagian tertentu saja. Aku tersenyum kecil. Namun beberapa waktu kemudian senyumku menghilang seketika saat ayah memandangi ibu dengan mata nanar.

“Kenapa pakai baju itu?”

Bunda yang sedang mengambil tas kecil dari dalam lemari lantas mengarahkan pandangannya ke ayah. Ia terlihat kebingungan.

“Kayak mau ke pengajian aja. Mbok-mbok banget sih.” Tutur ayah. Sekarang nadanya agak melengking.

Bunda memandangi pakaian yang melekat pada tubuhnya, terlihat sedih. Wajahnya menunjukkan penolakan tapi ia segera menuju ke kamar, mengganti baju. Saat itu aku sedang duduk di kursi lipat, terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Tapi aku tidak suka dengan suasana itu.

**

Tidak seperti hari Minggu biasa, jalanan macet sekali. Bahkan motor ayah pun sulit bergerak. Entah ada apa atau memang Bandung sudah sangat ramai. Aku tidak tahu. Aku hanya berharap semoga Mang Oded bisa melakukan sesuatu supaya jalanan di Bandung tidak terlalu macet amat.

Meski cuacanya sejuk, tetapi tidak dengan hati ayah. Setidaknya itu yang aku rasakan. Ia tak sabaran. Aku dan bunda hampir saja terjatuh karena ayah sering ngegas-ngerem dengan mendadak. Kulihat ibu mengelus-ngelus dada. Diam-diam aku menirunya.

Sesampainya di BIP kami langsung menuju super marketnya. Di sana kami berpisah. Ayah sendirian, sedangkan aku bersama bunda. Kata ayah aku boleh beli apa saja asal jangan banyak-banyak juga. Sewajarnya saja.

“Shampo kamu sudah habis kan?” Bunda bertanya kepadaku sambil memasukkan dua buah shampo. Satu untukku dan satu lagi untuknya.

Mulai dari peralatan mandi hingga kebutuhan makanan pun kami borong. Tak lupa mie goreng dan soun, makanan kesukaan keluarga kami selain bakso tentunya.

“Bunda, ini enggak apa-apa kan?” Aku mamasukkan beberapa macam snack dengan rasa yang semuanya sama, yakni rumput laut. Aku suka sekali rumput laut dan segala makanan yang rasanya rumput laut. Lucunya, bunda malah sangat tidak suka. Rasanya aneh, katanya. Pernah aku menawarkan bunda Tao Kae Noi, makanan ringan rumput laut dari Thailand. Seketika bunda memuntahkannya.

**

Sudah lama bunda menginginkan baju baru. Makanya, setelah selesai berbelanja di supermarket, aku, ayah dan bunda langsung meluncur ke gerai pakaian. Betapapun, ia selalu mendahulukan aku. Ia memilih-milihkan baju untukku.

“Coba deh kamu pakai yang ini!” Ucapnya sambil memegang sebuah baju kasual beserta bawahannya.

“Aku kurang suka, bunda.”

“Hmm. Ya sudah pilih baju yang kamu suka.”

Sementara itu bunda mulai melirik-lirik pakaian incarannya yang diam-diam aku pun memperhatikannya yang tidak lain adalah pakaian yang sempat bunda lirik saat kami berpapasan dengan toko tersebut saat hendak menuju ke super market. Kemudian bunda menunjukkan pakaian itu kepada ayah.

“Yah, bunda suka sama baju ini. Beli yang ini yah!”

Hanya beberapa detik ayah memandangi baju pilihan bunda, lalu ia mengungkapkan ketidaksetujuannya.

“Jangan ah. Jelek banget. Yang lain saja.” Jawab ayah dengan ketus.

“Tapi bunda suka yang ini, ayah.” Ibu mengeluh dengan sedikit memelas.

“Kalau ayah bilang tidak suka ya tidak suka.” Ayah mulai ngegas.

Aku yakin bunda amat sedih. Bagaimana tidak. Itu baju yang sejak dari awal sudah ditandainya. Beberapa menit kemudian bunda menawarkan dua helai baju lagi. Dan masih sama, ayah tak menyukainya. Aku melihat bunda hampir putus asa.

“Terus bunda harus membeli baju yang seperti apa?”

“Masak kamu pilih yang bagus saja tidak bisa! Masak harus ayah yang turun tangan. Lagian aneh-aneh saja. Seleramu kampungan banget sih!”

“Tapi kan bunda yang memakai bajunya. Bukan ayah.” Bunda mencoba untuk memberi pengertian dan terlihat jelas kalau wajahnya sudah tak seceria saat ia memilih-milih baju.

“Bunda ini kok, tidak bisa menghasilkan uang saja sudah berani ngebantah ayah ya! Enggak nurut banget sih jadi istri.” Ayah mulai menggerutu. Dan akhirnya ia nyelonong keluar dari gerai.

Dek! Kok bunda yang dibentak, tapi aku yang sedih yah. Atau lebih tepatnya kesal. Lalu aku mendekati bunda.

“Bunda....” Aku hanya bisa mengucapkan kata singkat itu sambil memeluk erat dirinya tanpa sepatah kata tambahan lagi, namun aku yakin bunda memahaminya.

“Iya. Enggak apa-apa sayang.” Bunda mengelus kepalaku “Yuk kita pulang. Mungkin nanti saja bunda membeli bajunya.”

 sumber gambar: hipwee.com

Bundaku yang Malang

by on November 07, 2019
Tadi siang aku, ayah, dan bunda jalan-jalan ke mall naik motor yang ayah beli beberapa waktu lalu. Sejujurnya aku senang sekali karena kal...

“Mira, lekas ganti baju sekolahmu. Makan siangmu sudah bunda siapkan di atas meja!”

“Baik, bunda.” Aku segera bangun dari sofa cokelat muda yang memang sejak tahun lalu dipindah ke pojok teras rumah. Aku melihat bunda sedang menstandarkan sepeda yang baru saja ia gunakan untuk menjemputku pulang sekolah. Kemudian ia hilir mudik memindahkan pakaian kering dari jemuran ke dalam rumah. Mataku mengintai gerak-geriknya dengan saksama.

“Bunda, kakinya kenapa? Kok jalannya pincang?”

Sambil masih memegang beberapa helai pakaian, bunda menoleh ke arahku. Bunda menumpahkan senyum meski terlihat kurang natural.

“Mira memangnya lupa apa yang kemarin kita lakukan? Sepertinya bunda keseleo.”

 Aku mencoba untuk mengingat-ingat lagi. Kemarin kamiaku, bunda, dan ayah―kerja bakti seharian membersihkan pagar rumah yang sudah sangat kotor.

Eh, tapi, aku kira bukan hanya karena itu yang menyebabkan bunda keseleo. Ini pasti karena bunda hampir tak punya waktu untuk beristirahat. Jadi kakinya mudah sakit. Kalau aku perhatikan lagi, dari pagi hingga malam ada saja yang bunda lakukan. Hampir selalu saat posisi terjaga, mungkin sekitar jam setengah enam pagi, aku melihat bunda sedang salat subuh di ruang mushola rumah.

Tetapi ketika aku sedang berjalan untuk menuju toilet, yang kemudian melanjutkan untuk tidur lagi, aku melihat bunda sedang sibuk memasak di dapur. Sesekali aku melihat jam dinding yang ada di ruang tengah, dan itu menunjukkan waktu jam 4 pagi. Aku membuka sedikit gorden jendala dan yang terlihat hanyalah kegelapan.

Pernah aku bertanya mengapa bunda bangun terlalu pagi. Katanya ia perlu melayani ayah yang harus pergi bekerja sekitar jam 5 pagi. Mulai dari membuatkan sarapan, menyiapkan bekal makan siang, memeriksa barang-barang yang perlu dimasukkan ke dalam tas, hingga menaruh sepatu, kaos kaki, dan jaket ke sofa. Setelah ayah berangkat, barulah bunda menyiapkan segala keperluanku untuk sekolah.

Seusai aku salat dan mandi, bunda memakaikanku seragam sekolah meski belakangan aku sudah bisa mengenakannya sendiri. Lalu, bunda menyuapkan aku. Maklum, aku masih sangat lama kalau makan sendiri, jadi bunda sering tak sabaran. Jika masih ada waktu luang, barang 5-10 menit, bunda terkadang mengetes pelajaran yang akan aku pelajari nanti.

Seperti memperlakukan ayah, bunda pun memasukkan seluruh peralatan “perangku” seperti tempat pensil, buku pelajaran, hingga bekal makan siang ke dalam tas. Kemudian, beberapa menit sebelum jam 7, bunda mengantarkanku ke sekolah dengan sepeda, kendaraan yang sudah digunakannya untuk mengantar-jemputku sejak aku TK.

Aku kasihan melihat bunda menggoes sepeda di saat orang tua yang lain telah menggunakan motor. Pasti capek. Tapi ia berkata “Bunda enjoy kok.” Katanya saat aku meminta bunda untuk belajar mengendarai sepeda motor. 

Aku tak tahu apa yang bunda lakukan setelah itu. Hanya saja yang pasti, saat hari minggu tiba di mana suatu waktu aku pernah full seharian “menempel” pada bunda, sedikit banyak aku mengetahui apa saja yang bunda lakukan. Paginya, bunda harus merapihkan tempat tidur, berbelanja ke pasar, memasak untuk makan siang, menyapu, mengepel, menggosok baju, dan dilanjutkan dengan menyuci piring dan membersihkan kamar mandi.

Di sela-sela itu, bunda menyempatkan waktu untuk salat duha dan membaca Alquran. Kemudian dilanjutkan lagi dengan menyetrika dan memasak untuk makan malam pada sore harinya.

Malamnya, di hari-hari biasa, bunda selalu mengajarkan aku pelajaran sekolah. Aku tidak pernah absen belajar dengan bunda, apalagi kalau menjelang ujian. Dan satu lagi aktivitas yang tak pernah tak dilakukan, setiap malam aku melihat bunda selalu memijat ayah. Tapi aku sering kasihan melihat bunda yang tak jarang terlihat muram saat dimarahi ayah, meski aku tidak terlalu paham dengan persoalannya. Satu hal yang masih segar dalam ingatanku ialah saat bunda dimarahi ayah karena melakukan sedikit kecerobohan saat membantu ayah membersihkan pagar. Jelas, aku merasakan apa yang bunda rasakan karena aku pun, kemarin dimarahi ayah.

“Mira!” bunda menyentak “Jangan melamun. Itu cepat makan makananmu! Nanti keburu dingin. Bunda mau menyuci sepatumu dulu.” Aku tersadar dari lamunanku.

“Bunda...” bibirku spontan berucap.

“Apa lagi, nak?”

“Setelah aku makan, bunda aku pijitin yah kakinya.”

Bunda tersenyum tapi juga terlihat sedikit terkejut. “Aduuh, anak saleh. Makasih yah.” Bunda mengelus kepalaku yang terbungkus kerudung sekolah berwarna putih yang terlihat sudah agak kusam.


sumber gambar: aura.tabloidbintang.com

Bundanya Mira

by on November 07, 2019
“Mira, lekas ganti baju sekolahmu. Makan siangmu sudah bunda siapkan di atas meja!” “Baik, bunda.” Aku segera bangun dari sofa cokel...

Sepertinya sudah lama saya tidak menulis semenjak rutinitas kegiatan harian mulai berjalan padat merayap. Namun alih-alih mengeluh, di kesempatan kali ini, dalam rangka menyongsong satu tahun mengabdi di dunia persekolahan, saya akan mengutarakan rasa bersyukur atas segala hal, hari demi hari, yang saya alami ini.

Meskipun menjadi guru bukanlah cita-cita utama saya (karena ingin menjadi dosen tapi tidak kesampeain), lamun berjalannya waktu saya menemukan kenyamanan di tempat sekarang saya bekerja. Dan setelah direnungi, agaknya posisi ini lebih banyak ladang amalnya ketimbang saya menjadi dosen. Barangkali benar suatu ungkapan yang mengutarakan bahwa Allah akan memberi yang terbaik, dan bukan yang kita inginkan.

Jika banyak orang yang mengharap-harapkan datangnya hari libur (sabtu-minggu)dan ini dibuktikan dengan membanjirnya manusia di tempat-tempat hiburan (mal, taman, tempat wisata, hotel, dll)untuk me-refresh pikiran sekaligus menetralisir kestresan yang mereka alami di tempat kerja, saya malah sebaliknya. Saya sangat menikmati setiap detiknya berada di sekolah, apalagi kalau sudah bertemu dengan murid-murid, menyapa, memberi senyum, gibah ngobrol bersama mereka, suatu kesenangan dan kebahagiaan yang tidak bisa dibayar dengan materi.

Ada yang saleh, “nakal”, pendiam, cerewet, caper, dan lain sebagainya, semua saya sayangi dan berusaha sekali untuk tidak diskriminatif karena sudah saya anggap sebagai adik atau anak sendiri. Jadi kalau hari libur tiba, saya malah seperti seseorang yang sedang menanti-nanti hari kerja tiba.

Saya yang sekarang sudah tidak seidealis dulu yang sangat mengharapkan murid bisa memiliki daya pikir/nalar yang kritis sebagaimana yang diharapkan oleh para pakar pendidikan abad 21. Kalau boleh jujur, jika menggunakan standar “kritis” versi saya, kompetensi ini sulit untuk ditanamkan. Sebagai gantinya saya hanya ingin menjadi guru yang membahagiakan mereka. Oleh karena itu setiap malam saya selalu berpikir keras bagaimana pembelajaran di kelas yang saya lakukan nanti akan menjadi pembelajaran yang paling berkesan dan membahagiakan dibanding guru-guru lain.

Untuk keagamaan, saya akhirnya beralih fokus ke penanaman akhlak dan semangat ibadah, sesuatu yang sebenarnya jauh lebih sulit dibanding menanamkan kekritisanyang dapat mereka pelajari di bangku SMA.

Kemudian, saya berusaha sekali untuk tidak sekadar menjadi seorang pengajar, melainkan juga harus menjadi pembimbing, pengayom, fasilitator, dan yang paling berat…pendidik bagi mereka (peran yang tidak ada di profesi dosen). Implikasi logisnya ialah saya akan banyak berinteraksi dengan mereka, baik secara formal maupun non-formal. Sayangnya metode yang seperti ini seringkali disalahpahami dan diprasangka-burukkan. Ketika saya sering dekat dengan murid laki-laki, saya disangka akan menggaulinya (homo), sedangkan kalau saya sering terlihat dekat dengan murid-murid perempuan, saya disangka akan menjadi predator. 

Jelas, saya yang baperan ini merasa sedih. Walaupun memang secara kajian psikologi, orang-orang yang melakukan tindakan pelecehan seksual adalah umumnya dari kalangan terdekat dan menggunakan cara-cara halus, bukan paksaan. Tapi mbok ya kalau setiap orang yang mau berbuat baik diprasangkakan akan melakukan perbuatan pelecahan, terus mau dibawa ke mana arti dari sebuah ketulusan?

Pengabdian yang demikian ini saya terapkan karena saya menganut pandangan bahwa kita harus bekerja, mengambil versi Quraish Shihab, secara ihsan, yakni memberi sesuatu secara lebih dari yang seharusnya. Jadi kalau gaji saya adalah 2 juta, maka saya akan berusaha untuk bekerja senilai lebih dari 2 juta itu. Nah surplusnya saya serahkan pada Allah, apa dibayar di dunia ini ataupun di akhirat nanti. Pokoknya saya mau memberi lebih. Bukan malah melakukan yang sebaliknya, digaji 2 juta tapi nilai kerja yang dilakukan berada di bawah nominal tersebut.

Betapapun harus diakui bahwa metode pendidikan yang saya lakukan banyak yang “di luar” sistem, tidak terstruktur, melawan arus, dan trial and error. Ini karena saya mementingkan substansi dibanding kulit. Ini karena saya merasa belum menemukan role model yang selaras dengan situasi dan kondisi lapangan yang saya alami. Karena itu, kritikan siap saya tampung.

Terakhir, sepertinya saya harus berterima kasih kepada lembaga pendidikan tempat dulu saya ngehonor karena di sanalah saya belajar menjadi seorang guru yang seluruh waktunya disibukkan untuk memikirkan dan melayani murid-muridnya (tanpa melihat waktu dan ruang) dalam rangka melayani Tuhan.


sumber gambar: fimela.com

Yudi Aditiawan
Pada 7-13 Oktober 2019 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 di Istora Senayan. Acara tersebut menampilkan beragam kebudayaan yang ada di Indonesia, dari mulai handcraft sampai kuliner. 

Dan pada 16 Oktober 2019, Ditjen Kebudayaan Kemdikbud RI resmi merilis infografis seputar PKN 2019 melalui akun instagram resminya @budayasaya. Di dalam infografis tersebut, diinformasikan bahwasannya total pengunjung acara PKN hanya mampu menyedot sebanyak 203.245 pengunjung. Padahal total penduduk Indonesia saat ini berjumlah 265 juta menurut data yang dihimpun oleh BPS.



Berbeda dengan PKN 2019, acara Festival Indonesia 2019 yang diadakan di Moskow, Rusia oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia pada 1-4 Agustus 2019 lalu. Dengan mengusung tema “Visit Wonderful Indonesia: Enjoy Your Tropical Paradise”, berbagai karya budaya Indonesia dipamerkan, dari produk diantaranya barang kerajinan, kopi, batik, miniatur angklung, wayang golek, aksesoris, kuliner nusantara, dan buah-buahan sampai kesenian lainnya seperti silat dan tarian-tarian nusantara.

Acara tersebut mampu menyedot masyarakat Rusia sebanyak 117.669 pengunjung, data pengunjung tersebut langsung diinformasikan oleh Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi di dalam akun instagram resmi miliknya @wahid.supriyadi. Sementara itu seperti dilansir dari portal berita Russia Beyound, menyebutkan total penduduk Rusia saat ini berjumlah 146 juta jiwa.



Festival Indonesia 2019 tersebut selain diadakan dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia ke-74, juga untuk memperingati hubungan diplomatik ke-71 antara Rusia dan Indonesia.

Tingkat Popularitas
Dari sisi popularitas, tentu saja masyarakat Indonesia lebih mengenal kebudayaannya yang notabene masyarakat Indonesia adalah penduduk asli dan pelaku langsung dari budaya itu sendiri daripada masyarakat Rusia yang secara geografis saja sangat jauh letaknya dari negara Indonesia.
Tingkat Apresiasi
Melihat jumlah antusiasme pengunjung dari kedua acara tersebut, ada perbedaan yang cukup signifikan, bahkan dapat disimpulkan bahwasannya budaya Indonesia lebih besar diapresiasi oleh masyarakat Rusia daripada oleh rakyatnya sendiri. Bagaimana tidak? Dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 265 juta jiwa itu, masyarakat yang datang berkunjung ke PKN 2019 hanya 203.245 orang atau 0,077% saja, sementara di Rusia dari total penduduk 146 juta jiwa, masyarakat yang hadir ke Festival Indonesia 2019 adalah 117.669 orang atau 0.081%, perbedaan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tingkat popularitas mengenai kebudayaan itu sendiri.
“Di Indonesia, tingkat apresiasi masyarakat kepada budayanya sendiri sudah sangat mengkhawatirkan, itu menjadi tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia. Malu rasanya jika melihat event yang menampilkan budaya Indonesia di luar negeri banyak yang mengapresiasi, tapi di negeri sendiri justru malah sepi peminat,” ujar kang Ajang Taryana (pejuang seni) saat ditemui di Sekretariat Daya Mahasiswa Sunda (Damas) jl. Lengkong Besar No.67, Bandung, Jawa Barat.

Tren dan Gaya Hidup Masyarakat Hari Ini
Setidaknya ada empat tren dan gaya hidup masyarakat saat ini:

Tren Masyarakat
Tren berfoto diri (Selfie)
Tren untuk mengunggah foto di media sosial
Tren untuk menginformasikan aktifitas pribadi di media sosial
Tren untuk menginformasikan “lokasi saat ini” di media sosial

Gaya Hidup
Masyarakat cenderung mengedepankan estetik daripada etik
Masyarakat cenderung mencari hal praktis/instant
Masyarakat cenderung individual
Masyarakat cenderung narsistik

Tidak bisa dipungkiri, di era milenial saat ini, kebudayaan hanya ditampilkan berupa simbol-simbol belaka. Mengambil sample di Jawa Barat misalnya, berapa banyak warganya yang senang memakai iket Sunda, pangsi (salah satu pakaian adat Sunda), dsb., namun berapa banyak warganya yang faham akan makna dan falsafah yang terkandung dari penggunaan produk tradisional tersebut?

Jika melihat lebih luas lagi, kecenderungan masyarakat untuk pergi ke kafe-kafe maupun ke kedai-kedai bukan semata-mata untuk menikmati hidangan makanan dan minuman yang disuguhkan oleh pengelola kafe/kedai tersebut, tetapi banyak pula yang hanya ingin memoto makanan/minuman, ata ber-selfiehanya untuk diposting di akun-akun media sosialnya masing-masing. Oleh karena itu banyak pengelola kafe maupun kedai yang lebih fokus mendesain tempat usahanya agar istilahnya “Instagramable” daripada meningkatkan kualitas rasa dari produk makanan atau minumannya.

Begitupun dengan kelompok-kelompok penyelenggara event yang berkecimpung dalam hal kebudayaan, lantaran melihat pangsa pasar hari ini kebanyakan seperti yang diutarakan di atas, maka tak sedikit penyelenggara yang terjebak untuk membalut acaranya menjadi Instagramable tadi, tak seluruhnya keliru, akan tetapi jika tidak atau kurang diimbangi dengan mempropagandakan nilai-nilai budayanya maka efek jangka panjangnya justru menjauhkan masyarakat dari pemahaman tentang kebudayaan yang dibuat.

“Di luar negeri, para pengunjung yang hadir bukan semata-mata ingin menikmati keindahan budaya Indonesia saja, lebih jauh dari itu, mereka justru ingin mengenal nilai-nilai filosofis tentang budaya Indonesia. Akan tetapi di Indonesia, kebanyakan hari ini yang hadir hanya untuk bersenang-senang saja, dan foto-foto untuk menambah koleksi postingan instagram. Dari kualitas pengunjung pun berbeda antara pribumi dengan di luar sana, seperti contoh di Rusia itu.” pungkas kang Ajang sambil menyeruput kopi yang terseduh sebelum larut bersama dingin.

Strategi Cantik DUBES RI Untuk Menarik Pengunjung
Pada Festival Indonesia 2019 itu, Wahid Supriyadi memanfaatkannya sebagai ajang diplomasi antar kedua negara. Korelasi antara budaya dan diplomasi sebenarnya sudah banyak yang membahasannya meskipun tak terlalu banyak praktisi Hubungan Internasional (HI) yang menganalisisnya, di karenakan menganggap diplomasi hanya pada tataran ekonomi dan politik saja. Padahal diplomasi kebudayaan merupakan sebuah usaha untuk menjalankan dan/atau mewujudkan tujuan sebuah negara yang dibalut melalui dimensi kebudayaan.

Wahid Supriyadi menangkap cerdas tentang potensi dari nilai-nilai budaya Indonesia tersebut. Kebudayaan dianggap efektif sebagai alat berdiplomasi. Faktor kebudayaan dalam diplomasi tak melulu hanya persoalan barang kerajinan, musik, kuliner, dan pakaian, namun segala hal yang merupakan akal budi manusia setempat dan merupakan ciri khas sebuah tempat dapat dikatakan budaya.



Rusia sendiri saat ini tengah mendalami tentang nilai-nilai budaya timur yang terkenal dengan keramahannya itu dianggapnya cocok untuk diterapkan di negara tersebut. Sehingga masyarakat Rusia berbondong-bondong datang berkunjung dengan membawa anak-anak mereka untuk mempelajari dan mendalami tentang kebudayaan Indonesia yang kaya akan keragaman dan keluhuran akal budinya.

Peran Penting Para Tokoh
Adalah menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah, budayawan, akademisi, dan seluruh lapisan rakyat Indonesia itu sendiri untuk dapat saling mendukung serta mengingatkan akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya yang ada di negeri ini. Karena budaya merupakan aset penting bagi Negara ini, selain itu budaya nusantara adalah ciri identitas bangsa untuk dapat dikenal oleh dunia.

Menanamkan pemahaman tentang nilai-nilai budaya merupakan hal yang sangat penting, apalagi jika ditanamkan sedini mungkin, agar ketika tumbuh dewasa, ia akan dapat mencintai budaya negerinya sendiri. Tentu ini merupakan pekerjaan rumah yang berat untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada anak usia dini. Namun, jika melihat jauh ke depan, tentu anak-anak tersebut akan menjadi aset “emas” untuk dapat mempertahankan bangsa dan negara dari derasnya arus globalisasi.

Sampai saat ini, proses edukasi untuk menanamkan nilai-nilai budaya masih terlalu minim, bisa dibuktikan dengan para petinggi negara yang berpidato dengan memakai bahasa daerahnya pun ia tak bisa, atau para orang tua yang cenderung lebih memilih mengasuh anak-anaknya dengan kebarat-baratan, dampaknya banyak anak-anak yang tidak mengetahui tentang identitas dirinya.

Barangkali itulah yang mendasari mengapa semakin hari kebudayaan nusantara semakin tidak begitu diminati oleh masyarakatnya, karena faktor minimnya pemahaman akan nilai-nilai yang terkandung dari kebudayaan itu sendiri.

Tanpa budaya, Indonesia hanya akan dikenal di atas peta saja, tak lebih.


sumber gambar: fin.go.id
Agung Fajar
Persaingan sekolah swasta dan negeri sampai sekarang masih terjadi dan hal ini tentu baik ketika hadirnya perbandingan yang membuat sekolah-sekolah menjadi lebih kompetitif dan adanya check and balance dari pendidikan di Indonesia yang bermuara meningkatnya kualitas pendidikan kita saat ini.

Dalam fenomenalnya kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini terhadap sekolah tidak semua sekolah negeri dapat mengatasinya, terlebih negeri-negeri yang belum menjadi favorit yang pengelolaanya belum secara optimal.

Seperti kebijakan mengenai Ujian Nasional Berbasis Komputer atau yang selanjutnya disebut UNBK, pemerintah menuntut untuk menjalankan ujian tersebut pada komputer namun ketika berbicara sarana dan prasarana sekolah-sekolah negeri yang dimaksud khususnya di daerah-daerah masih banyak ditemukan tidak bisa memenuhi permintaan tersebut serta sekolah negeri itu dituntut untuk mencari jalan keluarnya sendiri.

Hal ini menjadikan sekolah-sekolah negeri yang dimaksud seperti dianak tirikan oleh pemerintah atas kebijakan-kebijakan yang diambil namun tidak diimbangi dengan siapnya menghadapi persoalan-persoalan baru dari negeri-negeri yang mengalami itu.

Kemudian hadirnya sistem zonasi, memanglah konsep dari sistem ini begitu baik dan benar atas dasar keadilan pendidikan namun pada teknisnya belum hadirnya pemerataan yang baik tehadap sekolah-sekolah negeri menjadikan tumpang tindih semua elemen mengatasi hal ini. Seorang murid yang memiliki potensial unggul dan berbakat tentunya tidak menginginkan sekolah negeri yang sembarangan karena tidak apple to apple dari hak dan kewajibanya.

Dari fenomenal-fenomenal tersebut dapat disimpulkan bahwa pemerintah saat ini masih lempar batu sembunyi tangan artinya selalu memberi kebijakan-kebijakan yang baik namun ketika kebijakan-kebijakan tersebut menghadirkan persoalan baru, pemerintah angkat tangan dengan persoalan-persoalan itu sehingga dititikberatkan kembali pada sekolahnya sendiri.

Tak jarang dari rentetan-rentetan peristiwa tersebut, orang tua murid memilih alternatif lain yakni menyekolahkan anaknya pada swasta-swasta yang hadir sesuai dengan kesanggupanya. Hal ini dikarenakan swasta cukup mandiri untuk mengelola sekolahnya sendiri sehingga tidak mengalami birokrasi-birokrasi rumit yang menghambat kemajuan pendidikan di Indonesia.

Negeri-negeri yang belum menjadi sekolah-sekolah favorit tentunya harus bertahan dengan persaingan yang kompetitif dengan sekolah-sekolah swasta, sekolah negeri non favorit harus bisa menciptakan terobosan-terobosan baru agar selalu mendapat perhatian baik dari masyarakat dan pemerintah.

Harus memberikan apresiasi atas kinerja sekolah negeri yang belum favorit tapi masih bertahan di tengah banyaknya persoalan terhitung dari jumlah murid yang diterimanya saat memasuki tahun ajaran baru, Pendidikan harus merata sesuai amanah undang-undang namun penyedia pendidikanpun dituntut untuk merata disemua daerah dan mendapatkan hak-haknya dengan sama sehingga menghasilkan sekolah yang berkualitas seperti indeks tenaga pengajar yang berkompeten, sarana pra sarana yang baik dan lain sebagainya untuk mewadahi generasi-generasi yang unggul dikemudian hari.

Sekolah negeri-negeri tersebut harus mendapat perhatian secara khusus untuk menaikkan kembali kualitasnya dan perlunya tuntunan yang berbeda dengan negeri favorit karena negeri favorit dianggap sudah mampu untuk mengelola sekolahnya selagi tidak adanya pelanggaran-pelanggaran yang ditemukan.

Tuntunan khusus yang diberikan pemerintah terhadap sekolah-sekolah negeri yang belum favorit dilakukan dengan adanya jangka waktu agar negeri tersebut tidak selalu mengadah kepada pemerintah, jangka waktu tersebut harus dimanfaatkan dengan baik seperti program-program pelatihan seperti pelatihan bagaimana meningkatkan Sumber Daya Manusia untuk tenaga pengajar, Pengelolaan sekolah yang terstruktur agar visi dari sekolah tersebut terwujud, bagaimana membuat pengaduan dengan cara yang baik dan benar agar sekolah-sekolah tersebut tidak merasa di anak tirikan dari pemerintah melalui dinas-dinas terkait ketika ditemukanya persoalan-persoalan yang terjadi di sekolah atau cara-cara apapun itu yang membuat sekolah-sekolah negeri yang belum favorit merasa terayomi dan pemerintah pun yang telah melakukan program tersebut harus selalu memberikan pengawasan secara khusus bagi sekolah-sekolah negeri yang diperlukan secara khusus agar adanya hasil yang diharapkan dari semua perhatian yang telah dilakukan dan tidak adanya sekolah-sekolah negeri yang tergusur eksistensialnya sekalipun pada daerah-daerah terpencil ditengah persaingan sekolah negeri dan swasta yang semakin kompetitif untuk meningkatkan serta menyebarluaskan kecerdasan kehidupan bangsa dengan cerdas secara intelktual dan cerdas secara spritual.

*Penulis adalah mahasiswa di Karawang

Tergusurnya Sekolah Negeri

by on Oktober 12, 2019
Agung Fajar Persaingan sekolah swasta dan negeri sampai sekarang masih terjadi dan hal ini tentu baik ketika hadirnya perbandingan yang m...
Maulana Yunus

Vulgarnya tontonan politik di negara Indonesia ternyata telah menyebabkan masalah ejakulasi dini. Hal ini ditunjukan dengan turut sertanya pelajar STM atau SMK dalam pusaran aksi massa mahasiswa.

Publik tidak bisa terburu-buru memberikan simpati. Pemandangan ini menjadi masalah tersendiri dan perlu disikapi dengan empati terhadap persoalan pendidikan dan realitas sosial-politik yang dihadapi bangsa Indonesia. Apalagi seorang siswa SMK menyatakan bahwa keturutsertaannya dalam aksi oleh karena tahu politik dari pelajaran PPKn.

Fenomena ini tidak bisa sekadar disimpulkan sebatas euforia dan mesti dilihat sebagai akumulusasi faktor-faktor penyebab.

Fenomenani dipicu oleh pertemuan antara psikologi politik masyarkat dan realitas sosial yang mereka hadapi. Bagaimana tidak, kesatuan antara janji politik elit dalam pilpres, ditambah perdebatan yang menyertainya, pertentangan berbagai kubu kekuasaan, dan sebagainya dengan mudah dapat diakses dengan cara menggeser layar gawai, geser dan jentikan tetikus, juga tombol di remot televisi.

Bahkan pelajar sekolah dapat langsung terlibat dalam percakapan politik, atau mungkin saja buzzer-buzzer politik diantaranya adalah pelajar sekolah.

Dia jenis-jenis pelajar sekolah, dapat dikatakan anak SMK lah yang paling besar terdampak dan merasakan situasi politik hari-hari ini. Orang tua yang menyekolahkan anaknya ke SMK berharapan agar anaknya cepat dipekerjakan dan membantu keuangan keluarga, setidaknya menghidupi dirinya sendiri. SMK menjadi alternatif sebab pemerintah pun mempromosikan demikian.

Bahkan SMK pula yang membawa Jokowi menduduki kursi Presiden. Mengangkat mobil kreasi SMK dan membangun optimisme bahwa SMK mampu menjadi solusi pekerjaan, bahkan membuka lapangan pekerjaan.

Kenyataan berkata lain karena SMK diwacanakan akan dibubarkan karena banyak mencetak pengangguran. Semangat kerja dan membuka lapangan pekerjaan tinggal namanya menjadi Esemka.

Kegagalan negara membina SMK pada akhirnya berdampak ejakulasi dini. Maksudnya, berdasarkan psikologi perkembangan Havighurst, usia SMK adalah remaja umur 16-18 tahun. Tugas perkembangan dalam konteks kewarganegaraan adalah pada tataran membangun keterampilan dan konsep intelektual yang diperlukan. Sehingga aktualisasinya berada pada tataran yang terbatas menurut kurikulum pendidikan. Sedang tugas perkembangan mengemban tanggung jawab sebagai warga negara baru didapat pada usia dewasa awal, 19-30 tahun atau mahasiswa.

Ejakulasi dini kemudian terjadi akibat mandeknya usaha siswa SMK mencapai tanggung jawab sosial, seperti bekerja atau membuka lapangan pekerjaan sebagai salah satu tugas perkembangan.

PPKn sesungguhnya dapat menjadi ruang yang cukup lega untuk mencegah ejakulasi dini melalui empat teknik: kesatu, meminimalisir tekanan politik yang menggumpal di kepala siswa melalui pembelajaran dialogis dan aktual. Membedah masalah politik terhangat dan menyelesaikannya secara konseptual dan berimbang.

Kedua, membina sekolah sebagai laboratorium demokrasi. Bila perlu hadirkan anggota DPRD sebagai ruang berekspresi siswa dan melatih kemampuan partisipatif.

Ketiga, PPKn diselenggarakan dengan perspektif vocational civic. Sehingga terhubung konteks tanggung jawab kewarganegaraan dan profesi yang kelak digeluti.

Keempat, membentuk komunitas dan kegiatan kesukarelaan sebagai wadah ekspresi kepedulian.

#STMMahasiswabersatu terlanjur bergema. Pemerintah mungkin bisa melakukan anestesi—seperti ancaman DO atau represi dari aparat—untuk menanggulangi masalah ini.

Namun efeksamping dari penggunaan alternatif itu kurang baik  menurut perspektif pembinaan peserta didik. Sensitifitas mereka atas tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan cenderung akan melemah. Mungkin juga kebanggaan mereka sebagai bagian dari kesatuan proses kenegaraan akan memudar.

Pemerintah tetap harus menjaga keselamatan jiwa dan cita-cita siswa SMK yang terlibat aksi massa. Kemudian setelah itu intruksikan guru PPKn untuk mengupas tuntas perilaku mereka dan tanamkan nilai-nilai kewarganegaraan kepada mereka. Sehingga proses pendidikan pun memeroleh keuntungan dari fenomena yang telah terjadi.

Penulis adalah mahasiswa magister Ilmu Politik UNPAD

Sumber gambar: tagar.id

STM Bergerak, Apa Salahnya?

by on Oktober 04, 2019
Maulana Yunus Vulgarnya tontonan politik di negara Indonesia ternyata telah menyebabkan masalah ejakulasi dini. Hal ini ditunjukan denga...

Hari ini umurku genap 25 tahun. Dan sama sekali tidak menyangka dengan banyak hal yang terjadi di beberapa waktu terakhir ini, karena hampir semua yang teralami bukan merupakan sesuatu yang aku inginkan atau harapkan. Namun, alih-alih mengeluh dan meratap, meski awalnya demikian (karena butuh proses berdamai dengan kenyataan), aku malah bersyukur sekali dengan keadaan yang kualami hari ini.

Pertama, aku merasa, sekali lagi hanya merasa (belum tentu benar-benar terbukti ya), semakin hari semakin lebih bijaksana dalam menyikapi dinamika kehidupan yang serba kompleks dan tak menentu. Mungkin di sini aku harus berterima kasih kepada para penulis yang karya-karyanya kubaca, dan juga teman-teman komunitas. Kalian semua berkontribusi besar mengajarkanku akan keberagaman pengalaman, ekspresi, dan sudut pandang sehingga tidak secara serampangan menjustifikasi sesuatu.

Kedua, di umurku yang memasuki seperempat abad ini mulai tumbuh perasaan (dengan kesadaran penuh) sayang dan peduli sama keluarga, khususnya kepada ibuku—yang selama ini banyak menderita, dan kedua adikku.

Ketiga, dan mungkin akan menjadi bagian yang paling panjang dalam tulisan ini, ialah soal ekspektasi hidup. Dulu aku sangat berambisi ingin menjadi dosen. Dan aku yakin aku layak dengan profesi itu. Namun kenyataan berkata lain, karena harapan yang tinggi dari orangtua yang menginginkan anaknya berstatus ASN dengan segera, sekarang aku adalah seorang guru yang ditempatkan di salah satu SMP negeri di Bandung. Anehnya, setelah dijalani, aku malah bahagia.

Berkarir di Bandung merupakan anugerah Tuhan yang aku syukuri. Bukan hanya karena suasananya yang sejuk—khususnya karena lokasiku yang berada di Bandung Utara dekat Lembang, relatif tenang dan masyarakatnya yang ramah, namun juga karena Bandung menurutku merupakan “kota hidup” di mana aktivitas-aktivitas “manusiawi” bisa terlihat di banyak tempat. Mulai dari anak-anak muda yang bebas mengekspresikan diri sesuai dengan passion-nya masing-masing hingga orang-orang dewasa (bersama keluarganya) yang secara sederhana mengekspresikan kebahagiaan mereka di sudut taman-taman kota.

Di atas itu semua, takdir yang paling kusyukuri tiada lain adalah pekerjaan yang kujalani hari ini, yakni menjadi seorang guru, setelah sebelumnya melakukan evaluasi besar-besaran terkait pola-pola mengajar yang kulakukan.

Sebelum mengajar di sekolah yang sekarang, aku senantiasa mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap murid-muridku, bahwa mereka harus memiliki pemahaman keagamaan yang mendalam dan kritis, karena memang demikianlah yang dianjurkan oleh tuntutan global yang memasuki era abad 21. Tapi bagiku, sekali lagi menurutku, setidaknya berdasarkan pengalaman, itu “tidak bisa” diterapkan di pelajaran PAI. Belajar dari pengalaman pahit ini, akhirnya di sekolah yang sekarang aku memutuskan untuk hanya berfokus pada kepribadian mereka.

Bukan sekadar mengajar (yang berupaya melakukan transmisi ilmu) dan menjadi fasilitator (yang melakukan rekayasa suasana belajar agar siswa dapat belajar secara aktif dan dinamis), aku ingin dan sedang berusaha menjadi guru yang berperan sebagai pendidik sekaligus teman main mereka.

Aku mau mengenal mereka secara personal, mau peduli soal seluk-beluk kehidupan yang mereka jalani, ikut nimbrung dengan hal-hal yang sedang mereka perbincangkan, dan juga mau membantu kesulitan yang mereka alami. Aku senang meluangkan waktu untuk bermain dengan mereka, ngobrol, dan berolahraga bersama (biasanya basket). Aku juga senang menonton mereka ketika sedang mengikuti perlombaan, untuk sekadar memberi dukungan moril, dan masih banyak lainnya. Singkatnya, aku berusaha membahagiakan mereka. Ketika mereka bahagia, itulah kebahagiaanku.

Pengalaman dan praktik ini ternyata, setelah direnungi, bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba dari dalam diriku sendiri secara inheren, melainkan suatu replikasi pola pendidikan alam bawah sadar yang telah diterapkan oleh dosen-dosenku dulu, sesuatu yang melampaui (beyond) kegiatan penyampaian (ceramah) konten pelajaran di kelas (transfer of knowledge) karena hal tersebut, aku hampir yakin, sudah terlupakan.

Kuambil contoh, apakah kamu masih mengingat isi pelajaran (konten) yang pernah disampaikan oleh guru Fisikamu ketika SMA dahulu? Aku yakin sudah tidak ingat. Tapi apakah kamu masih mengingat kepingan pengalaman atau peristiwa-peristiwa menyenangkan (dan mungkin juga yang menyedihkan) ketika SMA dahulu bersama seorang guru? Aku yakin kamu masih bisa menceritakannya kepadaku. Nah, pola pendidikan inilah yang sepertinya secara tidak sadar kucontoh dari para dosenku.

Aku punya salah seorang dosen (waktu itu beliau menjabat sebagai ketua prodi) yang sangat memorable. Kalau tidak berlebihan, aku mau mengklaim kalau beliau benar-benar memiliki percikan akhlak nabi yang mulia. Salah satunya ialah soal bagaimana memperlakukan mahasiswanya, termasuk diriku. Masing-masing kami, sampai pada satu titik, merasa kalau diri kamilah yang paling spesial di matanya, karena kami senantiasa diperlakukan secara begitu personal dan penuh dengan perhatian.

Beliau terbiasa untuk mendengar cerita dan keluh-kesah mahasiswanya, tidak lelah untuk terus memotivasi kami. Bahkan tak sungkan beliau luangkan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol secara personal dengan kami, dan tanpa memandang jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan, beliau membuka dirinya. Biasanya kami sangat menunggu (sekaligus senang) saat-saat di mana beliau memberikan bacaan atau doa-doa tertentu sehingga psikis kami bisa lebih tenang.

Banyak sekali hal-hal personal yang beliau curahkan kepadaku, tapi cukup dua contoh untuk sekadar mewakili. Pertama, beliau sangat mengapresiasi kecintaanku pada dunia menulis. Suka memuji, memberi motivasi, dan bahkan ketika aku melakukan kesalahan teknis yang bisa menyebabkan hancurnya reputasi dirinya di dunia akademis, beliau malah tidak memedulikannya. Kedua, ketika aku lulus seleksi CPNS, beliau menelponku untuk mengucapkan selamat. Dan dalam pembicaraan tersebut terasa sekali kalau beliau benar-benar senang mendengar kabar baik tersebut. Bahkan terkesan rasa senangnya melebihi kesenangan yang kualami.

Praktik pola pendidikan alam bawah sadar ini juga dilakukan oleh dosen lainnya. Dia suka membawa mahasiswanya ke rumahnya untuk sekadar ajang silahturahmi atau makan-makan atau kegiatan bimbingan skripsi. Menariknya pola ini ternyata terekam di alam bawah sadarku. Dan tidak menyangka, aku menirunya dengan suka membawa (meski tidak sering) murid-muridku ke tempat tinggalku, untuk sekadar belajar bersama, ngaji atau berbincang santai.

Namun sayang tidak semua orang (termasuk rekan guru) dapat memahami pola-pola yang kutiru dari para dosenku ini, karena mereka hanya melihat dari permukaan. Apalagi kalau sudah menggunakan kacamata prejudice. Upaya membentuk relasi intim antara murid dan guru dianggap sebagai sesuatu yang tidak etis dan memungkinkan mengarah kepada hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika seperti ini, aku yang melankolis, suka baperan dan sedih.

Tentu saja semua tindakan yang kulakukan ini mengorbankan banyak hal; waktu dan pikiran, juga finansialku. Aku jadi jarang membaca buku apalagi menulis, tidak seperti dulu yang begitu intens.

Honorku yang tidak besar juga sedikit-banyak dipergunakan dalam rangka membantu murid-muridku yang “kesulitan” yang jelas berdampak pada masa depan keuanganku yang sangat-sangat menjadi “tidak jelas”. Aku jadi sulit membantu finansial orang tua, memberi hadiah kepada mereka, apalagi menabung untuk rencana nikah.

Maka di sini sebenarnya aku sedang bermain lotre dengan Tuhan, karena baik kitab suci maupun hadis mengungkapkan bahwa barangsiapa yang melayani Allah (baca: hamba-Nya) maka dunia dan seisinya akan melayani dirinya. Nah, hari ini aku lagi menanti dengan harap-harap cemas penggenapan riwayat ini.

Akhirnya, untuk ke depannya aku tidak memiliki harapan yang muluk-muluk. Tidak terbetik di pikiran untuk memiliki rumah mewah atau harta melimpah, hanya saja semoga dipertemukan dengan pendamping hidup yang sevisi dengan diriku yang begini ini. Dan semoga dilapangkan rezekiku agar aku bisa terus membantu mereka yang kesulitan (khususnya murid-muridku dan orang terdekatku).

Seperempat Abad Umurku

by on September 29, 2019
Hari ini umurku genap 25 tahun. Dan sama sekali tidak menyangka dengan banyak hal yang terjadi di beberapa waktu terakhir ini, karena h...