Meratapi Masa Depan Kajian Pendidikan Islam di Indonesia

/ Juni 04, 2020

Jiva Agung
Kajian mengenai pendidikan Islam di Indonesia memang sedang semarak, setidaknya jika dibandingkan dengan dunia Barat, meskipun dari segi kualitas masih jauh dari kata mumpuni. Jika kenyataan ini tidak segera disadari dan dibenahi secara serius maka jangan heran kalau pendidikan Islam di masa depan hanya akan menjadi sebuah “produk” yang mubazir. Di kesempatan ini saya hendak mencoba mengurai problem-problem yang tengah dihadapi oleh para pengkaji pendidikan Islam di Indonesia.

Ada empat cara dalam melakukan pengkajian pendidikan Islam, pertama adalah melalui pendekatan normatif (bayani) dengan menggali langsung komponen-komponen pendidikan yang ada di dalam al-Qur’an maupun hadis. Nah, sepertinya pendekatan inilah yang paling digemari oleh para sarjana Muslim Indonesia, barangkali karena “kemudahannya” jika dibanding dengan pendekatan-pendekatan lain. 

Betapa tidak, dengan berbekal ilmu tafsir beserta ilmu penunjang lainnya (seperti Bahasa Arab) seorang sarjana sudah dapat berselancar-ria menelusuri “kehendak-kehendak” Ilahi yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Aktivitas ini pada akhirnya melahirkan produk seperti Tafsir Tarbawi dan Hadis Tarbawi.

Namun, pada praktiknya, hasil dari pendekatan ini bukan tanpa masalah. Walaupun kita tetap bisa melihat sisi religiusitasnya (sesuatu yang membedakan dari pendekatan bercorak sekuler), para sarjana kita sering tergiur untuk melakukan imitasi teori-teori yang sudah dimiliki oleh Barat (membebek). Bahkan pembaca awam pun akan segera dapat merasakan hal tersebut. Di sisi lain mereka juga masih terjebak pada tindakan “cocoklogi” dan “labelisasi”, sekali lagi, terhadap teori-teori pendidikan kreasi Barat. 

Contoh sederhana yang saya temukan adalah mengenai metode-metode pembelajaran. Mereka mencomot metode pembelajaran yang ada di Barat—dengan dibubuhi sedikit retorika religius dan tentu saja ayat-ayat Quran—lalu, sebagai tindak finishing menggantinya dengan istilah yang lebih Qurani. Misalnya untuk metode Amtsal (analogi) yang memiliki similaritas dengan metode/model pembelajaran Sinektik[1], atau metode Targib-Tarhib yang mirip dengan teori belajar Stimulus-Respon ala Edward Lee Thorndike.[2]

Pendekatan kajian pendidikan Islam selanjutnya ialah melalui ilmu filsafat (philosophy approach), baik pada level ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Di pendekatan ini biasanya seorang sarjana sudah tidak terlalu banyak mengutip ayat Quran maupun hadis, karena mereka sudah mengekstraksi dan mengonstruksinya dalam bentuk konsep-konsep abstrak, yang jika diramu dengan baik akan menghasilkan suatu pandangan tertentu. 

Di era kontemporer ini mungkin kita bisa memasukkan nama Prof. Muhaimin dari UIN Malang dan Prof. Ahmad Tafsir dari UIN Bandung sebagai salah dua sarjana Indonesia yang mencoba untuk melakukan pendekatan ini. Barangkali Prof. Mulyadhi Kartanegara dari UIN Jakarta, sebagaimana yang terlihat dari karya-karya ilmiahnya, dapat juga digolongkan ke sini.

Idealnya, jika kedua pendekatan ini saling berdialektika, maka hasil positifnya akan muncul, yakni terbentuknya teori atau ilmu pendidikan Islam. Dan sejauh pengamatan saya, produk nyata yang paling prestisius dari gabungan pendekatan ini adalah konsep (ilmu) tentang pendidikan Islam yang integratif, bersebrangan atau bentuk antitesis dari konsep pendidikan Barat yang reduksionis. Selain itu ada juga konsep islamisasi ilmu sebagai antitesis ilmu-ilmu pendidikan modern yang sudah membuang, atau setidaknya mengabaikan, aspek ilahiah.  

Tetapi, layaknya produk dalam pendekatan pertama, teori pendidikan Islam yang integratif maupun konsep islamisasi ilmu mengalami kendala ketika diturunkan ke ranah teknis. Sampai hari ini belum ada model institusi pendidikan Islam di Indonesia yang secara representatif menerapkan produk ini.

Kemudian, ada juga pendekatan historis, yang beritikad untuk meneliti pertumbuhan dan perkembangan praktik pendidikan Islam semenjak masa Nabi hingga hari ini. Banyak yang meyakini bahwa jika kita dapat menerapkan sistem pendidikan ala generasi nabi hingga puncaknya pada masa Abbasiyah, maka tidak diragukan lagi peradaban Islam akan kembali jaya. 

Bagi saya sah saja seseorang memiliki hasrat romantisme sejarah, namun cita-cita tersebut seharusnya dapat selaras dengan tindakan nyatanya. Tapi faktanya ucapan baru sampai di lidah. Jangankan masyarakat Muslim secara umum, kalangan akademisinya pun masih belum serius untuk melakukan pengkajian ini. 

Terbukti dari karya-karya mereka mengenai sejarah pendidikan Islam yang masih suka merujuk hasil penelitian sarjana Barat. Mereka yang notabe dari kalangan outsiders ternyata lebih kepo terhadap “harta karun” Islam dibanding umat Muslimnya sendiri. Bahkan bukan hanya mengkaji literaturnya, mereka tak segan untuk melakukan penelusuran arkeologis.

Betapapun demikian, tiga pendekatan di atas jauh lebih diminati oleh sarjana Indonesia dibanding yang terakhir ini, yakni pendekatan riset berbasis lapangan (empiris-positivis). Di Indonesia, semangat membuat sebuah karya atau buku berbasis riset ilmiah sangat mengkhawatirkan. Saya sulit sekali menemukan buku, misalnya, yang membahas efektivitas model-model pembelajaran Islam berbasis penelitian empiris. 

Atau, contoh yang lain, mengetahui penerapan evaluasi pendidikan Islam di Indonesia dengan objek yang banyak dan luas (seluruh institusi madrasah di Jawa, misalnya). Pola ini sungguh kontras dengan apa yang dilakukan oleh sarjana Barat di mana saya selalu tertegun ketika membaca buku-buku mereka yang sarat akan bukti-bukti empiris.

Akhirnya, melihat banyaknya kelemahan pada praktik pengkajian pendidikan Islam di Indonesia hari ini, izinkan saya mengemukakan pertanyaan naif, masih adakah tempat untuknya di masa depan?

sumber gambar: suaramuslim.net






[1] Tentu saja apa yang dilakukan oleh sarjana Muslim jauh lebih sederhana dengan kajian model pembelajaran yang dilakukan oleh para pemikir Barat. Salah seorang sarjana kontemporer yang membahas model pembelajaran secara lihai adalah Bruce R Joice (Model of Teachings).
[2] Prof. Dr. Syahidin dalam bukunya yang berjudul Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Quran mencoba untuk mencari model-model pembelajaran berbasis Quran. Beberapa model tersebut di antaranya: Amtsal, Kisah, Targib-Tarhib, Tajribi, Hiwar, dll. Kita akan dengan mudah mengatakan bahwa model ini merupakan replika dari model-model yang ditemukan atau dikembangkan oleh sarjana Barat.


Jiva Agung
Kajian mengenai pendidikan Islam di Indonesia memang sedang semarak, setidaknya jika dibandingkan dengan dunia Barat, meskipun dari segi kualitas masih jauh dari kata mumpuni. Jika kenyataan ini tidak segera disadari dan dibenahi secara serius maka jangan heran kalau pendidikan Islam di masa depan hanya akan menjadi sebuah “produk” yang mubazir. Di kesempatan ini saya hendak mencoba mengurai problem-problem yang tengah dihadapi oleh para pengkaji pendidikan Islam di Indonesia.

Ada empat cara dalam melakukan pengkajian pendidikan Islam, pertama adalah melalui pendekatan normatif (bayani) dengan menggali langsung komponen-komponen pendidikan yang ada di dalam al-Qur’an maupun hadis. Nah, sepertinya pendekatan inilah yang paling digemari oleh para sarjana Muslim Indonesia, barangkali karena “kemudahannya” jika dibanding dengan pendekatan-pendekatan lain. 

Betapa tidak, dengan berbekal ilmu tafsir beserta ilmu penunjang lainnya (seperti Bahasa Arab) seorang sarjana sudah dapat berselancar-ria menelusuri “kehendak-kehendak” Ilahi yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Aktivitas ini pada akhirnya melahirkan produk seperti Tafsir Tarbawi dan Hadis Tarbawi.

Namun, pada praktiknya, hasil dari pendekatan ini bukan tanpa masalah. Walaupun kita tetap bisa melihat sisi religiusitasnya (sesuatu yang membedakan dari pendekatan bercorak sekuler), para sarjana kita sering tergiur untuk melakukan imitasi teori-teori yang sudah dimiliki oleh Barat (membebek). Bahkan pembaca awam pun akan segera dapat merasakan hal tersebut. Di sisi lain mereka juga masih terjebak pada tindakan “cocoklogi” dan “labelisasi”, sekali lagi, terhadap teori-teori pendidikan kreasi Barat. 

Contoh sederhana yang saya temukan adalah mengenai metode-metode pembelajaran. Mereka mencomot metode pembelajaran yang ada di Barat—dengan dibubuhi sedikit retorika religius dan tentu saja ayat-ayat Quran—lalu, sebagai tindak finishing menggantinya dengan istilah yang lebih Qurani. Misalnya untuk metode Amtsal (analogi) yang memiliki similaritas dengan metode/model pembelajaran Sinektik[1], atau metode Targib-Tarhib yang mirip dengan teori belajar Stimulus-Respon ala Edward Lee Thorndike.[2]

Pendekatan kajian pendidikan Islam selanjutnya ialah melalui ilmu filsafat (philosophy approach), baik pada level ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Di pendekatan ini biasanya seorang sarjana sudah tidak terlalu banyak mengutip ayat Quran maupun hadis, karena mereka sudah mengekstraksi dan mengonstruksinya dalam bentuk konsep-konsep abstrak, yang jika diramu dengan baik akan menghasilkan suatu pandangan tertentu. 

Di era kontemporer ini mungkin kita bisa memasukkan nama Prof. Muhaimin dari UIN Malang dan Prof. Ahmad Tafsir dari UIN Bandung sebagai salah dua sarjana Indonesia yang mencoba untuk melakukan pendekatan ini. Barangkali Prof. Mulyadhi Kartanegara dari UIN Jakarta, sebagaimana yang terlihat dari karya-karya ilmiahnya, dapat juga digolongkan ke sini.

Idealnya, jika kedua pendekatan ini saling berdialektika, maka hasil positifnya akan muncul, yakni terbentuknya teori atau ilmu pendidikan Islam. Dan sejauh pengamatan saya, produk nyata yang paling prestisius dari gabungan pendekatan ini adalah konsep (ilmu) tentang pendidikan Islam yang integratif, bersebrangan atau bentuk antitesis dari konsep pendidikan Barat yang reduksionis. Selain itu ada juga konsep islamisasi ilmu sebagai antitesis ilmu-ilmu pendidikan modern yang sudah membuang, atau setidaknya mengabaikan, aspek ilahiah.  

Tetapi, layaknya produk dalam pendekatan pertama, teori pendidikan Islam yang integratif maupun konsep islamisasi ilmu mengalami kendala ketika diturunkan ke ranah teknis. Sampai hari ini belum ada model institusi pendidikan Islam di Indonesia yang secara representatif menerapkan produk ini.

Kemudian, ada juga pendekatan historis, yang beritikad untuk meneliti pertumbuhan dan perkembangan praktik pendidikan Islam semenjak masa Nabi hingga hari ini. Banyak yang meyakini bahwa jika kita dapat menerapkan sistem pendidikan ala generasi nabi hingga puncaknya pada masa Abbasiyah, maka tidak diragukan lagi peradaban Islam akan kembali jaya. 

Bagi saya sah saja seseorang memiliki hasrat romantisme sejarah, namun cita-cita tersebut seharusnya dapat selaras dengan tindakan nyatanya. Tapi faktanya ucapan baru sampai di lidah. Jangankan masyarakat Muslim secara umum, kalangan akademisinya pun masih belum serius untuk melakukan pengkajian ini. 

Terbukti dari karya-karya mereka mengenai sejarah pendidikan Islam yang masih suka merujuk hasil penelitian sarjana Barat. Mereka yang notabe dari kalangan outsiders ternyata lebih kepo terhadap “harta karun” Islam dibanding umat Muslimnya sendiri. Bahkan bukan hanya mengkaji literaturnya, mereka tak segan untuk melakukan penelusuran arkeologis.

Betapapun demikian, tiga pendekatan di atas jauh lebih diminati oleh sarjana Indonesia dibanding yang terakhir ini, yakni pendekatan riset berbasis lapangan (empiris-positivis). Di Indonesia, semangat membuat sebuah karya atau buku berbasis riset ilmiah sangat mengkhawatirkan. Saya sulit sekali menemukan buku, misalnya, yang membahas efektivitas model-model pembelajaran Islam berbasis penelitian empiris. 

Atau, contoh yang lain, mengetahui penerapan evaluasi pendidikan Islam di Indonesia dengan objek yang banyak dan luas (seluruh institusi madrasah di Jawa, misalnya). Pola ini sungguh kontras dengan apa yang dilakukan oleh sarjana Barat di mana saya selalu tertegun ketika membaca buku-buku mereka yang sarat akan bukti-bukti empiris.

Akhirnya, melihat banyaknya kelemahan pada praktik pengkajian pendidikan Islam di Indonesia hari ini, izinkan saya mengemukakan pertanyaan naif, masih adakah tempat untuknya di masa depan?

sumber gambar: suaramuslim.net






[1] Tentu saja apa yang dilakukan oleh sarjana Muslim jauh lebih sederhana dengan kajian model pembelajaran yang dilakukan oleh para pemikir Barat. Salah seorang sarjana kontemporer yang membahas model pembelajaran secara lihai adalah Bruce R Joice (Model of Teachings).
[2] Prof. Dr. Syahidin dalam bukunya yang berjudul Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Quran mencoba untuk mencari model-model pembelajaran berbasis Quran. Beberapa model tersebut di antaranya: Amtsal, Kisah, Targib-Tarhib, Tajribi, Hiwar, dll. Kita akan dengan mudah mengatakan bahwa model ini merupakan replika dari model-model yang ditemukan atau dikembangkan oleh sarjana Barat.

Continue Reading

Jiva Agung
Meskipun suara takbir dari speaker masjid terus saling sahut-menyahut dari maghrib hingga pagi hari, sehingga membuatku sulit tidur, rasanya takbiran tahun ini tidak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya, hambar... sehambar hatiku tanpa kamu, ehemm.  

Lalu, aku juga sebenarnya agak malas untuk mempraktikkan budaya parade nebar ucapan maaf. Memang sih niatnya bagus, tapi menurutku karena sudah membudaya, ucapan tersebut jadi malah terkesan tanpa makna, atau seperti yang sudah katakan sebelumnya, hambar. Ngaku saja, kalian merasakan hal yang sama bukan? Buat apa kita meminta maaf atas sesuatu “kesalahan” yang kita sendiri tidak tahu apa salahnya. Terus, buat apa juga harus bermaaf-maafan dengan seseorang yang kita jarang berinteraksi dengannya. Lucu ya!

Daripada melakukan hal yang sebenarnya absurd, lebih baik kita me-ruh-kan kembali kata maaf itu. Coba deh buat lebih berkualitas. Misalnya, kamu meminta maaf secara langsung (kalau tidak bisa, ya via telepon) kepada orang yang sudah kamu kecewakan, kamu tipu, kamu rundung (bully), kamu gibahkan, kamu tusuk dari belakang, dll. Minta maaf yang setulus-tulusnya. Bukan sekadar gerak bibir.

Atau sebaliknya, kamu memafkan orang-orang yang pernah mengecewakan kamu, mereka yang menipu kamu—padahal kamu sangat mempercayainya, atau orang yang sudah begitu lama kamu benci. Kalau kita tidak melakukan ini, dan hanya sekadar mengucap memosting kata-kata maaf yang sangat general, kembali ke fitrah cuma omong kosong.

Setelah dipikir-pikir, sebenarnya kita ini tidak pernah ke mana-mana kok. Ga usah sok-sok’an ngaku kembali fitri (fitrah), atau meraih kemenangan lah, atau dengan pedenya ngucapin minal aidin wal faizin. Suwer, kita belum memenangkan apa pun, bahkan untuk sekadar di level terbawah (nafsu makan-minum).

Di bulan Ramadhan pengeluaran untuk makan dan minum malah semakin banyak. Kita serigkali kalap, sampai membeli segala hal. Tidak aneh kalau di bulan Ramadhan berat badan kita malah jadi bertambah. Jujur saja, kita hanya semangat di minggu pertama. Minggu kedua dan ketiga sudah mulai menurunkan speed. Dan di minggu terakhir pikiran kita sudah tidak bisa menahan untuk membeli barang-barang diskonan—yang barangkali tidak kita butuhkan.  

Puasa yang orientasi intinya adalah derajat takwa (kesadaran untuk bisa menghindar atau menjauhi diri dari keburukan) menguap tanpa jejak, bahkan sebelum bulan Ramadhan berakhir. Untung saja bunyi ayatnya bukan “puasalah! pasti kamu akan menjadi orang yang bertakwa” tapi la’allaqum tattaqûn (moga-moga) yang berarti ada syarat dan ketentuan berlaku.

Itu baru di level terendah, belum lagi nafsu-nafsu lainnya. Kita masih suka emosional, menebar kebencian, hoaks. Tangan kita tidak bisa ditahan untuk berkomentar buruk di media sosial. Mata kta tidak bisa ditahan untuk melihat bokep. Mulut kita tidak bisa ditahan untuk menggibah.

Tidak ada perubahan perilaku, juga nihil orientasi transformasi sosial. Orang miskin tetap banyak, rakyat masih terus tertindas, sistem dan peraturan tidak memihak yang lemah, atau perempuan dan anak-anak yang terus mengalami kekerasan—bahkan menurut satu survei mengalami kenaikan di masa pendemi ini.  

Ramadhan, maafkan kami yang munafik ini.


sumber gambar: regional.kompas.com
Jiva Agung

Virus Corona dan keberkahan bulan suci membentuk sebuah rumusan unik bagi masyarakat Indonesia. Meskipun tentu saja banyak hal memilukan yang terjadi karena dampak Corona, namun karena Corona pulalah banyak orang yang tergerak hatinya untuk melakukan hal-hal mulia.

Saking terharunya, saya sampai sempat membuat status di FB sebagai bentuk apresiasi moril saya atas kedermawanan orang-orang Indonesia, yang mungkin belum tentu terjadi secara masif di negara-negara lain. Jadi tepat kiranya, sekali lagi saya ungkapkan, jika ada lembaga survei di Inggris yang mengutarakan bahwa Indonesia adalah negara yang paling derwaman di dunia.

Betapapun demikian kedermawanan pun harus tetap menggunakan “logika” sekaligus “intuisi” supaya sedekah yang kita berikan bisa tepat sasaran dan tidak “dimanfaatkan” secara salah. Cania Citta Irlanie di dalam Podcastnya juga pernah membahas soal ini di mana masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mempertimbangkan aspek efektivitas dalam bersedekah.

Contoh konkret yang beberapa hari ini sedang viral di medsos adalah video seorang kakek pembawa gerobak yang mengaku hanya berpenghasilan sekitar 1.500/hari. “Kenyataan” ini membuat warganet sontak terenyuh, hingga timbul inisiatif untuk membantu kakek tersebut. Tidak butuh waktu yang lama, bantuan tersebut segera tiba berturut-turut, baik atas nama pribadi maupun kelompok, ke rumah sang kakek yang konon bernama Abah Tono.

Belakangan diketahui bahwa hidup Abah Tono tidak sedramatir itu. Beliau, faktanya, memiliki rumah permanen dua tingkat dan sepeda motor. Menantunya pun membantah kalau Abah Tono sampai kesulitan mendapatkan makanan sebab dia sering memasak untuknya. Selain itu setiap bulan istri Abah Tono mendapat bantuan pangan non tunai dari pemerintah. Bukan hanya itu, setiap bulannya hidup mereka juga kerap dibantu oleh seorang pengusaha.[1]

Oleh karena itu, supaya kita tidak “tertipu” dengan kasus-kasus yang seperti itu, saya sarankan baiknya kita bersedekah dengan membuat suatu skala prioritas. Daripada membantu orang jauh yang kita tidak mengenalnya lebih baik bersedekah kepada orang terdekat terlebih dahulu. Jelas, kita dapat lebih mengetahui kondisi objektif mereka, apakah berkecukupan atau kekuarangan. Bukan hanya itu, bersedekah kepada orang yang lebih dekat dapat menjadi ajang untuk mempererat tali silahturahmi. Saya kira pandangan ini dapat ditemukan dalam al-Qur’an maupun hadis.

Misalnya, seseorang yang berprofesi guru atau kepala sekolah bisa bersedekah kepada teman guru lainnya, misalnya kepada yang masih berstatus honorer. Seorang kepala yayasan atau perusahaan (direktur) bisa bersedekah kepada karyawan-karyawannya. Kita bisa merunut ini tiada habis, tinggal disesuaikan dengan konteksnya masing-masing.

Selanjutnya, jujur saya senang ketika melihat hari ini banyak orang yang mendokumentasikan perbuatan baik mereka. Saya pikir ini adalah suatu hal yang bagus supaya dapat dilihat dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tapi kita perlu berhati-hati karena hasrat-hasrat riya, ujub, dan penyakit hati lainnya senantiasa menghantui kita. Oleh karenanya, niat yang lurus harus ditegakkan sekencang-kencangnya.

Tidak hanya itu, seperti yang saya ingat dari perkataan Aa Gym, kalau kita sudah bersedekah (atau berbuat hal baik lainnya) segera lupakan perbuatan tersebut. Kemudian lakukan perbuatan baik lagi, terus lupakan lagi. Tidak perlu menunggu atau mengharap rasa atau ucapan terima kasih, timbal balik, dan semacamnya dari si penerima.

Juga jangan sampai ada perkataan di dalam hati “kok dia tidak tahu terima kasih banget sih, padahal sudah pernah saya bantu.” Ucapan ini keluar karena sedari awal kita telah tidak ikhlas dalam beramal.
Demikian. Semoga kita bisa ikhlas, bijak, dan cerdas dalam bersedekah. []

Penulis, adalah penikmat kajian pendidikan, filsafat Islam, pemikiran, dan tasawuf


Robby Karman
Ferdian Paleka, seorang Youtuber yang sedang naik daun karena aksinya. Bukan hanya terkenal, Ferdian sempat menjadi buronan karena melarikan diri dari kejaran polisi. Hal ini diawali dengan aksinya melakukan prank atau aktivitas mengerjai orang lain. Demi sebuah konten Youtube, Ferdian dengan beberapa kawannya memberikan kardus berisi sampah dan batu kepada transpuan dan anak-anak. Hal ini memancing kemarahan para transpuan, juga netizen.

Warganet tak henti menghujat Ferdian dan mengecam aksinya. Bahkan rumah Ferdian di Kabupaten Bandung sempat didatangi massa yang marah karena ulahnya. Pada akhirnya komunitas transpuan melaporkan Ferdian dan membawanya ke jalur hukum. Ferdian yang tak kooperatif melarikan diri ke luar kota. Akhirnya Ferdian ditangkap dan ditahan polisi, kabar yang beredar yang bersangkutan terancam hukuman 12 tahun penjara.

Pasca aksinya, Ferdian menjadi trending topic warganet. Terlebih beredar video bahwa dia meminta maaf tapi diakhiri dengan kata “tapi boong”. Perilaku Ferdian memantik kegeraman dari warganet yang diekspresikan dengan cacian dan hujatan di media sosial. Jika dahulu kita mengenal istilah sanksi sosial untuk hukuman yang diberikan masyarakat, hari ini ada hukuman jenis baru, namanya sanksi media sosial.

Menariknya, di tengah cacian dan hujatan terhadap Ferdian, ada Youtuber dari kalangan santri membela Ferdian. Alasan Youtuber ini karena Ferdian mengerjai seorang transpuan, yang menurutnya dalam Islam menjadi transpuan adalah suatu tindakan terlarang (haram). Jadi apa yang dilakukan Ferdian justru bagus, menurut Youtuber ini. Malah dengan ekstrem dia mengatakan hukuman bagi transpuan seharusnya dibunuh saja.

Tak ayal video YouTube santri satu ini banjir komentar negatif seperti yang menimpa Ferdian. Sang Youtuber harus menutup kolom komentar youtubenya. Lalu yang bersangkutan membuat video klarifikasi, walaupun isinya tetap tidak memperlihatkan bahwa dia menyesal.

Penulis tentu tidak setuju dengan sikap Ferdian yang melakukan prank merugikan orang lain. Menurut penulis reaksi warganet pun bisa dimaklumi walaupun sebenarnya termasuk ke dalam cyber bullying. Sikap Ferdian yang tidak kooperatif dan tidak menunjukan penyesalan sejak awal membuat dia pantas menerima sanksi medsos tersebut.

Penulis juga tidak sepakat dengan video YouTube seorang santri tadi walaupun penulis tidak beranggapan bahwa menjadi transpuan itu baik menurut agama. Memang dalam agama transpuan tidak ditolerir. Namun hal tersebut tidak berarti kita boleh menyakiti apalagi mengancam nyawa transpuan. Kalau kita tidak setuju dengan transpuan ya dakwahi saja supaya kembali ke jalan yang benar. Namun tidak dibenarkan sewenang-wenang terhadap mereka dengan dalih agama.

Terlepas dari peristiwa yang sudah terjadi dan polemik yang menyertainya, namun terlintas dalam benak penulis sebuah pikiran. Ferdian adalah anak muda yang melakukan kenakalan, yang mungkin melampaui batas. Namun apakah berarti dia sudah tak punya masa depan? Apakah kasus yang terjadi sekarang adalah akhir dari segalanya bagi dia? Penulis sepakat jika memang dia pantas mendapat hukuman, tentu yang setimpal dan seadil-adilnya.

Namun setelah itu, tentu kita berharap bahwa Ferdian bisa membuka lembaran baru kehidupannya dan tidak mengulangi kesalahannya. Kita tentu juga berharap dia bertobat secara otentik, kalau tidak dan malah mengulangi kesalahannya maka mungkin perlu dihukum sekali lagi. Maka perlu ada pendampingan psikologis bagi dirinya untuk membantu menyadarkannya. Bukan hanya Ferdian, namun siapa pun yang melakukan kesalahan selalu punya kesempatan untuk berubah. Bukankah Tuhan Maha Pemaaf?

Narasi-narasi berubahnya seseorang dari pelaku kejahatan atau maksiat menjadi orang baik masih jarang ditemui dalam konten media sosial kita. Kebanyakan hanya narasi kejahatan yang memancing warganet untuk menjadi pencaci dan penghujat. Narasi hijrah pun masih sebatas berubah dari tidak saleh menjadi saleh secara spiritual, masih jarang hijrah dari pelaku kriminal menjadi pahlawan kebaikan. Tentunya jika sudah banyak narasi semacam ini, tentu semoga kita bisa memaafkan seseorang sekelam apa pun masa lalunya.

Penulis, adalah Sekjend DPP IMM

sumber gambar: suara.com
Haryono Kapitang

Islam agar mampu menjadi umat yang mencerahkan semesta harus mengedepankan tradisi Iqra (Bacalah!). Hal ini berangkat dari risalah Islam yang pertama kali diterima oleh Baginda Muhammad SAW di Goa Hirah.

Namun yang harus menjadi perhatian kita bersama ialah perintah iqra yang diterima Muhammad SAW bukanlah sembarang iqra, melainkan iqra yang bersifat profetik dengan “menyebut nama Tuhan (Allah)” dan transformasional pada tatanan masyarakat.

Menurut Qurais Shihab, kata iqra atau membaca memiliki arti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, menliti, mengetahui ciri-cirinya, dan sebagainya. Perintah membaca mengandung arti agar manusia memiliki pengetahuan dan informasi, serta di dalam melakukan aktivitas membaca senantiasa mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT serta memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Jika kita menelusuri sejarah, kondisi masyarakat Arab yang dulunya jahil, di bawah pimpinan Muhammad SAW dan pemimpin setelahnya berhasil menjadikan Arab peradaban yang besar dan mencerahkan peradaban dunia lainnya.

Sebagai contoh pada masa kepemimpinan Harun Al-Rasyid, Ini merupakan era keemasan bagi peradaban Islam, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, disisi lain beliau juga mendirikan perpustakaan baitul hikmah sebagai pusat keilmuan umat Islam, pada saat yang sama di masa kepemimpinannya percetakan pertama di Baghdad didirikan pada tahun 793 M, hal tersebut dikarenakan tingginya tradisi iqra dan kecintaan pemimpin umat Islam terhadap ilmu pengetahuan.

 Tim Wallace-Murpy dalam bukunya we in the West owe a debt to the Muslim world that can be never fully repaid mengatakan “Agama Islam telah memberikan inspirasi yang begitu besar di masa lalu” bahkan ia tidak tanggung-tanggung untuk mengajak koleganya memberikan penghormatan terhadap agama Islam atas apa yang telah dicapainya.

Prestasi-prestasi yang diperoleh umat Islam pada masa lampau tidak didapatkan dengan serta merta melainkan dengan melakukan pengembangan tradisi iqra atau membaca. Mulai dari membaca teks Al-quran, hadist, kitab dan juga membaca realitas yang terjadi dimasyarakat.

Dalam rangka menuju transformsi sosial, membaca Al-quran ataupun membaca yang lainnya tentu saja tidak hanya sekedar membacanya tetapi membaca dengan penuh penghayatan serta mengunakan nalar kritis. Tradisi iqro seperti itu lah yang dilakukan oleh umat Islam pada masa lampau sehingga mampu menciptakan peradaban yang berkemajuan dan pencerahan terhadap alam pikiran.

Tradisi Iqra Ala K.H Ahmad Dahlan
K.H Ahmad Dahlan adalah tokoh pembaharu Islam dan juga sebagai pendiri salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah. Berangkat dari tradisi iqro-nya yang kuat dan penuh penghayatan, ia kemudian mengejawantahkan apa yang ia pahami untuk melakukan transformasi sosial.

Surah Al-Ma’un salah satu surah dalam Al-Quran menjadi satu diantara landasan teologis yang diejawantahkan sehingga berdirinya Muhmmadiyah. Dalam hal ini K.H Ahmad Dahlan tidak hanya memahami Al-Quran secara tekstual, melainkan sampai kepada tatanan kontekstual.

Dengan tradisi iqro-nya yang kuat kemudian melahirkan nalar kritis K.H Ahmad Dahlan terhadap realitas masyarakat pada waktu itu. Banyak masyarakat yang terjebak pada praktik perdukunan, mistis dan seagainya yang sejatinya bertentangan dengan ajaran Islam. Namun K.H Ahmad Dahlan dengan kecerdasannya serta keilmuan yang ia miliki sehingga ia mampu merubah tradisi tersebut dengan ilmu pengetahuan sebagai basis gerakan pencerahan dan pembaharuan.

Apa yang dilakukan K.H Ahmad Dahlan dan pencapaianya menjadi bukti konkrit betapa pentingnya menjaga tradisi iqro serta mengembangkannya ke ranah praksis untuk mencapai Islam yang mencerahkan dan berkemajuan.

Bahkan Muhammadiyah bisa berdiri tegak hingga saat ini disebabkan tradisi iqro yang mengakar begitu kuat dalam tubuh Muhammadiyah itu sendiri. Kalau saja tradisi iqro tidak mengakar dan dikembangkan  maka tidak mungkin Muhammadiyah bisa berdiri setegak ini dan melakukan banyak pembaharuan.

Urgensi Tradisi Iqro Saat Ini
Tentu saja tradisi iqra menjadi hal yang urgen dan sangat penting untuk diperhatikan, pasalnya roda kehidupan terus berputar dan ilmu pengetahuam terus berkembang. Artinya zaman tidak hanya menetap pada satu zaman melainkan akan terus mengalami pergantian. Dalam hal ini umat Islam khususnya kaum muda sebagai generasi penerus harus mampu menjawab tantangan zaman. Bagaimana memperoleh kemampuan tersebut?

Kemampuan tersebut dapat diperoleh dengan merawat tradisi iqro dan mengembangkannya, sehingga dengan begitu kemudian akan melahirkan nalar kritis yang dapat membawa perubahan pada tatanan sosial. Pengejawantahan teks dari hasil pembacaan menjadi sebuah keharusan dalam praktik pencerahan dan kemajuan. Ini harus kita pahami bersama.

Jangan sampai kita umat Islam kembali mengalami kecelakaan sejarah seperti yang terjadi pada abad pertengahan, era dimana umat Islam mengalami kemunduruan disebabkan lemahnya tradisi membaca, baik itu membaca buku, kitab, maupun membaca realitas sosial yang terjadi.

Praktik taklid buta tumbuh subur, kebodohan merajalela, penindasan terhadap umat Islam terjadi dimana-mana. kemampuan membaca hanya sampai pada tatanan tekstual, tidak sampai kepada tatanan perubahan sosial.

Maka dari itu, sekali lagi bahwa tradisi iqro harus terus dirawat dan dikembangkan kemudian diejawantahkan ke ranah praksis pencerahan dan pembaharuan sehingga dapat mewujudkan suatu proses dimana umat Islam dapat mencapai kualitas hidup.

Penulis, adalah mahasiswa jurusan PAI di UAD dan Kabid RPK PC IMM Bantul.

sumber gambar: steemit.com

Islam dan Tradisi IQRA

by on Mei 10, 2020
Haryono Kapitang Islam agar mampu menjadi umat yang mencerahkan semesta harus mengedepankan tradisi Iqra (Bacalah!). Hal ini berangkat d...
Robby Karman
Bagi setiap yang berpuasa Allah SWT akan menganugerahi dua kebahagiaan. Yang pertama adalah bahagia saat berbuka puasa dan yang kedua adalah saat bertemu Allah SWT kelak di akhirat. Begitulah bunyi hadits yang cukup populer di telinga kita, khususnya saat memasuki bulan Ramadhan.


Kandungan hadits tersebut benar adanya. Buka puasa adalah momentum yang paling dinantikan bagi seorang yang berpuasa. Panggilan azan Maghrib menjadi seruan yang paling ditunggu-tunggu di mana pada selain Bulan Ramadhan, rasanya jarang yang menantikan datangnya azan Maghrib. Berbuka puasa disunnahkan untuk disegerakan, dalam bahasa Arab, menyegerakan berarti takjil. Takjil kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi makanan pembuka untuk berbuka puasa.

Polemik Dua Doa Buka Puasa
Saat berbuka puasa sunnah lainnya adalah membaca doa berbuka puasa. Yang populer adalah Allahumma laka shumtu, wa bika aamantu, wa ‘alaa rizqika afthartu. Birahmatika yaa arhamar raahimiin. Doa ini sudah penulis kenal sejak kecil dan sudah tersebar di masyarakat. Arti dari doa tersebut: Ya Allah, untukmu aku berpuasa, dan kepadamu aku beriman, dan atas rizkimu aku berbuka. Dengan rahmatmu Wahai yang Maha Pemberi Rahmat.

Doa ini menjadi pegangan mayoritas Muslim di Indonesia, sampai kemudian muncul doa lain yang dianggap lebih sahih. Adapun doa yang pertama dianggap bersumber dari hadits dhaif karenanya tidak perlu diamalkan. Doa yang lebih sahih yakni Dzahaba zhama’u wabtallatil ‘uruurqu, wa tsabatal ajru, in syaa Allah. Artinya,

Kemudian muncul perdebatan antara yang menggunakan Allahumma laka shumtu dengan yang menggunakan dzahaba zhama’u. Masing-masing menganggap bahwa doanya sah untuk dipakai. Lantas perlukah perdebatan semacam itu? Atau justru sudah bukan saatnya memperdebatkan hal sepele seperti manakah doa buka puasa yang sah untuk dipakai?

Tentu sah-sah saja jika di masyarakat muncul perdebatan tentang doa buka puasa. Namun pertanyaan kritisnya, apakah bermanfaat mengulang-ulang perdebatan yang sama di mana argumennya berputar di situ-situ saja? Sebenarnya perdebatan semacam ini banyak terjadi dalam banyak topik kajian keIslaman. Namun yang akan dibahas penulis sekarang adalah soal buka puasa.

Penulis ingin mencoba menguraikan kemudian mencari solusi agar perdebatan semacam ini tidak dilestarikan menjadi tradisi di setiap bulan suci. Pertama mari kita analisis sanad dari masing-masing doa tersebut.

Kebolehan Mengamalkan Hadits Dhaif dalam Fadhail Amal
Berdasarkan penelusuran penulis terhadap beberapa sumber, doa Allahumma laka shumtu ada yang mengatakan dhaif dan ada pula yang mengatakan hasan. Doa Dzahaba zhama’u lebih kuat dibanding Allahumma laka shumtu, ada yang mengatakan sahih dan ada yang mengatakan hasan.

Secara sanad dua doa tersebut sama-sama ada perbedaan pendapat, walaupun memang lebih kuat Dzahaba Zhoma’u. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah doa yang kita lantunkan harus selalu berdasarkan hadits sahih? Bolehkah kita berdoa dengan hadits hasan atau dhaif?

Pada prinsipnya doa adalah permohonan seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam Al Qur’an dan hadits banyak sekali disebutkan perintah dan keutamaan berdoa. “Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian,” menurut Al Qur’an. “Doa adalah senjata orang mukmin,” menurut Sabda Rasulullah SAW. Walaupun banyak anjuran untuk berdoa, namun tidak ada perintah spesifik bahwa berdoa harus berdasarkan hadits sahih. Bahkan berdoa boleh dengan bahasa sendiri dan dengan bahasa non-Arab.

Tentu saja berdoa dengan lafal yang ada dalam Al Quran dan hadits mempunyai keutamaan tersendiri dibanding dengan bahasa sendiri. Kita tahu bahwa sebagian ayat-ayat Al Quran mengandung doa yang bisa kita amalkan. Misalnya doa Nabi Adam untuk memohon ampunan dan doa Nabi Musa untuk diberi kemudahan urusan. Ada juga doa Nabi Ibrahim yang memohon pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata.

Dalam hadits banyak pula ditemukan doa-doa yang kita amalkan sehari-hari, khususnya yang kita amalkan dalam ibadah mahdah seperti salat. Lantas bagaimana jika haditsnya tidak sahih? Penulis berpegang pada pendapat Imam Nawawi bahwa boleh mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail amal. Apa itu fadhailul amal? Yakni amal-amal yang menjadi keutamaan namun tidak jadi yang pokok dalam ibadah.

Jika ibadah mahdah seperti salat dan puasa menjadi amal ibadah yang primer sifatnya, maka fadhail amal adalah amalan-amalan sekunder atau tersier. Dalam Islam amalan tambahan untuk yang pokok disebut juga amalan sunnah atau nafilah. Karena doa bukanlah termasuk ibadah mahdah, dan termasuk ke dalam fadhail amal, maka tidak masalah jika hadits hasan atau dhaif untuk diamalkan.

Oleh karena itu menjadi tidak terlalu bermanfaat memperdebatkan mana yang benar antara Allahumma laka shumtu atau Dzhaba zhoma’u. Bahkan penulis sempat mempunyai pemikiran bagaimana jika dua-duanya saja dibaca. Saat akan berbuka membaca Allahumma laka shumtu, setelah minum segelas air membaca dzahaba zhoma’u.

Doa Buka Puasa dan Rivalitas Tradisionalisme vs. Reformisme Islam
Namun perebutan klaim kebenaran terhadap doa buka puasa kelihatannya tidak lagi sebatas perdebatan sahih dhaif, namun menjadi bagian dari konflik kaum muslim tradisionalis vs. Muslim reformis. Golongan tradisionalis berusaha memelihara tradisi yang sudah diwariskan dari para ulama sebelumnya. Sedangkan reformis mencoba menggali kembali kebenaran agama langsung dari sumber aslinya. Penulis melihat ada rivalitas tradisionalisme vs reformisme dalam polemik doa buka puasa ini.

Mungkin dugaan penulis terlalu berlebihan, walaupun berdasarkan pengamatan penulis demikian adanya. Kelompok tradisionalis mempertahankan doa yang sudah mapan yakni Allahumma laka shumtu, sementara kelompok reformis gencar mengkampanyekan ganti doa dari yang sudah mapan menjadi yang lebih sahih, yakni dzahaba zhoma’u.

Penulis walaupun dibesarkan dalam tradisi reformis namun berpendapat bahwa polemik ini sebaiknya disudahi. Doa buka puasa biar menjadi bagian dari keragaman cara beribadah. Keragaman artinya kita bebas memilih mana yang cocok untuk kita dengan tidak menyalahkan yang tidak kita pilih. Bahasa sederhananya, doa buka puasa dua-duanya benar!

Penulis, adalah Sekjen DPP IMM


sumber gambar: haibunda.com
Jiva Agung

Ali bin Abi Thalib lahir pada Jum’at, 3 Rajab di Mekkah yang merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad.[1] Beliau merupakan anak dari Abu Thalib, paman nabi. Dia menikahi Fatimah, putri nabi Muhammad.  Ia banyak membantu nabi semasa hidup dalam penegakkan agama Islam serta merupakan seorang yang memiliki wawasan maju, memegang teguh tradisi, pemberani, penuh semangat, serta seorang penasehat hukum yang bijaksana. Seiring dengan seringnya interaksi beliau dengan nabi Muhammad membuat Ali memahami nabi lebih baik dari sahabat yang lain, juga beliaulah yang mengurus pemakaman nabi bersama anggota keluarganya yang lain.[2] Ali memiliki banyak sekali gelar, mulai dari al-Haidar, Abu al-Hasan, hingga Amir al-Mu’minin.[3]

Pemberontak yang membunuh Utsman mendesak Ali untuk diangkat menjadi khalifah. Akan tetapi, pemilihan Ali bin Abi Thalib dilaksanakan melalui proses pertemuan dan pemilihan terbuka yang jauh dari kata sempurna. Madinah sedang dalam keadaan kosong, yang mana banyak senior tokoh Islam sedang tidak berada di sana. Madinah hanya sedang diisi oleh beberapa senior saja, yakni Abdullah bin Umar dan Saad bin Abu Waqqash. Ali pun juga menolak paksaan dari para pemberontak ini dan menyatakan bahwa yang berhak menentukan penerus pemerintahan ialah peserta perang Badar, yakni Zubair, Thalhah, dan Saad. Kemudian mereka bertiga berbaiat kepada Ali yang diikuti oleh kaum Ansar dan Muhajirin.[4]

Akan tetapi, hal ini tetap menimbulkan ketidaklegalan proses pengangkatan Ali oleh sebagian masyarakat, terutama dari golongan Muawiyah.[5] Pidato utamanya usai dilantik menjadi khalifah ialah, pengamanan akan umat Islam di mana diharamkan saling merugikan serta melukai sesama Muslim tanpa adanya alasan yang legal di mata hukum, serta menyatakan bahwa turunnya Al-Qur’an yang berisi kebaikan dan keburukan di mana kita harus mengikuti yang baik dan menjauhi yang buruk.[6]

Saat memegang jabatan sebagai seorang khalifah, Ali melakukan pemecatan pejabat pemerintahan yang diangkat semasa pemerintahan Utsman serta mengambil kembali tanah yang dihibahkan Utsman pada penduduk melalui penyerahan pendapatannya ke negara juga pemakaian kembali sistem disribusi pajak tahunan umat Islam yang telah dilaksanakan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.

Dominasi dan kekuasaan umat Islam sejak masa Utsman semakin lemah dan lambat. Perpecahan pun tak dapat dihindari. Hal ini disebabkan terutama oleh kepemimpinan yang lemah, usia yang lanjut, serta nepotisme yang menempatkan kerabatya duduk di tingkat tinggi pemerintahan tanpa kecakapan mereka. Puncaknya ialah saat terbunuhnya Utsman ditangan pemberontak. Keadaan yang pecah ini juga terus berlanjut saat pemerintahan di tangan Ali bin Abi Thalib. Beliau menghadapi banyak sekali pemberontakan saat masa pemerintahannya. Pendidikan pun tidak dapat berkembang pesat dengan keadaan keamanan negara yang tidak baik. Menurut Ali, masalah yang sangat urgent ialah pemberian jaminan keselamatan, ketertiban, dan keamanan warga negaranya. Aisyah juga melakukan pemberontakan kepada Ali bersama Thalhah bin Ubaidillah serta Zubair bin Awwam dengan dalih mencari pembunuh Utsman bin Affan yang dikenal dengan nama Perang Jamal.[7]

Perang ini ialah suatu kemalangan yang sangat memprihatikan. Umat Islam justru malah saling memerangi satu sama lain serta meyakini bahwa mereka yang membawa kebenaran dan yang lainnya tidak. Tak satu pihak pun yang ingin mengalah. Akan tetapi, mereka semua yang bertikai memahami bahwa pertikaian ini tidak akan berakhir di perang terbuka di mana pertumpahan darah akan jatuh. 

Mereka tetap berharap adanya jalan tengah sebagai titik temu keduanya dan damai akan terwujudkan. Qa’qa bin Amr kemudian dikirimkan oleh Ali kepada Zubair serta Thalhah. Qa’qa menemui Aisyah pertama kali sesampainya di Basrah menanyakan sebab ia datang dan alasan melakukan pertikaian ini. Aisyah pun menjawab, bahwa ia hanya hendak membuat koreksi atau rekonstruksi di masyarakat. Qa’qa kemudian pergi menuju tempat Zubair dan Thalhah untuk menanyakan hal yang sama dan mereka menjawab hal serupa dengan yang Aisyah katakan.[8]

Qa’qa melanjutkan dengan berkata bahwa, katakanlah yang kalian inginkan kepadaku, jika hal tersebut dapat diterima kami pun akan mendukung namun jika tidak kami pun menentangnya. Mereka menjawab bahwa menginginkan pembunuh Utsman mendapat balasannya dan jika hal tersebut diabaikan maka sama saja dengan membunuh kaidah al-Qur’an juga jika melaksanakannya berarti menjalankan kaidah al-Qur’an.

Kemudian, Qa’qa berkata bahwa pembunuh Utsman sudah kalian bunuh dan kalian sekarang lebih dekat dengan kebenaran, kalian pun melihatnya sendiri bahwa enam ribu orang marah atas pembunuhan tersebut dan mengusir pergi kalian.

Thalhah, Zubair, serta Aisyah pun terkesima dengan perkataan Qa’qa, seraya berkata bahwa kau benar Qa’qa, kembalilah kamu ke Ali dan jika ia memiliki pendapat yang sama dengamu maka pertikaian ini akan selesai. Ia pun kembali menuju ke Ali seraya melaporkan hasil kepadanya. Ali juga terkesima kepada Qa’qa atas kemampuan diplomasinya ia bahagia bahwa kata “damai” sudah di depan mata.

Sebagaian umat Islam bersyukur namun sebagiannya lagi tidak menyukainya, salah satunya ialah para pemberontak Utsman bin Affan. Malam harinya, para pemberontak Utsman ini melakukan rapat atas damainya Aisyah dan Ali. Hasil akhirnya, mereka sepakat bahwa mereka akan melakukan perang secara sembunyi-sembunyi.

Esok pagi butanya, mereka memulai serangannya. Kelompok Aisyah pun menyangka bahwa ini merupakan jawaban Ali atas hasil diplomasi yang disampaikan Qa’qa kepadanya. Ali pun berkata pada pihaknya untuk mundur tapi tidak ada yang mendengar. Paginya, Aisyah baru menyadari ada peperangan seraya berkata pada pasukannya untuk berlindung. Aisyah pun menunggangi kuda serta membawa pedang dan dibawa oleh pasukannya ke tempat yang lebih aman.

Ali pun mencari Thalhah dan Zubair untuk berbincang mengenai peperangan ini dan mereka sepakat untuk bertemu. Ali pun berkata kepada Thalhah dan Zubair ketika bertemu dan menanyakan kepada mereka, apakah mereka ingat sabda nabi Muhammad kepada mereka yang dijawab oleh Zubair bahwa ia mengingatnya dan jika ia ingat akan sabda tersebut ia tidak akan berbuat seperti ini juga tak akan pernah memerangimu, wahai Ali, jawabnya dengan penuh penyesalan.

Lalu, Zubair pun pergi meninggalkan medan perang untuk menuju Madinah. Sayang, di tengah jalan Amr bin Jurmuz melihatnya dan membututinya. Ketika Zubair istirahat sejenak di masjid sekitar untuk menunaikan sholat, ia dibunuh.

Thalhah pun mengikuti jejak Zubair, yakni mundur dari peperangan. Ia pun diikuti oleh Marwan bin Hakam yang menyakini bahwa Thalhah-lah yang menghalangi bani Umayyah menjadi pemimpin pemerintahan yang kemudian membunuhnya.

Hingga siang hari, peperangan terus berlanjut dimana pasukan Aisyah berhasil dipukul mundur pasukan Ali. Selama peperangan, pasukan Kuffah melindungi Aisyah, yang terdiri atas Bani Azd dan Bani Dhabbah. Ali kemudian berpikir bagaimana perang ini dihentikan. Kemudian, ia memahami bahwa unta Aisyah harus dirobohkan jika perang ingin diselesaikan tetapi hal tersebut tidak mudah dengan perlindungan dari Bani Azd dan Bani Dhabbah.

Saat perang sedang runcing munculah ide seorang lelaki dari bani Dhabbah bahwa, hal ini akan membuat kabilahnya tidak diuntungkan dan semua kabilahnya akan terbunuh dan hilang dari sejarah jika unta Aisyah tidak dirobohkan. Lalu, ia pun diam-diam memenggal kaki unta Aisyah. Unta Aisyah pun roboh dan kemudian Aisyah dibawa Ammar bin Yasir dan Muhammad bin Abu Bakar.
Aisyah pun menuju Mekkah dan melakukan ibadah haji di sana. Setelah itu, ia menuju Madinah. Aisyah amat menyesal akan sikapnya untuk ambil alih dalam Perang Unta selama sisa hidupnya. Ia menyatakan bahwa hal tersebut merupakan kesalahan ijtihadnya memutuskan cara untuk meluruskan keadaan yag terjadi di masyarakat.

**

Kebijakan pemecatan yang dilakukan Ali sangat tidak disukai oleh kerabat Utsman, yakni Umayyah. Kemudian mereka melakukan pertempuran di Damaskus setelah usai Perang Unta. Ali bersama tentaranya pun pergi ke Damaskus usai Perang Unta dan bertemu di Siffin.

Alasan klasik yang Muawiyah katakan perihal pemberontakan yang ia lakukan ialah ingin menuntut kematian kerabatnya, yakni Utsman bin Affan dan jika Ali tidak bisa menemukannya maka harus turun dari jabatannya sekarang.

Dalam perang ini sebenarnya dapat dimenangkan oleh pasukan Ali dan pasukan Muawiyah hampir kalah. Muawiyah kemudian teringat saran dari Amr ibn al-‘As yakni memberi komando pada tentaranya untuk menaruh halaman Al-Qur’an sebagai tanda perdamaian melalui arbitrase. Ali yang melihat hal tersebut, menyetujuinya walau ada sebagian pasukannya yang curiga dan tidak menginginkan hal tersebut.

Abu Musa al-Asy’ari diutus oleh Ali sebagai utusan untuk melakukan arbitrase dengan pasukan Muawiyah dan ‘Amr bin al-‘As diutus oleh Muawiyah. Hasil arbirase tersebut yakni pencabutan jabatan keduanya, baik Ali maupun Muawiyah dan akan diumumkan secara publik. Abu Musa pun mengumumkan dihadapan publik bahwa Ali mundur dari jabatannya sebagai khalifah namun ‘Amr bin’As tidak mengumumkan dihadapan publik mengenai mundurnya Muawiyah dari jabatan gubernurnya bahkan malah mengumumkan pengangkatan Muawiyah sebagai khalifah.[9]

Hal ini tentu sangat merugikan Ali dan memutuskan untuk menyerang pasukan Muawiyah namun hal tersebut dihalangi dengan pecahnya pasukan Ali yag bernama Khawarij. Golongan ini tidak meyukai arbitrase dengan Muawiyah dan menganggap bahwa yang menyetujuinya ialah kafir.

Muawiyah juga tidak mau bertekuk lutut atas Ali. Pasukan Muawiyah mampu mengalahkan pasukan Ali yang jumlahnya berkurang di Mesir serta mengangkat ‘Amr bin ‘As sebagai gubernur Mesir. Walau begitu, Ali mampu membinasakan 4.000 golongan Khawarij namun di tengah pembinasaan tersebut ia dibunuh ‘Abd al-Rahman bin Muljam dari golongan Khawarij. ‘Abd al-Rahman bin Muljam kemudian dihukum mati dengan cara dibakar atas perbuatan pembunuhannya terhadap Ali.[10]

Ali berjuang untuk menyatukan umat Islam yang terpecah-belah namun tidak berhasil. Pada masa pemerintahannya banyak sekali muncul ambisius dan egoisme kekuasaan dari berbagai pihak yang membuat umat Islam terpecah-belah demi kepentingan pribadi mereka masing-masing.

sumber gambar: idntimes.com


[1] Syed Hussain Moh. Jafri, Moralitas Politk Islam, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), h. 13.
[2] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam I, Cet. ke-VIII, (Jakarta: Penerbit Pustaka Alhusna, 1994), h. 281.
[3] Sayyid Sulaiman Nadwi, Ali bin Abi Thalib, terj. Abdul Aziz (Jakarta: Kaysa Media, 2015), h. 2-3.
[4] Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara : Ajaran Sejarah dan Pemikiran, Ed. Ke-V, (Jakarta : UI Press, 2008), h. 27.
[5] Ibid, h. 30-31.
[6] Ibid, h. 29.
[7] Ibid, h. 32.
[8] Sulaiman An-Nadawi, Aisyah : The True Beauty, (Jakarta : Pena Pundi Aksara, 2007), h. 205-207
[9] Hitti, History of the Arabs, h. 226.
[10] Muhammad Fathurrohman, History of Islamic Civilization, (Yogyakarta : Garudhawaca, 2017), h. 90-92.